"Siapa bilang hidup tak seindah drama Korea. hidup jauh lebih indah dari drama ketika memiliki cinta"
ini adalah lika-liku kehidupan seorang gadis untuk menemukan jodoh/cinta sejatinya. karena terlalu terobsesi dengan karakter oppa-oppa yang ada di drama Korea, ia sampai tidak bisa jatuh cinta pada laki-laki yang ada di kehidupan nyatanya hingga usia ke 26 tahun. usia yang sudah cukup matang untuk menikah.
lalu suatu hari, sang Ibu berinisiatif untuk menjodohkannya dengan seorang pemuda, anak dari teman arisannya. padahal Yuna tidak menginginkan perjodohan, ia berharap bisa menemukan cinta sejatinya sendiri. namun, mengingat bahwa hidup tak seindah drama Korea, alhasil ia memutuskan untuk menerima perjodohan itu.
apakah Yuna berhasil menemukan jodohnya melalui perjodohan itu?
yuk! ikuti kisahnya 💃.
oh iya, jangan lupa tinggalkan jejak. like, komen, vote dan hadiah ☺️
bila berkenan berikan kritik dan saran juga ✌️
jazakumullahu khairan 🙏
🌹🌹🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Lztari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah paham
Setelah mobil Wisnu berhenti di depan rumah Yuna, mereka pun keluar. Kali ini Wisnu mampir, menemui Bu Santi dan Pak Darmawan. Ia membawa sebuah parcel buah.
“Astaga, tidak perlu repot-repot begini Nak Wisnu.” Ucap Bu Sinta namun wajahnya tampak kegirangan, sementara Yuna berada di dapur untuk membuat minuman dingin.
“Sesekali aja Bu.” Balas pemuda itu. Mereka sedang berada di ruang tamu lalu Yuna datang dengan membawa segelas minuman untuk Wisnu.
“Padahal aku tidak akan lama, kenapa repot membuat minuman?.” Ujar Wisnu. Padahal niatnya hanya ingin menyapa orang tua Yuna dengan memberikan parsel, sekaligus mendapatkan perhatian Bu Sinta dan Pak Darmawan.
“Cuaca kan lagi panas, sebelum pulang, ngadem sebentar kan gak masalah.” Balas Yuna lalu ikut duduk di sebelah sang Ibu.
“Oh iya, bagaimana hubungan kalian?.” Tanya Pak Darmawan. Melihat reaksi Yuna yang tidak tegang lagi menghadapi Wisnu, sepertinya dia sudah mulai nyaman pada pemuda itu.
“Lumayan Pak, Wisnu sudah merasa nyaman dengan Yuna. meskipun masih banyak hal yang harus Wisnu rubah untuk bisa menjadi suami yang terbaik untuk Yuna, Wisnu akan berusaha.” Jelas Wisnu. Yuna pun menanggapi dengan anggukan kecil sambil tersenyum tipis.
“Kamu sendiri Na,?” kini pertanyaan itu tertuju untuk Yuna.
“Sama Yah, Yuna juga sudah merasa sedikit nyaman dengan Wisnu.” Balas Yuna dengan senyum malu-malu. Semua orang di tempat itu kemudian melempar senyum bahagia.
“Alhamdulillah. Berarti, kalian sepakat untuk segera menikah?.” Pak Darmawan menatapi kedua anak muda itu.
“Wisnu sudah sepakat menikah sejak awal pertemuan Pak, tapi tidak tahu dengan Yuna!.” Wisnu beralih menatap Yuna. gadis itu tiba-tiba merasa kelimpungan, ketiga orang itu serentak menatapnya penasaran.
“A-aku bersedia untuk menikah. Ta-tapi setelah Wisnu benar-benar berubah, terutama dia harus terbiasa shalat lima waktu.” Jawabnya terbata.
“Baiklah, akan ku usahakan.” Wisnu mengangguk sebagai tanda menerima persyaratan itu. demi untuk mempercepat pernikahan ia akan melakukan semua keinginan Yuna.
“Semangat ya!,” Yuna memberikan support.
“Oh iya, diminum dulu minumannya.” Bu Santi mengingatkan. Wisnu pun mengangguk lalu meneguk isi gelas kaca itu.
“Kebetulan karena sore ini aku di sini, untuk nanti malam dan besok aku tidak bisa menemui mu dulu, Yuna. ada sedikit urusan yang harus ku urus.” Wisnu memberitahu, berhubung besok adalah hari minggu, ia tidak ingin kena tuntutan lagi karena tidak memberi kabar dan datang menemui Yuna
“Oh iya, tidak masalah. Apapun itu semoga lancar.” Balas Yuna lalu tersenyum hambar. Entah mengapa ia merasa belakangan Wisnu begitu sibuk. Meskipun di awal perkenalan ia risih dengan pertemuannya bersama Wisnu, tapi saat ini ia merasa seperti terabaikan. Entahlah, tapi ia merasa kesibukan Wisnu tidak wajar. Bagaimana kalau nanti mereka sudah menikah, apakah Wisnu masih akan sesibuk Ini?. Hm sudahlah, tak mengapa. Bukankah lebih seru untuk nonton drakor?!.
