Aliya yang terjebak hubungan bersama sang atasan berakhir pernikahan siri tapi tanpa Aliya ketahui kalau dirinya adalah istri kedua dari sang suami.
Di saat manis nya pernikahan Aliya mengetahui kalau dirinya hanya istri kedua.
Akan kah Alya terus bertahan dengan pernikahan ini? atau Aliya justru memilih mengalah dengan meninggalkan Dikta sang suami?
Apa alasan Dikta berbohong pada nya?
Bagaimana kisah hidup selanjutnya yuuk mampir di cerita terbaru ku yang cukup menguras emosi DUA RASA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaro zian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamil
"Mas Dikta" gumam Aliya melihat Dikta tengah duduk di restoran dengan keluarga nya, terlihat jelas wajah sumringah Vania yang tengah makan bersama keluarga nya.
"Aliya"
"Jadi benar mas Dikta sudah memiliki istri dan anak?"
"A-ku-aku bisa jelaskan semuanya hon"
"Tidak perlu mas!"
"Hon,aku bisa jelaskan,aku dan Nasya menikah karena di jodohkan, tolong mengerti aku hon tetap lah bersama ku"ucap Dikta menarik tangan Aliya memohon untuk tetap bersama nya.
Aliya menggeleng kecil
"Tante jangan ambil papa ku!" seru Vania membuat jantung Aliya serasa berhenti berdetak
"Plak" satu tamparan di layangkan bu Retno untuk Aliya membuat Aliya meringis kesakitan.
"Pelakor kamu" bentak bu Retno
"Ma!"
"Dikta kalau kamu pilih dia kamu tidak akan melihat mama hidup lagi" potong bu Retno
"Ayo kita pulang sekarang, tinggal kan pelakor ini" ajak bu Retno menarik tangan Dikta
"Aku bukan pelakor,Mas Dikta" pekik Aliya
"Tante tega merebut papa ku"
"Tidak......"pekik Aliya menangis
"Al...... Aliya bangun Al" ujar Farel memukul pipi Aliya
"Astaga aku mimpi"
"Kamu kenapa Al, mimpi apa?"tanya Farel cemas
"Aww........." tiba-tiba Aliya meringis memegang perut nya, perutnya sakit.
"Kenapa Al?" tanya Farel lagi khawatir
"Perut ku sakit mas"
"Sakit! ayo kita periksa Al?"
"Nggak usah mas,aku nggak mau sampai Mas Dikta lihat aku di luar"
"Tapi perut kamu sakit begini Al,kita harus periksa dulu, nanti kamu malah kenapa-kenapa lagi"ucap Farel
Aliya terus memegang perut nya yang terasa kram,Farel tanpa bertanya lagi menggendong Aliya dia takut perempuan cantik ini mengalami sakit yang serius.
Farel membopong Aliya ke parkiran mobil nya.
"Mas perut ku"
"Iya,sabar ya Al,kamu makan apa tadi?" tanya Farel
"Tidak ada apa-apa mas sarapan biasa dan sekarang tiba-tiba saja menegang"
Farel dengan cepat memacu kecepatan mobil nya dia tidak tega melihat Aliya meringis kesakitan.
*****
"Aku harus cari Aliya di mana?"batin Dikta
"Mas" panggil Nasya
"Apa yang terjadi dengan kamu Al,kenapa kamu bisa pergi meninggalkan aku begini" lanjut nya membatin
"Mas Dikta" panggil Nasya lagi tapi tak di gubris oleh Dikta dia masih berperang dengan pikiran nya sendiri.
"Dikta!" bentak mama nya membuat Dikta tersadar dari lamunannya.
"Ken-apa ma?" tanya Dikta kaget
"Kamu ya,dari tadi Nasya memanggil mu kamu sibuk dengan lamunan mu sendiri,jangan bilang kamu-"
"Ma tolong jangan terus menyudutkan ku"
"Kalau kamu tidak mau di sudut kan,fokus! Ada anak istri juga pikiran nya kemana-mana" oceh bu Retno
"Mas kamu mau pesan apa?" tanya Nasya lembut
"Terserah kamu saja,aku ikut kalian" jawab Dikta sambil memijat pelipisnya memikirkan keberadaan Aliya
"Papa kenapa? Papa sakit?" cecar Vania
"Papa sedang banyak pikiran saja sayang,ada beberapa hal penting yang harus papa selesai kan,jadi setelah makan papa izin pergi dulu ya"
"Alasan terus Dik,jangan terlalu banyak berbohong Vania sudah besar dan dia akan semakin mengerti,jangan sampai dia menyalakan kamu dengan situasi ini" sela sang mama membuat Dikta hanya bisa menghela nafas kasar.
****
"Selamat pak, istri anda saat ini sedang hamil dan usia kandungan nya sepuluh Minggu" ucap sang dokter membuat tubuh Aliya membeku begitu juga Farel yang mendengar kabar kehamilan Aliya.
"Ham-il dok?"tanya Aliya dan diangguki sang dokter
"Kram perut sering terjadi pada kehamilan trimester pertama ya bu,jadi jangan bekerja yang berat-berat, kandungan ibu masih lemah,saya resepkan dulu ya bu untuk vitamin nya jangan lupa minum susu hamil dan makan makanan bergizi,jika ibu mual dan muntah tak terkendali bisa kembali ke sini lagi tapi saya resepkan langsung obat mual nya" jelas sang dokter lagi.
Setelah periksa dan mengambil obat nyaa Farel langsung membawa Aliya untuk pulang, Aliya hanya diam saja tak bersuara sedikit pun,dia benar-benar syock menghadapi kehamilan nya ini.