Zaid, anak seorang petani miskin pergi ke hutan bersama pamannya, ia jatuh ke jurang. Beruntungnya ia selamat karena di dasar jurang terdapat aliran air. Ia tak tahu harus ke mana karena di kanan kirinya hanya ada dinding tebing. Jadi ia hanya terus berenang mengikuti aliran air hingga ia tak sanggup lagi untuk berenang dan perlahan ia tenggelam.
Tetapi anehnya ia selamat. Ternyata di dalam air tempatnya tenggelam, ia tak sengaja masuk ke portal yang memindahkannya ke planet Imub. Planet yang sangat mirip dengan Bumi. Planet berisi orang-orang yang mempunyai kekuatan sihir alami.
Ketika ia sadar, ia sudah berada di kamar, berbaring di atas ranjang kayu sederhana. Ia diselamatkan salah satu perempuan remaja yang ada di planet Imub. Chiara.
Chiara mengatakan Zaid tak mungkin kembali ke bumi. Tetapi, bukan itu masalahnya, planet Imub sedang dalam kekacauan dan membutuhkan bantuan Zaid.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Saefulloh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan
Saat fajar tiba Zhang Xiao kembali ke panti asuhan, Leo pun langsung pamit pulang. Ia mengatakan keadaan tadi malam baik-baik saja.
15 menit setelah sarapan, semua anak-anak kecuali Zaid langsung melatih ilmu pernapasan, sambil berjemur di halaman depan. Sekilas hanya terlihat seperti bermeditasi. Tujuannya adalah untuk memperkuat energi sihir yang dilatih. Jika melatih energi api, maka kekuatan apinya akan meningkat; jika melatih energi air, maka kekuatan air yang akan meningkat.
Sementara latihan Zaid berbeda, Zhang Xiao ingin mengetahui terlebih dahulu dari ketujuh kekuatan, sihir apa yang paling kuat dalam diri Zaid. Maka dirinya dan Zaid berdiri belasan meter dari anak-anak yang bermeditasi.
"Baik, sekarang, Coba kau tunjukkan kemampuanmu," titah Zhang Xiao.
Bersamaan dengan kurcaci pembantu yang tengah membuat cemilan di dapur, Zaid menjawab, "Ta-tapi, aku belum pernah menggunakan kekuatanku, bahkan aku tak tahu bagaimana caranya."
"Itu mudah, kekuatan sihir bisa kau rasakan sendiri di tubuhmu. Mirip seperti detak jantung yang bisa kau rasakan, namun sangat lebih tipis. Seperti ada, seperti tidak ada. Kekuatan sihir mengalir di setiap aliran darahmu. Sekarang, coba pejamkan matamu, fokus dan rasakan.
Zaid langsung memejamkan matanya, setelah 10 detik ia berkata, "Aku tidak bisa merasakan apapun selain detak jantung dan hembusan napasku."
"Sudah kubilang, itu seperti ada, seperti tidak ada. Ulangi lagi, kali ini kau harus lebih fokus, atur juga pernapasanmu," jelas Zhang Xiao.
"Baik." Zaid langsung memejamkan matanya lagi. Fokus atur pernapasanmu, batin Zaid pada diri sendiri.
Setelah beberapa saat Zaid mulai bisa merasakannya. Awalnya Ia hanya dapat merasakan suara hembusan napasnya, lalu detak jantung dan denyut nadi, setelah itu baru aliran darahnya, ia bisa merasakannya. Dengan fokus Zaid kemudian merasakan hawa dingin, panas dan sejuk yang menjadi satu di seluruh tubuhnya. Ia juga merasakan sengatan listrik yang sangat kecil dan rasa gatal di aliran darahnya. Ia lalu merasakan aliran darahnya yang bagai suara aliran sungai yang tenang dan yang terakhir ia bisa mencium aroma tubuhnya, bau tanah. Semua yang Zaid rasakan itu benar-benar sangat amat tipis, seperti ada seperti tiada.
"Apa yang paling kau rasakan selain suara hembusan napasmu, detak jantung, denyut nadi dan aliran darah?" Tanya Zhang Xiao langsung pada poin pentingnya.
Semua yang dirasakan Zaid selain yang dikecualikan oleh Zhang Xiao sebenarnya benar-benar sangat amat tipis, namun yang paling dirasakan Zaid adalah Hawa dingin. Maka ia menjawab, "Hawa dingin!"
"Hmmm... Kalau begitu, berarti kekuatan es yang paling kuat yang ada pada dirimu. Sekarang, serang pohon ini." Zhang Xiao mengeluarkan energi tumbuhan di telapak kakinya, pohon besar dengan cepat tumbuh di sampingnya.
"Kau hanya perlu mengumpulkan energi es di seluruh tubuh ke satu. dan mengeluarkannya," jelas Zhang Xiao. Tangan Zhang Xiao diselimuti uap dingin, ia mengayunkan tapak ke batang pohon di sampingnya, batang pohon itu seketika membeku sebagian. Tepatnya, area beku yang diciptakan berbentuk lingkaran berdiameter 20 cm.
