Azizah Zarah mempunyai sahabat rasa pelayan yang seumuran dengannya bernama Ammar Raditsha.
Sedari kecil ia sudah melayani nona mudanya walaupun Azizah melarangnya.
Ammar di pungut oleh Burhan ayah Azizah dari jalanan ketika ia melarikan diri kejaran penculik yang mengejarnya.
Ammar tumbuh besar bersama Azizah hingga timbul rasa cinta di hati Azizah.
Namun sayang Ammar mencintai wanita lain yang berprofesi sebagai dokter, ia bernama Rika Putri.
Azizah memasang jebakan agar bisa menikah dengan Ammar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sukatmi Endiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Maaf
Di Jepang Riko duduk di meja kerjanya, perusahaan yang dirintisnya sendiri sudah mulai berkembang. Riko mengambil handphone lamanya di sana ada nomer om Raka dan om Joe ayah sambungnya yang begitu mencintai ibunya. Ia baru saja ingin menelpon mereka, terdengar pintu diketuk dari luar," Masuk," jawabnya.
Seorang pria masuk,"Tuan, tuan Hisashi Tadashi ingin bertemu, menyuruh anda pergi ke kantornya."
"Ada apa dia memanggil ku lagi Akio? tanya Riko pada asistennya bernama Akio itu.
"Saya tidak tahu tuan," katanya sambil menunduk. Riko menghembuskan nafas beratnya.
"Akio, maukah kau menjaga adikku jika terjadi sesuatu padaku."
"Tidak akan terjadi apapun tuan." kata Akio pada Riko.
"Berjanjilah Akio, agar aku tenang."
"Baik tuan saya berjanji."
"Jika aku memintamu menikahinya apa kau mau?" Akio membelalakkan matanya
"Tuan, saya tak berani tuan."
"Kenapa apa kau sudah punya kekasih?"
"Belum, tuan. Saya merasa tak pantas tuan." Riko memegang bahu Akio," Aku mohon Akio nikahi adikku, aku justru tak rela jika tuan Hisashi yang menginginkannya."
"Jika nona bersedia tuan." kata Akio
"Baik, dia akan bersedia, trimakasih."
Riko pun keluar dari ruangan kerjanya bersama Akio."
"Maaf tuan, tuan Hisashi ingin anda sendiri tuan," kata Akio mengingatkan Riko mengangguk berjalan keluar dari gedung perusahaannya, lalu masuk kedalam mobil dan mobil itu berjalan meninggalkan gedung itu.
"Kak Akio, apa kak Riko keluar," tanya Anjani pada Akio.
"Ya, kenapa?" tanya Akio pada Anjani tanpa berani menatapnya.
"Enggak papa, cuma seneng aja bisa istirahat sedikit."
"Anjani, apa yang kamu lakukan jika tuan Hisashi menginginkan mu," tanya Akio pada Anjani sambil menatap gadis itu.
"Hem, gak tau kak, apa kak Akio saja yah yang menikah dengan ku? biar dia gak ngambil aku, apa kak Akio mau?"
Akio tertawa tanpa menjawab sambil mengacak rambut Anjani lalu menyuruh Anjani untuk istirahat di lantai 2. Anjani pun pergi dengan muka masam.
Riko sudah berada di kantor tuan Hisashi, ia pun masuk di ruangan tuan Hisashi.
Nampak seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah duduk di meja kerjanya, seorang wanita cantik seusia Anjani duduk di sofa. Riko pun duduk di sofa yang sedikit berjarak.
Tuan Hisashi tersenyum menyeringai," Riko seperti yang kau tahu jika aku memanggil mu ke mari itu artinya Ayah mu membuat kesepakatan dengan ku jadi kau tinggal pilih adikmu atau kau."
"Jika kau memilih adikmu maka ia akan menjadi pengganti ibunya. tapi jika kau memilih dirimu maka nikahi putriku."
"Tuan Hisashi anda tahu agama anda dan saya berbeda."
"Dia bersedia mengikuti keyakinan mu, jadi tidak ada masalah, satu minggu ke depan kalian menikah."
"1 bulan tuan Hisashi, saya harus menyelesaikan masalah saya dulu." kata Riko
"Baik 1 bulan, segera selesaikan urusan mu, silakan keluar kau juga Akira."
Riko memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju IT ARio company, setelah sampai ia pun bergegas masuk mencari Akio, begitu menemukannya," Akio, aku ingin kau menikahi adikku hari ini."
"Apa? hari ini tuan."
"Ya, dimana Anjani?"
"Di kamar lantai 2 tuan." Riko pun menaiki tangga dengan cepat lalu menarik adiknya menuruni tangga dan menyuruh adiknya duduk di sebelah Akio, hari ini kalian akan menikah tak ada waktu lagi, jika pilihan mu itu tuan Hisashi silahkan menolak," kata Riko, Anjani menunduk dan mengangguk," Iya, aku mau dengan kak Akio."
Dengan berbagai persiapan yang cepat luar biasa sesuai syariat Islam akhirnya Akio dan Anjani resmi menjadi suami istri pada saat itu.
Di hari itu juga Riko, Akio dan Anjani terbang ke Jakarta.
8 jam penerbangan mereka telah sampai di Bandara Internasional Sukarno-Hatta.
