Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang
dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shower dan Janji yang Hanyut
Sesampainya di rumah mewah keluarga Danendra, Naira tidak memedulikan sapaan beberapa pelayan di ruang tengah. Dia berlari menaiki tangga marmer menuju kamarnya di lantai dua, lalu membanting pintu kokoh itu hingga tertutup rapat. Tas sekolahnya dilempar sembarang arah hingga isinya sedikit berhamburan di atas karpet bulu yang tebal
Langkah kakinya membawa Naira langsung menuju kamar mandi berlantai granit di sudut kamar. Tanpa melepas seragam sekolahnya yang masih rapi, tanpa melepas sepatu, Naira melangkah masuk ke bawah pancuran shower.
Dengan tangan yang gemetar hebat, dia memutar keran shower ke tingkat paling maksimal.
SYUUUURRRRR!
Air dingin dalam debit yang deras langsung tumpah ruah, menghantam kepala dan membasahi seluruh tubuhnya dalam sekejap. Seragam putih abu-abunya menempel ketat di kulit, dan rambut panjangnya yang tadi tertata anggun kini lepek memeluk bahunya. Air dingin itu menusuk kulitnya, namun rasa dingin itu sama sekali tidak bisa menandingi rasa beku yang menjalar di hatinya.
Naira mendongak, membiarkan aliran air shower menghantam wajahnya, menyamarkan air mata yang kembali mengalir deras dari pelupuk matanya. Isak tangisnya yang pecah kini terendam sempurna oleh bisingnya suara gemercik air yang jatuh ke lantai.
"Ternyata... ternyata bukan soal aku kaya atau anak siapa," bisik Naria lirih, suaranya bergetar hebat di antara deru air. Dia mencengkeram dadanya yang terasa sangat sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarnya mendadak hilang.
"Bukan aku yang dia mau... tapi kenapa gak bilang?" kesedihan Naira meluap menjadi rasa perih yang teramat dalam.
Bayangan Rama yang membiarkan tangan Siska hinggap di lengannya terus berputar seperti kaset rusak di kepala Naira. Pikiran Naira yang telanjur kalut oleh rasa sakit hati tidak bisa melihat bahwa ekspresi Rama saat itu penuh ketegangan karena jebakan Arga. Yang Naira tahu, dia ditolak mentah-mentah di kelas XI-A, sementara gadis lain diterima dengan mudah di taman belakang.
"Kenapa harus aku lihat sendiri kayak gini, Ram...?" raung Naira pelan, tubuhnya perlahan merosot di bawah guyuran shower. Dia terduduk di lantai kamar mandi yang basah, melipat lututnya dan memeluk dirinya sendiri yang mulai menggigil kedinginan.
Di tengah bisingnya deru air yang menghantam lantai granit, ingatan Naira mendadak ditarik mundur pada obrolan mereka sebelumnya. Kata-kata yang diucapkan Rama dengan nada baritonnya yang lempeng dan tenang, kini berputar kembali di kepala Naira dengan sangat jelas.
Saat itu, Rama menatapnya lurus dan berkata, “Ra, jangankan buat pacaran. Waktu aku sehari-hari aja udah habis buat sekolah, sama angkat kardus di ruko sampai malam. Mana sempat aku mikirin punya pacar.”
Naira meremas seragamnya yang basah kuyup. Dadanya semakin sesak. 'Mana sempat mikirin pacar kata kamu, Ram? Tapi kenapa tadi di taman kamu diam aja pas dipegang sama cewek lain?' batin Naira menjerit perih.
Kesedihan Naira meluap menjadi rasa kecewa yang teramat dalam saat dia mengingat kalimat Rama yang selanjutnya. Kalimat yang sempat membuat Naira menaruh rasa percaya penuh pada cowok itu.
“Aku bukan tipe orang yang suka lari dari masalah, Ra. Dan aku juga gak akan hilang tanpa kabar kayak anak kecil. Kalau aku udah bilang gak akan ke mana-mana, artinya aku bakal tetap di sini. Jadi, kamu gak usah mikir yang aneh-aneh lagi.”
Naira tersenyum getir di tengah tangisnya, membiarkan air shower membasuh wajahnya yang memerah.
"Kamu bilang kamu gak akan hilang tanpa kabar kayak anak kecil, Ram..." lirih Naira dengan suara yang serak dan bergetar hebat.
"Kamu bilang kamu bakal tetap di sini dan minta aku gak mikir aneh-aneh. Tapi apa yang kamu lakuin tadi pagi di kelas? Kamu ngusir aku, kamu nyuruh aku anggap kita gak pernah kenal! Kamu emang gak pergi ke mana-mana, tapi sikap kamu yang tiba-tiba berubah dingin itu lebih bikin aku sakit tahu gak!"
Naira membenamkan wajahnya di atas lututnya yang basah. Di bawah guyuran air yang terus menderu deras, Naira meratapi kata-kata Rama yang kini dirasanya hanya menjadi omong kosong belaka. Rasa percaya yang sempat dia bangun karena ketegasan cowok lempeng itu, kini hancur berkeping-keping dalam semalam.