"Sekarang, kau cobalah," titah Zhang Xiao datar.
Zaid melihat es di batang pohon menghilang, Zhang show sudah menyerap kekuatan esnya.
Zaid maju mendekati pohon itu. Ia lalu melakukan seperti yang Zhang Xiao lakukan, ia mengayunkan tapak ke batang pohon itu dan betapa terkejut dirinya sendiri dan Zhang Xiao, area yang dibekukan tapaknya membekukan seluruh batang pohon, bahkan cabang dan ranting pohon serta seluruh dedaunan membeku, tidak ada yang tersisa, namun yang menjadi masalah adalah, lengan bawah Zaid juga ikut membeku, tapaknya masih menempel di batang pohon.
"Oh, tidak, lenganku!" Zaid mencoba menarik, namun tak bisa.
"Tenang, Zaid." Zhang Xiao menyerap kekuatan tumbuhan, pohon itu hilang, menyisakan cangkang es berbentuk pohon dengan sedikit daun.
Ia lalu mengeluarkan api di telapak tangannya, dengan kekuatan api ia melelehkan es itu. Tangan Zaid lepas dari cangkang es berbentuk pohon, namun tangannya masih diselimuti es.
"Mudah, bukan?" Tanya Zhang Xiao. "Yang sulit adalah mengatur seberapa banyak energi es yang harus dikeluarkan," jelasnya. "Sekarang, coba kau serap kembali es milikmu."
"Bagaimana caranya?" Tanya Zaid.
Zhang Xiao menghela napas. "Kekuatan sihir sebenarnya bisa dikeluarkan dengan berbagai macam bentuk, tergantung kehendak penggunanya. Maka berimajinasilah. Jika kau ingin membentuk kupu-kupu es, bayangkan kupu-kupu; jika kau ingim membentuk balok es, bayangkan balok es," jelas Zhang Xiao sambil membentuk kupu-kupu es dan balok es di kedua telapak tangannya, lalu ia menghilangkannya kembali. "Jadi, jika kau ingin menyerap kembali kekuatanmu," kata Zhang Xiao lagi.
"Aku harus membayangkan es itu menghilang atau mencair," potong Zaid. Ia kemudian langsung mencobanya, dan ternyata berhasil. Cangkang es berbentuk pohon dan es yang membungkus lengannya perlahan mencair dan hilang.
"Bagus," kata Zhang Xiao. "Sekarang, coba kau bekukan ini," Zhang Xiao membentuk bongkahan tanah kecil di tangannya menggunakan energi sihir tanah, lalu menerbangkan bongkahan itu, mengendalikannya dengan sihir angin.
"Bagaimana caranya?" Tanya Zaid.
"Gunakan imajinasimu," jawab Zhang Xiao datar.
Imajinasi, imajinasi, berpikir! Berpikir! batin Zaid, tapi bagaimana? Ah, aku tahu!
Zaid mengumpulkan energj es di telapak tangannya, lalu lengannya mengayun, uap dingin keluar dari telapak tangannya, melesat menuju bongkahan tanah yang diterbangkan oleh sihir angin milik Zhang Xiao. Uap dingin itu mengenainya, bongkahan tanah itu membeku.
"Bagus, serap kembali kekuatanmu," titah Zhang Xiao.
Zaid melakukannya, sekarang bongkahan tanah itu tidak diselimuti es.
"Sekarang coba bekukan tanah ini lagi," kata Zhang Xiao. Dengan kekuatan anginnya ia menggeser bongkahan tanah ke samping kanan.
Zaid melemparkan uap dingin lagi dari tangannya, namun Zhang Xiao mengendalikan angin, membuat bongkahan tanah itu bergeser ke kiri, uap dingin itu meleset.
Zaid mencoba lagi sampai 5 kali, uap dingin yang ia lemparkan sia-sia, semuanya sia-sia.
Zhang Xiao tertawa kecil. "Kau bisa gunakan cara lain. Kau juga boleh menggunakan elemen sihir yang lain. Berimajinasilah."
Zaid berpikir sejenak. Ketika aku menyerang dari kanan, tanah itu akan bergeser ke kiri; ketika aku menyerang lagi dari kiri, tanah itu akan bergeser lagi ke kanan, pikir Zaid, jadi yang harus kulakukan adalah bagaimana caranya agar tanah itu tidak bergerak, karena meskipun aku bisa menyerang di saat yang bersamaan saat tanah itu bergeser ke samping, kekuatan angin Tuan Zhang sangat kuat, Tuan Zhang juga bisa memprediksi lemparanku, jadi saat uap esku hampir mengenai bongkahan tanah itu, Tuan Zhang bisa dengan mudah menggeser bongkahan tanah itu ke samping yang lain lagi. Ah, berpikir! Berpikir! Pasti ada cara yang lain.
