Slow Update.
Kenan seorang penderita Kanker yang hanya menunggu menit saja untuk kematiannya tak sengaja masuk ke dalam tubuh seorang Qenan Satergonius Rilixks seorang NPC dalam kisah 'Macha'.
Masuk ke tubuh seorang NPC yang ternyata adik tiri dari sang Antagonis!, sama sekali tak membuatnya pusing!, lagi pula dia hidup hanya untuk dirinya sendiri.
Penulis!, saya tidak akan mengubah plot!, tapi maafkan saya jika menjadi sedikit egois dan mengubah jalan takdir NPC ini!.
Tapi apa yang terjadi?!!, kenapa Antagonis ini suka mengambil fotonya?!, serta selalu menempel kepadanya?!, ayolah kakakku sang Antagonis, Male Land dan Female Land ada di sebelah sana!.
Biarkan aku dengan tenang mengurus pekerjaanku untuk jadi kaya serta berkuasa ok?!!!.
Revisi sampai = 32.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SW Universe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Yah kemarin saat Qenan baru pulang dari tugasnya ibu tirinya itu mengirim seorang Pelayan setianya untuk memberikan dirinya surat.
Di dalam surat itu berkata keinginan ibu tirinya itu untuk pergi dari rumah dalam kata lain dia ingin terbebas dari gelar Bangsawan Rilixks.
Apa yang membuatnya tak senang?, bukankah dirinya bisa hidup enak dan berbelanja semaunya?, lalu kenapa?, dia ingin melepas nama Rilixks dari namanya.
Lalu kenapa ibunya tirinya lebih suka berkomunikasi dengan dia lewat surat?!, padahal kan mereka satu rumah dan zaman sekarang teknologi sudah maju dan ada yang namanya ponsel untuk komunikasi jarak jauh, jadi kenapa harus surat?!.
Semakin memikirkannya semakin pusing kepalanya.
Rasanya jawaban dari pertanyaannya sama sekali tidak dapat dia temukan.
Menghela nafas sambil menutupi setengah wajahnya dengan tangan Qenan kini mengusak rambutnya kebelakang dengan sedikit frustasi.
"Ini membuatku gila,"ujar Qenan lemas.
Masalah selalu datang kepadanya entah kapanpun itu, padahal dia berharap bisa dengan nyaman menikmati hidup.
"Pergi temui mama,"ujar Qenan yang kini sudah berdiri sambil memperbaiki pakaiannya.
Will yang di belakangnya segera saja menundukkan kepalanya.
"Baik Yang Mulia Grand Duke,"
****
Mendia yang kini sedang bersantai menikmati taman di malam hari sambil minum teh kini di kagetkan dengan laporan bahwa ada kunjungan dari Grand Duke saat ini.
Taman pada malam hari sejujurnya sangat indah pasalnya taman ini di hias oleh banyak lampu kelap kelip.
"Segera siapkan satu set cangkir teh lagi, dan ganti teh dengan yang masih panas,"perintah Mendia kepada para Pelayannya.
Semua pelayan serempak mengangguk dan mulai mempersiapkan berbagai hal untuk menyambut Tuan Besar mereka.
Tak lama rombongan Qenan tiba di sana dan di sambut dengan hormat oleh semua orang di sana.
Bahkan Mendia yang statusnya sebagai Nyonya di rumah itu juga kini berdiri dan menunduk hormat kepada Qenan.
"Ma, jangan berlebihan kita keluarga jadi tak perlu terlalu sopan kepadaku,"ujar Qenan yang kini mendekat kearah mama tirinya dan membantu beliau untuk menegakkan kembali tubuhnya, dia bahkan membantu Mendia duduk kembali di kursinya.
"Yang Mulia bagaimana mungkin saya berani seperti itu terhadap anda,"ujar Mendia formal.
Qenan hanya menghela nafas entah sejak kapan mama tirinya ini mulai berbicara formal terhadapnya, ah tidak! Itu terjadi sejak hari di mana kepulangannya dari tugas kemarin.
"Ma, apa yang terjadi selama aku tidak ada?, apa ada hal yang mengganggumu?, katakan saja padaku,"ucap Qenan lembut sambil berlutut di depan Mendia dan memegang kedua tangan mama tirinya itu penuh kasih sayang.
Melihat bahwa sang Grand Duke berlutut kini semua orang yang ada di saja menundukan kepala mereka, berpura-pura bahwa hari ini mereka sama sekali tidak melihat apa-apa, yah cukup umum bagi keluarga Bangsawan memiliki aib dan para Pelayan harus terbiasa dengan itu.
