Tak kunjung garis dua, Inara terpaksa merelakan sang Suami untuk menikah lagi. Selain usia pernikahan yang sudah lima tahun, ibu mertuanya juga tak henti mendesak. Beliau menginginkan seorang pewaris.
Bahtera pun berlayar dengan dua ratu di dalamnya. Entah mengapa, Inara tak ingin keluar dari kapal terlepas dari segala kesakitan yang dirasakan. Hanya sebuah keyakinan yang menjadi penopang dan balasan akhirat yang mungkin bisa menjadi harapan.
Inara percaya, semua akan indah pada waktunya, entah di dunia atau di akhirat kelak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Oktafiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Bertukar cerita
Nara merutuki dirinya sendiri ketika mengiyakan permintaan Arjuna untuk ikut mencari pohon mangga yang telah berbuah. Nadya lah yang meminta mangga muda dan harus dipetik langsung dari sumbernya.
Sampai saat ini ketika jam sudah menunjukkan pukul enam, tak satupun pohon yang mangga yang keduanya lihat. Bersamaan dengan itu, azan maghrib terdengar, membuat Arjuna memilih untuk menepikan mobil di masjid terdekat.
"Kita sholat dulu ya? Takut nanti tertunda lama," putus Arjuna yang langsung mendapat anggukan dari Nara.
Keduanya sama-sama turun dari mobil dan menuju bilik wudhu sesuai gender. Beruntung, Nara selalu membawa mukenah kemana pun dirinya pergi. Jadi, tidak perlu ada drama tidak membawa mukenah dan sebagainya.
sekitar lima belas menit, sholat telah selesai didirikan. Nara dan Arjuna keluar hampir bersamaan ketika kembali menghampiri mobil. Tidak langsung masuk, Nara memilih duduk di depan kap mobil sambil memandangi orang-orang yang ber lalu-lalang keluar dari masjid.
Ketika matanya sibuk memperhatikan, indera penglihatannya itu melihat pohon mangga yang tumbuh di samping masjid tersebut. Mata Nara langsung berbinar dengan bibir yang mengembangkan senyum.
"Mas! Itu dia! Di sana ada mangga!" pekik Nara girang.
Sontak hal itu membuat Arjuna menoleh ke arah Nara menunjuk. Benar saja. Di samping kanan masjid yang terdapat sebuah taman cukup luas, ada sekitar lima pohon mangga yang tumbuh berjajar. Dan yang lebih beruntungnya lagi, pohon itu berbuah lebat.
"Alhamdulillah. Akhirnya kita menemukan pohonnya," jawab Arjuna tak kalah bahagia.
"Mas akan izin dulu ke Pak Ustadz atau marbot masjid ya? Kamu ikut Mas saja," pinta Arjuna lalu segera menarik lengan Nara untuk mengikuti langkahnya.
Setelah tiba di samping masjid, ternyata ada beberapa bapak-bapak yang sedang mengobrol. Jadi, Arjuna putuskan untuk bertanya pada sekumpulan bapak-bapak tersebut.
"Assalamu'alaikum, Pak. Izin bertanya. Kira-kira, buah mangga di pohon ini boleh diminta atau tidak ya? Kebetulan, istri saya sedang ngidam ingin makan mangga muda," sapa Arjuna bertanya dan langsung menjelaskan maksud.
Salah satu dari bapak-bapak tersebut pun menjawab. "Bolehlah, Mas. Mangga ini boleh dipetik oleh siapapun kok. Bebas. Jadi, tinggal ambil saja, Mas."
Arjuna mengangguk sopan begitu juga dengan Nara. "Terimakasih atas informasinya ya, Pak. Kalau begitu, saya izin petik beberapa," ucap Arjuna sekali lagi meminta dengan baik-baik.
Bapak-bapak yang memakai koko hitam pun mendekat. "Petik saja, Mas. Kasihan istrinya kalau sampai ngidam tidak dituruti. Kebetulan juga, pohon mangga ini dibuka untuk umum. Oleh karena itu, pohonnya selalu berbuah lebat. Mungkin karena berkah," jawab beliau sambil menatap Nara ramah.
Nara tersenyum kikuk. Mungkin, bapak berkoko hitam itu menganggap jika Nara lah yang sedang hamil. Namun tidak mengapa. Akan Nara aminkan, berharap doa tersebut menjadi kenyataan.
"Baik, Pak. Terimakasih banyak."
Lalu, Arjuna pun mulai menggapai pohon yang tidak terlalu tinggi dan memetik sekitar sepuluh biji. Ketika sibuk mencari wadah untuk dijadikan bungkus, seorang bapak mengenakan koko hitam mengulurkan kantong kresek. "Pakai ini, Mas. Kebetulan saya dapat dari sana. Sampai rumah, nanti dicuci lagi."
Arjuna mengangguk. Dia sangat berterima kasih kepada bapak-bapak tadi karena banyak membantu dirinya. "Terimakasih ya, Pak. Maaf, saya jadi banyak merepotkan," ucap Arjuna sambil berusaha memasukkan satu per satu mangga muda yang telah dipetik.
