Andra, 27 tahun, pemuda pengangguran harus merawat seorang wanita yang mengalami amnesia. Ia tak sengaja bertemu dengan wanita itu ketika hendak pergi mencari pekerjaan. Ia membawanya ke rumah, sang ibu sempat menolak keputusannya namun menggunakan penjelasan serta belas kasihan akhirnya Andra diizinkan untuk mengurus wanita tersebut.
Apakah selama merawat dan mengurusnya Andra mampu tak jatuh hati? Apakah setelah mengetahui wanita itu ternyata bukan kalangan orang biasa melainkan putri konglomerat tempatnya bekerja Andra akan menjauhinya atau malah memanfaatkannya demi uang?
Jangan lupa tinggalkan jejak..
Silahkan Membaca tapi Untuk Tidak Boom Like..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Saingan Secara Sehat
Cyra menuruni tangga sambil menjinjing tas mewahnya, ia menghampiri sang papa yang sedang menunggunya untuk bersiap-siap sarapan bersama. Mengecup singkat pipi kanan Daneen lalu menarik kursi di dekatnya dan duduk.
"Papa, apa aku hari ini cantik?" tanya Cyra memangku dagunya dengan tangan kanannya.
"Tiap hari kamu cantik, persis seperti ibumu," jawab Daneen.
"Jika aku cantik kenapa dia tidak tertarik padaku?" Cyra memanyunkan wajahnya.
"Dia siapa, Nak?" Daneen penasaran.
"Andra. Karyawan di perusahaan kita, padahal aku sudah berkali-kali mengatakan kalau menyukainya tapi dia tak pernah peka," ujar Cyra.
"Mungkin di dalam pikirnya, jika dia tak pantas untukmu," ucap Daneen.
"Kenapa dia harus berpikir seperti itu? Aku melihat dirinya sangat baik," ujar Cyra.
"Status kalian berbeda, mungkin itu menjadi alasannya," kata Daneen.
Cyra menghela napas lalu dihembuskannya.
"Papa tidak marah 'kan seandainya suatu hari nanti dia membalas cintaku?" Cyra menatap Daneen.
Dengan gelengan kepala pelan disertai senyuman sebagai jawaban Daneen atas pertanyaan sang putri.
Cyra tersenyum senang dan berucap, "Terima kasih, Pa."
-
Begitu sampai kantor, Cyra segera menyuruh Andra ke ruangannya. Sebelum pria itu tiba, Cyra memperhatikan wajahnya di cermin kecil. Ia memakai lagi pewarna bibir agar terlihat menarik.
Pintu terbuka, Andra pun masuk. Gegas Cyra berdiri dan melemparkan senyum. Cyra lalu mempersilakan Andra duduk.
Andra menarik kursi dan duduk, ia kemudian bertanya, "Ada apa, ya, Nona?"
"Apa Bibi Laila sudah pulang?" tanya Cyra sembari memainkan ujung rambutnya.
Andra menggaruk ujung pelipis matanya, ia heran dengan sikap Cyra yang menurutnya sangat aneh.
"Andra!" Cyra memanggil pria itu dengan lembut.
"Ibu kembali ke kota ini besok sore," ucap Andra.
"Jika dia sudah pulang ajak aku bertemu dengannya," kata Cyra tersenyum diiringi gerakan mata.
"Iya, Nona." Kata Andra tersenyum singkat.
"Andra, apa menurutmu hari ini aku kelihatan cantik?" tanya Cyra.
"Nona tiap hari selalu cantik," jawab Andra.
"Tapi kenapa kamu tidak tergoda?" cetus Cyra seketika membuat Andra tercengang.
"Andra, aku tahu...."
Took...took..
Cyra menghela napas kesal, ia memiringkan kepalanya ke arah pintu dan berteriak, "Ya, silahkan masuk!"
Pintu terbuka Wika muncul, "Maaf, Nona. Setengah jam lagi ada rapat."
"Iya, saya tahu. Terima kasih sudah mengingatkan," ucap Cyra.
"Baiklah, Nona. Kalau begitu saya pamit, silahkan dilanjutkan mengobrolnya," kata Wika, ia kemudian gegas meninggalkan ruangan.
Cyra kembali menatap wajah Andra dan tersenyum, "Dia mengganggu saja!"
"Nona, pekerjaan saya masih banyak. Apakah saya boleh melanjutkannya?" Andra meminta izin.
Cyra mengerucutkan bibirnya.
"Nanti siang kita bisa kembali mengobrol," kata Andra.
"Tidak bisa, An. Aku mau rapat di luar, jadi makan siang hari ini kamu sendiri," ucap Cyra.
"Ya sudah kalau begitu, itu juga tidak masalah," ujar Andra.
"Tapi kamu jangan makan siang berdua dengan Lani atau karyawan wanita lainnya karena aku tak suka!" Cyra menegaskan kata-katanya.
"Baiklah, Nona."
"Ya sudah sana, lanjutkan kembali pekerjaanmu!" usir Cyra.
Selang 15 menit kemudian Cyra keluar dari ruangan, Wika sudah menunggunya sedari tadi. Keduanya berjalan menuruni lantai menggunakan lift.
Di lantai dasar Cyra berpapasan dengan Lani yang sedang memegang nampan, Cyra lalu menghentikannya kemudian menyuruh Wika terlebih dahulu ke mobil.
"Ada apa, Nona?" Lani sedikit menundukkan kepalanya.
