Di usia yang tak dikatakan muda, Amaira Husna selalu didesak untuk segera menikah. Alih-alih berkeluh-kesah kepada sahabatnya, Reynand. Menceritakan kegalauannya tentang bagaimana cara mengambil sikap sebab orangtuanya telah mencarikan jodoh untuknya, justru dia mendapati hal yang tak pernah dia sangka.
Salahnya yang bercerita atau inilah solusi satu-satunya untuk menolak jodoh dari orangtua. Sebab Reynand datang di hari yang sama bertepatan disaat tamu orangtuanya tiba. Reynand datang mengutarakan niat untuk melamarnya.
Akankah Amaira menerima tindakan konyol Reynand, yang notabenenya berstatus sahabat dengan hubungan yang jelas tanpa dilingkupi adanya cinta.
Atau terpaksa menerima dan menganggapnya sebatas solusi yang malah berbuntut frustasi akibat keputusannya?
Tpe-
20-09-2019
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Usai membereskan tempat dan sisa-sisa makanan. Aku, Ibuk, Anita, Alena maupun Kia berada diruang keluarga. Duduk pada satu kursi sofa panjang. Kamipun bercengkrama hangat, saling bertukar pikiran dan cerita. Bahkan Ibuk menceritakan tentang putra putrinya dari masa balita hingga dewasa.
Ibu mengatakan dulu pada masa kecil Reynand dan Reyhan adiknya sering tidak akur. Seringkali mereka bertengkar memperebutkan apa saja yang mereka inginkan dan tak ada yang mau mengalah. Bila yang satu belum menangis, maka keributan takkan usai.
Usia mereka hanya terpaut dua tahun. Tapi semenjak Reynand memutuskan untuk tinggal di Jakarta bersama Omnya, yakni Om Danu. Reyhan selaku adik kerap mengeluh bahwa dia kesepian, tapi bila saatnya mereka bertemu pasti pergulatan antar saudara tak terelakkan.
Aku hanya diam menyimak ibu yang bercerita, sesekali aku merespon, ikut tersenyum dan mengangguk-angukkan kepala.
"Nduk kamu ini kenapa, dari tadi lihat handphone sambil senyum-senyum?" tegur Ibu pada Alena yang posisinya duduk di karpet sambil menatap ponsel.
"Ini lho Buk'e, aku lagi whatshap-an sama temenku," jawab Alena tanpa mengubah arah pandangnya. Jarinya sibuk mengetik sementara sorot matanya masih fokus menatap pada layar pintar yang ada dalam genggamannya.
"Masih kecil jangan pacaran!" ucap Reynand yang datang dari arah pintu utama, disusul oleh Bapak dan Reyhan. Mereka baru kembali dari Masjid mengerjakan sholat Isya' berjamaah.
Tangan Reynand terulur mengacak rambut adiknya. Alenapun memberengut kesal dan berujar, "Apaan sih Mas Rey ini sok tahu!"
"Setelah lulus, kamu mau lanjut kuliah dimana Al?" tanya Reynand setelah dia mendudukkan diri di sofa.
"Pengennya ke Solo mas, kalau Bapak dan Ibuk ngijinin," jawab Alena sambil menatap Reynand berganti ke Bapak.
"Gak ke Jakarta saja, sekalian ikut Masmu?" sahut Reyhan yang duduk disamping Reynand. Sedangkan Bapak duduknya di kursi sofa single yang hanya muat untuk satu orang.
"Kejauhan Mas. Kalau di Solo kan dekat, cuma sekitar satu setengah jam perjalanan. Transportasi juga mudah ada bus, kereta api dan juga bisa naik motor." Jelas Alena disertai meletakkan ponselnya.
"Memang di Universitas apa Al dan jurusan apa yang mau kamu ambil?" tanyaku pada Alena.
"Pengennya kalau gak UNS ya UMS mbak. Jurusan psikolog," jawab Alena disertai menoleh ke arahku.
"Kenapa Ambil jurusan Psikolog?" tanya Reynand mengerutkan kening.
