NovelToon NovelToon
SUKI

SUKI

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Romansa-Teen school / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:216.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dini Salim

Di tahun kedua sekolahnya, Suki mencoba untuk mencari kisah cintanya seperti orang-orang kebanyakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Salim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Bad Side

"Meski dunia menolakku, setidaknya aku sudah berjuang, agar tak menyesal."

*

"Lik, gue kok gelisah mulu ya?"

Zidan menompang dagunya bosan, membuat mulutnya terlihat seperti dicemberutkan, dan hal itu membuat setidaknya beberapa siswi yang melintas memekik tertahan sambil melirik malu-malu. Tapi namanya Zidan, lelaki itu tak sadar karena sedang berkutat dengan dunianya sendiri. Sementara Felik yang sadar, mendelik melirik iri pada Zidan.

"Apasih kok gaya lo kayak cewek antagonis sinetron yang lagi liat protagonis bahagia?"

"Apaan gue tuh bukan antagonis, apalagi protagonis." Felik berdecak keras. "Gue tuh cuman figuran, sat."

"Lah, kok bisa?" tanya Zidan heran.

"Lo pura-pura bego apa beneran tolol?"

Zidan menatap Felik datar. "Andai gue belum berubah, udah gue makan lu."

"Iya lo berubah gara-gara Suki, tapi sayang Suki berubahnya gara-gara cowok lain," hina Felik, bikin Zidan seketika memasang wajah galau. "Ini nih yang namanya, me nye dih kan."

Zidan menghela napas kecil. "Gue kan nggak mau bikin hati Ucil sakit. Kalo dia nggak mau, yaudah nggak mau, gue bisa apa. Gue nggak bisa maksa."

Felik terdiam meneliti wajah Zidan. Temannya itu semakin hari semakin lesu dan tak bertenaga. Bahkan kini sengaja menunggu Suki pulang di atas motornya. Seperti seminggu yang lalu, Suki akan pulang diantar Arman, kemudian Zidan akan mengikutinya pelan. Dari sini, setidaknya Zidan bisa tau gadis itu pulang dengan selamat, walau bukan karenanya.

Zidan sadar, pengaruh lelaki itu lebih besar daripada dirinya.

Zidan sadar, usahanya akan sia-sia.

Zidan sadar, melihatnya dari jauh sudah lebih dari cukup.

Zidan memilih tuk tak berjuang keras.

Felik sebagai sahabat hanya menghargai keputusan Zidan. Ia hanya akan memberi saran jika benar-benar diperlukan.

"Kok lo ngikutin gue?"

"Kenapa?"

Seorang lelaki yang amat Zidan kenali keluar dari area sekolah menuju parkiran, mengejar seorang gadis berambut cokelat panjang bergelombang.

"Lo masih nggak sadar juga?" tanya si gadis seperti sudah lelah berbicara dengan si lelaki.

"Sadar apa? Sadar bahwa gue cuma cinta sama lo? Iya, gue udah sadar."

"Lucu lo."

Saat si gadis hendak pergi, si lelaki menahan lengannya dengan tatapan serius. "Pulang bareng gue sekali ini."

"Tapi—"

"Ya? Abis ini gue nggak bakal lagi."

"Nggak bakal lagi?"

"Nggak bakal lagi biarin lo sendiri."

Si gadis mendelik, berbalik melangkah meninggalkan si lelaki yang pantang menyerah mengejar langkahnya.

Kemudian kedua orang itu hilang dari parkiran, entah kemana Zidan tak peduli.

Tapi yang membuat Zidan peduli adalah bahwa dua orang tadi ia kenali sebagai Arman, musuhnya Zidan dan Selena, temannya.

Hari itu, Zidan menyesal karena tak terlalu peduli dan tak ingin mengetahui lebih lanjut.

*

Seperti yang sudah-sudah, Suki menatap langit berbintang malam ini.

Perasaannya sudah melambung entah kemana memikirkan besok ia akan jalan bersama Arman. Entah apa niat cowok itu, tapi Suki punya satu niatan yang selama ini ia pendam.

Suki merasa sudah siap dan mantap.

Untuk mengatakan isi hatinya.

