Aqila tidak pernah menyangka hubunganya dengan Alden harus berakhir di tangan sahabatnya sendiri.
Gadis itu melihat dengan mata kepalanya sendiri Alden berhubungan dengan Viona sahabatnya di kamar hotel.
Tidak kuasa menahan sesak di dada, Aqila memilih pergi dari kehidupan Alden.
Namun, apa yang dilihat Aqila tidak sepenuhnya benar. Alden tidak sepenuhnya mengkhianati Aqila, tapi apa daya gadis itu telah pergi dengan membawa kesalahpahaman.
Akankah Alden dapat menyakinkan Aqila? Dan melurusku kesalahpaham yang terjadi?
Novel ini collab bareng SUSANTI 31
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Selamat Tinggal Korea
Aqila menyusun semua baju dan barang berharga miliknya ke dalam koper. Ada dua koper yang akan Qila bawa.
Miho meminta izin saat Aqila mengatakan jika sore ini dia langsung berangkat ke Bali. Aqila telah mendatangi pemilik apartemen, berpamitan dan mengatakan jika apartemen akan ditempati temannya. Sewa apartemen telah Aqila bayar hingga tiga bulan ke depan.
"Kamu sudah yakin dengan keputusan kamu ini, Qila? Bukankah kamu mengatakan jika Alden itu dijebak hingga mabuk?" tanya Miho.
Miho melihat begitu besarnya rasa cinta Alden. Dia yakin semua ini hanyalah kesalahpahaman. Jikapun memang terjadi hubungan badan, itu semua di luar keinginan Alden.
"Dia memang dijebak, tapi jika memang terjadi hubungan badan, Alden tetap harus bertanggung jawab."
"Alden bisa tetap bertanggung jawab pada bayinya tanpa harus menikahi Viona. Kamu masih bisa terus bersama dirinya," ucap Miho.
Aqila membalikkan badannya menghadap Miho. Semua telah tersusun rapi. Gadis itu menggenggam tangan teman kerjanya itu. Walau mereka hanya satu bulan bersama tapi Aqila merasa begitu dekatnya dengan Miho.
"Akan tampak begitu egoisnya jika aku tetap bersama Alden, sementara ada yang lebih berhak dan membutuhkan. Mungkin orang akan berpikir aku ini bodoh, tapi aku tidak mungkin mengorbankan bayi Alden dan Viona hanya untuk kebahagiaan diriku sendiri."
"Aku tidak tahu harus ngomong apa lagi, Qila. Semoga ini keputusan yang tepat untukmu."
Setelah merapikan semua barang bawaannya, Aqila langsung menuju bandara. Sambil menunggu pesawatnya berangkat, Aqila duduk di cafe. Pandangannya tampak kosong. Air mata tampak tumpah membasahi pipi gadis itu.
Tuhan, terima kasih karena sudah pernah menitipkan rasa yang begitu luar biasa pada saya untuk seseorang. Setidaknya saya pernah menemukan sosok yang membuat saya mencintainya dengan rasa yang begitu dalam.
Dia, laki-laki yang mengajarkan saya titik tertinggi mengcintai yaitu dengan mengikhlaskan. Dia membuat saya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Dia laki-laki yang saya cintai dengan tiba-tiba dan mengikhlaskan secara terpaksa.
Ketika saya berusaha untuk terbiasa tanpanya, rasanya saya hampir gila karena melawan rindu. Saya pernah sabar karena menahan diri untuk tidak mencarinya, bahkan saya menangis terisak saat mengingatnya.
Lantas jika takdir saat ini kami tidak bisa lagi bersatu, maka tolong bantu saya dengan rasa ikhlas. Sebab melepaskannya adalah keterpaksaan yang benar-benar nyaris membuat saya membenci takdir saya sendiri.
Tanpa Aqila sadari, tidak jauh dari kafe, seorang pria memperhatikan dirinya. Mata pria itu tampak berkaca-kaca menahan air mata agar tidak tumpah membasahi pipi.
"Maafkan aku, Aqila. Mungkin kata maaf aja belum cukup buat kamu maafin kesalahan aku, mungkin apa yang aku lakukan sama kamu ini terlalu fatal buat kamu, tapi satu hal yang kamu tau bahwa yang aku lakuin ke kamu itu tidaklah aku sengaja. Jika aku tau yang aku lakukan ini salah, aku tidak akan melakukannya. Aku tau mungkin berat buat kamu maafin aku dan akupun sadar kata maaf aja ga cukup untuk menghilangkan rasa kesal dan kecewa hatimu. Namun, seberapa besarpun kamu marah padaku dan sebenci apapun kamu terhadapku atas kesalahan yang aku perbuat, hatiku tetap untuk satu orang yang sangat berarti bagiku. Orang itu adalah kamu.”
Pria itu adalah Alden. Dari taman tadi dia mengikuti Aqila. Takut terjadi sesuatu dengan wanita yang paling dicintainya itu.
Alden janji akan mendapatkan semua bukti. Walau saat di kamar, pria itu tidak sadarkan diri, tapi dia yakin tidak melakukan apapun dengan Viona.
Pesawat yang akan membawa Aqila segera berangkat. Gadis itu berjalan masuk ke bandara. Sebelum masuk, Aqila memandangi setiap sudut bandara.
"Selamat tinggal Seoul. Aku berharap takdir menyatukan jalan hidup kita sehingga kaki-kaki ini dapat berjalan beriringan dalam setapak jalan yang sama. Namun, ternyata ujungnya menemukan jalan buntu. Artinya kamu dan aku harus berpisah dan melanjutkan hidup dengan jalan yang berbeda. Semoga ini adalah jalan terbaik bagi kita," ucap Aqila.
Di mana ada pertemuan, di situ pula ada perpisahan. Setiap yang bertemu, pasti akan berpisah. Cepat atau lambat, dalam keadaan baik maupun situasi yang buruk. Meski perpisahan ini adalah hal pasti yang akan dialami siapa pun di dunia, nggak ada yang pernah siap untuk melewatinya, nggak ada yang sanggup untuk mengucapkan kata-kata perpisahan itu pada siapa pun, termasuk pada kekasihmu.
...****************...