Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3
Cabut Baterainya!
Perban yang ditarik paksa bisa berdarah lagi. Sekar memikirkan itu saat melihat Tan Ardian pergi meninggalkan ruang tengah tanpa membawa cincin pertunangan di meja.
Tidak ada yang berani menyentuh cincin itu.
Darren berdiri di dekat sofa dengan remote masih di tangan. Matanya merah, tetapi ia berusaha terlihat biasa. Gagal total.
"Mbak Sekar," katanya pelan, "maaf kamu harus lihat yang tadi."
Sekar mengambil kotak cincin itu, menutupnya, lalu meletakkannya di sisi meja yang tidak langsung terlihat dari koridor. "Yang harus minta maaf bukan Pak Darren."
Darren menunduk. "Koko paling benci dikasihani."
"Saya tidak kasihan."
"Tapi wajahmu tadi..."
"Saya marah," potong Sekar. "Beda."
Darren terdiam. Lalu, untuk pertama kalinya hari itu, ia tersenyum kecil. "Kalau begitu, tolong tetap marah sampai jadwal pijat sore. Karena kalau Koko menolak, biasanya semua orang menyerah."
Sekar melihat map yang ditinggalkan Bu Susi. Di bagian jadwal tertulis jelas:
17.00: pijat ringan, peregangan pasif, pemeriksaan kulit kaki.
Jam di dinding menunjukkan pukul lima lewat sepuluh.
"Dia di kamar?"
Darren mengecek tablet. "Tidak. Kartu lift terakhir berhenti di lantai tiga."
"Ada apa di lantai tiga?"
"Teras. Tempat dia menyiksa diri dengan angin dan wajah dingin."
Sekar mengangguk. "Lift bisa dibuka?"
"Bisa, tapi kalau dia tahu aku bantu..."
"Gajimu dipotong?"
Darren menelan ludah. "Mungkin warisanku."
Sekar mengambil kartu akses dari meja kecil. "Kalau begitu, anggap saja saya mencurinya."
Darren menatapnya seperti melihat pahlawan masuk medan perang memakai sandal rumah.
Teras lantai tiga ternyata luas dan sepi. Dari sana, lampu-lampu Menteng mulai menyala satu per satu. Angin sore membawa bau tanah basah dari taman bawah. Di sisi pagar kaca, Tan Ardian duduk menghadap langit yang mulai gelap. Selimut tipis menutup kakinya. Kursi roda elektriknya diam, tetapi tubuhnya tampak seperti siap menolak siapa pun yang mendekat.
"Pergi," katanya sebelum Sekar bicara.
Sekar berhenti tiga langkah di belakangnya. "Jadwal pijat pukul lima."
"Batal."
"Di map tidak ada kolom batal."
"Buat sekarang."
"Saya pengasuh, bukan sekretaris."
Kursi roda itu berputar setengah lingkaran. Ardian menatapnya. Mata yang tadi terlihat beku sekarang lebih tajam, seperti kaca yang pecah diam-diam.
"Aku bilang pergi."
"Saya dengar."
"Tapi kamu masih berdiri di sini."
"Karena saya belum selesai kerja."
Ardian menekan tombol maju. Kursi itu bergerak ke arah lift, melewati Sekar dengan jarak sangat dekat. Sekar mundur selangkah, lalu matanya menangkap sesuatu di sisi bawah kursi: panel baterai dengan pengunci kecil. Bu Susi pernah menandai bagian itu di map, lengkap dengan tulisan merah: Jangan sentuh kecuali darurat.
Sekar memandang punggung Ardian.
Kalau orang ini dibiarkan pergi, jadwal perawatan hari pertama gagal. Besok ia akan menolak lagi. Lusa juga. Tiga hari itu bukan tantangan untuk mengusir Sekar saja. Itu juga cara Ardian mengusir semua hal yang bisa menyelamatkannya.
Sekar bergerak.
Satu tangan menekan tuas rem manual di belakang roda. Tangan lain membuka pengunci panel dan menarik paket baterai keluar dari slotnya.
Kursi roda berhenti mendadak.
Ardian membeku.
Dua detik kemudian, udara teras seperti disambar petir.
"Budiman Sekar."
Sekar memegang baterai itu di dada. "Iya, Pak Tan?"
"Pasang kembali."
"Setelah pijat."
"Sekarang."
"Setelah pijat."
