Putri Balqis yang biasa di panggil Balqis adalah gadis muda yang hidup sebatang kara.Gadis cantik dan lemah lembut yang tidak pernah tahu siapa orang tuanya karena ia hidup di besarkan oleh seorang nenek yang menemukannya saat bayi. Hingga akhirnya ia hidup seorang diri setelah sang nenek meninggal.
Muhammad Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan panggilan Baim adalah seorang pemuda yang memilih hidup di jalan daripada di rumah. Meninggalnya sang ibu dan merasa ayahnya lebih sayang pada sang kakak membuatnya menjadi pemuda pemberontak yang tidak mau di atur hingga ia memilih menjadi bagian dari geng motor.
Baim jatuh cinta pada Balqis yang telah menolongnya dari pengeroyokan yang menimpanya.
Bagaimana kehidupan keduanya selanjutnya setelah pertemuan hari itu?
Happy Reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasa Al Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUB 27 Rumah Papa Baim
Balqis Untuk Baim (27)
Ayahnya tak sekalipun mengunjunginya walaupun hanya sekali. Padahal ibunya sudah memohon dengan sangat.
"Apa aku akan menjadi anak durhaka jika tetap pada pendirian ku?" Baim melihat ke samping dimana sang istri ada.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Balqis tidak menjawab. Ia mengarahkan tubuhnya menghadap ke arah suaminya. Dengan lembut, Balqis menggenggam tangan suaminya.
"Bagaimana perasaan Abang sekarang?," Balqis bertanya dengan senyum lembutnya.
"Aku sendiri tidak tahu. Aku kasihan, tapi enggan untuk menemuinya." jawabnya.
"Apakah kakak bermaksud membalaskan dendam pada Papa? Mencoba mengabaikannya seperti saat ia mengabaikan kakak dulu?," tanya Balqis hati-hati.
Walaupun tidak semua di ceritakan oleh suaminya. Balqis sedikit banyak tahu apa yang suaminya alami.
Baim mengangguk. "Aku ingin dia merasakan apa yang aku rasakan."
Balqis menggeser tubuhnya merapat ke tubuh suaminya. Ia pun menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Tangan keduanya yang masih bertautan oa letakkan di atas pahanya.
"Apa kakak puas sekarang setelah melakukan itu semua?,"
Baim menggeleng. Ia sendiri bingung. Ia benci pada ayahnya. Ingin melakukan apa yang ayahnya dulu lakukan padanya. Agar Ayahnya tahu apa yang ia rasakan. Namun, kini ia malah merasa kasihan.
Balqis tersenyum.
"Itu karena dari lubuk hati Abang, sebenarnya Abang tidak ingin melakukan itu,"
" Entahlah, Sayang."
"Bagaimana kalau kita temui saja. Kita menjenguk papa. Bagaimana pun, dia ayah kandung Abang."
...******...
"Kita langsung ke rumah sakit ?," tanya Balqis pada suaminya yang sedang mengemudi.
"Kita pulang ke rumah dulu, sayang. Kamu tidak boleh terlalu lelah." Ucap Baim sambil membelokkan mobilnya dan berhenti di depan gerbang warna hitam.
Tin.. Tin... Tin ..
Baim membunyikan klaksonnya. Nampak seorang membuka sedikit gerbang untuk melihat siapa yang datang.
Seorang pria paruh baya menyembulkan kepalanya. Saat menyadari plat mobil berasal dari luar kota dan asing baginya, ia langsung menghampiri mobil itu.
Melihat Pak Didi,satpam rumah menghampiri mobilny,Baim membuka kaca jendela mobilnya.
"Ini saya Ibra, Pak." Baim menyembulkan kepalanya dari dalam mobil.
"Masya Allah Den Ibra!," seru Pak Didi. Ada rasa haru karena akhirnya bisa melihat anak majikannya ini pulang ke rumah setelah lama tidak ada kabar.
Dengan setengah berlari, Pak Didi segera membuka gerbang membiarkan Baim memasukkan mobilnya ke halaman rumah.
Setelah mobil terparkir sempurna, Baim keluar dari mobil dan berlari kecil mengitari mobil membukakan pintu untuk Balqis.
"Bapak sehat?," Baim menghampiri Pak Didi yang memperhatikannya.
Pak Didi menyambut uluran tangan Baim yang langsung mencium tangan Pak Didi. Kebiasaan Baim dari dulu saat ia masih tinggal di rumah itu.
Mata Pak Didi berkaca-kaca melihat anak majikannya yang dulu selalu memintanya untuk menemani bermain bola, kini sudah dewasa. Terakhir, ia melihat Baim yang mulai mengenal minuman haram dan pulang dalam keadaan mabuk semenjak kepergian nyonyanya.
"Alhamdulillah. Den Ibra apa kabar? Bapak sudah lama tidak melihat Aden pulang."
"Alhamdulillah, Pak. Saya juga baik. Malah sekarang sudah menikah dan akan menjadi ayah." Ucap Baim sedikit menyombongkan diri.