---ooo---
Di kamar, Yuna tengah duduk di meja rias. Karena tidak melaksanakan shalat, ia merasa seperti kosong. Saat ini, di masjid orang sedang melaksanakan shalat isya, ia hanya melantunkan beberapa dzikir dan sholawat untuk mengisi kekosongannya. Di tengah kekhusyukan bersholawat, ponselnya bergetar. Karena penasaran, ia segera meraih benda pipih tersebut lalu menyentuh layarnya. Rupanya hanya SMS dari operator, ia sempat mengira bahwa itu adalah chat dari Lio. Sejak tadi siang ia menunggu chat dari pemuda itu, setelah meminta nomor WA-nya, pemuda itu belum juga mengirim chat ke ponsel Yuna.
“Kalau begitu, apa gunanya minta nomorku?.” Gumamnya kesal.
“Lagipula kenapa ia harus minta nomorku? Bukannya dia sudah punya kekasih? Kenapa minta nomor ponsel wanita lain. Dasar!.” Makinya, bertambah kesal.
Dari pada penasaran menunggu chat dari Lio dan ia akan semakin uring-uringan. Ada baiknya ia maraton drakor lagi. Tapi sebelum itu, ia ingin ke minimarket untuk membeli camilan. Akan lebih seru nonton drakor kalau sambil ngemil.
Ia beranjak dari duduknya lalu mengenakan abaya lengkap dengan hijab dan kaos kaki. Ia keluar dari kamar menuju garasi. Karena malas jalan kaki, ia ingin menggunakan motor listrik ibunya, ia langsung menyimpan dompetnya di kantong motor. Namun saat ia menghidupkan kendaraan listrik tersebut, sayang sekali dayanya lemah.
“Astaga, yang benar aja? Orang gak ada cas-nya gini, dibiarin aja. Bener-bener deh Bu Santi.” Alhasil ia batal menggunakan motor listrik itu lalu repot menarik kabel untuk mengisi ulang daya.
Terpaksa, ia harus jalan kaki. Fiuh! Ia melangkah keluar dari rumah, menyusuri lorong blok rumahnya lalu keluar ke jalan utama kompleks. Lampu jalan menghiasi langkahnya.
Di depan sana ada seorang pemuda yang mengenakan baju koko, sepertinya baru selesai shalat di masjid. Jika dilihat dengan jelas, Yuna mengenali ciri fisiknya.
“Loh, bukannya itu Lio?.” Gumamnya seorang diri. Ia mempercepat langkah untuk mengejar langkah pemuda itu.
“Lio!.” Yuna meninggikan suara, pemuda yang ia maksud pun membalik badan. Benar, itu adalah Lio.
“Yuna? kau mau kemana?.” Pemuda itu keheranan melihat Yuna yang berjalan seorang diri.
“Aku mau ke minimarket. Kamu sendiri?.”
“Sama, aku juga mau ke minimarket.” Jawab pemuda itu, Yuna segera berjalan ke sebelah Lio hingga langkah mereka sejajar.
“Sebenarnya aku mau ngopi di minimarket, soalnya suntuk di rumah aja.” Jelas pemuda itu.
“Oh, kenapa gak keluar aja? Ngafe sama pacarmu, kan malam minggu.” Provokasi Yuna.
Lio tertawa kecut, “aku gak punya pacar.” Jawabnya spontan.
Yuna mendelik, “hah? becanda aja, gak lucu!.”
“Aku serius, aku menolak pacaran sebelum menikah.” Curhat Lio.
Yuna tampak keheranan. Apa ini? Apa dia tidak mengakui kekasihnya yang menyebutnya oppa itu?, kalau begitu dia keterlaluan. Tapi, Lio tidak mungkin bohong. Lalu orang yang bertelepon dengannya saat itu siapa?.
“Kenapa kamu berpikir aku punya pacar?.” Lio mengamati raut wajah Yuna yang tampak heran. Seperti ada yang tidak sinkron.
“Bukannya hari itu kamu bertelepon dengan seseorang yang menyebutmu oppa?.” Yuna menghentikan langkah begitu pun dengan Lio. Pemuda itu memicingkan mata lalu mengingat-ingat hari dimana ia bertelepon dengan seseorang di depan Yuna.
“Oh! yang menyebutku oppa itu adikku, Alisya.” Ungkap Lio.
“A-apa?.”
Yuna langsung membulatkan bibir. Ia tidak menyangka kalau ternyata ia hanya salah paham. Orang yang dianggapnya sebagai kekasih Lio ternyata hanya adiknya. Ia benar-benar sudah berburuk sangka.
“D-dia adikmu? A-aku pikir, dia pacarmu karena menyebutmu oppa.” Komentar Yuna.
Lio tertawa geli, “dia adik tiriku. Aku juga tidak tahu apa arti oppa, tapi karena dia suka menyebutku begitu, jadi aku nyaman-nyaman aja.” Jelas Lio.
Yuna menangkup pipi dengan kedua tangan, “Astaga, maafkan aku ya, aku kira dia pacarmu!.”
Melihat reaksi Yuna yang seperti itu, jantung Lio tiba-tiba berdesir, entah mengapa Yuna tampak begitu menggemaskan hingga ia tak bisa melepaskan pandangan darinya.
“Santai aja, ya udah yuk.” Tak ingin larut dalam menatapi Yuna, Lio kembali melanjutkan langkah yang sudah dekat dengan minimarket.
aku mampir niih, jangan lupa mampir juga di karyaku yaa..
semangat Wanda, sekuntum 🌹 untukmu😍
kutunggu lagi updatenya😍🫰