"Tolong! Tolong!"
Jeritan dari seorang wanita membuat Khasafa yang sedang membidik suatu gambar di atas batu besar, di tengah-tengah sungai mendadak diam. Hingga ia melihat seorang gadis terjatuh tepat di depan mata.
Byurr
"Astaghfirullah... Mati apa hidup itu orang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon weni3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Lagi-lagi Shafa gundah gulana. Dia mencoba mengikhlaskan, yang terpenting Salsabila sehat dan kembali mengingat. Entah bagaimana dengannya? Bagi sebagian ada pula yang tak mengingat apa yang terjadi setelah kecelakaan saat memory kembali. Namun Shafa bisa apa. Mendengar Salsabila kembali pulih setelah beberapa pekan kritis saja seharusnya dia sudah bersyukur.
Shafa melangkah gontai menuju restoran untuk menemui kedua orang tuanya. Meskipun mengatakan tak mengapa nyatanya wajah Shafa tak dapat dibohongi jika dia tengah kecewa dan sedih. Mamah Kaira yang paham akan putranya mencoba bertanya. Pasalnya sudah beberapa hari ini Shafa tak terlihat sesedih ini. Semangatnya bekerja menggebu bahkan seakan sudah melupakan kegalauan.
"Kamu kenapa? Minum dulu! Sudah Mamah pesankan tadi. Es cappucino agar otak kamu nggak panas," ucap Mamah Kaira lalu menyodorkan segelas es cappucino untuk putranya. Shafa pun menerima lalu meminumnya. Dia tak mengatakan apapun. Tak juga menceritakan tentang apa yang terjadi dengan sang Mamah. Shafa justru mengalihkan perhatian mereka dengan memesan makanan.
"Aku sudah lapar, Mah. Apa belum memesan makanan?"
"Oh jadi kamu lapar, ya sudah Mamah pesankan dulu." Mamah Kaira memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka. Mamah Kaira mengira jika Shafa terlihat murung karena lapar. Bahkan beliau menambahkan satu porsi makanan takut Shafa kurang.
"Banyak sekali, Mah?" tanya Shafa saat makanan tiba di meja.
"Mamamu tak ingin kamu kelaparan. Maka dari itu memesan makanan banyak. Makanlah! Patah hati juga butuh asupan agar tidak mati sia-sia," sahut Papah Regan membuat Shafa berdecak.
Diam-diam Papah Regantara tau apa yang menjadi alasan Kashafa murung. Setelah meninggalkan kantor, Pak Wiratama menghubunginya. Setelah mengetahui jika Papah Regan ada di seberang kantor beliau pun jadi tak enak hati jika tak mampir. Namun memang beliau sedang terburu-buru maka dari itu Pak Wiratama menghubungi Papah Regan dan mengatakan semuanya.
Shafa pun mulai makan dan menghabiskan makanan miliknya dan benar saja, nyatanya kegelisahan membuatnya lapar. Hingga ia menghabiskan dua porsi makanan. Shafa hanya mengkhawatirkan Salsabila. Dia tak mau jika Gilang menyakiti gadis itu. Maka dari itu Shafa pusing memikirkannya.
"Habis juga," ucap Mamah.
"Benar kata Papah tadi, Mah. Tapi bukan karena aku patah hati. Aku hanya mengkhawatirkan. Beda konsepnya dengan apa yang kalian pikirkan."
"Hanya belum menyadari perasaan. Jika Papah terawang kamu mencintai Salsabila," sahut Papah Regan.
"Papah kan sudah tau jika sebenernya Bila itu gadis manja yang sejak dulu menggangguku. Pantas jika aku khawatir, Pah. Hanya itu saja," elak Shafa. Tak ada yang tau hati orang. Namun kedua orang tuanya begitu yakin meskipun putranya mengelak berkali-kali.
"Bagus kalau begitu, jika besok kamu mendapatkan undangan pernikahan dari Salsabila. Kamu jangan kaget, katamu tak mengapa bukan? Hanya sebatas adik," ucap Papah Regan. Namun berhasil membuat Shafa tersedak.
Uhukk
"Haish siapa juga yang memasukkan kerikil ke dalam minumanku. Buat aku tersedak begini, kemanisan juga ini minumannya."
"Sejak tadi kamu minum tidak kenapa-kenapa. Mengapa juga sekarang baru sadar jika ada yang memasukkan kerikil? Shafa- Shafa.... Bahkan esnya sudah mencair dan kamu mengatakan masih manis." Mamah Kaira menggelengkan kepala sedangkan Papah Regan hanya mengulum senyum melihat tingkah putranya.
...****************...
