Peringatan Misi Kematian! Sisa waktu: 10 menit.
Tugas: Hadapi Dewi Kuno, atau jantungmu meledak.
Sebagai murid buangan yang tertindas, Lin Huang mendadak memiliki kekuasaan instan berkat "Tanda Batas Batil" di pergelangan tangannya. Tidak butuh waktu ratusan tahun, kultivasinya meningkat eksponensial dalam hitungan detik—tetapi harganya adalah risiko nyawa yang mengerikan!
Setiap detik adalah pertarungan. Setiap misi adalah perjudian.
Fast-Paced Xianxia | Kultivasi Ekstrem | Romansa Paksaan Dewi
Rasakan adrenalin tanpa jeda di setiap bab!
"Ini bukan tentang menjadi abadi, ini tentang bertahan hidup di detik berikutnya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontrak Darah di Bawah Rembulan
"Suami istri?!"
Ye Qingyue menggeram. Suaranya yang semula sedingin es kini bergetar oleh amarah yang membakar. Sepanjang hidupnya di Alam Atas, sebagai penguasa Istana Es Abadi, para kaisar dewa dan kultivator tertinggi sekalipun harus menundukkan kepala dan menjaga jarak sepuluh langkah darinya. Jangankan menyentuh, menatap matanya terlalu lama saja adalah sebuah kelancangan.
Namun malam ini, di sebuah planet fana yang kotor, seorang pemuda pengumpul obat yang bahkan belum membersihkan lumpur di wajahnya berani mengklaim diri sebagai suaminya!
Wusss!
Suhu di sekitar pohon tempat mereka berteduh merosot tajam. Daun-daun yang basah oleh hujan seketika membeku menjadi kristal es, lalu pecah menjadi serpihan lembut. Ye Qingyue mengangkat tangan kanannya yang gemetar. Meskipun kekuatannya belum pulih, niat membunuh yang pekat memadat di ujung jarinya, membentuk sebilah belati es transparan.
"Lancang! Manusia fana rendahan seperti sepantasnya diberi makan ke anjing monster!" Dengan sisa tenaganya, Ye Qingyue menghentakkan kakinya dan menusukkan belati es itu langsung ke arah tenggorokan Lin Huang.
Lin Huang, yang masih duduk bersandar di akar pohon, tidak panik. Refleks dari Ranah Kondensasi Qi Tingkat 9 Sempurna membuat pergerakan Ye Qingyue yang sedang melemah terlihat sangat lambat di matanya.
Tanpa bangkit berdiri, Lin Huang hanya memiringkan kepalanya sedikit.
Srak!
Belati es itu melesat melewati pipinya, menancap dalam ke batang pohon di belakangnya hingga pohon besar itu bergetar.
"Dewi Ye, simpan tenagamu," kata Lin Huang tenang, sambil bangkit berdiri dan menepuk-nepuk debu di celananya. "Aku tidak sedang bercanda atau berniat mencabulimu lagi. Lihat ini."
Lin Huang mengangkat pergelangan tangan kirinya, mendekatkannya ke wajah Ye Qingyue. Tato jam pasir berwarna hijau yang semula diam tiba-tiba berdenyut. Bersamaan dengan itu, di pergelangan tangan kanan Ye Qingyue, sebuah pendaran cahaya merah tipis muncul, membentuk pola rantai tak kasat mata yang melingkari nadinya sebelum akhirnya memudar ke dalam kulit.
Ye Qingyue terkesiap. Dia segera memeriksa lautan kesadarannya (Dantian) dan menemukan seuntai benang energi merah yang mengikat erat inti jiwanya dengan jiwa Lin Huang.
"Ini... Simbiosis Jiwa?! Bagaimana mungkin?!" Mata perak Ye Qingyue melebar, dipenuhi keterkejutan yang mendalam. "Teknik pengikat jiwa tingkat tinggi ini hanya diketahui oleh ras kuno di Alam Atas! Bagaimana bisa manusia fana sepertimu—"
"Aku sudah bilang, aku tidak tahu apa-apa. Ini semua karena tato keparat ini," potong Lin Huang sambil menghela napas, menunjuk jam pasir di tangannya. "Benda ini memberiku perintah dengan taruhan nyawa. Misi pertama: aku harus menampar tuan muda yang membuangku ke jurang. Misi kedua: aku harus menciummu di dalam gua. Jika aku menolak, jantungku meledak saat itu juga."
Lin Huang menatap Ye Qingyue dengan tatapan serius yang jarang dia tunjukkan. "Dan begitu aku menciummu, benda ini mengatakan bahwa energi Yin murnimu telah menyatu denganku, menciptakan 'Ikatan Takdir'. Intinya: jika kau mati, aku mati. Jika aku mati... kau juga akan ikut hancur. Kita berada di perahu yang sama sekarang."
Ye Qingyue terdiam. Wajahnya yang cantik berubah menjadi sangat rumit. Dia mencoba memutus benang energi di dalam kesadarannya, namun setiap kali dia mencoba menyentuhnya dengan kesadaran ilahi, rasa sakit yang luar biasa menusuk jantungnya—dan pada saat yang sama, dia melihat Lin Huang di depannya meringis kesakitan sambil memegangi dada.
Kenyataan pahit ini memukul ego sang Dewi dengan sangat telak. Dia, sang penguasa es yang agung, kini hidupnya bergantung pada seorang pemuda fana yang bahkan tidak tahu apa itu Dao.
