Sekuel Istrinya Ustadz?
Ustadz Afkha atau Adzraffa Khayru Al-jaris tidak pernah bermimpi untuk menikah lagi, apalagi memiliki niat berpoligami. Terlebih usia pernikahannya dengan Shanum atau Rhaishanum Almahyra Qurby baru beberapa bulan saja.
Akan tetapi suatu insiden, membuat Ustadz Afkha di minta bertanggung jawab oleh sang Istri untuk menikahi Zeeta Alghiz atau Zeetasha Umaiza Alghiz. seorang model cantik. Namun, seusai insiden tersebut, kehidupannya menjadi tak memiliki arti. Ia buta dan juga mengalami kelumpuhan pada kakinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Tambahan Ratu di Rumah Ini.
Empat bulan kemudian.
perkembangan kesehatan Afkha sudah lebih baik. Kini ia sudah dapat berjalan menggunakan kruk yang di sematkan di ketiak. "Alhamdulillah, Albie sudah dapat berjalan menggunakan kruk," ucap syukur Shanum, sesaat setelah menemani terapi.
Afkha tersenyum kearah Istrinya. "Alhamdulillah, Cinta. O yah bagaimana keadaan kamu, apa sudah pulih benar?" tanya Afkha, ia hendak membawa Shanum menemui pasien Zethasa sebetulnya. Akan tetapi hari ini waktu therapi cukup panjang dan melelahkan. Maka ia memutuskan lain kali saja, diluar jam therapi. Agar ia pun mudah menjelaskan tentang Zethasa kepada istrinya.
"Insya Allah, sudah Bie. Memangnya kenapa? mau buat Adik bayi lagi?" goda Shanum. Afkha hanya mesem.
"Boleh juga. Lagipula sudah beberapa bulan ini kita tidak ... hem-hem." Bisik Afkha membuat Shanum malu-malu.
"Ih malu." Shanum menutupi wajahnya dengan sebelah telapak tangan. Kini mereka sedang berada di ruang tunggu, menunggu resep obat yang sedang di tebus.
"Malu-malu mau yah." Afkha mengedipkan sebelah matanya, "nanti malam, pakai gaun lembur ya. Setelah kajian malam selesai, aku akan ...." Belum selesai Afkha bicara. Beberapa team dokter dan perawat berjalan tergesa menuju ruang ICU.
Afkha mengerutkan keningnya. 'Team dokter dan para perawat menuju ruang ICU. Sepertinya ada hal yang urgent. Apakah nona Zetha kembali kritis? bukankah kemarin aku tanyakan kepada dokter anestesi, ia dalam keadaan stabil?' batin Afkha dengan wajah cemas dan Shanum melihat mimik cemas itu.
"Ada apa Bie? apakah Albie merasakan ada yang sakit lagi pada anggota tubuh lainnya?" tanya Shanum.
"Ah, em ... tidak heee. Sudah di panggil untuk pengambilan obat. Mari segera pulang." Ajak Afkha dan Shanum hanya mengiyakan, lalu mengambil obat Afkha dan membayarnya. Setelah itu mereka pulang.
Sepanjang perjalanan pulang. Afkha nampak gelisah dan Shanum hanya memperhatikannya. Dari sejak Afkha meminta pindah ke rumah sakit lain yang lebih dekat ke pesantren untuk melalukan Check-up, pengobatan dan therapy. Maka ia pun berhasil memindahkan Zethasa untuk di rawat di rumah sakit yang sama, atas bantuan Gentala.
'Tadi aku melihat Kak Ola nampak panik ikut berlari menuju ruang ICU bersama team dokter dan perawat. Sebetulnya apa yang terjadi dengan nona itu. Ya Rabb, semoga nona Zetha baik-baik saja.' batin Afkha dengan memperhatikan ponselnya berkali-kali. Pasalnya, ia telah berpesan kepada Ola, jika ada hal apapun baik kabar mengenakan atau tidak tentang Zethasa. Maka Ola dipersilakan menghubunginya. Akan tetapi kali ini tidak ada pesan masuk atau telepon dari Ola.
Malam hari.
Telepon Afkha berdering dan Afkha belum pulang dari area pesantren dan sedang mengajar para santri didiknya. Beberapa kali telepon Afkha berdering. Shanum yang sedang Murojaah pun hingga harus menghentikan aktivitasnya.
"Telepon dari siapa yah? sampai berkali-kali." Shanum berjalan ke arah nakas dan meraih telepon Afkha. Lalu menerimanya.
"Assalamualaikum." Sapa Shanum. Itu telepon biasa bukan aplikasi chatting.
"Wa'alaikum salam. Maaf apakah saya bicara dengan nomor telepon Saudara Afkha?" tanya suara seorang wanita di seberang sana.
"Betul. Ini dari mana dan saya bicara dengan siapa?" tanya Shanum sopan.
"Saya Ola. Asisten Pribadi Zethasa." Balas si penelepon.
'Zethasa siapa?' batin Shanum sembari mengerutkan keningnya.
