“Hasil karya Allah itu selalu indah, tidak ada yang jelek dan Dia scriptwriter terbaik. Apa yang kamu takutkan?” tanya Yusuf pada Silvia.
Sikap dan tutur kata Yusuf selalu indah, seindah tatapan sayu matanya. Tanggung jawabnya kepada Silvia sebesar ketaatannya kepadaNya.
Kendati demikian, hati Silvia masih terus terpaut pada Andrew–masa lalunya yang ia yakini lebih baik dari Yusuf. Pekerjaan Yusuf juga menjadi pemicu keraguan hati Silvia untuk bisa hidup bahagia.
Lantas, apakah nantinya Silvia bisa mencintai Yusuf dan menerimanya sebagai suami?
Tadabbur cinta, “Meniadakan luka dengan mendekatiNya.”Sebuah karya dalam kemasan novel yang akan mengajak para jomblo merenungi, memahami cinta yang sesungguhnya. Mencintai dan memiliki tanpa melukai hati dan menodai ajaranNya.
Menjadi taman bacaan dan obat galau para jomblo yang sedang jatuh cinta, di era modern yang mengedepankan materialisme dan menganggap hedonisme sebagai satu-satunya cara, hidup bahagia.
ig @menu.kenanganmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa Zifara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Allah Permanenkan Namamu Dihatiku
"Makasih ya, Suf." Gadis mungil kembali ke kamarnya. Sementara Yusuf memilih duduk di depan kamar, sembari senyum-senyum sendiri–mengingat aurat indah Silvia yang paling dia sukai. Bayangan-bayangan menggoda menari-nari dipikirannya.
"Mikir apa sih, Suf. Lanjutkan bersih-bersihmu," tutur batin Yusuf.
Rupanya Rendi masih ada di depan. Dia menunggu Yusuf di teras rumah sambil menyedot rokoknya.
"Bini kau, manggilnya kok Yusuf? Nggak ada panggilan khusus?" tanya Rendi.
Yusuf tersenyum, "Sudah biasa, Bang. Nanti juga lama-lama panggilan sayang itu muncul sendiri. Maklum, kami tidak pernah pacaran sebelumnya. Apalagi umur pernikahan kami belum genap 2 bulan.
"Lagi pula, kau ini kenapa buru-buru nikah? Padahal kau sendiri belum kenal Silvia secara mendalam. Iya, 'kan?"
"Bagi saya, mengenalnya saat sudah menikah itu lebih menantang dan indah, Bang." Dia kembali tertawa lebih keras.
***
Kharisma : Sil, rezeki itu sudah Tuhan atur. Jangan terlalu khawatir. Btw .. Suamimu memangnya kerja apa?
Silvia : Cuma musyrif sama munsyid. Rezeki emang udah Tuhan atur, tapi kita kan kudu usaha juga, Ris. Dia berani nikahi aku, tapi gak berani kerja keras. Mana aku kalau tengah malam suka lapar, lagi. Mau makan tengah malam sungkan sama mertua. Disini yang makannya banyak cuma aku, Ris.
Sebuah percakapan via aplikasi hijau yang berakhir dengan stiker tertawa sebagai balasan dari Kharisma. Dengan keisengannya, Silvia membuka dan membaca kembali buku tebal bersampul hitam, milik Yusuf yang beberapa waktu lalu pernah dia baca.
Seorang istri yang memaksa suaminya menjadi sedih, akibat urusan nafkah atau membebaninya di luar kemampuan suami, maka Allah tidak menerima kesetiaan dan keadilannya.
"Ini sebenarnya kitab apaan, sih. Isinya ngeri-ngeri banget," ucap lirih Silvia.
Dia menutup kembali buku kitab hitam itu, lalu membuka laptopnya. Niat hatinya ingin melakukan pengecekan kegiatan karyawannya di media sosial. Tetapi Tuhan seolah memberinya peringatan untuk tidak semena-mena dengan Yusuf.
Banyak barang yang dilelang oleh Nadifa–salah satu admin di butiknya. Sementara Wulan–asistennya, beberapa minggu yang lalu melaporkan bahwa produk Silvia baik-baik saja dan sedang keluar 3 kodi per dua hari, selama satu bulan penuh. Artinya, barang-barang hasil produksi 3 bulan yang lalu sudah menipis.
