Time travel ke tubuh gadis yang bunuh diri, membuat Elliana kembali mendapatkan penampilannya yang dulu. Dia ingin mengubah takdir bagi Sabrina, pemilik tubuh yang tertekan dengan semua bullyan teman-temannya di kampus.
Elliana juga mencairkan tabungannya untuk membantu Sabrina dalam perubahan yang akan dilakukannya.
Apakah Elliana akan berhasil dan kuat dengan tubuh baru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alex Dan Riyan
"Sial!"
Alex mengumpat sambil melotot melihat keberadaan Sabrina dengan Riyan, yang terlihat berjalan dengan santainya di Mall.
Alex merasa cemburu ketika melihat Sabrina berjalan-jalan dengan Riyan di Mall, bahkan Riyan tampak mengandeng tangan gadis tersebut.
Akhirnya Alex mendekat ke tempat mereka, berusaha untuk mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan oleh mereka berdua di Mall ini.
"Hei Riyan, kamu lagi ngapain sama Sabrina?" tanya Alex sambil melihat ke arah Sabrina.
Riyan tersenyum dan menoleh ke Sabrina juga, yang tampak tenang dengan kedatangan Alex. "Oh, hai Alex. Kami cuma jalan-jalan di Mall saja. Apa ada masalah?"
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Riyan, Alex merasa jika Riyan sedang memberinya sebuah tantangan.
"Ah, oke. Kenapa kamu harus jalan-jalan sama dia? Apa kamu gak tahu kalo dia udah jadi milikku?" Alex memberitahu Riyan, dengan mengklaim bahwa Sabrina adalah gadisnya.
"Hei, tenang Alex. Aku cuma jalan-jalan aja kok. Kita kan sama-sama teman dia, lagian kapan Sabrina jadi milikmu?" Riyan berkata dengan mencibir.
Ketika Sabrina mendapati bahwa kedua cowok, Alex dan Riyan, saling berseteru karena memperebutkan dirinya, dia merasa tidak nyaman dan khawatir. Dia merasa bahwa dia tidak ingin menjadi sumber pertengkaran antara dua teman yang baik, dan sebenarnya dia ingin menjaga hubungan baik dengan keduanya.
Namun, dibalik rasa khawatirnya tersebut, Sabrina sebenarnya merasa dendam terhadap kedua cowok tersebut. Sabrina merasa bahwa dia telah dianggap sebagai objek yang harus diperebutkan dan dijadikan alat untuk memenuhi kepentingan pribadi mereka. Sabrina merasa bahwa dia telah kehilangan otonomi atas keputusan hidupnya sendiri, dan hal ini membuatnya merasa sangat marah.
"Tapi aku gak suka kalau dia dekat-dekat sama cowok lain selain aku. Kamu harus tahu bahwa dia adalah gadis yang aku dekati sejak ada di Semarang ini." terang Alex memberi tahu pada Riyan.
"Tapi Alex, aku pikir kamu harus mempercayai Sabrina dan hubungan kalian. Cemburu itu alami, tapi kamu gak boleh terlalu mengontrol dia. Kamu juga belum mendapatkan jawabannya, kan?"
"No. Tapi aku gak bisa membayangkan hidup tanpa dia. Aku takut kalau dia tertarik sama cowok lain selain aku."
"Hahaha... kamu terlalu menggombal, Alex. Dan itu sangat lucu!" Riyan tertawa terbahak-bahak, mendengar perkataan Alex yang tidak tahu tempat.
Sabrina hanya tersenyum tipis sambil mengelengkan kepalanya beberapa kali, mendengar perkataan Alex yang ngawur.
"Kamu perlu belajar untuk mempercayai dirimu sendiri, Alex. Kamu adalah pria yang hebat dan sudah pernah memiliki istri."
"Diam kamu! tidak usah mengungkit masa lalu," bentak Alex dengan wajah merah karena marah.
"Hehhh, Kamu harus membiarkan Sabrina memilih sendiri, Alex. Jangan mencoba untuk mengontrolnya atau membatasi pergaulannya. Dia adalah orang yang cerdas dan mampu membuat keputusan yang baik untuk dirinya sendiri."
"Stop kalian berdua."
Melihat kondisi seperti ini, Sabrina cepat memutuskan untuk berbicara dengan keduanya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dia ingin menjelaskan bahwa dia adalah orang yang mandiri dan mampu membuat keputusan sendiri, dan tidak ingin dijadikan sebagai alat perang antara keduanya. Sabrina juga ingin memberitahu keduanya bahwa dia tidak ingin mereka terus menerus berseteru karena dirinya sendiri.
"Ayo duduk di sana!"
Sabrina akhirnya mengajak Alex dan Riyan, dan mereka duduk bersama untuk membicarakan masalah tersebut.