Mendia jelas kaget saat melihat Qenan berlutut di depannya jadi dengan cepat dia meminta agar Qenan segera bangun.
"Yang Mulia jangan seperti ini, banyak orang yang melihat,"ujarnya dengan panik sambil berusaha membuat Qenan untuk berdiri.
Namun siapa itu orang di depannya itu adalah Qenan orang yang kalau sudah yakin akan sesuatu dia akan menyakininya sampai akhir.
"Tidak apa-apa lagi pula siapa yang berani menyebarkan rumor tentangku di sini? Jika ada bukankah mereka meminta kematian?"ujar Qenan keras kepala namun juga lumayan kejam.
Sehingga membuat semua orang yang ada di sana bergidik ngeri mereka sama sekali tidak bisa membayangkan jika mereka sampai menyebarkan rumor!.
Mendia yang mendengar itu hanya bisa pasrah dan meminta baik-baik pada Grand Duke di depannya agar berdiri.
"Yang Mulia saya mohon,"ujar Mendia sedikit memohon.
Jadi karena tidak tega akhirnya Qenan berdiri dan segera duduk di kursi yang sudah di sediakan di sana.
Seorang Pelayan kini maju dan menuangkan teh untuk sang Grand Duke.
"Jadi kenapa mama bersikeras untuk menghapus marga Rilixks dari namamu?"ucap Qenan yang kemudian menyesap teh yang di suguhkan.
"Bukan begitu, ibu hanya berfikir bahwa ini sudah waktunya, ayahmu sudah lama meninggal dan saya sama sekali sudah tidak memiliki hak atas semua yang ada, jadi saya berfikir bahwa pergi dan menghapus marga Rilixks dari diri saya adalah yang terbaik, lagi pula bahkan jika saya sudah tidak memiliki nama Rilixks di belakang nama saya maukah anda tetap menjadi anak saya?"pinta Mendia.
Dia akui bahwa awalnya dia berfikir untuk memanfaatkan Qenan sebagai kepala keluarga yang baru tapi baru-baru ini dia sadar bahwa apa yang dia lakukan adalah salah.
Maka dia berinsiatif untuk angkat kaki dari Mension ini bersama anaknya, dia sama sekali tidak ingin merepotkan Grand Duke yang sekarang apa lagi dia masih merasa bersalah lantaran memiliki ide buruk sebelumnya.
"Ma, aku sama sekali tidak keberatan akan adanya dirimu di sini, aku juga tidak keberatan akan adanya Crystal, sama sekali tidak keberatan menjadi anakmu,"ujar Qenan.
Jelas Qenan tau bahwa wanita di depannya ini memiliki beberapa kekhawatiran dalam dirinya.
"Tapi Yang Mulia saya_"
Ucapan itu segara terpotong dengan cepat oleh Qenan.
"Apakah para Nyonya mengatakan hal itu kepadamu?"ujar Qenan dengan nada yang dingin.
"Apa maksudmu para Nyonya tidak mengatakan apa-apa pada perjamuan teh kemarin,"ucap Mendi keceplosan.
Qenan yang tau bahwa ada yang salah dengan apa yang di katakan mama tirinya ini kini menatap wajah Mendia yang sepertinya sedang tertangkap basah.
"Jadi benar para Nyonya itu menjelek-jelekkan anda di perjamuan teh,"ucap Qenan dengan nada yang semakin dingin.
"Itu tidak seperti yang kamu katakan Yang Mulia mereka semua sangat baik kepadaku,"elak Mendia.
Qenan yang tau bahwa mamanya ini masih keras kepala bahwa tidak ada yang terjadi di perjamuan teh kemarin hanya bisa menghela nafas lelah sambil memegangi kepalanya.
"Ma, kamu kira aku tidak tau apa yang terjadi?, mataku ada di mana-mana kamu ingat?"tanya Qenan menatap mata mamanya itu yang langsung saja di hindari oleh Mendia.
Tentu masalah mata Qenan yang ada di mana-mana dia juga tau, tapi dia tidak pernah berfikir bahwa dalam pesta perjamuan teh khusus wanita putranya ini ternyata punya mata-mata di sana.
"Kamu sejak kapan?"tanya Mendia tidak percaya.