Tak ada hari tanpa bekerja. Apapun Shafa kerjakan untuk mengalihkan pikirannya dari Salsabila. Dia pun berharap gadis kecilnya yang manja kelak bahagia. Tak ada harapan lain bahkan Shafa tak memikirkan apapun tentang dirinya. Mulai berusaha untuk kembali menjalankan hidup tanpa ada bayang-bayang wanita.
Shafa ingin fokus pada karier. Menjaga jodoh orang nyatanya hanya menghabiskan waktu dan tenaga. Belum lagi kantong bocor. Namun apa mau dikata. Mungkin sudah takdirnya hanya dijadikan ksatria untuk para wanita. Meskipun ujung-ujungnya harus mendapatkan pengkhianatan.
Malam ini Shafa kembali bertemu dengan Ratu, setelah hampir sebulan tak bertemu dengan mantannya lagi. Kini Shafa pun sudah berdamai dengan keadaan. Intinya yang terpenting saat ini Salsabila sudah baik-baik saja. Jadi tak ada yang akan Shafa tuntut dari Ratu.
Mereka pun berkumpul dengan para sahabat yang lain. Shafa cukup senang melihat Revan dan Ratu terlihat sudah mulai saling sayang. Khususnya Ratu yang sudah benar-benar move on darinya.
"Fa, lusa datang ya!" ucap Revan pada Shafa. Teman yang lain sudah Revan undang hanya Shafa saja yang belum karena kesibukan pria itu yang jarang lagi kumpul.
"Ada apaan?" tanya Shafa yang kini memperhatikan Revan. Tak ada sakit hati atau kekecewaan lagi. Tatapan Shafa sudah seperti dulu sebelum ada kejadian dimana keduanya berkhianat.
"Lusa gue sama Ratu mau tunangan," jawab Revan membuat senyum di wajah Shafa terbit. Sementara Ratu malu-malu dan memilih menunduk.
"Wah syukurlah, gas pol yee... Jangan-jangan tuh biji udah berbuah?" sahut Shafa lalu menepuk pundak Revan.
"Gue ngerinya juga gitu, tapi belum sich. Jangan dulu lah. Biar nikah dulu kita."
"Lumayan DP," sahut Shafa santai yang sudah tau sampai mana hubungan keduanya. Sudah hal umum melakukan hubungan badan di kalangan mereka. Hanya Shafa yang menolak akan itu. Bukan karena jaim atau sok jual mahal. Nyatanya bagi dia memang semahal itu. Harus ada hak kepemilikan lebih dulu atas perempuan yang kelak menjadi pasangannya.
"Beruntunglah, yang jelas gue cek dulu. Ternyata loe masih komit."
"Kalau gue mau, udah banyak cewek yang gua tidurin."
Shafa pulang cukup larut. Sengaja memang karena sudah lama tak berkumpul dengan teman-teman. Dia hanya ingin melepas penat setelah beberapa Minggu bekerja. Pas sekali besok weekend dan dia bisa beristirahat seharian.
Namun saat dia terjaga dari tidurnya di tengah di tengah panas terik. Ada pengirim paket yang datang. Shafa yang masih mengantuk hanya mengangguk-angguk menerima undangan yang tertuju padanya. Entah asalnya dari mana yang penting sudah Shafa terima.
"Makasih Pak."
Shafa melangkah masuk. Dia melihat sekitar tak ada Mamah dan juga Papahnya. Rumah terindikasi sepi membuat Shafa menghela nafas berat. Sudah dipastikan kedua orang tuanya pergi.
Shafa melangkah menuju ruang makan. Terlihat ada banyak makanan di meja. Inilah kebiasaan sang Mamah. Meskipun ingin pergi tetapi meja makan full makanan karena tau jika putranya bangun tidur pasti lapar.
Shafa menikmati makanan yang tersedia. Kertas undangan dia letakkan begitu saja di atas meja tanpa niat membuka. Dia begitu menikmati masakan sang Mamah. Sampai dimana kedua mata sudah benar-benar terbuka dengan sempurna.
"Undangan dari siapa sich nich?" gumam Shafa lalu melirik ke surat undangan yang hanya bertuliskan teruntuk Kashafa tanpa ada nama pengirim.
"Revan kali ya, ribet amat pake surat segala . Padahal semalam udah bilang." Shafa meletakkan sendoknya. Dia mulai penasaran dengan surat undangan yang berwarna merah muda itu.
Terlihat cantik dengan pita yang mengikat gulungan dari kertas undangan. Perlahan Shafa membukanya hingga kedua mata terbelalak saat melihat nama wanita yang sangat ia kenal. Sontak Shafa menggulungnya kembali dan meletakkan di atas meja.
"Jadi benar endingnya begini. Salsabila..."