*

Sebenarnya Felik Mahadika dan Nhafira Salsabila bukan tipe pasangan goals yang segalanya terencana. Bukan juga pasangan yang canggung satu sama lain.

Mereka lebih ke benar-benar nggak jaga image satu sama lain.

Tak tahu apa alasannya, tapi satu yang pasti, mereka saling mencintai.

Dan bukan pasangan namanya tak keluar bersama, di malam hari menikmati jalanan bersama pasangan-pasangan romantis yang lainnya.

Malam Sabtu ini mereka janjian pergi ke restoran cepat saji. Duduk berseberangan di lantai atas, menatapi jalan gelap yang jadi punya nilai estetika karena lampu di pinggirnya. Udara malam menyambut kening Fira, memberi Felik menaikkan alis geli.

"Lo sengaja nggak pake poni buat pamer jidat ya?" tanyanya membuat Fira berhenti menyedot minumannya dan menatap Felik dengan alis naik tinggi.

"Terus masalah buat lo?"

"Ada lah," balas Felil sewot. "Lo nggak nyadar aja jantung gue meledak-ledak liat lo tambah cantik tanpa poni."

"Cih, gombal," kata Fira meremehkan, meski pipinya merona malu.

Felik nyengir. Tapi harus merenggut ketika ponselnya berkelip tanda ada panggilan masuk.

Dan mukanya makin keruh ketika membaca nama Zidan. Felik menatap Fira sebentar, "gue angkat nggak papa?"

"Siapa?"

"Zidan?"

"Lha? Yang putih itu ya?"

"Apasih dia udah ada yang punya, jangan lirik-lirik karena lo juga udah ada yang punya." Felik melotot. "Paham?"

Fira hanya mendelik, dan itu Felik artikan bahwa cewek itu menurut padanya. Kemudian Felik beralih menjawab panggilan Zidan saat matanya menangkap dua orang yang menyita perhatiannya.

Membuat Felik tertegun tak segera menyahuti Zidan yang sudah marah-marah karena meninggalkannya di rumah sendirian.

Felik mendapati dua orang itu duduk di meja sebelah mereka. Sedang bercanda dan seperti kebanyakan pasangan remaja lainnya, mereka bertatapan mesra, bergenggaman tangan, dan saling suap-menyuap.

"Apasih, Man, jangan gitu," tegur si perempuan menolak meminum minuman yang sama ketika lelakinya menawarkan. "Dosa."

Lelakinya tertawa renyah. Felik akui dia ganteng, dan perempuannya juga cantik, tapi masih bagusan dia dan Fira.

"Jangan tanggung-tanggung sama gue." lelaki itu tersenyum lebar. "Karena gue juga nggak tanggung-tanggung sama lo, Selena Erisha."

Yang perempuan tersipu, tapi memasang wajah kecewa bercampur marah. "Kenapa lo kayak gini sih?"

"FELIK ANJING LO BUDEG YA?! ITU TELINGA APA DAGING TUMBUH?!" 

Felik tersentak kaget begitu mendengar teriakan Zidan. Hal itu juga Fira sadari, karena gadis itu segera mengerutkan kening merasa terganggu.

"Ngomongin apasih kok rusuh?" tanyanya.

"Nggak, kok, bentar ya." Felik tertawa canggung, melirik dua orang di samping mejanya kemudian berbisik pada Zidan.

"Ada kabar buruk dan baik nih, lo mau tau yang mana dulu?"

"Apaan sih lo kayak yang shooting drama aja."

"Serius, nyet."

"Yaudah si, jing. Kabar baik dulu apaan deh."

"Firasat lo bener," simpul Felik mantap. "Tu anjing bulldog emang mainin Ucil. Jadi lo bisa deketin Ucil, bilang tu cowok nggak cocok sama dia."

Ada jeda sebentar sebelum Zidan kembali menyahut. "Kabar buruknya?"

"Gue sekarang liat mereka berdua. Romantis-romantisan." Felik menghela napas kecil. "Padahal besok dia jalan sama Ucil."