"Loh, kemarin katanya barang keluar 3 kodi per 2 hari. Tapi kenapa ada banyak banget barang yang Nadifa lelang?" ucapnya.
Boss muda itu segera menelpon Wulan–asistennya dan menanyakan kejelasan tentang barang-barang yang Nadifa lelangkan di live streaming sosial media.
"Iya, Mbak. Apa yang aku laporkan itu benar, jumlahnya. Tapi 3 hari yang lalu barang-barang itu dikembalikan oleh salah satu customer dari Medan. Dia bilang kalau barangnya tidak sesuai. Ada 5 kodi barang yang kembali. Setelah barang datang dan kami cek, ternyata barang itu sudah rusak. Sepertinya memang disengaja oleh customer membuat baju-baju itu cacat."
"Apa? cacat gimana, maksud kamu? Udah ya, stop. Jangan dilelang lagi, Wulan. Aku meluncur ke butik sekarang," ucap Silvia sembari memakai hijab instan dan mengambil tasnya dengan langkah buru-buru.
Tiba di teras rumah, dia melihat Yusuf dan temannya. Tanpa mau basa-basi, Silvia mencium tangan Yusuf.
"Aku mau ke butik, ada masalah." Dia memakai helm dan mengambil motor.
"Ma–masalah apa?" tanya Yusuf.
"Nanti aja aku ceritain. Aku buru-buru!" teriak Silvia.
Yusuf melompat dari kursinya dan menahan Silvia yang sudah menyalakan motornya.
"Biar saya antar, ya. Menyetir motor sendirian dengan kondisi tidak tenang, bisa membahayakanmu."
"Haduh, ribet banget sih, jadi laki! Ya udah, cepetan!" bentak Silvia.
Yusuf berlari ke dalam, mengambil helm dan dompetnya, lalu mengunci pintu rumahnya. Sementara Rendi terpaksa kembali pulang, meskipun obrolannya belum selesai.
***
"Cepetan, Suf! Ngebut!" teriak Silvia.
"Gimana mau ngebut, kalau kamu sendiri tidak mau pegangan! Saya takut kamu jatuh!"
Kedua tangan Silvia melingkar erat di perut atas Yusuf. Seketika itu debar jantung Yusuf semakin tak beraturan. Merasakan pelukan hangat Silvia diatas motor yang baru pertama kali dia rasakan.
"Ya Allah ..., kenapa jantung saya jadi begini, ya. Semoga aman, tidak bikin sakit jantung," tutur batinnya.
Tiba di butik yang berukuran cukup besar dengan warna serba pink pastel. Tampak sepi pengunjung. Seorang lelaki berperut buncit, berpakaian serba hitam, segera berdiri tegap dan memberikan tanda hormat, saat Silvia dan Yusuf datang.
"Selamat Pagi, Bu Silvia dan Bapak," ucap lelaki tersebut.
"Pagi, Pak." Hanya senyuman dari Yusuf yang Satpam itu dapatkan. Sementara ia hanya melihat wajah kusut dengan alis berkelut menghiasi wajah Silvia.
Silvia dan Yusuf masuk ke ruangan ber-AC, diikuti oleh Wulan dan Nadifa yang sudah tahu maksud dan tujuan dari kedatangan Silvia.
"Aku mau lihat baju-baju cacat yang kalian maksud," kata Silvia–bernada ketus.
Kemarahan pecah, di ruangan Silvia pagi itu. Pasalnya, ratusan baju yang dia produksi, hampir semuanya terdapat bekas guntingan, noda cat, noda minyak, dan noda-noda lain yang belum dia ketahui asalnya.
"Terus uangnya gimana?" tanya Silvia.
"Kita hanya nerima uang DP saja, Mbak. Customer itu nggak mau bayar sisanya karena alasan barangnya cacat. Saya sudah membantah, tapi saya kalah karena nggak ada bukti kondisi barang sebelum dikirim," ucap Nadifa.
"Bodoh, semuanya! Harusnya kalian ngomong ke aku, hari itu juga kalau emang kalian gak bisa negesin orang itu. Kenapa kalian diam aja, ha?! Kalau gini ceritanya, lama-lama aku bisa bangkrut!" teriak Silvia.