"Biar bisa baca pikirannya Mas Reynand," jawab Alena.
"Ha Ha Ha..." Reyhan pun menanggapinya dengan tawa seraya menepuk paha Reynand. "Setuju Al, Mas dukung seratus persen!" Lanjut Reyhan Antusias, Reynandpun hanya memutar bola matanya malas.
"Habis Masku yang satu ini penuh dengan misteri, ngomong aja irit. Padahal lho ngomong kan gak harus bayar pajak. Bener gak Pak?" seru Alena, disertai membenarkan ucapannya.
"Betul dan yang gak habis pikir, Masku satu ini, suka banget bikin kejutan. Gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba bawa kabar mau nikah. Mbak Ira, kamu tahu gak, serumah jadi gempar. Sore Mas Rey telpon minta doa restu buat lamar Mbak dan lusa kami diharuskan tiba di Jakarta buat meresmikan pertunangan kalian," ucap Reyhan menjelaskan.
Akupun hanya menyimak. Ada sesuatu dalam diriku yang rasanya ingin aku keluarkan. Akupun juga merasakan hal yang sama sebenarnya, kejutan demi kejutan yang Reynand hadirkan dalam dua bulan terakhir ini seakan membuat hidupku berubah seketika.
"Mbak Ira, kenapa mau sih nikah sama manusia kutub satu ini?" pertanyaan Alena kini mengarah kepadaku.
Aku rasanya tertohok dengan kalimat itu. Ibupun mulai mengeluarkan suaranya. "Seseorang menikah itu ya karena saling mencintai, benar begitu kan Le, Nduk?"
'Gak, Aku gak cinta sama Rey!' ingin sekali aku menyanggah pertanyaan Ibu. Tapi kata itu hanya mampu kuteriakkan dalam hati.
"Bener ya Buk'e. Apalagi mbak Ira dan Mas Reynand kan dari dulu dekat. Ibaratnya pepatah jawa, Witing tresno jalaran Soko kulino. Lahhh, aku yo dadi pengen Buk'e, ndue konco cilik terus gedene dipinang sampai ke pelaminan." Seru Alena senyum-senyum seakan membayangkan.
"Sekolah dulu yang bener," ujar Reyhan mengingatkan sambil mengacak rambut Alena. Alenapun kini memberengut kesal atas ulah kakaknya.
Akupun tidak menjawab. Selebihnya mereka tidak tahu hubungan kami, yang mereka tahu hanyalah kami memang dekat, tapi kami hanya dekat karena kami bersahabat.
Aku kini melihat ke arah Reynand. Tapi sikapnya masih datar seperti biasa. Tidak seperti yang aku rasakan sekarang. Rasanya hatiku bergemuruh antara ingin mengatakan pada dunia bahwa dalam hati kita tiada rasa apa-apa. Hanya sahabat, iya sahabat.
Kia duduk dipangku oleh Ibunya disebelah kiriku. Akupun mulai menyadari jari-jari mungilnya sesekali mengelus dan memegang rambutku yang dikepang. Akupun menoleh kearahnya, tapi dia seakan malu lalu bersembunyi diceruk leher Ibunya.
Reyhan mulai mencurigai pergerakan putrinya. "Dek Kia, kenapa malu-malu begitu?" tanya Reyhan pada putrinya.
Kiapun menjawab, suara yang dia keluarkan seakan terdengar berbisik, tetapi aku masih bisa mendengarnya. Akupun hanya tersenyum. Kini semua mata tertuju pada Kia dan menanyakan padanya. Namun Kia masih tetap enggan menjawab dan malu. Akhirnya, Anita pun mulai bersuara. "Kia bilang, Tante Iraa cantik."
Akupun tersenyum tipis menanggapi.
~
Terjawab sudah sifatnya Reynand
Terjawab pula kenapa Kia, alias adzkia yang dari episode kemarin curi-curi pandang
Masih di Rumah Mertua
To be Continue
Amaira Husna