Dihari yang telah ditetapkan dengan perencanaan yang matang dari dua pihak keluarga hampir saja berantakan, saat calon mempelai pria tidak datang untuk melangsungkan akad pernikahan.
Demi nama baik antara dua keluarga pernikahan tetap dilanjutkan, namun dengan pria yang berbeda.
Lalu bagaimana pasangan yang tidak saling mengenal itu mengarungi bahtera rumah tangganya.
Akankah berakhir dengan sebuah perpisahan, atau justru tumbuh benih-benih cinta seiring berjalannya waktu.
Suami Pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawarjingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemui Abi
Adam tak banyak berpikir, ia memilih untuk kembali kekantor, karena terlalu banyak hal yang harus ia urusi saat ini.
Tapi sebelum kembali, ia menghubungi seseorang terlebih dulu untuk membantunya memeriksa sesuatu yang membuatnya penasaran.
Setelah mendapatkan informasi yang ia minta, Adam pun bergegas kembali kekantornya.
"Panggil semua staf, kita adakan rapat." ucap Adam pada Willy begitu ia sampai dikantor.
"Baik pak."
"Oh iya Will, sore nanti tolong kosongkan jadwal saya, saya ada keperluan sebentar.''
"Baik pak." jawab Willy patuh, dan bergegas pergi dari hadapan Adam.
Rapat selesai dalam waktu hampir dua jam, karena membahas permasalahan panjang Andara group yang telah berkhianat.
Serta mencari solusi mengenai beberapa hal yang bisa menyelamatkan perusahaan.
"Saya pergi dulu Will, telpon saya jika ada sesuatu yang benar-benar mendesak." ujar Adam sembari mengancingkan jasnya bersiap untuk pergi.
"Siap pak."
Adam mendesaah panjang menatap kemacetan kendaraan yang cukup memadati jalan.
CK!
Ia lupa, jika di jam ini adalah waktunya makan siang, berbicara tentang makan, Adam tiba-tiba teringat pada Freeya yang menasihatinya sebelum pergi tadi pagi.
Sesibuk apapun dirinya, tidak boleh melewatkan makan siangnya.
"Kalau begini mas jadi kangen lho Ya." gumamnya sambil tersenyum-senyum sendiri.
Setelah puluhan menit berlalu rasa lelahnya pun tergantikan dengan perasaan lega, karena akhirnya ia terbebas dari kemacetan.
Tiga puluh menit berlalu, Adam menepikan mobilnya didepan sebuah gedung pencakar langit milik sang ayah.
Matanya menyipit menatap keadaan sekitar, sudah banyak yang berubah rupanya!
Terakhir saat ia kesana, ketika berumur delapan belas tahun, jika dihitung hampir sepuluh tahun ia tak menginjakkan kakinya di perusahaan tersebut.
"Selamat siang? maaf pak, mencari siapa?" sapa seorang wanita berambut pendek yang bertugas dibagian depan.
Adam menoleh, "Siang? emm.. itu saya mencari pak Abi, ada?"
"Apakah sudah membuat janji sebelumnya?" lanjut wanita itu sopan.
"Memangnya kalau mau ketemu ayah sendiri harus membuat janji terlebih dulu ya?" gumam Adam.
"Gimana pak?"
"Nggak, saya nggak ada janji sebelumnya."
"Kalau begitu silahkan bapak buat janji terlebih dulu."
Adam mengangguk, ia tentu mengerti dengan prosedur perusahaan, karena diperusahaannya pun seperti itu, terlebih wanita itu tidak mengetahui jika dirinya adalah salah satu putra dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
"Baiklah." ucap Adam sembari mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jasnya, kemudian menghubungi sang ayah dan memberitahu jika saat ini dirinya berada didepan perusahaan.
Lima menit kemudian seseorang yang ia tunggu keluar dengan mata berbinar.
"Wah-wah, ada angin apa nih, tumben sekali kamu datang kesini Dam, kenapa nggak langsung masuk saja sih, sok-sokan telpon papa segala, kayak kesiapa saja."
"Harus buat janji dulu kan katanya." Adam melirik wanita berambut pendek tadi yang kini terlihat menunduk.
Abi diam mengikuti arah pandang putranya, dan tertawa.
"Hana, lain kali kalau kamu lihat wajah ini lagi, suruh dia langsung masuk saja, dia anak pertama saya." Abi memberi tahu.
"I-iya pak, maafkan saya." ucap wanita bernama Hana itu dengan raut wajah menyesal.
"Serius banget, nggak masalah kok, kamu sudah melakukan yang terbaik." ujar Adam.
"Yasudah ayok masuk, sepertinya ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan kan, sama papa."
"Iya pa."
"Ayok kita bicara diruangan papa saja."
Abi melangkah terlebih dulu diikuti Adam menuju lantai tiga belas, dimana ruangan kerja sang papa berada.
"Katakan!"
Adam tampak menghela sembari memperbaiki letak duduknya menghadap sang papa.
"Pa, aku kesini cuma mau tanya satu hal sama papa."
"Katakan saja."
"Apakah sekarang Aidan terjun ke bisnis properti?"
"Properti? papa malah baru tahu lho soal ini dam.''
"Jadi, dia nggak bilang ke papa."
Abi menggeleng.
"Papa memang sudah menyerahkan perusahaan cabang sepenuhnya kepada Aidan, tapi papa tidak menyangka dia akan mengubahnya secepat ini."
"Baiklah pa, hanya itu yang mau aku tanyakan, aku permisi."
"Lho, buru-buru sekali Dam?" ucap Abi yang tampak kebingungan saat putranya pergi begitu saja.
Sementara itu, Adam bergegas memasuki mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan yang cukup tinggi, ia akan mampir terlebih dulu untuk makan, jika tidak saat pulang nanti ia akan mendapat omelan dari istri kesayangannya.
*
*