"Sialan..." Ye Qingyue berbisik lirih, mengutuk takdirnya sendiri untuk pertama kali dalam ribuan tahun. Dia menurunkan tangannya, aura dingin di sekitarnya perlahan mereda. "Lalu, apa maumu sekarang, Lin Huang?"
Lin Huang tersenyum tipis melihat sang Dewi akhirnya mau diajak me-negosiasi. "Pertama, kita harus bertahan hidup. Aku baru saja menghancurkan dua Tetua Luar Sekte Sembilan Matahari. Begitu fajar tiba, seluruh kekaisaran ini akan dipenuhi oleh poster buronan namaku. Kita harus pergi jauh dari wilayah ini."
Lin Huang berjalan mendekati Ye Qingyue, jarak mereka kini hanya dua langkah. "Kedua, kau membutuhkan obat atau energi untuk memulihkan segelmu, bukan? Aku bisa merasakan tubuhmu sangat lemah. Tato di tanganku ini memberikan hadiah yang tidak masuk akal setiap kali aku menyelesaikan misi. Selama kita bekerja sama, aku bisa mendapatkan apa pun yang kau butuhkan untuk pulih."
Ye Qingyue menatap Lin Huang dengan tajam, mencoba membaca apakah ada kelicikan di mata pemuda itu. Namun, yang dia temukan hanyalah binar tekad yang liar dan kegilaan yang murni dari seseorang yang menolak untuk mati.
"Kau ingin memanfaatkan aku sebagai pelindungmu?" tanya Ye Qingyue dingin.
"Anggap saja ini kerja sama yang saling menguntungkan," balas Lin Huang sambil mengulurkan tangan kanannya. "Aku menjadi tangan dan kakimu selama kau lemas, dan kau menjadi pemandu jalanku menuju puncak dunia persilatan. Bagaimana, Permaisuri Es?"
Ye Qingyue menatap tangan Lin Huang yang kotor, lalu beralih ke wajah pemuda itu. Setelah keheningan yang panjang di bawah sinar rembulan yang mulai muncul di balik awan, sang Dewi akhirnya mengangkat tangan kanannya yang seputih salju. Alih-alih menjabat tangan Lin Huang, dia menggigit ujung jarinya sendiri hingga setetes darah emas mistis keluar, lalu menempelkannya ke dahi Lin Huang.
Zuuuum!
Sebuah tanda kepingan salju emas samar muncul di dahi Lin Huang sebelum meresap hilang.
"Ini adalah Kontrak Darah Es," kata Ye Qingyue dengan nada angkuh yang kembali. "Jika kau berani mengkhianatiku atau berpikiran cabul lagi padaku, darah emas ini akan membekukan seluruh organ tubuhmu dari dalam, tidak peduli apakah jiwa kita terikat atau tidak. Mulai hari ini, sebelum kekuatanku pulih, aku akan ikut denganmu."
Lin Huang menyentuh dahinya, merasakan sensasi dingin yang menyegarkan alih-alih menyakitkan. Dia tersenyum lebar, sama sekali tidak terintimidasi oleh ancaman sang Dewi. "Kesepakatan yang bagus, istriku yang galak."
"Jangan panggil aku dengan sebutan menjijikkan itu!" Ye Qingyue melotot, pipinya yang putih samar-samar memerah karena kesal.
"Baik, baik, Dewi Ye," Lin Huang terkekeh.
Tiba-tiba, tato di pergelangan tangan Lin Huang berdenyut pelan, memberikan pendaran cahaya hijau yang berangsur menjadi kuning samar. Sebuah informasi baru muncul di benaknya, bukan berupa misi kematian yang mendesak, melainkan sebuah petunjuk arah.
[Status: Mode Siaga Aktif.]
[Saran Rute Pelarian: Bergeraklah 50 mil ke arah barat daya menuju Kota Perbatasan 'Gales'. Di sana terdapat pelelangan bawah tanah yang menyimpan 'Tanaman Spiritual Sembilan Jiwa Ice'—bahan utama untuk memperkuat struktur fisik dan meredakan luka dalam Dewi Ye Qingyue.]
[Waktu tunggu misi berikutnya: 11 Jam 45 Menit.]
Lin Huang melihat ke arah barat daya, di mana kegelapan hutan pegunungan membentang luas. "Kita punya waktu sekitar sebelas jam sebelum kegilaan berikutnya dimulai. Dewi Ye, bisakah kau berjalan, atau kau ingin aku menggendongmu lagi?" Lin Huang mengedipkan sebelah matanya dengan nada menggoda.
Belati es baru langsung memadat di tangan Ye Qingyue. "Jika kau berani menyentuhku lagi tanpa izin, aku akan memastikan jari-jarimu membeku hingga copot!"
"Hahaha! Baik, silakan jalan di depan," Lin Huang tertawa lepas, berjalan di samping sang Dewi menembus kegelapan malam.
Malam itu, di bawah kesaksian rembulan yang dingin, seorang murid buangan yang dikejar maut dan seorang dewi agung yang dikhianati memulai langkah pertama mereka. Mereka tidak tahu bahwa di ujung jalan yang mereka tempuh, seluruh dunia persilatan fana dan Alam Atas akan segera diguncang oleh badai yang mereka ciptakan.