Riko, Akio dan Anjani langsung parkiran Bandara di sana anak buah Riko menunggu kedatangan mereka.
Mereka pun sampai di area parkir Bandara dan langsung masuk kedalam mobil, lalu mobil itu pun melesat meninggalkan area parkir menuju rumah sederhana, mereka pun keluar anak buah Riko membuka pintu rumah itu setelah terbuka di serahkan kuncinya dan ia pun pamit meninggalkan mereka dengan menaiki taxi, mobil sengaja di tinggal untuk bosnya.
"Duduklah," kata Riko kepada Aiko dan Anjani.
"Kalian akan tinggal di sini beberapa tahun hingga aku mempunyai kekuasaan untuk menekan tuan Hisashi dan ayah ku, Anjani rubah penampilan mu nanti biar Akio yang mengajarimu, kamu di sini dalam penyamaran Anjani, aku membuang nama Prasetyo di belakang namamu, jadi nama mu adalah Anjani dalam Akte dan ijasah mu dan surat nikah mu,
kalian istirahatlah ada dua kamar yang paling ujung kamar ku."
"Baik kak," kata Anjani berjalan menuju kamarnya di ikuti Akio di belakangnya, tak lama kemudian Riko memanggil Akio, Akio pun berhenti dan membalikan badannya ternyata Riko sudah berada di depannya," Dia sudah menjadi istri mu lakukan tugas mu sebagai suami."
"Baik, tuan."
" Kakak, panggil aku kakak."
"Baik kakak."
"Ok, istirahatlah, aku akan keluar sebentar," katanya sambil menepuk bahu Asistennya.
Riko mengendarai mobil menuju rumah seseorang yang berarti untuknya. Beberapa jam kemudian ia sampai di rumah itu dan menekan bel, dan pintu pun terbuka seorang pria muda berdiri didepan pintu yang gestur tubuh dan wajahnya mirip Raka," Ingin bertemu siapa?"
"Apa om Raka ada, aku Riko." kata Riko sambil tersenyum ramah.
"Silakan duduk, sebentar akan saya panggilkan daddy," katanya lalu pergi ruang tengah dimana semua masih berkumpul di sana setelah makan malam.
"Siapa?" tanya Raka
"Riko dad," Jawab Rafan
"Apa itu kak Riko, dad?" tanya Angga
"Fan nanti ke ruang kerja daddy dengan kamu juga Ang." katanya sambil berjalan ke ruang tamu.
"Dad, mami ikut," kata Rima menyusul ke ruang tamu. Begitu Raka dan istrinya muncul dari ruang tengah, Riko berdiri mencium punggung tangan Raka dan Rima.
"kenapa baru ke sini? lupa sama tante dan om," tanya Rima memeluk Riko.
"Enggak tan, baru sempat kemari."
"Om, Riko ingin bicara," kata Riko menundukkan kepalanya.
"Baik, ikut om keruang kerja om, sebentar ya ma," kata Raka pada Riko dan Rima istrinya.
Riko mengikuti Raka di ruang kerjanya sementara Rima pergi ke kamarnya.
Riko duduk berhadapan dengan Raka, beberapa saat terdiam," Om, Maaf tidak menepati janji."
"Riko, kamu tidak buat janji apa pun dengan om jadi buat apa minta maaf." kata Raka menatap lelaki malang yang ia tahu telah di jadikan boneka oleh ayah sendiri. Riko pun menceritakan semua dari 18 tahun yang lalu hingga Angga terluka.
"Om, boleh penjarakan saya karena melukai anak om." Raka menghembuskan nafas beratnya. Tiba-tiba Angga dan Rafan masuk dan menyela," Kak Riko memang harus di hukum, karena seenaknya menusukku apa kakak kira perutku daging panggang."
Riko terkejut mendengar ucapan Angga sementara sang Ayah terkekeh.
"Ya sudah lah terserah kamu dek, sekarang juga kamu bawa aku ke kantor polisi juga gak papa," katanya pasrah.
"Kata siapa, ke kantor polisi, itu gak akan mempan buat kak Riko." kata Angga serius.
"Lalu?" tanya Riko mengeryitkan dahinya.
"Buatkan aku jaringan keamanan untuk perusahaan ku, dan bantu aku menyelesaikan pekerjaannya kantor." itu hukuman setimpal untuk kak Riko yang punya salah banyak padaku." kata Angga sambil mencibirnya.
"Hanya itu?" tanya Riko pada Angga
"Tidak, kak Riko juga harus di penjara seumur hidup." kata Angga lagi sambil menyeringai
"Apa?" tanya Riko sambil melotot.
"Hatinya kak Riko maksud nya," kata Angga terkekeh.Riko pun lega ternyata hanya gurauan dari Angga," Om apa dia Rafan." tanyanya pada Raka."
"Ya Ko, kamu tahu kenapa om tidak marah padamu, karena dengan menolong mu dan ibu mu waktu itu, maka Allah mengantarkan seseorang menolong putra ku Rafan dan om juga tahu kau tak berniat mencelakainya, om tahu keahlian mu."
"Trimakasih, om," Riko memeluk Raka, Rafan dan terakhir Angga," jangan lupa hukumannya," bisik Angga Riko pun terkekeh dan ia pun berpamitan pulang.