"Saya tidak akan makan siang bersama Andra hari ini, saya harap kamu jangan mengambil kesempatan untuk menarik hatinya!" Cyra memberikan peringatan.
"Kita sedang bersaing, Nona. Jika Mas Andra ingin mengajak makan siang bersama, saya tentunya tidak akan menolak," ucap Lani tersenyum seringai.
"Kamu harus menolaknya, jangan menjadi wanita murahan," singgung Cyra.
"Nona juga murahan, mengejar pria yang tidak menyukai Nona," balas Lani.
"Kamu mengatakan saya murahan?" Cyra meninggikan sedikit nada suaranya.
Lani melirik kiri dan kanannya, lalu mendekat kemudian berkata pelan, "Jangan mempermalukan diri sendiri, Nona."
Cyra segera sadar jika dirinya berada di lingkungan kantor, dengan cepat memperhatikan sekitarnya. Beberapa karyawan tampak melemparkan pandangan ke arah ia dan Lani.
"Pergilah rapat, Nona. Nanti terlambat!" Lani mengingatkan sembari tersenyum kemenangan.
Cyra yang kesal lantas berlalu.
Lani mengulum senyum melihat pimpinan perusahaan tempatnya bekerja begitu sangat aneh jika sedang cemburu.
-
Jam makan siang...
Lani memanggil Andra yang hendak menuju kantin kantor, gegas ia mendekati pria itu. "Mau kemana, Mas?"
"Mau beli makan siang."
"Kalau begitu, ayo kita bareng!" ajak Lani.
Andra mengangguk mengiyakan.
Setelah memesan makanan dan membawanya ke meja panjang, mereka duduk saling berhadapan.
"Aku senang Nona Cyra hari ini tidak ada di kantor," ujar Lani.
"Kenapa kamu tahu?" tanya Andra sembari menyuapkan makanan ke mulut.
"Aku tadi sempat berpapasan dengannya," jawab Lani.
"Oh," ucap Andra singkat.
"Mas Andra mau tahu kami mengobrol apa tadi," kata Lani.
Andra menggelengkan kepalanya.
"Mas Andra tidak mau tahu, padahal ini adalah kabar yang sangat penting," ucap Lani.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Andra terpaksa.
"Nona Cyra ingin aku menjauhi Mas Andra. Aku tentunya tidak mau, lagian kalian belum resmi memiliki ikatan," jawab Lani sambil menyeruput es teh manisnya.
"Oh itu!" Andra tampak tak terkejut dan bersikap santai.
"Mas Andra kenapa biasa saja? Katanya kemarin bilang kalau Nona Cyra menyukai Mas Andra," ujar Lani.
"Memang iya, tapi 'kan menurutku tidak mungkin menjauhimu," ucap Andra asyik mengunyah makanannya.
"Mas Andra tak mau jauh dariku?" mata Lani tampak berbinar.
"Iya. Karena kita ini satu tim, bagaimana mungkin saling jauh dan tanpa komunikasi pasti pekerjaan takkan selesai dengan baik," jelas Andra seketika senyum Lani memudar.
"Memangnya Mas Andra mau dengan Nona Cyra?" tanya Lani penasaran.
"Pria mana yang menolak Cyra. Dia cantik, pintar, kaya raya," puji Andra.
Lani yang mendengarnya merasa cemburu Andra memuji Cyra dihadapannya. Lani belum berani mengungkapkan perasaannya kepada Andra karena takut malu jika ditolak. Padahal jelas-jelas Cyra sudah lebih dulu mengatakan isi hatinya.
"Aku minta padamu jangan banyak bicara dan membantah perintah Nona Cyra. Pekerjaan kamu di sini taruhannya. Ingat tujuan awal datang kemari," Andra mengingatkan agar Lani tidak mencari masalah dengan Cyra.
Lani hanya tersenyum kecil dan mengangguk pelan.
"Buruan habiskan makananmu, waktu istirahat sebentar lagi. Jangan sampai Pak Mun menegur kita," ucap Andra.
"Iya, Mas."
-
Cyra kembali ke kantor pukul 2 lewat 30 menit, ia meminta Wika menyuruh Andra ke ruangannya.
Tanpa membantah, Wika segera menghubungi kontak telepon bagian ruangan petugas kebersihan. Di sana Pak Mun yang menjawabnya. Selang 10 menit kemudian, Andra pun menemui Wika.
"Nona Cyra sudah menunggu!" Wika mempersilakan Andra masuk tanpa berdiri hanya memberi arahan sembari duduk dan menatap laptopnya.
Andra segera masuk ke ruangan dan tak lupa menutup kembali pintu. Melangkah menuju meja kerjanya Cyra lalu bertanya, "Apa yang bisa saya bantu, Nona?"
"Kamu tadi makan siang dengan siapa?" Cyra balik bertanya.
"Saya makan di kantin dengan Lani, Nona."
"Kenapa kamu mau dengannya?" tanya Cyra lagi.
"Memangnya salah di mana? Saya 'kan hanya makan berdua di tempat umum," jawab Andra.
"Tapi aku tidak suka, Andra!" Cyra menegaskan ucapannya.
"Nona, saya minta maaf. Diantara kita tidak memiliki hubungan apa-apa, jangan menekan saya dengan cara begini. Saya tak suka," Andra berkata jujur.
"Aku menyukaimu, apa aku salah, hah?"