Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.
Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?
Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?
Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?
Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Dilembah-lembah tersembunyi dan lereng gunung curam, desa-desa asri masih menyimpan rahasia yang dijaga ketat oleh sunyi.
Disana, derap langkah kaki diatas tanah bukan cuma sekedar perjalanan menuju ladang dan hutan, melainkan sebuah kedisiplinan yang telah dihibahkan secara turun temurun selama ratusan tahun.
Masyarakatnya tidak hanya mewarisi nama keluarga, tetapi juga memanggul beban kehormatan dari cara hidup leluhur yang menolak untuk ditinggalkan, meski kemiskinan terus mencengkram tulang.
Beruntung, harapan yang selama ini mati tertimbun penderitaan dan air mata, kini perlahan bangun menyapa setelah Bai Anshu terjaga dari koma.
Sejak pagi buta, asap mengepul dari atap dapur seluruh rumah warga, pertanda jika rutinitas telah dimulai.
Aroma manis, gurih, pedas, melayang diudara, membaur dengan wangi tanah basah dan embun rerumputan.
Ini bukan sekedar aroma masakan biasa, tapi bukti jika kehidupan sulit itu telah terkikis menipis.
Kelezatan ini nyata, bukan lagi sekedar angan, atau dongeng penghantar tidur.
Cuaca pagi hari ini cenderung lebih sejuk, langit cerah sudah terlihat sebelum bayangan rembulan menghilang seutuhnya.
Setelah mengantar penumpang kekota untuk berniaga, atau berbelanja membeli kebutuhan harian, Pei Dashan gegas kembali kedesa guna menjemput Bai Anshu dan Meng-Meng
Sekarang waktunya untuk pengiriman sabun orderan Serikat Dagang Dao serta Menara Guangdong.
Karena jarak tempuh bolak-balik kekota memakan waktu dua jam tiga puluh menit. Jadi, gerobak Pei Dayan tiba dimenara Guangdong mendekati jam makan siang.
Untung saja Bai Anshu sudah menitipkan pesan lewat Pei Dayan tadi pagi, jadi para koleganya tidak perlu bosan menunggu.
"Salam kakek...!" seru Bai Anshu membungkuk sopan.
Meng-Meng dan Pei Dayan juga melakukan hal yang sama.
"Shu-ya...!" balas tuan tua Guang, berlanjut membalas sapaan si kusir pedati dan pelayan pribadi Bai Anshu.
Guang Yulong dan Meilan turut ambil bagian.
Bai Anshu digiring masuk, dipertemukan dengan pimpinan Serikat Dagang Dao yang telah menunggu.
Dua alis gadis kecil yang sebentar lagi genap berusia sebelas tahun itu menukik tajam. Dahinya mengernyit kasar, melihat dua sosok pemuda tak asing dihadapannya kini.
"Shu-ya, ini tuan muda kedua Murong Canfeng..!" ucap kakek Guang.
Satu sudut bibir Murong Canfeng naik tipis, netra legamnya menghunus lurus wajah Anshu yang tengah mengingat dimana mereka pernah berjumpa.
"Salam nona Bai, senang bisa kembali bertemu denganmu..!"
Kakek Guang menoleh kearah dua muda mudi didepannya secara bergantian. Dalam benaknya timbul praduga, apa keduanya sudah saling mengenal..?
"Ah, ini tuan muda yang dimenara Tepekong ya..?" balas Bai Anshu ceria setelah berhasil mengingat.
Murang Canfeng tersenyum rupawan "nona Bai, ternyata memiliki ingatan yang cukup baik"
"Tentu, aku belum cukup tua untuk menjadi pelupa." canda Anshu terkikik.
Bai Anshu menyapa Yan si pengawal, sebelum duduk bersama kakek Guang dan Murong Canfeng.
Menara Guangdong ditutup sementara, Meng-Meng dan Pei Dayan menunggu dimeja transaksi seraya mengawasi gerobak.
Bai Anshu mengeluarkan dua lembaran kertas catatan nota, disodorkan pada kakek Guang dan Canfeng.
Kedua pria berbeda generasi menerima, memeriksa dengan seksama.
Murong Canfeng menyerahkan catatan itu pada Yan, memerintahkan untuk menghitung ulang orderan mereka, sekalian memindahkan kekereta milik sendiri.
Meng-Meng menjadi perwakilan Bai Anshu, menunjukkan pada para ajudan Murong Canfeng.
"Untuk pelunasan rekening, tuan tua Guang yang akan menyelesaikannya." beritahu Murong Canfeng.
"Baik tuan muda..!"
"Untuk pesanan berikutnya aku harap bisa tepat waktu, dua kali dalam sepekan." negosiasi Murong Canfeng lugas.
"Tuan muda, sejujurnya untuk sekarang ini kami belum bisa memenuhi pesanan yang kau inginkan jika harus dua puluh ribu sabun dalam satu minggu." balas Bai Anshu tanpa ragu.
