Aku masih berusia 17 tahun dan mereka dengan santainya mengatakan niatnya untuk menjodohkanku dengan putra sahabat ibuku. Apakah dunia hanya sebesar daun kelor? Bagaimana tidak. Calon suamiku adalah wali kelasku sendiri! Dimanakah aku harus menyembunyikan wajahku dari anak-anak satu sekolah? Bagaimana mungkin seorang Carlina Deani menikah dengan Krisan Yosia yang adalah wali kelasnya?
Tak pernah terpikir bahwa aku akan kehilangan masa remajaku. Semua orang seusiaku umumnya baru mengenal cinta -meskipun itu cinta monyet, berpacaran, ya menjalani masa penjajakan. Tapi aku sekarang sudah harus menikah? Apakah aku bisa menjadi istri yang baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eunike lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Epilog
Langkahnya gontai menyusuri jalan kompleks perumahan tempat Carlina tinggal. Cerita Carlina masih terngiang di telinganya menyisakan goresan pedih yang membuat hantinya semakin merasa bersalah atas kematian kekasihnya.
Ia teringat kembali akan cerita Carlina. Empat tahun lalu. Baru saja pria itu masuk ke mobilnya. Terdengar samar suara seseorang memanggil namanya. Ia tahu siapa yang memanggilnya. Namun ia tak menghiraukan. Atau lebih tepatnya ia tak ingin menangis jika harus bertemu Winda untuk terakhir kalinya.
“Winda, awas!!”
Tubuh jangkung itu segera tergeletak di tanah. Darah segar mengalir dari kepala, hidung dan juga dari celah di antara sepasang bibirnya. Krisna memegang pergelangan tangannya. Sungguh lemah!
Laura meraih setangkai mawar putih dan sebuah amplop putih. Keduanya kini tidak bersih lagi. Noda darah itu telah menghiasi kepolosan itu. “Beasiswa Xiamen University?” gumam Laura. Segera ia memasukkan benda itu ke dalam tas Winda ketika ayahnya telah membawa Winda ke mobil.
Impian Winda tinggal selangkah lagi. Namun alam tak mendukung keinginan hatinya. Kondisinya sangat parah dan telah membuat tangisan terdengar di sana-sini. Tangisan dari rekan dan kerabat, sahabat dan saudara, semuanya menggema di lorong rumah sakit.
Carlina menyalakan ponselnya dan segera menghubungi Al. Hal yang sama Krisna lakukan. Tak ada jawaban. Bahkan sampai hari-hari berikutnya. Semua masih sama. Al tetap tidak dapat dihubungi.
Hingga satu bulan berlalu. Terlihat grafik pada bedside monitor yang semakin menurun dan kemudian berubah menjadi garis lurus. “Maaf. Saya harus mengatakan ini: Winda meninggal.”
Teriakan kemudian isakan mulai mengiringi. Hatinya sangat hancur. Carlina begitu terpukul. Bagaimana tidak. Putri semata wayangnya harus kembali ke pangkuan sang Ilahi. Air mata deras mengalir. Sesak di dada sangat menghimpit.
“Apa ada yang sudah bisa menghubungi Alfian?” tanya Krisna.
Semua saling memandang. Kemudian menggeleng. Selama satu bulan tak ada satupun yang berhasil menghubungi Alfian. Termasuk Krisna dan Pipin, orangtua angkatnya.
Air mata itu terus mengalir mengiringi langkahnya menuju pemakaman umum. Di tangannya ada sebuah kotak berwarna biru yang beberapa saat lalu Carlina berikan untuknya. Tak ada kata lagi yang mampu diucapkan selain kata: maaf.
Al sebenarnya ingin segera melamar dan menikahi Winda. Ini sudah 4 tahun sejak kepergiannya, yang artinya Winda sudah lulus kuliah. Ia sangat serius dengan perasaannya, terlebih penantian panjang yang selama ini dijalaninya membuat Winda semakin berharga baginya. Namun sayang, niat baiknya itu justru tak dapat terlaksana. Winda telah kembali kepada Pencipta. Al sadar Tuhan lebih menyayangi Winda dan tidak ingin Winda menderita sakit lagi. Inilah sebenarnya jawaban dari doanya yaitu agar Winda disembuhkan sepenuhnya.
Ia tahu ada makna di balik semua itu. Namun yang membuat hatinya sangat hancur adalah ia tak dapat menemani Winda pada waktu kelulusan, ia tak dapat melihatnya berbahagia karena penghargaan yang diperolehnya, ia justru mengecewakannya dengan pergi tanpa bicara apapun dan menyebabkannya meninggal karena mengejarnya. Al juga tidak dapat melihat wajahnya untuk terakhir kalinya dan mengantarkannya ke peristirahatan yang terakhir.
Al merasa sangat bersalah.
“Terimakasih untuk kebahagiaan darimu. Maaf aku menjadi penyebab kematianmu. Dan maaf jika aku mengingkari janjiku. Maaf aku baru bisa datang. Maaf…” katanya sambil meletakkan sebuah kertas gambar dua puluh kali tiga puluh bertuliskan I Love You. “Maaf aku tak bisa mengantarkanmu ke peristirahatan terakhirmu.” diciumnya batu nisan itu.
“Tunggu aku di sana, Winda.”
haii mampir ke karyaku yu.. ENDINGKU BERSAMAMU
kisah romansa dua insan manusia
jangan lupa like, vote, rate dan komennya..
sumpah bingung
thor klw penjelasaan ceritanya beraturan bagus loh critanya...ini kesannya dipotong2 critanya pingin cpt2 selesai kah thor?
sama judulnya jg jd g pas...
ujung2nya ke sana jg
g ada ketegangan nih...tp klw itu tulang sumsum krisan, jd dia g boleh capek2 loh..