"Sejak awal ayah memang punya mata-mata di mana-mana dan karena ayah sudah tidak ada semua otoritas berada di tanganku jadi jangan terlalu merasa aneh,"
"Tapi saya benar-benar ingin keluar dari rumah ini Yang Mulia, saya benar-benar menginginkannya bukan karena hasutan atau hinaan dari para Nyonya,"
Qenan yang masih saja mendengar kalimat itu sudah tidak bisa berkata-kata sepertinya pilihan itu sudah bulat.
"Baiklah mama boleh pergi dan hapus nama Rilixks,"
Ucapan Qenan itu membuat semua orang dia saja terkejut, bahkan Mendia sendiri.
"Tapi jangan sekarang, nanti saat kakak sudah lulus kuliah dan mendapat pekerjaan yang stabil,"lanjutnya yang kemudian berdiri dan meninggalkan taman bersama para antek-anteknya.
"Yang Mulia bukankah akan lebih baik jika anda melepas mereka dengan cepat?"ujar Will memberi pendapatnya dalam perjalanan kembali ke ruang kerja.
Menurutnya Crystal dan ibunya hanya akan menjadi masalah terutama Crystal gadis kekurangan IQ itu dia akan menjadi penghalang besar dalam hidup tuannya.
"Kamu benar Will aku juga ingin sekali segara melepas tanggung jawabku kepada mereka,"
Yang kini sudah membuka pintu ruang kerjanya dan sambil melepas jasnya di bantu oleh salah satu Pelayan pria pribadinya.
"Tapi aku tidak mungkin mengabaikan kalimat yang selalu di tekan oleh ayahku dulu padaku bukan?"sambil melambaikan tangan mengusir Pelayan dari ruang kerjanya
Pelayan itu kini pergi dengan sopan setelah membantu Tuannya untuk melepas jasnya.
Qenan sebenarnya juga tidak terlalu perduli dengan Crystal dan ibunya dia menyelesaikan semua masalah yang mereka perbuat hanya untuk memastikan bahwa Rilixks tidak mengotori nama mereka, dan yang terpenting adalah bahwa ayahnya.
Selalu menekan Qenan yang asli untuk selalu melindungi dua wanita itu, Qenan sampai tak habis fikir sebenarnya seberapa jauh ayah dari Qenan yang asli mencintai mereka?.
Qenan kini duduk termenung di sofa sambil membaca sebuah dokumen di tangannya.
Hari yang melelahkan~
Keluhnya yang kini mulai merasa lelah dengan semuanya.
Sedangkan Will hanya mengangguk mendengar apa yang dikatakan oleh Tuannya itu.
"Baiklah Tuan,"
Jam makan malam kini sudah tiba dan Qenan kini tiba di ruang makan paling akhir.
Kini mereka makan dengan nikmat sampai akhirnya saat mereka tinggal menikmati makanan penutup Qenan mulai membuka suara untuk berbicara dengan Niel.
"Niel, paman Viscount tau kamu ada di sini dan beliau berkata bahwa besok kamu harus pulang atau paman akan menyeretmu kembali,"
Mendengar apa yang di katakan Qenan, Niel sungguh kecewa dia tidak pernah menyangka bahwa si tua bangka itu! Tidak ayahnya tau dia bersembunyi di rumah Qenan.
"Tidak Qenan aku tidak mau pulang!"teriak Niel ketas kepala.
"Viscount berkata dia tidak menerima semua alasanmu, lagi pula kata paman bibi sakit karena memikirkanmu yang kabur,"ujar Qenan.
"Apa!, ibu sakit?!, kenapa ayahku sungguh tidak becus menjadi suami?!"teriak Niel dengan kaget sekaligus tak terima bahwa ibu tersayangnya malah sakit saat dia tinggal berdua dengan ayahnya itu.
"Makanya paman menyuruhmu pulang,"ujar Qenan akhirnya.
Sejujurnya keluarga temannya ini cukup harmonis hanya saja sikap keras Viscount dalam mendidik anaknya membuat Niel seakan-akan teraniaya.
"Jadi besok pulanglah,"perintah Qenan.
Niel hanya cemberut sebelum mengiyakan apa yang di katakan oleh Qenan.
"Baiklah besok aku akan pulang,"putusnya.
Sejujurnya dia masih ingin di sini saja dari pada pulang dan bertemu dengan ayah menyebalkannya hanya saja ibunya sakit jadi mau tidak mau dia harus pulang besok.
