Biyanca yang diadopsi oleh keluarga sederhana terpaksa harus menelan pil pahit karena dirinya akan di lelang dihadapan banyak orang kaya demi melunasi hutang ayah angkat dan keluarganya. Di hari pelelangan, seorang pria yang sedang terluka karena tertembak, datang dan nyelonong masuk ke dalam kamar Biyanca.
Tak disangka, pemenang lelang jatuh pada pria yang tadi sempat ditolong Biyanca. Pria tersebut membayar Biyanca dengan harga sangat mahal mengalahkan semua kaum borjuis yang ada di tempat pelelangan ini. Alhasil, Biyancapun harus dinikahkan dengan pria tersebut.
Siapakah Pria itu? Akankah pernikahan mereka bahagia, atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin Supriatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 Byon dan Rahasianya
Biyanca agak terkejut mendengar Byon mengatakan bahwa dirinya sempat bunuh diri setelah mengetahui kebenaran tentang kisah cinta orangtua mereka. Hanya saja, Biyanca heran, kenapa Byon tidak membencinya sama seperti Leon yang langsung membenci Biyanca begitu tahu kalau ibunya adalah orang ketiga diantara kedua orangutan Byon dan Leon.
“Kenapa kau tidak membenciku sama seperti Leon membenciku? Kau tahu apa alasanku bunuh diri waktu itu? Aku malu Byon! Aku malu karena Ibuku menjadi duri dalam keluargamu. Harusnya kau tak lakukan ini. Harusnya … kau biarkan saja aku mati ataupun menghilang dari duniamu. Kenapa kau … masih mencariku?” Biyanca menangis, tapi buru-buru mengusap air matanya karena ia tidak enak dilihat Narendra dan juga Aliya yang sejak tadi menatapnya.
Byon tahu gelagat Biyanca saat sadar di sini tidak hanya ada dirinya dan Byon saja. tapi juga orang lain. Byon menatap Nare dan Aliya sejenak lalu berjalan mendekat kea rah Bii sambil setengah berbisik.
“Kita akan bicarakan masalah ini lagi nanti. Akan kujawab pertanyaanmu kalau kita hanya tinggal berdua saja. karena hari sudah malam, kita bermalam di rumah Nare sekaligus mengucapkan salam perpisahanku pada keluarganya.” Byon menggandeng tangan Biyanca dan membawanya mendekat ke tempat Nare dan Aliya berdiri dalam diam.
“Apa aku mengenalnya?” tanya Nare pada Byon.
“Dia Bii-ku.”
“Bii? Biyanca?” tanya Nare setengah terkejut tapi juga bercampur bahagia. “Sungguh dia adalah Bii? Wanta yuang kau cari-cari selama ini?” Nare jadi heboh sendiri seolah dialah yang menemukan Bii. “Halo Bii … aku Nare, Narendra Bonscha. Sahabat Byon sejak dia masih remaja.” Nare mengulurkan satu tangannya dan Biyanca menyambutnya.
“Halo, aku Biyanca. senang bertemu denganmu.” Bii pun tak kalah ramah.
“Ini pacarku, Aliya. Kami baru saja jadian.” Belum apa-apa Nare sudah berani pamer.
“Selamat untuk kalian berdua.”
“Terimakasih,” ujarnya sambil tersenyum. “Haaaisshh!” teriak Nare tiba-tiba. “kau sungguh Biyanca. Aku kira siapa, aku pikir si muka taplak meja ini berpaling darimu. Aku tak pernah melihatnya bicara dengan wanita sedekat itu. Syukurlah itu kau. Kau lah satu-satunya wanita pertama yang didekati Byon.” Nare semakin heboh saja karena ia sangat tahu seperti apa Byon tanpa Biyanca selama ini.
Byon tidak kaget, Narendra adalah sahabat terbaik Byon yang mau membantu dan menampungnya selama ia tinggal di Indonesia. Nare berasal dari keluarga kaya raya pemilik perkebunan the terbesar di Indonesia. Nare juga meminta keluarganya untuk mengadopsi Byon yang kala itu masih remaja dan seusia dengannya agar bisa mendapatkan kehidupan dan pendidikan layak di negara ini. Sebab, mereka bertemu saat Byon benar-benar sendiri dan tidak tahu menahu seluk beluk negara ini.
Tidak ada yang tidak diketahui Nare soal Byon terutama tujuan Byon yang mencari Biyanca. mereka berdua adalah saudara angkat dan selalu kemana-mana berdua. Baru beberapa waktu lalu saja, Byon menghilang dan mereka baru bertemu lagi sekarang. Sejak Kuliah mereka tak terpisahkan. Tak heran bila pemuda tampan itu langsung senang begitu melihat Biyanca ditemukan oleh Byon.
“Ehem,” Aliya berdeham karena kekasihnya bersikap menyebalkan.
