NovelToon NovelToon
Love Me Back

Love Me Back

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: Aan Iman

Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.

"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.

"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.

"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.

Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

lmb23

Ryn terperanjat kaget mendapati Sian sudah berdiri di depan pintu flat ketika ia hendak pergi bekerja. Sian membawa tas kertas di tangannya yang berisi sarapan untuk Ryn.

"Sian kau sudah di sini?" Sapa Ryn tak menyangka dia sangat gigih. Tapi Ryn sedang kesal padanya.

"Sarapan untukmu Zhao Ryn." Sian menyerahkannya pada Ryn. Ryn terlanjur membenci Sian soal program hamil yang dia lakukan tanpa sepengetahuan dirinya.

"Sian, aku harap kita tidak perlu bertemu lagi di kemudian hari." Ryn menerima sekaligus menolak pengejaran Sian.

"Aku tidak peduli status ibumu. Kau hanya perlu tinggal di sisiku." Ungkap Sian mencoba meyakinkan Ryn agar kembali bersama.

"Tolong Sian, jangan memperpanjang masalah ini. Bukankah sejak awal kita hanya melakukan perjanjian? Kau membebaskanku bahkan membalas perbuatan ibuku. Aku membayarnya dengan tubuhku. Semua impas Sian." Kata-kata pedas yang keluar dari mulut Ryn tepat mengenai hati Sian. Belum pernah dia menghadapi kemarahan seseorang sebesar yang Ryn beri.

"Harus berapa kali aku meyakinkanmu Zhao Ryn? Masalah ini sederhana, kau yang membuatnya rumit." Dan Sian semakin memperkeruh keadaan diantara mereka. Tidak memiliki pengalaman membujuk sama sekali.

"Terserah apa katamu Lee Sian." Ryn mengembalikan sarapan itu ke dada Sian secara kasar lalu pergi.

Ryn berjalan menuju restoran, ingatannya kembali ke pagi tadi saat ia baru bangun tidur. Ryn langsung melakukan tes urin agar memastikan hasilnya.

"Positif, aku hamil... " Ryn bergumam lirih menggenggam erat alat yang akurasinya paling tinggi itu.

"Halo Ryn, kau sudah memeriksanya?" Tanya Lea tak sabar, Ryn langsung menghubungi dokter pribadinya.

"Alea aku takut. Aku tidak menginginkannya,,," Ungkap Ryn dari hati paling dalam. Lea terdengar menahan nafas.

"Ryn bisakah kau mempertahankannya? Aku takut Sian akan menggila jika kau melakukan hal itu. Sian sangat ingin memiliki anak darimu. " Keluh Lea mengkhawatirkan hubungan keduanya. Jika Sian tahu Ryn memiliki pemikiran seperti itu dia pasti akan marah besar.

"Aku belum siap, kumohon jangan beritahu Sian dulu." Pinta Ryn kembali mengingatkan.

"Baiklah. Jaga dirimu Ryn, hindari terjatuh atau obat-obatan selain resep dokter." Lea menasehati, selebihnya dia bisa mengirim beberapa tips dan larangan melalui pesan singkat.

Ada pepatah mengatakan, ketika kau tidak sadar sedang mengandung semua baik-baik saja namun berbeda saat sang ibu hamil telah mengetahuinya. Mendadak Ryn tidak kuat mencium aroma bumbu dapur. Rasanya ia hampir muntah di tempat.

Sedangkan Sian, pria itu karena ingin terus dekat Ryn dia rela menjadi pramusaji. Beberapa kali mengantar makanan ke meja tamu dari dapur. Ryn memijat pelipisnya yang berdenyut. Sian benar-benar keras kepala.

"Kau lelah? Aku bisa memijat bahumu." Sian bahkan menerobos ke station Ryn.

"Kepalaku mau pecah melihatmu Sian." Keluh Ryn, personil dapur dan pramusaji lainnya memperhatikan interaksi keduanya. Menggemaskan. Bagaimana bisa Sian takluk di tangan Ryn? Bahkan siapa saja tak berani mengkritik Sian.

"Ryn kau belum pulih sepenuhnya, sebaiknya pulang dan istirahat." Fey menghampiri menengahi perselisihan keduanya.

