Lim Mei Li bukan wanita biasa.
Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.
Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.
Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.
Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.
Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.
"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."
Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.
Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.
🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25
Mei Li pergi ke rumah Arka dengan alasan dokumen.
Alasan itu cukup masuk akal untuk diucapkan kepada Amy dan Bella, cukup masuk akal untuk dicatat di jadwal, dan cukup masuk akal untuk membuatnya tidak terlihat seperti perempuan yang datang ke rumah pria karena hampir dicium di teras malam sebelumnya.
"Diskusi lanjutan program batik," kata Mei Li.
Amy menatap tablet. "Durasi?"
"Tiga puluh menit."
Bella melihat jam. "Saya catat satu jam."
Mei Li menatapnya.
Bella menunduk. "Untuk keamanan."
Pintu rumah sebelah terbuka sebelum Mei Li sempat menekan bel. Arka berdiri di sana dengan kemeja batik rumah warna biru gelap, lengan digulung sampai siku. Tidak formal, tetapi tetap rapi.
"Anda tepat waktu," katanya.
"Saya hanya di sebelah."
"Tetap sebuah prestasi di Jakarta."
Mei Li masuk setelah ia mundur memberi ruang. Rumah Arka berbeda dari dugaan banyak orang tentang keluarga Pradipta. Tidak ada kemewahan keras. Lantai kayu gelap, dinding putih, beberapa lukisan tua, rak rendah berisi buku, dan aroma gaharu yang lebih jelas namun tidak menusuk.
Di ruang tengah, ada foto keluarga. Eyang Suryanegara duduk di tengah, wajahnya tegas. Sri Lestari berdiri di sisi Arka, senyumnya hangat. Di foto itu, Arka tampak lebih muda, tetapi matanya sudah sama: tenang, seperti orang yang terbiasa mengukur kata sebelum bicara.
"Keluarga Anda terlihat disiplin," kata Mei Li.
"Itu cara sopan mengatakan menakutkan?"
"Saya belum bertemu mereka."
"Nanti Anda akan tahu sendiri."
Kata nanti membuat Mei Li menoleh, tetapi Arka sudah berjalan menuju ruang kerja.
Ruang kerja itu membuatnya berhenti di ambang pintu.
Rak buku memenuhi dua dinding. Bukan hanya buku bisnis atau politik. Ada naskah tentang sejarah batik, diplomasi budaya, arsitektur Jawa, koleksi puisi Indonesia lama, juga beberapa buku bahasa Inggris tentang trauma dan pemulihan. Di meja kayu, sebuah wayang kecil diletakkan di samping lampu baca. Tidak sebagai dekorasi mahal, tetapi seperti benda yang sering disentuh.
"Anda benar-benar membaca semua ini?" tanya Mei Li.
"Sebagian. Sebagian lagi menunggu saya tidak pura-pura sibuk."
Mei Li berhenti sebentar di deretan buku psikologi. Judul-judulnya tidak ringan: tubuh yang mengingat luka, batas aman, pemulihan setelah pelanggaran. Buku-buku itu tidak disembunyikan, tetapi juga tidak dipajang untuk membuat orang bertanya.
Arka mengikuti arah pandangnya. Tidak panik, tidak menutup rak.
"Buku kerja?" tanya Mei Li.
"Sebagian."
"Sebagian lagi?"
"Untuk memahami hal-hal yang kadang tidak bisa dijelaskan orang dengan mudah."
Jawaban itu terlalu rapi untuk disebut pengakuan, tetapi terlalu pribadi untuk dianggap teori. Mei Li tidak bertanya lebih jauh. Ia tahu rasanya berdiri di depan pintu yang belum siap dibuka.
Arka juga tidak memaksa pintu miliknya ditutup lagi malam itu. Itu membuatnya jauh lebih sulit diabaikan oleh Mei Li.
Mei Li mengambil satu buku tentang motif batik pesisir. Di dalamnya ada catatan kecil dengan tulisan tangan Arka. Rapi, tetapi tidak kaku.
"Anda mencatat di buku?"
"Saya tahu beberapa orang menganggap itu dosa."
"Saya menganggap itu bukti buku dipakai."
Arka tersenyum. "Syukurlah."
Mereka duduk di meja kerja. Arka membuka arsip Bu Ratih yang sudah ia susun berdasarkan risiko hukum, bukan hanya nilai budaya. Ia menjelaskan dengan tenang bagian mana yang bisa dibantu KADIN, bagian mana yang harus tetap melalui Koh Group, dan bagian mana yang sebaiknya diberikan langsung ke komunitas pengrajin agar tidak lagi bergantung pada sponsor besar.
Mei Li mendengarkan.
Awalnya karena informasi itu berguna.
Lalu karena cara Arka bicara membuatnya lupa bahwa ia sedang mencari celah. Ia tidak bicara seperti orang yang ingin mengesankan perempuan di depannya. Ia bicara seperti seseorang yang benar-benar peduli apakah pengrajin tua di Kotagede bisa mewariskan motif keluarganya tanpa dicuri perusahaan besar.
"Anda bisa memilih hidup lebih mudah," kata Mei Li tiba-tiba.
Arka mengangkat mata. "Maksud Anda?"
"Dengan nama keluarga Anda, jabatan Anda, wajah Anda." Ia menutup buku. "Anda bisa hanya menjadi pria baik-baik yang disukai semua orang."
"Kedengarannya membosankan."
"Banyak orang mengincarnya."
"Saya lebih suka berguna daripada disukai."
Jawaban itu sederhana, tetapi Mei Li merasa sesuatu dalam dirinya berhenti melawan sejenak.
Di luar ruang kerja, hujan mulai turun. Arka berdiri untuk menutup jendela sedikit. Ketika ia kembali, ia meletakkan satu buku tipis di depan Mei Li.
"Untuk Anda."
Judulnya tentang truntum.
Mei Li menatapnya. "Anda memberi hadiah lagi?"
"Pinjaman. Kalau Anda tidak suka, kembalikan."
"Kalau saya suka?"
"Simpan sampai selesai."
"Dan setelah selesai?"
Arka menatapnya dengan senyum yang terlalu tenang. "Kita cari buku berikutnya."
Tiga puluh menit berubah menjadi satu jam sepuluh menit.
Ketika Mei Li kembali ke villa, Amy tidak mengatakan apa-apa. Bella hanya mencatat waktu dengan wajah puas yang membuat Mei Li ingin menutup pintu lebih keras.
Malamnya, Sinta menelepon.
"Jie, makan malamnya gimana kemarin? Jangan bohong, wajahmu masih beda."
Mei Li duduk di sisi tempat tidur, buku truntum di pangkuannya. "Dia..."
"Dia?"
Mei Li menatap sampul buku itu lama.
"Dia agak berbeda."
Sinta langsung menjerit kecil di ujung telepon. "Jie suka dia?!"
Mei Li menutup mata.
Di luar jendela, lampu ruang kerja Arka masih menyala.
Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung menyangkal.