"Ah! Qenan aku dengar awal bulan depan ada pelelangan bukan?, kamu dapat undangannya seperti tahun-tahun kemarin bukan?, bisakah aku ikut?, kau tau bukan ayah mendapatkannya tapi dia sama sekali tidak ingin mengajakku,"ujar Niel dengan sedih.
"Ya tentu saja kamu boleh ikut, lalu bersiaplah untuk bulan depan,"
Crystal yang mendengar itu kini ingat akan pembicaraan yang dia lakukan dengan ibunya pada aaat itu, jadi segara saja dia ikut bergabung dalam pembicaraan itu.
"Qenan apa aku juga boleh ikut!"ujar Crystal semangat menatap Qenan penuh harap.
Qenan hanya tersenyum sambil mengangguk sebagai tanda bahwa dia juga boleh ikut, mendapat persetujuan dari Qenan Crystal sangat senang sekali dia bahkan tidak bisa berhenti tersenyum saat memikirkan banyak barang-barang langka dan cantik di sana.
Mendia sendiri kini hanya tersenyum diam-diam melihat bahwa putri kandungnya dan putra tirinya sangat akur, hari ini dia sebenarnya bahagia.
***
Dan hari berikutnya seperti apa yang sudah di rencanakan Niel pergi ke sekolah dan mengatakan bahwa dia akan pulang ke rumah setelah sekolah.
Crystal sendiri dia masih mengambil cuti dan di suruh oleh Qenan untuk berangkat ke perusahaan.
Sedangkan Qenan sendiri dia harus pergi ke Istana untuk rapat dadakan, karena hal itu dia harus mengambil cuti sekolah.
Rasanya sungguh si@l bahwa rapat ini terjadi karena penemuannya.
Sejujurnya hari ini dia lebih suka berangkat ke perusahaan dan mengurus berkas-berkas yang ada di sana, sepertinya iti cukup banyak, apa lagi jika memikirkan setiap berkas di kantornya bisa menghasilkan uang sungguh membuatnya semangat bekerja di perusahaan!.
Saya sekali bahwa hari ini harus ada rapat.
****
Setibanya Qenan di ruang rapat ternyata di dalamnya sudah ada para Bangsawan yang kini duduk di kursi mereka dengan cemas.
Jelas bahwa mereka semua pasti sudah tau alasan kenapa mereka di panggil ke sini.
Bahkan sampai Qenan duduk di kurisnya pun para Bangsawan sama sekali tidak menyadarinya mereka kini hanya memasang wajah suram.
"Katanya rapat kali ini karena Penyihir hitam!, bahkan hari ini rapat kita akan di adakan dengan seorang Penyihir dari Menara sihir internasional,"
"Iya aku sudah dengar, seberapa menakutkannya itu jika nyata,"ujar yang lainnya dengan ngeri.
"Ugh!, sadarlah kawan itu nyata bahkan Grand Duke Rilixks sendiri yang mencari buktinya dan bertemu dengan Penyihir itu,"
"Arghh!!, kenapa kamu begitu segarusnya kamu berdoa bersamaku sambil berharap bahwa ini semua hanya prank!"
Qenan kini tau bahwa semua orang yang ada di ruangan ini sangat takut dan tertekan dengan berita yang dia bawa kemarin.
"Hey nak, aku tidak menyangka bahwa kunjunganmu ke sana malah akan menemukan hal yang mengejutkan,"sapa seseorang Duke tua yang entah sejak kapan sudah ada di sebelahnya sambil memeluk bahunya dengan akrab.
"Aku juga tidak menyangka akan seperti ini,"ujar Qenan dengan canggung.
Orang yang kini memeluk bahunya adalah salah satu Grand Duke yang ada dia adalah pria tua yang waktu itu Grand Duke Chaiden Van Korrlar yang merupakan Grand Duke Selatan yang berumur 72 tahun.
"Aku bahkan tidak bisa mengatakan apa-apa selain ingin mengatakan bahwa kamu sangat malang apa lagi katanya kamu bertarung dengan Penyihir itu, lalu apa kamu punya luka?"tanya pria tua itu penasaran.
"Sayangnya tidak,"
Entah kenapa jawaban itu sepertinya membuat Grand Duke tua itu sedikit kecewa.
"Sayang sekali kamu tidak dapat kenang-kengan yang membanggakan,"ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan-akan merasa kasian terharap Qenan.
Qenan hanya bisa mengerutkan keningnya dengan bingung saat melihat pria tua itu melepas pelukannya dan kembali duduk di kursinya dengan lesu.