Ekor mata Canfeng meruncing, alis tebalnya merajut kasar.
"Tempat tinggalku sedang diperbaiki, sedangkan rumah lama kami sangat kecil sehingga tidak mampu menampung banyak pekerja. Untuk satu bulan kedepan pengiriman bisa dilakukan dalam lima hari sekali. Jika bengkel produksi sudah rampung dibangun, penyediaan barang dapat dilakukan sesuai keinginan tuan muda..!" sambung Anshu gamblang.
Murang Canfeng mengangguk berulang kali, tanda bahwa ia memahami.
"Baik, aku mengerti."
Kemanisan Bai Anshu mengembang ranum, nafas kelegaan ia hembuskan.
"Apa keluargamu hanya memproduksi sabun saja..?" selidik Murong Canfeng.
"Untuk sementara iya, tapi dimasa depan ada rencana untuk membuka bisnis baru. Selain itu, aku juga akan mengeluarkan sabun khusus bagi bayi dan balita."
Kakek Guang tersenyum lebar, ia jelas senang mendengar akan ada varian baru sabun.
Murong Canfeng pun tak kalah antusias "bisnis barumu berhubungan dengan apa..?"
"Mungkin makanan..!"
Murong Canfeng menegakkan punggungnya, memandang penuh minat pada partner bisnis barunya itu.
"Jika kau ingin memasarkan prodakmu secara masal melalui Serikat Dagang Dao, temui aku direstoran Houlei."
"Apa menara Houlei milik tuan muda..?" tanya bersemangat Anshu.
Murang Canfeng mengiyakan.
Wajah Bai Anshu semringah, ia membungkuk berulang kali sebagai luapan kegembiraannya.
"Terimakasih untuk kemurahan hati tuan muda, terimakasih..!"
Murong Canfeng bangkit, yang lain mengikuti.
Dihalaman toko, Meng-Meng dan para anggota Serikat Dagang Dao hampir menyelesaikan tugas mereka.
"Senang bisa bertemu langsung dengan nona Bai, sampai berjumpa lain waktu..!" ucap Murang Canfeng, sebelum berpamitan.
"Tuan tua Guang, terimakasih..!"
"Sama-sama tuan muda...!"
Murong Canfeng dan Yan pergi, mengikuti pedati angkut Serikat Dagang Dao.
Guang Yulong sigap menurunkan sabun-sabun pesanan tokonya.
Semua transaksi diselesaikan.
Kepala Bai Anshu langsung berkunang-kunang, melihat tumpukan uang kertas ditangan.
Kakek Guang tergelak melihat wajah pias terperangah gadis belia dihadapannya.
"Kau beruntung karena tuan muda kedua memberimu jalan, ini sangat jarang terjadi." kata kakek Guang.
"Sungguh..?"
Kakek Guang mengangguk "banyak saudagar yang berharap bisa menjalin kerjasama dengan Serikat Dagang Dao, namun standar tuan muda kedua Murong terlalu tinggi. Jadi banyak dari mereka harus menelan kekecewaan."
Kilat jumawa melintas dipupil jernih Bai Anshu.
"Kau tahu, dari awal kemunculan kacang mandi saja tuan muda Murong menolak mentah-mentah bekerjasama dengan pembuatnya. Tapi untuk prodak keluargamu, anak muda itu malah datang sendiri padaku"
"Woah, berarti sabunku ini sangat istimewa ya..? sampai bisa menarik perhatian tuan muda kedua Murong." balas pongah Anshu.
"Tentu saja, sabunmu sungguh ajaib, luar biasa dan tak ada tandingannya." kakek Guang tergelak diujung kalimat.
Bai Anshu ikut tertawa.
"Kakek, terimakasih sudah membantuku. Jika bukan karenamu, mana mungkin tuan muda kedua Murong akan melirik usaha keluargaku ini." ucap tulus Anshu.
Kakek Bai melambaikan tangannya tak setuju "ini murni karena usahamu sendiri. Sudah aku katakan, tuan muda kedua Murong sangat sulit dihadapi, meski aku datang kepintu Serikat Dagang Dao sembari merangkak, belum tentu dia mau menemuiku kalau memang dia tidak ingin."
Bai Anshu pamit, lalu mengajak Pei Dayan dan Meng-Meng makan siang kekedai Nasi Ayam Lapciong.
Setelahnya mengunjungi semua toko langganan untuk membeli bahan pembuatan sabun.
Sementara itu, kereta yang membawa sepuluh ribu pics sabun, baru saja sampai didermaga Tiangkeng.
Kapal kargo milik Serikat Dagang Dao sigap memindahkan keranjang kemas, dan memulai pelayaran keprefektur Guizhao dan ibukota Beijing.
mksh ka udah double up di hari minggu,,🤭🤭moga sehat sllu,💪