Zaid lalu teringat jurus akar yang Chiara gunakan saat bertarung melawan goblin-goblin yang menyerbu pasar. Ah, aku tahu! Batinnya.
Zaid mengumpulkan energi es di kedua telapak tangannya, ia melemparkan uap dingin 8 kali secara bergantian dari tangan kiri dan kanan, kedelapan uap dingin itu meleset. Dan saat yang bersamaan saat bongkahan tanah itu hendak bergeser ke kiri, Zaid membentuk akar sebesar telunjuk anak-anak yang keluar dari telapak tangannya, ujung akar kecil itu melilit bongkahan tanah, dan sebelum Zhang Xiao mengendalikan bongkahan tanah dengan anginnya, Zaid membekukan akar yang ia buat dimulai dari ujung telapak tangannya sampai ujung lain yang melilit bongkahan tanah itu, sehingga energi esnya tersalurkan lewat akar dan membekukan bongkahan tanah itu sekaligus.
"Imajinasi yang bagus." Zhang Xiao lalu mengendalikan bongkahan tanah dengan anginnya, bongkahan tanah itu seperti dilemparkan jauh (namun tidak tinggi). Malangnya akar Zaid yang membeku masih mellilit tanah itu sehingga tanpa diduga Zaid pun ikut terlemparkan.
"Aaah!" Zaid melesat beberapa meter bagai orang yang tak mampu menarik tari hewan peliharaannya yang kabur.
Wusss! Zhang Xiao dengan kekuatan angin melompat beberapa meter, dan sebelum kepala Zaid membentur permukaan berumput, Zhang Xiao sudah menangkap kaki Zaid.
Zaid, kaki jadi kepala, kepala jadi kaki. Sepasang matanya memejam, wajahnya hampir menyentuh permukaan.
"Kenapa kau tidak menggunakan sihir angin untuk mengendalikan tubuhmu di udara?" Tanya Zhang xiao datar sambil tangannya masih menggenggam kaki Zaid.
Zaid membuka matanya. Ternyata aku tak jadi jatuh, batinnya, fiuh, syukurlah... Eh, tapi tunggu, kakiku?
"Tuan Zhang, siapa yang terpikirkan untuk menggunakan angin saat kau melakukannya secara mendadak seperti tadi?" Tanya Zaid. Ia pasrah diperlakukan seperti ayam mati.
"Aku sengaja melakukannya untuk mengetes kereflekanmu, seberapa cepat kau memutuskan melakukan suatu tindakan untuk menyelamatkan diri dari bahaya yang datang tiba-tiba dan tak diduga," jelas Zhang Xiao, lalu ia menghela napas. "Lagi pula, di situasi sebenarnya, hampir tidak ada pertarungan yang dapat diduga, semuanya pasti dadakan. Seperti tadi dan seperti yang ini."
"Apa maksudnya 'seperti yang ini'?".
Zhang Xiao langsung melepas kaki Zaid, kepala Zaid langsung membentur permukaan rumput hijau. meski kepala Zaid terjatuh di ketinggian 15 cm, jika dijatuhkan dalam posisi terbalik, itu tetap membuatnya pusing, lehernya juga seperti mau patah.
Saat posisi tengkurap, kepalanya yang pusing bersamaan dengan lehernya yang sakit, Zaid berkata dengan lemas, "Haduuuh... Aku mengerti sekarang. Tapi itu berlebihan, tahu. haduuuh... Kepalaku pusing sekali."
"Sudah, berdirilah," titah Zhang Xiao.
Zaid pun perlahan bangkit berdiri meski leher dan kepalanya masih sedikit sakit.
Zhang Xiao mengambil sesuatu dark saku bajunya, dan melemparkannya pada Zaid sambil berkata, "Ini untukmu. Tangkap!"
Zaid langsung menangkapnya dengan satu tangan, dan ia terkejut, telapak tangannya seperti ditusuk belasan jarum.
"Au, apa ini?" Tanya Zaid. Ia melihat di telapak tangannya hanya ada kaktus sepanjang 12 cm, namun Zaid terkejut saat menyadari kaktus itu berdiri di telapak tangannya, ia juga mempunyai tangan dan kaki.
"Itu hewan pendampingmu," jelas Zhang Xiao, "aku tak bisa menemukan yang lebih langka dari itu. Sebenarnya aku menemukan spesies monyet, tapi kupikir kau tak akan suka dan sepertinya memang tak akan cocok denganmu." Zhang Xiao langsung berbalik menuju panti asuhan berjarak 25 meter. "Baik-baiklah dengannya." Zhang Xiao lalu melompat jauh dibantu kekuatan angin. Dengan 2 kali lompatan ia sudah sampai di panti asuhan.
"Tapi kaktus ini..." Gumam Zaid. "Ah, sudahlah," kata Zaid tak peduli. Ia bergegas ke panti asuhan dengan berjalan kaki.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
lanjutkan 👍👍
kalo bagus lanjut
hai kak, Zed mampir ya🙏