Tinggal bersebelahan dengan mantan?
Setelah putus beberapa tahun yang lalu, mereka dipertemukan kembali dengan kondisi yang berbeda, di tempat yang tak bisa mereka hindari.
Laki laki brengsek itu malah menjadi tetangga sebelah rumahnya.
Akankah cinta lama bersemi kembali?
Ikuti kisah Darra dan Aji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon herlia ia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersikap Profesional
"Gak ada yang mau kamu sampein?" tanya Dharra disela sela makannya.
"Ah iya, aku belum mematikan shower" dengan santai Aji melanjutkan makan nya. Dharra beranjak dari kursi dan berjalan ke arah kamar mandi.
"Shower apa? ini udah mati kok" Dharra terheran dengan pernyataan Aji.
"Shower rumahku" Aji terus mengunyah makanan yang disajikan Dharra. Sungguh masakan Dharra adalah favoritnya kini. Meski hanya nasi goreng kampung sekalipun. Mungkin karena dibumbui mantra cinta? Aji terkekeh sendiri membayangkannya. Dia tak menyangka akan merasakan menjadi budak cinta seperti ini.
"Maksud kamu? sebelum kesini kamu nyalain shower, trus gak kamu matiin sampe sekarang?"
"Huum" Aji menegak air bening yang disajikan Dharra hingga tandas.
"ahhhh... kenyang. Maksih sayang masakan kamu selalu enak"
cup
Aji mengecup punggung tangan Dharra membuat Dharra tersipu malu.
"Kamu ke rumahku ya sekarang, lewat pintu depan" Aji membereskan piring bekas makan mereka dan mencucinya.
"Kenapa harus gitu?"
"Nanti kalo aku digondol wewe gombel kamu sama siapa?"
cup
Aji mengecup bibirnya dan merangkul pinggang Dharra dari depan. Lalu tonjolan itu kembali terasa mengembang. Aji spontan menggesekannya perlahan.
"Kamu... kamu.."
"Ya, kamu lewat depan ya. Dari pada aku diapa apain" suaranya mulai serak.
"hhh... iya iyaaa. Jangan gini dong, nanti ngegedein malah tambah mancing wewe gombel kan?" pinta Dharra namun tangannya malah mengusap usap.
"Dharra...." Aji mulai terpancing lagi. Dharra langsung menjauh sambil tersenyum jahil.
Akhirnya dengan sedikit drama mereka keluar rumah namun beda arah.
Aji yang mengendap endap dari pintu dapur memastikan si wewe gombel itu masih berada di ruang tamu, dan benar. Dia terlihat kebosanan membolak balikan majalah dewasa yang tersedia di bawah meja Aji. Aji pun masuk ke kamar mandi dan mematikan shower, lalu keluar dengan sedikit membanting pintu kamar mandi.
"Rakha sayang, kamu sudah selesai? kenapa lama-" wanita itu mendekat lalu tertegun dengan penampilan sehabis mandi nya Aji. Pasalnya dia membayangkan tampilan shirtles dan hanya lilitan handuk di pinggang. Namun yang dilihatnya Aji telah berpakaian lengkap.
tok
tok
Langkah wanita itu terhenti oleh suara ketukan di pintu.
"Tunggu sebentar" teriak Aji yang tentunya sudah tahu siapa yang mengetuk pintu. Dia lantas meninggalkan sang model sendirian.
Aji dan Dharra membahas rundown acara nanti malam yang merupakan puncak acara. Aji yang duduk di pinggir sofa yang menempel pada tembok terlihat intens memperhatikan Dharra yang sedang menjelaskan. Sesekali senyum manisnya terbit. Sang model yang memperhatikan mereka pun memutuskan bergabung dengan mereka dengan duduk di lengan sofa persis dekat Aji. Sontak Aji dan Dharra menghentikan percakapan mereka dan kompak melirik padanya.
"Kenapa? aku kan juri nya. Terlibat juga dong-" ucapannya lagi lagi dipotong Aji.
"Bisakan kamu bersikap profesional? kursi masih lega sebelah sana"
"Tapi aku gak jelas liatnya"
"Apa yang perlu kamu lihat? udah sana, pindah kesana. Kamu bikin aku alergi tau gak" ketus Aji yang mulai jengah dengan sikap murahan sang model. Entah kenapa, sekarang Aji tak mau ditempeli wanita seksi manapun meski dia single sekalipun. Tidak seperti sebelumnya yang dengan senang hati menyambut sikap murahan para wanita yang bekerja padanya demi menuntaskan hasratnya.
Ck
Sang model berdecak kesal lalu pindah duduk sambil menghentakan heels nya.
" Kamu sengaja ngadain lomba ini?" tanya Aji yang terheran dengan salah satu kenis lomba yang memang tak biasa.
"Huum. Permainan ini banyak digemari anak anak di mall. Yaa sedikit menyisipkan teknologi di perayaan 17an ga papa kan. Yang penting meriah"
"Hebat juga ide kamu. Boleh aku pake ide nya, nyonya EO?" Aji menggodanya membuat Dharra tersipu.
"Kamu ini, ada ada aja. Ya boleh laah"
"Kayaknya bakalan seru nih"
Sang model hanya bisa memperhatikan interaksi mereka bak patung bernyawa.