“Oh, maaf Al. aku terlalu senang. Byon selalu memanggil-manggil nama Biyanca saat dia tertidur jadi aku sangat penasaran seperti apa wanita yang membuat preman model Byon ini tak bisa berhenti memikirkannya bagai virus mematikan.”Kekasih Aliya itu memberikan penjelasan atas sikapnya.
“Lalu kau sendiri?” tanya Aliya sedikit cemburu karena ada seorang pria yang mencintai seorang wanita sampai sedalam itu.
“Dia tidak pernah menyebut namamu di mimpinya karena ia selalu menolak semua wanita yang mengejarnya. Sebaliknya, sebelum tidur, dia hanya memandangi fotomu saja.” ganti Byon yang membuka aib Nare di depan kekasihnya.
Cowok itu jadi malu dan Aliya tidak jadi cemburu. “Benarkah? Kau lakukan itu? Melihat fotoku? Foto yang mana? Apa aku tampak manis di foto itu?” tanyanya.
Belum juga Nare menjawab, Byon menyahut lagi. “Foto saat kau berenang,” ujar Byon sambil tertawa dan wajah Aliya langsung merah padam.
“Benarkah itu? Kau mesum sekali, ha? Mana foto itu? Kembalikan padaku! Mana fotonya!” cetus Aliya kesal tapi Nare cari aman dengan berlari menjauh dari kekasihnya. Mereka berdua akhirnya saling kejar-kejaran layaknya adegan di sountrack lagu india.
Byon hanya tertawa saja melihat dua sejoli yang baru saja jadian tapi langsung bertengkar itu. Hal tersebut Byon lakukan agar mereka tidak mengganggu privasi Byon saat berdua saja dengan Biyanca.
“Cara yang mudah untuk mengusir mereka.” Byon menatap Biyanca dan mengajaknya berjalan pergi meninggalkan Nare dan Aliya yang sedang berindiaan ria.
“Siapa sebenarnya mereka?” tanya Biyanca jadi penasaran juga.
“Kalau kau membaca buku diariku. Harusnya kau tahu. Berhubung ingatanmu sudah kembali. sepertinya, kau tak perlu lagi membacanya.” Byon berhenti berjalan dan menatap wajah cantik Biyanca.
“Malam di saat kau diculik seperti yang kau katakan. Itu adalah malam paling kelam dalam hidupku Bii. Aku duduk dengan cemas menantikan kedatanganmu. Tapi kau tak kunjung datang juga.”
“Aku sudah bilang padamu, aku diculik!” seru Bii meyakinkan Byon. Sebenarnya waktu itu dia ingin datang menemui Byon tapi hal tak terduga telah menimpanya dan membawanya sampai kemari.
“Aku tahu, aku tidak menyalahkanmu. Aku hanya memberitahumu karena sepertinya kau tidak membaca buku diariku sampai akhir.”
“Maaf, lain kali akan kubaca. Aku terkejut saat kau mau menembak wanita yang kini sudah menjadi kekasih pacar saudara angkatmu. Kau itu mirip mafia tahu nggak? Bikin kaget saja.”
“Aku memang mafia Bii. Tapi aku bukan mafia jahat.”
“Mana ada mafia yang tidak jahat? Kalau baik itu bukan mafia namanya.” Biyanca tetap tidak percaya pada apa yang dikatakan suaminya bahwa Byon memang seorang mafia dan selama ini ia berhasil menyembunyikan identitas aslinya ini. Baik dari Nare sekalipun.
“Terserah kau saja kalau begitu, toh siapa aku juag tidak penting lagi sekarang. Yang penting kau sudah ingat dan sudah jadi milikku.” Byon kembali menggandeng tangan Biyanca dan bejalan pelan menuju rumah Nare sambil menikmati pemandangan pantai yang indah.
Biyanca sendiri tidak menolak, di sisi lain dia bahagia karena pria yang ia cinta kini ada disampingnya. Bahkan sudah jadi suaminya pula. Tinggal bagaimana mereka menjalani kehidupan rumah tangga mereka setelah ini. Takdir itu misteri, Biyanca tak pernah menyangka bahwa kisah cintanya dengan Byon harus berakhir dalam ikatan suci pernikahan meski keduanya sempat mengalami banyak sekali kesulitan.
“Lanjutkan ceritamu tadi. Apa yang terjadi saat kau menungguku?” tanya Biyanca.
“Leon datang menemuiku dan mengatakan kalau ayah diserang musuh tak dikenal. Bertepatan dengan itu aku mendengar kau dibawa kabur orang. Aku bingung, siapa yang ahrus kuselamatkan. Kau … atau keluargaku. Aku tak mungkin membiarkan Leon bertarung sendirian, jadi kuputuskan untuk menyelamatkan keluargaku dulu baru setelah itu aku menyusulmu.” Byon berhenti bicara seolah ada sesuatu yang ia tahan.
BERSAMBUNG
***
harapan dan keinginan di masa sudah tercapai