Hy....para Readers yang baik hati.
Mampir Yuk....!
Aynur mengalami kecelakaan dan meninggal, Namun jiwanya bereinkarnasi memasuki raga seorang gadis yang merupakan kelinci percobaan dari sebuah mesin canggih produksi tahun 2099.
Mesin yang dapat mengubah secara TOTALITAS gadis biasa menjadi super cantik dengan kecerdasan super maksimal.
Berhasil tercipta dengan sempurna Aynur dilelang dan terjual dengan harga fantastik, Aynur malang sekarang menjadi budak seorang penguasa kejam di negara tersebut.
...Akan kah Aynur menjadi budak kesayangan sang Penguasa Kejam di negri tersebut?...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fifin alfitriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Terdengar Suara berat dengan sosok tubuh kekar berdiri tepat dibelakang mereka, tak satupun menyadari keberadaan dirinya sedari tadi karena fokus dengan Aynur dan sang baby, bak penampakan semua mata langsung terbelalak melihat sosok dirinya, jantung memompa dengan ritme beradu dengan kecepatan cahaya yang biasa mereka lintasi saat berkendara di udara.
Aynur langsung mengarahkan pandangan kepada sosok yang telah lama ia tak lihat, sosok yang telah menghancurkan impiannya, sosok yang paling ia benci, meski hati kecil menyimpan cinta terdalam.
"Kalian semua keluar....!, aku ingin berbicara berdua dengan dia," ucap Devdas dengan suara bentakan menyeruak dan menggema di seluruh penjuru ruangan, membuat Red dan lainnya langsung mengarahkan langkah cepat menuju ruang laboratorium yang diubah dokter An menjadi tua operasi dadakan.
Aynur tak memperdulikan kehadiran dirinya, ia masih fokus pada ke dua bayinya yang Ryana baru letakkan disamping dirinya. Terus membelai kedua bayi mungil itu, dengan air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipinya.
"Kau puas...!, keegoisanmu kini telah merenggut nyawa anak kita. Dia yang seharusnya selamat dan kini meregang nyawa akibat sikap egoismu itu...!"
"Apa kau pikir aku ini terlalu buas hingga akan memakan anak ku sendiri?, apa kau sadar jika kaulah yang buas sekarang, demi menghindari ku, demi cemburu mu bahkan kau tega menghilangkan nyawanya," lanjutnya pada Aynur yang masih lemah terbaring dan terus mengalihkan pandangan tak ingin sama sekali menatap dirinya yang kini telah berdiri tegak disamping dirinya.
Aynur mengangkat wajah dan mengarahkan pandangan pada pria kekar yang kini berdiri tepat disamping dirinya berbaring lemas. Tak ada satu kata pembelaan terucap, tak ada satu kata amarah padanya, dan tak ada sapaan pun terucap pada pertemuan mereka untuk pertama kalinya.
Aynur memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidur, namun langsung ditahan oleh tuan Devdas. "Jangan banyak gerak, istirahatlah." Setelah ucapannya berakhir ia langsung mencium kening putra dan putrinya, Aynur terlihat marah, hingga akhirnya pertama kalinya satu kalimat terucap dari bibir mungilnya, "Jangan menyentuh anak ku...!".
"Meraka adalah darah daging ku, siapapun tak berhak melarang ku,".
"Aku berhak atas meraka, kau hanya menyumbang kecebong dan akulah yang berperan penting hingga mereka lahir."
"Ya, kau benar. Tapi sayang sekali, kau sendiri saja adalah milik ku, dan tak ada seorang pun akan mampu menghalangi diri ku, selain kau berstatus budak pribadiku, tertera jelas dalam dokumen pernikahan jika Aynur Azra adalah istri sah dari Devdas presiden negara Adidas."
"Lalu apa yang kau inginkan sekarang...?" tanya Aynur semakin ingin meluapkan emosinya jika ia sekarang tak terbaring lemah.
"Membawa keluarga ku kembali ketempat mereka yang seharusnya."
"Enteng sekali ucapanmu tanpa bertanya apa yang kuinginkan sekarang. Aku akan mentransfer nominal yang kau gunakan untuk membeli budak seperti ku dan semua prajurit yang tergabung dengan ku sekarang."
"Aku punya banyak uang, yang aku butuhkan sekarang adalah kalian berada di samping ku, aku takkan mengambil resiko besar untuk nyawa kalian. Dan aku pastikan semua yang terlibat dengan kematian anak ku akan aku lenyapkan sekarang."
"Kalau begitu akulah orang pertama yang harus kau lenyapkan sekarang, akulah yang menciptakan obat itu, akulah yang menyuruh mereka menyuntikkannya, dan akulah yang melarang mereka menyelamatkan anak ku jika terjadi masalah."
"Aynur Azrah.....! kau tak ubahnya seorang buas sekarang. Tak punya hati dan tak pantas menjadi seorang ibu, tinggal lah sendiri disini dan aku akan membawa pulang anak ku."
"Silahkan, tapi aku punya permintaan makamkan aku di samping putriku dan mayat aku akan diantarkan oleh Red dan Ryana."
"Aynur....!" bentak Devdas pada wanita yang telah memberinya dua pasang putra putri yang lucu.