"Aku merasa tidak nyaman dengan kalian berdua yang seperti anak kecil. Aku bukan objek yang bisa dijadikan sebagai bahan untuk diperebutkan."
"Aku mampu melakukan apa saja dan memutuskan apa saja. Aku bebas, bukan milik siapa pun di antara kalian berdua. Jadi tidak perlu berebut seperti anak kecil apalagi di tempat umum seperti ini."
Dengan cepat Sabrina, alias Elliana, berdiri dan meninggalkan mereka berdua yang saling pandang dengan sorot mata menyalahkan.
"Sabrina!"
"Sabrina, tunggu!"
Alex dan Riyan memanggil nama Sabrina bersamaan, mengejarnya untuk meminta maaf pada gadis tersebut.
Alex tidak ingin mendapatkan amarah dari gadis incarannya, sehingga dia harus bisa bersikap lebih lembut dan tidak kasar.
Riyan juga melakukan hal yang sama, apalagi dia juga tahu bagaimana Sabrina yang tidak lagi lemah seperti dulu. Dia sendiri sudah membuktikannya di arena balap motor dan tong setan waktu itu. Apalagi dari pengakuan temannya, Tia, jika Sabrina memiliki ilmu beladiri yang cukup bagus sehingga bisa mengalahkan beberapa preman.
Riyan sendiri tidak pernah tahu, kapan dan dimana Sabrina belajar ilmu bela diri. Apalagi sejak awal mengenal gadis tersebut, Sabrina terlihat pendiam dan mudah untuk di jadikan bahan hiburan dengan bullyan_nya bersama dengan teman-temannya yang lain.
"Brin," panggil Riyan terengah-engah, setelah dekat dengan Sabrina.
"Terus saja mengoceh sana! aku tidak butuh."
"Iya-iya maaf. Kita bisa bicara baik-baik, dan pergi dari Mall ini." Riyan berusaha untuk mendapatkan simpati dari Sabrina lagi.
Alex sendiri hanya tersenyum miring, karena dia melihat bagaimana sabrina yang menanggapi dengan dingin, apa yang dikatakan oleh Riyan. Dia percaya diri, jika Sabrina akan memilih untuk pergi bersama dengannya dibandingkan dengan Riyan.
"Sama aku saja ya?"
Bug
"Argh..."
Riyan memukul wajah Alex, yang memotong perbincangannya dengan Sabrina.
Alex yang tidak menyangka akan mendapatkan pukulan dari Riyan, tidak bisa mengelak lagi, sehingga wajahnya menoleh ke samping dengan sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.
"Haisss... bocah tengik!"
Bug bag bug
Dag bug bug
Perkelahian keduanya ada di area parkir Mall, membuat beberapa pengunjung yang mau keluar maupun masuk ke dalam mobil menjerit-jerit ketakutan.
"Ah, itu apa sih?"
"Ada apa itu?"
"Cepat panggil pihak keamanan!"
"Woiii, berhenti!"
Sabrina sendiri langsung berlari-lari kecil, pergi meninggalkan mereka berdua yang masih tidak menghiraukan keadaan. Berkelahi di tempat yang tidak seharusnya.
"Dasar bodoh! berkelahi di tempat umum, kenapa gak di ring saja?" umpat Elliana kesal.
Dengan cepat Elliana pergi ke kasino dengan menyetop taksi. Dia ingin ke sangar olahraga untuk bermain kartu, karena Alex pasti akan diproses di bagian keamanan Mall. Itu bisa menguntungkan dirinya, yang pastinya tidak akan diganggu oleh Alex selamat bermain.
Dia masih menjalankan misinya untuk membuat mantan suami itu bangkrut. Sedangkan untuk Riyan, Elliana belum bisa memberikan keputusan yang pasti. Apalagi semasa hidup tubuh yang dia gunakan ini mencintai cowok tersebut.
Dari kebersamaannya bersama dengan Riyan, Elliana juga mendapatkan sisi baik dari cowok tersebut. Mungkin saja sebenarnya Riyan juga menyukai Sabrina, tapi cara yang ditunjukkan berbeda dari yang biasa.
"Aku bagaimana nanti sajalah. Yang penting aku mendapatkan kepuasan dengan bangkrutnya Alex terlebih dahulu."
Begitulah tekad Elliana, yang saat ini sudah berada di dalam taksi. Dia akan mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari kasino yang dikelola Alex di Semarang.
"Tunggu pembalasanku Lolli!"
Senyuman di sudut bibir Elliana tampak menyeramkan, karena dendam yang dia miliki pada mantan adik iparnya, yang juga temannya.
dan skrng Lolli memng pntas klo sampai kehilangn rasa percya diri krn putus kakinya akibt kecelakaan yg dibuat sndri...