*

Selena mendengus kecil melihat nama si penelepon yang baru-baru ini kerap kali menghubunginya hanya untuk menanyakan hal yang menurutnya tak masuk akal, setelah mengganggunya di sekolah.

Setelah mengajaknya keluar tadi malam.

Dan bodohnya, Selena dengan ringan hati menjawab teleponnya.

"Kenapa? Kemaren otak lo kejedot sampai lupa setiap hari lo nyamper Suki buat main waktu masih SMP?" tanya Selena sewot. "Sekarang apa? Lupa juga lo hampir cium Suki pas di koridor belakang kelas?"

"Lah? Gue gitu?"

Selena berdecak. "Lo bego apa brengsek sih?"

"Gue sukanya sama lo. Makanya yang gue inget cuma lo, Selena."

Selena berdecak, ada rasa putus asa dalam suaranya. "Harus banget lo kayak gitu?"

"Lo tau kan hati nggak ada yang tau?"

"Lo bisa mengubahnya." Selena tertawa hambar. "Dan gue udah berubah. Plis, ya, gue udah lupa sama yang dulu."

"Bohong." si penelepon tertawa geli. "Gue denger lo temenin dia terus karena merasa bersalah. Pake alasan sepupu-sepupu, padahal pas SMP kayak yang nggak kenal tuh."

Selena terdiam, matanya mulai panas dan dadanya terasa agak sesak hingga dia harus memukul-mukul dadanya sendiri dengan kepalan tangan. Menahan tangis.

"Kenapa diem? Gue bener?"

"Plis, angan ganggu hidup gue."

Selena memutuskan panggilan sepihak, menenggelamkan wajahnya ke bantal. Gadis itu kini menangis lepas. Namun tanpa suara. Ia menutup wajahnya frustasi.

Arman muncul lagi dalam hidupnya setelah satu tahun hilang tanpa pamit. Lelaki itu menghubungi nomornya, menceritakan bahwa dia akan bersekolah di sekolah yang sama dengan Selena, mengajak bertemu, namun tetap saja menanyakan semua tentang Suki.

Setelah apa yang lelaki itu lakukan untuknya.

Tentu tanpa sepengetahuan Suki.

Mulanya, Selena dengan sabar menjawab, namun semakin lama ia tau hal ini bisa menumbuhkan lagi sesuatu yang seharusnya tak boleh.

Selena memilih menutup hatinya.

Mengapa kisah cintanya semenyedihkan ini?

*

Arman mengacak rambutnya frustasi setelah teleponnya diputus sepihak. Lelaki itu merebahkan diri, menutup mata mencoba rileks.

Dan ingatan itu muncul.

Ketika selesai latihan futsal, senyum Arman merekah melihat seorang gadis menunggunya di perkiran. Ia memberi Arman sebotol minuman, tapi sebelum Arman sempat menerimanya, seorang gadis lain keburu menghampiri mereka berdua dan berjalan mengikuti di tengah-tengah.

Arman tersenyum tipis. Bercanda dengan gadis di tengah, membutakan hatinya mengabaikan gadis di ujung sana.

Begitupun saat gadis itu hendak mengajak pulang, Arman harus menolak karena gadis lain mengajaknya belajar di sekolah.

Atau saat Arman hendak keluar, gadis yang lain itu keburu mengajaknya makan bersama ketika dirinya hendak mengajak gadis itu pergi.

Hari itu Arman hendak jujur, namun tak sempat karena ada gadis yang lain itu.

Suki, yang selalu muncul di tengah-tengah dirinya dan Selena.

Arman menyesal, mengenal Suki lebih dulu daripada Selena.

Dan terlalu menutup hatinya, yang justru membawanya ke jalan buntu.

*

Zidan merasa amat terbelakang. Baik Tao maupun Arman, dua laki-laki itu sudah seperti sahabat sejiwa Suki.

Zidan tak tau apa yang terjadi antara mereka, namun satu yang mereka harus tau, Zidan tak akan menyerah atas Suki. 

Zidan tak mau menyesal.

Meski sempat merasa rendah melihat keakraban mereka, Zidan tak seharusnya mundur begitu cepat. Ia sadar bahwa tak ada yang baik ketika dua lelaki itu tiba-tiba mendekati Suki.