"Albi sayang, sabar dulu .. Jangan teriak-teriak seperti ini. Suaramu terdengar sangat keras. Malu, di dengar orang tidak pantas," sahut Yusuf.
"Udah deh, Suf. Mendingan kamu diem aja, gak usah ikut campur! Kamu gak tahu, gimana susah payahnya aku membangun ini semua sendirian, Suf. Kalau cuma ngomong sabar doang sih, gampang. Toh kebanyakan makan sabar juga rugi, kok."
"Kamu selalu sabar, gak kayak aku. Tapi apa hasilnya sabar? bisa kasih aku nafkah yang mumpuni, gak? kalau aku bangkrut, kamu juga gak pecus kerja, kita mau bertahan hidup pakai cara apa? pikir dong, Suf. Otaknya dipakai!"
Lantang suara kemarahan Silvia, sampai didengar oleh karyawannya yang lain. Mereka saling berbisik membicarakan Silvia yang sangat arogan, bahkan berani dengan suaminya.
Salah satu karyawannya menilai Silvia terlalu kaku dan jauh dari rasa syukur. Padahal banyak orang yang ingin memiliki suami seperti Yusuf dan kehidupan sepertinya, tetapi Silvia justru tidak mensyukurinya.
"Padahal di luar sana banyak banget, cowok tukang selingkuh dan KDRT ya, Gaes. Ini Bu Silvia dikasih Allah suami yang sabar, penyayang, imannya juga kuat, malah diperangi," ucap salah satu karyawan yang akrab disapa Nike.
"Maaf, boleh tinggalkan kami berdua disini?" tanya Yusuf kepada Wulan dan Nadifa.
"Baik, Pak." Mereka keluar dan menutup pintunya.
Yusuf mendekatinya, mencoba bicara perlahan-lahan dengan Silvia yang sedang tersedu-sedu di kursi office nya.
"Saya tahu, perasaanmu pasti kecewa, marah, sedih. Tapi kamu harus ingat, Silvia .. Tidak ada sehelai rambut pun yang bisa jatuh, kecuali karena kehendak Allah." Yusuf jongkok di bawah Silvia sembari menghapus air mata Silvia.
"Saya kemarin 'kan sudah bilang to .."
"Saya pasti mencari pekerjaan sampingan lagi, demi bisa membahagiakanmu. Kenapa masih resah? Apa kamu tidak percaya dengan saya?" tanya Yusuf.
Sementara diluar, Nadifa dan Wulan mengintip mereka berdua dari kaca jendela. Berbisik lirih, memuji kesabaran Yusuf yang sangat diimpikan oleh banyak wanita.
"Di dalam rumah tangga itu, harus saling bekerjasama dan saling mendoakan. Kamu tahu tidak, kalau doa seorang istri itu lebih mustajab dibandingkan doa suami? Ada sebuah petuah, rezeki suami akan lancar ketika istrinya bahagia dan pandai bersyukur."
Kala itu Silvia berhenti dari menangisnya. Dia merenung dan teringat bahwa dirinya tidak pernah mendoakan Yusuf di dalam salatnya. Dia hanya mencaci maki Yusuf, tanpa pernah memikirkan perasaan Yusuf.
Padahal, dia sendiri pernah merasakan sakit hati karena dibanding-bandingkan oleh orang tua kandungnya dalam pekara ekonomi. Hatinya kembali terketuk dan mulai berhenti mengejar Andrew. Hatinya tenang, setiap kali mendapatkan perlakuan baik dari Yusuf disaat dirinya marah.
"Kamu kenapa gak marah balik sama aku? Harga dirimu udah aku injak-injak berkali-kali, kenapa kamu gak marah? kenapa kamu gak selingkuh dan ceraikan aku?" tanya Silvia.
"Karena sebanyak apapun perempuan yang lebih segalanya darimu, Allah telah menetapkan namamu di hati saya. Allah biarkan nama dan wajahmu terukir permanen disini." Yusuf mengangkat tangan Silvia dan meletakkannya di dada Yusuf dengan iringan senyum yang menghiasi wajah tampannya.