"Benarkah ?,"
Baim mengangguk." Benar. itu istri saya." Ucap Baim menunjuk ke arah perempuan berhijab yang masih berdiri di samping mobil.
"Sayang, kemarilah !" panggil Baim pada Balqis.Balqis pun menghampiri suaminya.
" Pak Didi, ini Balqis istri saya. Sayang, ini Pak Didi. Pak Didi ini sudah menjadi satpam disini sejak aku kecil." Baim memperkenalkan kedua orang yang kini saling berhadapan.
Balqis tersenyum dan mencium tangan Pak Didi.
Walaupun tak enak tangannya di cium oleh istri anak majikannya, Pak Didi pun akhirnya menerima uluran tangan Balqis.
"Balqis, Pak."
"Panggil saja Pak Didi."
"Sudah berapa bulan, Non?,"
" Dua bulanan, Pak "
"Masya Allah. Alhamdulillah. Gak nyangka ternyata menghilangnya Aden untuk nyari jodoh." kelakar Pak Didi membuat Baim dan Balqis tertawa.
Mendengar gelak tawa dari arah luar, Bi Yuyun segera keluar. Ia tertegun melihat sosok pria yang berdiri di samping Pak Didi.
Seperti Den Ibra. Batin Bi Yuyun.
" Den Ibra!," Panggil Bi Yuyun lirih.
Mendengar namanya di sebut, Baim melihat ke sumber suara. Begitu pula Balqis dan Pak Didi.
" Masya Allah. Ini benar Den Ibra!." Pekik Bi Yuyun sambil berlari memeluk Baim. Air mata Bi Yuyun mengalir. Ia merasa senang akhirnya bisa melihat Baim lagi.
Bi Yuyun langsung menangkup wajah Baim. Tak hanya Bi Yuyun, Baim dan mereka yang ada disana ikut terharu.
"Aku tambah tampan kan, Bi?," kelakar Baim membuat suasana haru itu menjadi gelak tawa.
"Ish, Aden mah bisa saja." Bi Yuyun memukul lengan Baim sambil terkekeh. Padahal air matanya masih terus mengalir.
"Bibi sehat?" tanya Baim kemudian.
"Alhamdulillah. Aden sendiri bagaimana?" Bi Yuyun balik bertanya.
"Alhamdulillah. Seperti yang bibi lihat."
Bu Yuyun mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia bisa melihat sendiri kalau anak majikannya yang satu ini baik-baik saja. Bahkan terlihat lebih baik.
"Oh iya, itu neng geulis siapa?," tanya Bi Yuyun.
"Ini istri Ibra, Bi. Namanya Balqis." Baim menarik Balqis ke sisinya. Bahkan tanpa malu memeluk pinggang sang istri.
Diperlakukan seperti itu, membuat Balqis malu. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
"Bang.."
Namun Baim acuh. Ia tak peduli sekalipun wajah istrinya sudah matang.
Bi Yuyun hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkah Baim.
"Balqis, Bi." Balqis memperkenalkan dirinya.
"Panggil Bi Yuyun saja. Bibi ini yang bantu Nyonya mengurus Den Ibra dari kecil." jelas Bi Yuyun tanpa di minta.
Balqis tersenyum. Ia merasa senang bertemu orang-orang yang terlihat jelas sangat menyayangi suaminya.
"Bibi tahu luar dalam suami saya dong, Bi?" Balqis iseng bertanya.
"Pasti itu, Non. Selain Nyonya, den Ibra dekat dengan saya. Bahkan orang yang pernah dekat dengan Den Ibra saja saya tahu."Jelas Bi Yuyun sambil berjalan bersisian dengan Balqis ke dalam rumah.
"Banarkah ?," tanya Balqis antusias. Berbicara dengan orang yang kenal suaminya sejak lama membuat ia ingin banyak bertanya.
" Malahan, Bibi kira bakal jadi sama yang terakhir Aden Ibra bawa ke rumah Ternyata tebakan bibi malah meleset. Padahal, sudah lengket kelihatannya." Goda Bi Yuyun.
Mendengar perkataan Bi Yuyun, sontak mata Baim membulat. Jangan sampai ia membuat Bi Yuyun banyak bercerita. Bisa gawat kalau istrinya marah.
"Bibi sudah masak. Ibra kangen masakan Bibi" Ucap Baim mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Alhamdulillah. Bibi malah sudah masak makanan kesukaan Aden. Ayam bumbu kecap." Jelas Bi Yuyun senang.
"Bi, nanti kita cerita-cerita ya? Aku mau dengar masa mudanya Bang Baim." Tidak sesuai harapan Baim, Balqis malah ingin meminta waktu pada Bi Yuyun.
"Sayang, kamu harus istirahat." Baim mengingatkan.
"Abang, aku di mobil kan cuma tidur saja." Balqis mencebik.
Baim hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Alhamdulillah. akhirnya, kalian datang juga!." seru seseorang yang sedang duduk di kursi.
TBC
...----------------...
...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...
...Terima kasih atas dukungannya...
...🥰🥰...