Apalagi setelah melihat dengan siapa Arman pulang setelah mengantarkan Suki—pulang sekolah tadi Zidan tau Suki sudah pulang diatar Arman dari teman sekelas Suki ketika melihat Arman bersama Selena di parkiran, atau mendengar tentang dengan siapa Arman jalan ketika besoknya akan jalan dengan Suki.

Jelas Zidan tak akan membiarkan gadis itu bersedih. Ia ingin melihatnya tertawa, setelah dulu membuat hidupnya amat suram.

Maka dari itu, kini Zidan memberanikan diri nekat menelepon Suki meski jam sudah merembet ke angka sepuluh. Ia tak mungkin kuat berhadapan langsung karena setiap dekat dengannya, rasanya Zidan gila.

Di liar dugaan, telepon Zidan diangkat. Zidan melotot, buru-buru menempelkan ponselnya ke telinga dengan was-was.

"Halo?" suara lembutnya menyapa, bikin hati Zidan getar. "Kenapa, Dan?"

"Assalamualaikum dulu harusnya," kata Zidan gugup, jadi sok alim. "Maaf nih nelpon jam segini, tapi gue cuma mau ngomong satu nih. Lo nggak keberatan?"

Suki tertawa sejenak. "Waalaikumsalam," balasnya. "Mau mgomong apa?"

Zidan menahan napas lama. "Good night."

Zidan langsung memutus sambungan telepon dengan gigi yang sudah menggigit bibir merutukki kebodohan dirinya. Telinganya sudah terasa panas dan kini tangannya mengetok-ngetok kening, menyesal.

"Bodoh, Zidan ganteng. Kenapa? Kenapa lo ngucapin selamat malem padahal awalnya mau ngasih tau Arman tuh brengsek? Kenapa lo nggak cegah Ucil buat jalan sama tuh buaya?"

Zidan berdecak frustasi, "bego, bego. Makin malu gue berhadapan sama Ucil kalo gini jadinya."

*

1
sa._.efsoup
SUPARMAN SIALAN 😭😭
MY BOY ZIDAN 😭😭
sa._.efsoup
gelo gelo geloooo 😭😭😭 when yh
sa._.efsoup
AWWWW 😭😭😭
Arni 1705
sedih yak MAk😭
Arni 1705
lapangan sekolah ... dulu waktu klas 10pernah dihukum satu klas hormat tiang bendera. wkwwkk Keinget terus ampe sekarang
Arni 1705
suki gampang amat berdebar"...
Arni 1705
Arman dan tao...
bau" dendam nih
Naufal Tan Arsenio
keren ..awal yg bagus..jarang nemu penulis yg apik dan kata2nya bagus
dwitiarina kristiti
Ini maksudnya 'The Truth'?
~YanSin~
Kocak asli..
Curhatnya Zidan ke Felix tuh kocak.
absurd ala2 anak abegeh 🤣🤣
~YanSin~
Rutinitas Suki mirip gw 🤣
Suki Feci
bagus bnget lho ini novel..
tulisan ny ringan rapi dan keren
semoga semakin bnyak yg baca
Winsulistyowati
Suka.Asiik.Critanya..gk Pjng..kurang dr 100 episode..Siip..Thor Sehat n Brkarya Trus y Thor Say..💪💪👍👍🖐️
Winsulistyowati
Cidan...Cidan..kasihan kmu sayang..
Winsulistyowati
Haruse Omong ae Trus Trang Zidan..Biar Suki Tau..meski kurang prcaya
Winsulistyowati
Waduuh..difitnah apa dikompori ni Thor..Moga Suki..Isa Memilih.mana Teman yg Tulus Hati..
Winsulistyowati
Sabar Zidan...Maju Trus Pantang Mundur..💪💪🥰♥️
Winsulistyowati
Zidan Uda Jatuh Cinta Sma Suki..tpi GK.Ngerasa y Thor..Hmm..♥️🥰
Winsulistyowati
Mampir ni Thor..🖐️💪👍
Karmila Mila
ini novelnya udah lama aq baru nemu.

padahal ceritanya seruuuuu,tp sepi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!