NovelToon NovelToon
Bai Anshu STORY.

Bai Anshu STORY.

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Delia Ata

Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.

Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?

Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?

Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?

Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Lampion linen menjadi penerang laju gerobak Pei Dayan menuju kedesa Qingshan, mengantarkan keluarga Chen yang seharian ini membantu kesibukan dirumah Bai Dashan.

Esok pagi, keluarga Chen akan kembali datang dengan diantar gerobak Li Zheng desa Qingshan, sekalian membawa penumpang dengan tujuan kota Tiankeng.

Sementara itu dikediaman Bai Dashan, tengah berlangsung obrolan perihal renovasi tempat tinggal keluarga utama Bai.

"Mana bisa kami menerima uangmu untuk memperbaiki rumah..?" seru kakek Bai menolak.

"Benar, aku juga tidak setuju, dan tak akan pernah mau." sambung Bai Sanlang.

"Ayah, kakak, aku memberikan uang itu tidak cuma-cuma, tapi pinjaman." sahut Bai Dashan.

"Apa kau sedang menghina kami..?" sengit kakek Bai mendelik, netra legamnya berubah keruh.

"Ayah, dengarkan dulu, aku belum selesai bicara." sanggah Bai Dashan, mengela nafas.

Nenek Bai menepuk lengan sang suami "perutmu sudah makan sampai kenyang bahkan hampir memuntahkannya lagi, tapi kenapa masih saja mudah marah..?"

Kakek Bai mendengus "siapa yang marah..? aku hanya kaget saja."

Nenek Bai mencebikkan bibirnya. Sementara kedua putra, menantu dan para cucu tersipu tipis.

"Ayah, kakak..! Shu'er, berencana mengajak kalian berbinis. Oleh sebab itu, rumah lama harus diperbaiki dengan tambahan dapur produksi."

Serempak, enam pasang mata anggota keluarga Bai cabang pertama terarah pada Bai Anshu.

Si penggagas ide menyengir kuda "ada beberapa bisnis yang menurutku bagus, aku ingin memberikannya pada keluarga paman. Tapi sebelum memulai, ada baiknya mempersiapkan tempat produksi. Jadi, sekalian saja memperbaiki rumah utama."

"Shu'er...!" seru terharu kakek, nenek, Bai Sanlang, bibi Mei, dan kedua sepupu.

"Walau belum pasti kapan bisnis ini dimulai, namun setidaknya jika sudah ada persiapkan kita tidak terburu-buru nanti jika waktunya tiba." tambah Bai Anshu.

Kakek Bai dan paman Sanlang, bertukar tatapan. Bergeser ke nenek lalu bibi Mei.

"Aku, Shi-ya, dan kedua sepupu Chen, akan memulai berbisnis asesoris. Aku pikir kakak sepupu pertama juga sudah seharusnya memiliki usaha kan..?"

Bai Suji mematung, tinjunya mengepal perlahan. Ia tidak berpendidikan, tak bisa mendapatkan pekerjaan layak. Kadang ia pun merasa putus asa dengan masa depannya, sedih melihat kakek dan sang ayah bekerja keras diladang. Hati teriris kala memandang orang-orang terkasihnya makan bubur sayuran liar.

Namun apalah daya, kemiskinan itu sudah menjerat kuat leher keluarganya.

Tapi kini sang adik sepupu memberikan dia harapan. Selain membaca, menulis dan berhitung, giliran peluang menjalankan sebuah bisnis.

Tentu saja, Bai Suji tidak akan menyia-nyiakannya.

Netra bibi Mei dipenuhi kristal retak yang siap pecah, meleleh membajiri wajahnya.

"Shu'er, terimakasih sudah bersusah payah memikirkan masa depan kedua sepupumu. Bibi sungguh sangat beruntung karena memiliki keponakan yang begitu baik sepertimu." ucap tulus bibi Mei parau.

"Bibi, sudah seharusnya aku melakukan ini. Lagi pula mana bisa aku hidup nyaman dirumah besar sementara kakek, nenek, paman, bibi dan kedua sepupuku tidur dengan perut lapar." balas Bai Anshu.

Nenek Bai menyeka airmata diujung netranya, memandang bahagia penuh syukur, melihat kedua putra, menantu dan para cucu hidup rukun saling mendukung.

Bibi Mei mulai terisak.

Netra Kakek dan Bai Sanlang, mendung berkaca haru.

Bai Lushi menunduk, menitikan air mata, begitu pula Bai Suji.

"Kita ini keluarga, sudah selayaknya saling menjaga dan mendukung. Jangan selalu merasa tak enak hati atau telah merepotkan. Sekarang kami diberikan berkah melimpah, apa salahnya berbagi..?" kata Bai Dashan menenangkan.

Suasana mengharu biru semakin kian memayungi ruangan yang diterangi beberapa pelita minyak pinus.

"Kalau memang rencananya seperti itu, ayah mau menerima tawaran kalian. Tapi ingat, semuanya pinjaman."

Bai Sanlang mengangguk "ya, aku juga bersedia."

Senyum Bai Dashan, Chen Muwan dan Bai Ansu, auto terbit merekah berseri.

Sedangkan Bai Hanzi dan Jinyu, tetap asik belajar dimeja lain.