"Jangan berteriak, suara mu mengagetkan putra kita, dan membuat putriku bersedih di alamnya sekarang."
"Bawa mereka semua kembali ke negara Devdas dan jadikan mereka sebagai tahanan negara, dan bawa anak dan istri kembali ke kediaman ku sekarang, rawat mereka hingga pulih, dan kau Amir bawa jenazah putriku kita akan segera mempersiapkan pemakaman malam ini."
"Tidak Dev....jangan bawa dia, aku masih ingin menghangatkan dirinya malam ini, biarkan aku menemaninya untuk terakhir kalinya," ucap Aynur meraung dengan di tempat tidur dan berusaha untuk bangun dari tempat pembaringan.
Devdas langsung memeluk istrinya dan menenangkan Aynur. "Kita kembali malam ini....!, bisiknya pada Aynur yang sudah mulai tenang.
"Jangan sekarang, negerimu sedang kacau, ijin aku berada disini bersama putra kita, dan jika tuan khawatir silahkan tinggalkan prajurit terbaik negerimu untuk menjaga kami."
"Baik, aku akan berada disini hingga esok hari, Amir dan yang lain akan menjemput setelah persiapan pemakaman selesai, akun akan menemani kalian malam ini, terlalu berbahaya meninggalkan mu seorang diri dengan putra pewaris negri Adidas," jelas Devdas pada Aynur yang kini telah menjadi seorang ibu putra pewaris Adidas.
"Terserah kau saja, tak seorang pun mampu mengendalikan mu."
"Aynur....!" sambil berdecak mendengar ketidak sukaan Aynur terhadapnya.
Aynur memang belum bisa menerima keberadaannya kembali disisinya, apalagi terlalu dadakan seperti ini, Aynur akui jika robot milik Devdas memiliki beberapa fitur canggih hingga mampu melalui ambang batas IQ manusia sekarang, entah apa yang akan terjadi jika mereka terus menciptakan robot pintar dan hebat, bisa jadi kedepannya nanti kitalah sebagai pencipta dari robot yang akan dikendalikan oleh mereka.
"Berhenti menciptakan robot pintar, aku khawatir tingkat populasi mereka akan menjadi malapetaka buat kehidupan selanjutnya," ucap Aynur memperingatkan Devdas.
"Tingkatkan sumberdaya manusia kembali, jadikan mereka sebagai pemimpin dan bukan dipimpin oleh robotik aneh mu itu, bahkan menurutku mereka terlalu cerewet."
Protes Aynur pada robot-robot yang Devdas bawa bersamanya dan bahkan sekarang ia menempatkan beberapa robot di ruangan yang sekarang Aynur tempati.
"Ckkk....mereka lebih setia dari pada a*jing di luaran sana," cetus Devdas pada istrinya.
"Bahkan mungkin dirimu, suami mana yang tega menikah kembali saat sang istri tengah mengandung buah hatinya, entah pria macam apa dirinya?" balas Aynur semakin menyudutkan Devdas.
"Prof. Arion, apa aku benar?, dia pasti ada hubungannya dengan apa yang barusan kau ucapkan padaku?"
"Orang yang paling kau benci, tapi kenyataannya kau dan dia satu darah."
"Hah.....jangan membahasnya, bahkan dia tak menjemput aku sama sekali, bahkan hingga sekarang dia tak memunculkan batang hidungnya, keluarga macam apa yang kau sebutkan itu?" protes Devdas.
"Dasar anak tak berbakti, kau yang seharusnya pergi menemui dan menyapa dirinya, kau juga seharusnya meminta maaf sekarang, ingat karma itu masih berlaku, jangan salahkan keadaan jika kau tak memiliki putra yang patuh dan menghargai mu, buah jatuh tak jauh dari pohonnya," omel Aynur pada suaminya yang semakin hari bertambah arogan dan tak atau diri.
"Jangan habiskan energimu untuk menasehati pria brengsek seperti dirinya, aku akan memindahkan mu ke kamar sekarang untuk beristirahat, kedua bayimu akan diurus oleh adik mu Ryana," ucap prof. Arion tanpa memperdulikan Devdas yang masih menatapnya seakan ingin membunuh pria paruh baya dihadapannya dengan sosok yang semakin mirip dengan ayahnya.
"Dan kau tuan penguasa, pulanglah ke asal mu, tak ada seorang pun yang menerima keberadaan mu disini," lanjut paman Arion pada Devdas yang masih terus melototi dirinya.
"Dasar pria tua, sudah menyembunyikan istriku dan anak ku, masih saja berlagak, seharusnya aku menghukum mati dirimu sekarang," balas Devdas dan langsung mendapatkan serangan dari Aynur sebuah botol susu milik putranya langsung melayang tepat di jidat suaminya.
"Kau....!" ucap Devdas dengan wajah poker pada Aynur.
Namun, Aynur dan paman Arion malah terlihat menahan tawa untuknya. " untung saja popok bekas bayiku tak terjangkau dari jemariku, andai saja itu_" belum habis ucap Aynur pintu ruangan terdengar dibanting oleh Devdas yang sudah hampir meledakkan amarah pada ke dua orang terdekatnya yang tak menunjukkan kata akur sama sekali.
...----------------...