Sedangkan di sisi lain pesantren. Afkha sudah selesai memimpin kajian malam. Sebetulnya Kini saatnya ia pulang, akan tetapi karena masih banyak santri putra dan putri yang hendak bertanya beberapa hal. Maka ia memberikan waktu untuk sesi tanya jawab selama dua puluh menit.
"Ustaz, bolehkah kita berteman dengan siapa saja? walaupun seseorang itu adalah seorang pendosa dan belum dirahmati oleh Allah, jalan hidup dan kelakuannya?" tanya seorang santri putra.
"Baik, jadi ... berteman itu tidak boleh pilih-pilih. Dengan siapapun kita berteman itu tidak masalah. Akan tetapi, permasalahannya dari mana kita mengambil teladan dan dari siapa kita mendengarkan nasihat itu yang harus kita pilih, agar kehidupan kita tidak salah jalan. Lalu untuk berteman dengan seseorang yang memiliki tabiat buruk dan belum dirahmati Allah. Maka itu adalah rahmat dari Allah untuk kalian menanamkan kebaikan untuk mereka dengan cara yang tidak memaksa. Maka kita harus hati-hati, zaman sekarang di saat era modernisasi berkembang dan teknologi makin canggih seperti halnya ponsel yang kita miliki jangan sampai menjadi bahan mudharat. Akan tetapi pergunakanlah ponsel yang kita miliki itu sebagai media manfaat, baik bagi Kita dan orang lain."
Jawaban dari Afkha dan mengalirlah sesi tanya jawab lainnya. Hingga kini waktu yang diberikan selesai dan kini Afkha kembali ke rumah dan menemui istrinya yang sudah berbaring di peraduan mereka dengan tak lupa mengenakan pakaian yang suaminya minta tadi siang.
"Assalamualaikum, Cinta." Afkha sudah berada di sisi tempat tidur dan berucap salam dengan berbisik. Shanum yang tidur dengan posisi miring membelakangi arah pintu di mana sang suami masuk, kini ia membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah suaminya.
Shanum tersenyum lebar. Lalu ia memposisikan dirinya untuk duduk dan menyahut salam dari suaminya. Tak lupa ia mengecup punggung tangan suaminya. Lalu ia menyibakkan selimut yang di kenakan. Maka nampaklah pakaian lembur yang dimaksud oleh Afkha dan dengan model tak senonoh Shanum kenakan.
Mata Afkha membelalak. Namun, sedetik kemudian ia tersenyum lebar. "Gaun lembur baru?" tanya Afkha saat melihat gaun malam berwarna light grey itu dan baru ia lihat.
"Ia Bie, Mimma yang membelikan beberapa hari lalu. Aku di belikan satu lusin. Katanya biar bisa ganti tiap malam, jadi Albie tidak bosan melihatnya." Tutur Shanum jujur.
"Astaghfirullah, Mimma. Ada-ada saja, sekalian saja buka toko pakaian tak senonoh." kelakar Afkha.
"Is Albie. Masa aku harus jadi SPG gaun lembur." Balas Shanum dengan menyeringai.
Walupun sebelumnya ia mendapatkan telepon dari Ola untuk mengabarkan gadis bernama Zethasa sudah siuman. Shanum tidak sama sekali marah pada suaminya karena telah tidak jujur padanya. Shanum sebelumnya menangis dengan deras sesaat sebelum suaminya pulang, jujur saja ia merasa kecewa karena suaminya tidak jujur, namun ia segera menghapus air matanya dan kembali berwajah ceria. Ia harus mempersiapkan diri untuk melayani sang suami pada malam ini sesuai janjinya.
"Baiklah, Albie ganti baju dulu ya. Albie sudah tidak sabar ingin mencetak Adik Bayi." Afkha mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum menggoda.
"Mau aku bantu?" tawar Shanum.
"No! Ratu hati aku tidak boleh turun dari tempat tidur saat sudah mengenakan gaun peperangan malam. Bahkan aku meminta Ambu untuk menyiapkan makan malam tadi. Agar Kekasih hatiku duduk nyaman menunggu pengeksekusi menghampiri." Afkha membungkukkan tubuhnya dan mencubit pelan, namun gemas pipi chubby nan putih pink merona milik sang istri
Lalu Afkha berlalu dari hadapan Istrinya untuk berganti pakaian dan membersihkan wajah serta mencuci tangan dan menggosok gigi. Akan tetapi saat langkah kedua. Afkha mendengar Shanum berbicara, "baiklah pangeran hatiku. Aku untukmu malam ini, sebelum ada tambahan ratu di rumah ini pada malam malam lainnya."
Afkha mengerutkan keningnya. "Excuse me?" tanya Afkha sembari membalikkan tubuhnya, melihat kearah Shanum.
"Ana uhhibuka fillah, Albie!" jawab Shanum cepat dan tersenyum manis, serta menaikkan jarinya yang di bentuk menjadi finger Love.
"Ahabbakalladzi ahbabtani lahu!" balas Afkha dengan tersenyum pula.
ah coba Afka dengar