"Tugasmu mengambil hati anakku, bukan hatiku."
Aqeel Hafshan, seorang Mafia yang menjadi incaran para penjahat di dunia kriminal. Demi melindungi istrinya, Aqeel merahasiakan keberadaan istrinya dan menyembunyikannya di negeri asal sang istri, Indonesia.
Aqeel tidak mau memiliki anak dari siapapun, termasuk dari Maura, istrinya. Saat Maura hamil, Aqeel menyuruh istrinya menggugurkan anaknya. Karena mendapati penolakan dari sang istri, Aqeel yang kesal memutuskan untuk tidak pernah melihat wajah sang anak, sampai sang anak berusia 5 tahun.
Maura hilang secara misterius dan dikabarkan terbunuh. Setelah terpuruk selama dua tahun Aqeel memutuskan untuk menjadi Daddy yang baik untuk Aqilah, putrinya yang sudah dia telantarkan selama tujuh tahun karena benci dengan kehadiran seorang anak.
Karena Aqilah kecil kesepian, Aqeel ingin mencarikannya seorang Ibu. Hanya seorang Ibu untuk Aqilah, tanpa Aqeel nikahi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olla304, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
“Astaghfirullah!” Seorang pengemudi terlonjak saat memberhentikan mobilnya di dekat danau, lelaki itu menurunkan kaca mobil dan menongolkan kepala. “Eh Mas, Mbak! Jangan mesum di sini! Nikah dulu!” Aqeel berdecak kesal. Bukan karena kepergok, tapi ternyata itu Dokter Fadli yang baru pulang bekerja dari rumah sakit. Aqeel langsung menyembunyikan wajahnya sebelum ketahuan oleh lelaki itu.
Aqeel kira Fadli akan pergi. Ternyata lelaki itu nekat meloncat turun dari kendaraannya. Melihat wajah Aqeel, Dr. Fadli terperanjat kaget. “Bapak! Istri hamil malah mesum sama cewek lain di sini! Ingat istri, Pak—Ya Allah!” Saat melihat wajah Maura, Fadli terperanjat lagi. “Ternyata mesumnya sama istri sendiri!”
Fadli berdecak-decak kagum. Tangannya mentitah untuk masuk ke dalam mobil, “sini, saya antar ke hotel. Kok, malah main di sini. Astaghfirullah. Halal berasa haram, gini jadinya.” Karena butuh tumpangan, Aqeel rela masuk ke dalam mobil Dr. Fadli bersama Maura. Aqeel membungkuskan selimut ke tubuh Maura, membiarkan dada bidangnya ditusuk-tusuk angin malam.
“Baju kalian mana, Bapak? Kok, tidak dibawa?”
“Ketinggalan di rumah, Dok.” Aqeel menjawab malas. Lelaki itu mengeratkan pelukan ke Maura yang kedinginan.
“Rumah kalian dimana emangnya?”
“Dua jam dari sini kalau jalan kaki.”
“Lah, jadi ke sininya udah nggak pakai baju, dong? Astaghfirullah,” Dr. Fadli menepuk jidat. Lelaki itu melajukan mobilnya, lalu bertanya. “Mau ke rumah atau hotel aja, Pak?”
“Rumah,” Aqeel menjawab ketus.
Setelah diarahkan oleh Aqeel, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah mewah. Dr. Fadli terlihat kagum, gumamannya membuat Aqeel percaya diri. “Ternyata Anda tajir juga, ya Bapak.”
“Tentu saja.” Aqeel menjawab angkuh.
“Sebelum turun, sepertinya catatan dari saya perlu ditambahkan, Bapak.” Dr. Fadli mengulurkan tangannya, meminta lembaran nasehat yang sempat diberikannya. Aqeel mencari-carinya di saku celana, setelah menemukannya, lelaki itu memberikannya kepada Fadli yang menuliskan sesuatu menggunakan pemantik.
Aqeel turun setelah menerima kertas itu kembali. Diangkatnya Maura ke dalam gendongan lalu membawanya ke dalam rumah. Aqeel tersenyum sinis saat membaca dua paragraf baru yang dituliskan oleh Dokter Fadli untuknya. Nasehatnya jitu sekali.
- Jangan biarkan istri kedinginan, Bapak. Agar istri dan anak Bapak tidak sama-sama masuk angin. Bapak belum pernah dengar bayi bersin di dalam kandungan? (Tidak, jangan anggap serius. Saya bercanda)
- Disarankan untuk tidak ML di dekat danau, Bapak. Takut danau meluap dan kalian tenggelam. Saya serius, Bapak. Bahaya. Nanti anak yang lahir malah jadi Putri Duyung. Maksud saya, kasihan istrinya, sudah digigiti Bapak, malah dikerubungi oleh serangga dan nyamuk. Alasnya rumput dan tanah pula. Para jin ‘kan dapat pemandangan baru.
“Gila,” Aqeel mengumpat kesal. Lelaki itu yang masuk ke dalam rumah sambil menggendong Maura yang setengah tidak sadar karena mengantuk, menjadi sorotan para pelayan. Yudhis terlihat khawatir tuannya sedari tadi belum kembali, apalagi Alif. Takut saat ditemukan Aqeel, Maura akan diapa-apakan.
Aqeel membaringkan Maura ke atas kasur. Saat menjauh\, wanita itu menenggelamkan kepala ke dadanya\, dengan kedua tangan yang melingkari leher Aqeel. Aqeel menyungging senyum\, berlari keluar saat teringat sesuatu. “DOK! Dokter! Dokter b*ngs*t!” Baru saja hendak pergi meninggalkan halaman depan rumah Aqeel\, lelaki itu mengerem kendaraannya setelah diteriaki oleh lelaki itu.
Aqeel belum memakai atasannya dan tidak memakai alas kaki, lelaki itu menepuk-nepuk kaca mobil Fadli, membuat Fadli menurunkan kacanya. Dokter itu terlihat geli, “ada apa lagi, Bapak?”
Aqeel menghela napas, sedikit malu untuk menanyakan ini. “Hari ini saya sudah ML empat kali bersama istri
saya, jika saya mengulanginya sekali lagi, apakah aman?”
Fadli tersenyum tipis. “Ingat pesan terakhir saya, Bapak. minimkan birahi, hargai perjuangan istri, sayangi istri dan setialah sampai mati.” Fadli menepuk dada bidang Aqeel yang lengket oleh peluh, “jadi tahan, sabar dan jangan keseringan. Kata lainnya, jika membangkang, mau bunuh istri sendiri itu namanya.”
“Jadi tidak boleh?”
“Untuk hari ini, tahan diri. Oke?”