"Sama-sama. Sudah berapa bulan hamilnya, Mas? Sepertinya masih muda?" tanya beliau lagi yang membuat Nara semakin kikuk dibuatnya.
Arjuna melirik Nara sekilas lalu menjawab, "Dua bulan, dan sudah jalan tiga bulan. Baik, Pak. Kalau begitu, saya pamit dulu. Terima kasih atas bantuan yang sudah Bapak berikan."
"Ini, saya ada sedikit rezeki untuk Bapak beli gorengan dan kopi," ucap Arjuna lagi sambil merogoh saku celana kerjanya. lima lembar uang lima ratusan Arjuna sodorkan.
"Terima ya, Pak? Saya akan sedih kalau Bapak tidak menerima," mohon Arjuna dengan sangat.
Pada akhirnya, bapak yang mengenakan koko hitam itu menerima dan bergumam terima kasih. Ada senyum bahagia yang Nara tangkap ketika uang itu sudah diterima. Begitu juga dengan dua bapak-bapak di belakang yang tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
Nara dan Arjuna memutuskan untuk kembali ke mobil. Samar-samar, Nara mendengar suara dari bapak berkoko hitam yang berteriak, "Alhamdulillah. Akhirnya saya bisa beli beras!"
Nara tersenyum ketika telah duduk di kursi penumpang bagian depan. "Mas dengar tidak teriakan dari bapak-bapak tadi?" tanya Nara sambil menatap profil samping suaminya.
Anggukan kepala serta senyuman hangat menjadi jawaban atas pertanyaan Nara barusan. "Mas dengar. Mas senang bisa bantu orang yang benar-benar membutuhkan."
Nara pun ikut tersenyum. Mobil kembali melaju menuju arah jalan pulang. "Mas?" panggil Nara ketika teringat akan perkataan bapak-bapak tadi.
"Kenapa, Sayang?" jawab Arjuna tanpa mengalihkan pandangan dari ruas jalan di depannya.
"Aku ingin hamil," celetuk Nara yang sudah biasa Arjuna dengar.
"Sabar ya? Kita buat dulu nanti malam." Arjuna justru menjawab dengan sebuah gurauan hingga membuat Nara harus memukul lengan Arjuna pelan.
"Aku serius, Mas!" kesal Nara dengan bibir yang mengerucut. Bukannya menyesal, Arjuna justru tertawa menanggapi kekesalan Nara itu.
"Iya, iya. Maaf. Jadi, kamu mau bagaimana? Mau coba ikut program hamil? Cuma itu kan, yang sedari dulu belum kita lakukan?" tanya Arjuna sambil sesekali melirik Nara.
"Oh ada satu lagi. Pikiran kamu terlalu khawatir dan cemas berlebihan. Sekuat apapun kita berusaha jika pikiran stres, Mas rasa itu akan jadi penghambat. Saat ini, Mas sedang mencari jalan keluar agar kamu tidak lagi stress berlebihan. Nyatanya, sudah pindah rumah pun, tidak mampu mengurangi stress yang kamu rasa." Arjuna tampak murung ketika mengatakan hal tersebut. Dia merasa gagal membahagiakan Nara seperti janjinya di awal.
Mendengar itu, Nara langsung menyentuh punggung tangan Arjuna yang berada di sela-sela kursi. "Itu bukan salah, Mas. Tapi, semua itu salah aku sendiri yang terlalu khawatir akan hari esok. Mulai hari ini, aku akan coba isi pikiran dengan hal positif. Dan satu lagi, besok aku memang sudah berencana untuk menjalankan program hamil secara herbal," jelas Nara yang membuat dahi Arjuna seketika mengernyit bingung.
"Maksudnya?" tanya Arjuna dan mobil berhenti ketika traffic light menyala merah.
"Makan kurma muda dan madu katanya bisa membantu mempermudah, Mas. Jangan lupa, doa yang banyak."
"Menurut Mas, yang terpenting pikiran kamu harus santai dulu. Mas yakin, tidak akan lama lagi, Allah akan titipkan ruh di rahim kamu."
"Aamiin."
Malam hari itu, keduanya lalui dengan banyak bertukar cerita. Membuat pikiran dan perasaan Nara menjadi lebih bahagia.
Ya. Nara harus mulai membuka pikiran untuk tidak mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi. Tugasnya hanya berusaha, berdoa, lalu berpasrah pada Yang Maha Kuasa.
kenapa laaa nara masih bertahan daa laaa di madu... sebab suami masih cinta klu dia cintakan ko nara dia takkan menghadirkan madu tuk ko nara
konon nk berbakti tapi ko yg tersakiti
thor jadikan nara tu otak dia bijak sikit
jgn terlalu di simpan kebodohan tu
yg lelaki tu pown daa tdo ngan pompuan lain wlaupun daa jadi isteri