"Betul apa kata bibi Fey, ayo kita pulang." Sian langsung menarik pundak Ryn menuntun keluar. Segera Ryn menipisnya pelan lalu menatap Sian tajam.

"Jika kau ingin kau bisa pulang sendiri tuan muda Lee. Aku masih harus bekerja." Tegas Ryn menolak ajakan Sian, Ryn bahkan mendorong punggung Sian untuk keluar dari station.

Sian yang saat itu hanya mengenakan kemeja dengan bagian lengan digulung menyugar rambutnya ke belakang. Sungguh menghadapi Ryn sangat sulit.

"Bibi Fey, hari ini aku menyewa restoran. Kalian semua bisa pulang cepat." Kata Sian memerintah. Bukannya terharu Ryn malah tambah kesal padanya.

"Sian cukup ya! Jangan kekanak-kanakan." Ryn menegur Sian setelah kepergian seluruh staf bersama Fey.

"Sekarang tugasmu melayaniku Zhao Ryn. Buatkan aku makan siang." Titah Sian tanpa menatap ke arah Ryn.

Ryn tahu Sian hanya sedang mencari perhatian darinya. Ia pun bergegas melakukan apa yang Sian inginkan agar hari ini cepat berlalu.

Ketika sedang sibuk memasak Sian tak tahan hanya memperhatikan Ryn saja, ia pun menghampirinya lalu memeluk Ryn dari belakang.

"Aku merindukanmu sayang." Bisik Sian di ceruk leher Ryn membuat empunya merinding.

"Duduklah tuan muda, makananmu sudah jadi." Sejujurnya Ryn sangat ingin marah dan menyalahkan Sian perihal kehamilannya namun semua bisa semakin rumit bila Ryn mengatakannya.

"Aku ingin memakanmu Zhao Ryn." Sian menggigit telinga Ryn gemas hingga turun ke ceruk leher.

"Arghhh..." Sian mengaduh usai Ryn menyikut perutnya.

"Jangan drama Sian." Sian menggaruk kepalanya tak gatal, dia ketahuan berbohong karena Ryn tidak menggunakan tenaga sama sekali tadi.

Ryn menghela nafas menunggu Sian menghabiskan makanannya. Ia memasak tiga menu porsi satu orang, tentu saja hanya untuk Sian. Ryn benar-benar tidak nafsu makan, melihatnya saja mual.

"Aku akan mengantarmu pulang." Ucap Sian menyudahi makan siangnya.

"Tidak perlu, aku harus pergi ke suatu tempat. Dan jangan mengikutiku Lee Sian." Ryn langsung melarang sebelum Sian benar-benar melakukannya.

Sian berdecak kesal sambil berkacak pinggang melepas kepergian Ryn yang dibawa oleh taxi di depan restoran. Dia hanya bisa menurut atau Ryn semakin menjauhinya.

Merasa Sian pasti mengawasi, Ryn memutuskan tidak berhenti di rumah sakit langsung. Ia juga harus mengambil uang di mesin tarik tunai untuk membayar tagihan pemeriksaan nantinya. Toh Sian sudah berhasil menemukannya, sekarang dia bebas menggunakan kartu debit.

Namun ketika Ryn hendak masuk dia melihat seseorang yang tidak ingin ia temui. Ryn berbalik sebelum pria itu menyadari keberadaannya.

"Zhao Ryn!" Teriaknya memanggil Ryn dari arah belakang bahkan berlari mengejar. Ryn yang terlanjur ketahuan terpaksa berhenti menunggunya.

"Mau kabur hah?" Ryn meringis ketika tangannya dicekal cukup erat. Dia menatap penuh berani meski takut terjadi hal buruk menimpa diri dan janinnya saat melawannya.

"Lepaskan aku Vick!" Teriak Ryn ingin segera pergi.

"Zhao Ryn, Tuhan memang telah mentakdirkan kita. Sebaiknya kau ikut aku pulang." Hampir sebulan Vick maupun Zhu Ma mencari keberadaan Ryn. Untungnya dia cerdik selalu mengawasi setiap pergerakan Sian. Jadi dia bisa menemukan Ryn dengan mudah.