"Aku akan memberikan seribu tael kepada ayah dan kakak un----

"Apa, seribu tael..?" pekik kaget seluruh anggota keluarga utama Bai.

Keluarga Bai cabang kedua terjingkat, mereka kompak mengusap dada karena saking kagetnya akibat lengkingan suara itu.

"A-Han, apa kau sudah gila..? seribu tael itu banyak sekali. Rumah macam apa yang harus ayah bangun..?" ucap kakek Bai melongo, memegang kepala yang mendadak pening.

"Ayah, bukan cuma untuk memperbaiki rumah saja, tapi membeli tanah, dan ladang."

"Kenapa harus ada ladang juga..?" tanya kompak kakek, nenek dan Bai Sanlang.

"Karena bisnis ini membutuhkan tanah pertanian yang luas kakek, paman..!" sambar Bai Anshu.

Kakek Bai dan Bai Sanlang, menelan ludah asam dengan susah payah.

Seribu tael, seperti apa rupa uang sebanyak itu..?

Bagaimana cara menghabiskannya..?

Lebih tepatnya, bagaimana cara mengembalikannya kelak..?

"Pokoknya kakek dan paman ikuti saja kata-kataku." Anshu menegakkan punggungnya, terhunus tegas pada wajah-wajah orang-orang tersayang.

Kakek Bai dan Bai Sanlang berdehem, guna menyingkirkan kotoran yang menyumbat kerongkongan.

Sedangkan nenek dan bibi Mei, masih betah memasang wajah linglung.

"Membeli tanah disekitar rumah, lalu ladang bagus empat hektare. Itu yang harus kakek dan paman lakukan terlebih dulu." sambung Anshu.

Kakek Bai mendesis, menghela nafas pasrah, begitu juga dengan nenek Bai, paman Sanlang, disusul bibi Mei.

"Baiklah kalau begitu, kakek patuh..!"

"Em, tidak ada pilihan lain." Sanlang menimpali.

Bai Anshu terkikik, Dashan dan Muwan pun sama.

"Setelah pembangunan rumah ini selesai, kita langsung mengerjakan perbaikan kediaman utama." ucap Dashan, menyodorkan kantung uang pada kakek Bai.

Tuan Tua mengangguk "besok setelah makan malam, ayah akan kerumah kepala desa untuk mengurus pembelian tanah dan ladang."

"A-Han, bagaimana dengan keluarga istrimu..?" tanya nenek Bai hati-hati, melirik tak enak pada menantunya.

Chen Muwan tersenyum "ibu, keluargaku juga akan mendapatkan hal yang sama, tidak perlu cemas."

Mendengar itu, nenek Bai sigap menghempaskan nafas kelegaan.

"Mungkin nanti renovasi rumah utama akan berbarengan dengan kediaman keluarga istriku, jadi sepertinya ayah dan kakak harus mulai mencari buruh pekerjanya."

Bai Sanlang mengangguk "baik, nanti biar itu aku yang mengurusnya."

Bai Anshu menoleh pada Bai Suji "mulai sekarang kakak sepupu pertama harus lebih rajin belajar membaca, menulis dan berhitung ya..? semua itu penting dalam berbisnis."

"Ya, aku akan bekerja keras agar secepatnya bisa membaca, aku berjanji tidak akan mengecewakan kalian." balas mantap penuh tekad Bai Suji.

Mereka melanjutkan perbincangan, sebelum diakhiri untuk meneruskan proses pembuatan sabun guna mengejar orderan serikat dagang Dao.

Kira-kira pukul sepuluh malam jika sudah ada mesin penunjuk waktu, aktifitas lembur itu dihentikan, dan semua gegas pergi beristirahat.

1
Anna Setyo
up yg banyak thor biar puas bacanya
SENJA
mantabs lah nambah pekerja terus 👌
Erna Fkpg
tetap semangat thor dan terimakasih untuk upnya 😘😘😘
Datu Zahra
tumben banyak typo thor...?
Delia ATA: Sudah direvisi ya kak 🫰

Terimakasih sudah mengoreksinya.
total 1 replies
Datu Zahra
Aku juga beruntung karena dapat bacaan keren dan seru lagi 🤩
Erna Fkpg
keberuntungan keluarga bai dan Chen dan seluruh desa
Dewisiregar
up thor yang banyak, tambah seru ceritanya💪🙏👍
Maria Lina
kok 2 thor kmrin 3 bab kurang ni
vipp
semangat thor
Rai Gojess
lagi thor, kenapa ceritamu ini best sekali, koin ku sdh habis, belum top up..tunggu ya aku top up
SENJA
mantabs maju terus bisnis sabun 👌
Datu Zahra
Kurang kak 🤪
SENJA
buseh bisnis baru lagi
Datu Zahra
Selama ada air suci, apa pun paati menghasilkan banyak dan enak
Datu Zahra
Murong Canfeng jpdohnya Anshu kek'y 🤭
SENJA
songong sih lu padab🤣
Fauziah Daud
trusemangattt... seru
Chen Nadari
mantulll Thorr
Dewiendahsetiowati
kayak dikit deh authornya nulis,apa ceritanya bagus jadi gak sadar sudah habis bacanya😭😭
SENJA
bagus jangan kasih kendor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!