"Tidak. Atas dasar apa aku harus ikut denganmu." Tegas Ryn menolak, kali ini ia menggigit lengan Vick agar pria itu mau melepaskannya.

"Kau!" Vick menuding wajah Ryn, menahan amarah Vick merasakan tangannya perih.

"Hentikan Vick!" Perintah seorang wanita mendekati keduanya.

Vick menurut, dia mengurai genggaman tangan Ryn. Ryn mengusap bekas kemerahan dipergelangan tangannya. Namun kedua netra jernih Ryn memandang penasaran siapa wanita paruh baya di samping Vick.

"Zhao Ryn, dia Vick Zhu keke (saudara laki-laki) mu." Ungkap wanita itu memberitahu Ryn yang ternyata dia merupakan istri Zhu Ma, ibu kandung Vick.

"Nyonya jangan bergurau. Mana ada hubungannya denganku?" Lelucon apa sehingga Ryn harus terlibat di antara mereka berdua.

"Bukankah kau sangat ingin bertemu dengan ayahmu Zhu Ryn?" Vennie, ibu kandung Vick yang secara langsung merupakan ibu sambung Ryn tersenyum ramah.

Ryn menatap Vick seolah meminta penjelasan pria yang disebut kakaknya itu. Sementara Vick hanya tersenyum penuh rasa kemenangan entah Ryn sendiri tidak memahaminya.

"Aku akan menjelaskannya nanti. Tapi kau harus ikut kami terlebih dulu." Vick berjanji untuk meyakinkan Ryn agar mau pergi dengannya dan sang ibu.

Meski masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi Ryn tak menolak ajakan mereka. Masuk kedalam mobil tak jauh dari tempat mereka. Di perjalanan Ryn merasa Vennie selalu memperhatikan, melirik ke arahnya beberapa kali.

"Ma, dia akan takut padamu." Tegur Vick menyadari ketidaknyamanan Ryn akibat ulah ibunya.

"Dia sangat mirip ayahnya saat muda." Gumam Vennie masih bisa didengar keduanya.

"Kau bilang papa mirip denganku." Cibir Vick tak terima kalah oleh Ryn.

Ryn semakin gugup menghadapi kenyataan tentang hidupnya. Apakah Vick dan dirinya adalah saudara satu ayah? Atau justru mereka tidak memiliki ikatan darah sama sekali.

Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit mobil yang membawa Ryn tiba di sebuah Villa keluarga yang memisah dari pemukiman warga. Pemandangannya begitu asri dengan pepohonan di sekeliling bangunan.

"Masuklah. Dia ada di dalam." Vennie mempersilahkan Ryn masuk. Ryn yang sempat ragu di tarik tangannya oleh Vick, tidak sekencang sebelumnya namun penuh kehati-hatian.

Ryn berdiri terpaku melihat seorang pria paruh baya tengah berbaring diatas tempat tidur di kamar lantai satu.

"Dokter Zhu Ma?" Bisiknya seakan takut membangunkan pria itu.

"Saat ingin menemuimu papa mengalami kecelakaan hingga struk ringan. Dokter bilang papa bisa kembali normal bila menjalani serangkaian terapi." Vick buka suara menjelaskan keadaan ayah kandung Ryn.

"Buka dan bacalah Zhu Ryn." Ryn menerima dokumen berlogo salah satu rumah sakit pemberian Vick.

Pikirannya kosong saat membaca hasil yang menyatakan dirinya dan Zhu Ma memiliki hubungan darah, yang berarti keduanya adalah ayah dan anak dengan tingkat kecocokan sembilan puluh sembilan persen.

Haruskah Ryn bahagia? Atau malah membenci sang ayah yang telah menelantarkan dia dan sang ibu? Apalagi Ryn meyakini alasan Yuni membencinya karena laki-laki yang ia cintai berkhianat serta tidak mau bertanggung jawab atas kehamilannya.

"Ryn..." Vick sigap menahan Ryn yang hampir pingsan akibat terkejut mengetahui kebenarannya.

"Sebaiknya bawa Ryn ke kamar untuk beristirahat." Nyonya Vennie menyarankan Vick membawa Ryn keluar agar bisa menenangkan pikiran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!