Ia menekan tombol kursi beberapa kali. Tidak bergerak. Rahangnya mengeras. Tangannya mencengkeram sandaran begitu kuat sampai urat di punggung tangannya terlihat jelas.
"Kamu pikir ini lucu?"
"Tidak. Saya pikir ini jadwal medis."
"Kamu tidak berhak menyentuh kursi rodaku."
"Saya tahu." Sekar menelan rasa takutnya, lalu memaksa suara tetap rata. "Tapi Pak Tan juga tidak berhak membuat tubuh sendiri makin buruk hanya karena sedang marah."
Mata Ardian berubah. Bukan melembut. Lebih mirip luka yang tersentuh sebelum siap.
"Jangan bicara seolah kamu tahu apa pun."
"Saya memang tidak tahu semuanya," kata Sekar. "Saya hanya tahu kalau seseorang punya jadwal perawatan, berarti tubuhnya masih punya sesuatu yang harus dijaga."
Hening.
Angin menyapu rambut Sekar ke wajahnya. Ia menyelipkan rambut itu ke belakang telinga, lalu jongkok di depan kursi roda. Jarak mereka cukup dekat untuk membuat Ardian langsung mundur dengan tubuh bagian atas.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Memeriksa kaki."
"Jangan sentuh."
"Saya akan sentuh bagian yang perlu disentuh untuk kerja saya. Kalau sakit, bilang. Kalau tidak nyaman, bilang. Kalau mau memaki, silakan, tapi jangan tendang. Oh, lupa. Untuk sekarang belum bisa."
Wajah Ardian menggelap.
Sekar sadar mulutnya mungkin terlalu cepat, tetapi tangannya tetap hati-hati. Ia membuka selimut tipis itu perlahan. Di bawah kain, kaki Ardian lebih kurus dari yang ia bayangkan, tetapi bukan lemah tanpa bentuk. Ada bekas latihan, ada garis otot yang menipis, dan ada bekas luka panjang di sisi betis kiri. Kulit di sekitarnya membentuk jaringan keloid yang keras dan merah kecokelatan.
Sekar berhenti.
Amarahnya yang tadi panas mendadak turun, diganti sesuatu yang berat di dada.
Luka itu tidak terlihat seperti cerita di artikel bisnis. Tidak terlihat seperti gosip keluarga konglomerat. Luka itu nyata. Jelek. Sakit. Menempel pada tubuh seseorang yang barusan dipermalukan karena tidak bisa berdiri.
Ardian melihat perubahan wajahnya.
"Sudah puas?"
Suaranya lebih rendah dari tadi.
Sekar mengangkat mata. Ia ingin berkata hati-hati, tetapi kata yang keluar justru lain.
"Untung kakinya lumpuh."
Teras itu senyap.
Ardian menatapnya seolah ia baru saja menamparnya.
Dari sudut kamera CCTV di atas pintu, lampu kecil berkedip. Di ruang monitor lantai dua, Darren yang sejak tadi menonton langsung berdiri dari kursinya.
"Mbak Sekar, jangan mati dulu," bisiknya panik pada layar.
Di teras, Sekar menyadari betapa mengerikan kalimatnya terdengar. Namun ia tidak menariknya kembali. Ia menaruh baterai di lantai, lalu memegang pergelangan kaki Ardian dengan sangat hati-hati.
"Maksud saya," lanjutnya, kali ini lebih pelan, "untung yang hilang sementara cuma gerak kaki. Bukan napas Pak Tan. Bukan tangan Pak Tan. Bukan kepala Pak Tan. Bukan kesempatan Pak Tan untuk marah-marah lagi hari ini."
Jari Ardian yang mencengkeram sandaran perlahan berhenti bergerak.
Sekar menunduk. "Saya tidak bilang ini ringan. Saya juga tidak bilang saya mengerti sakitnya. Tapi kalau masih ada jadwal pijat, masih ada dokter, masih ada orang yang membuat pantangan makanan sampai dua setengah halaman, berarti belum selesai. Jadi jangan bertingkah seperti semuanya sudah habis."
Tidak ada jawaban.
Hanya napas Ardian yang terdengar sedikit berat.
Sekar mulai memijat perlahan, mengikuti catatan di map. Tekanan ringan di betis, gerakan memutar di sekitar otot yang aman, peregangan pasif yang tidak memaksa sendi. Ia pernah membantu di Pijat Bahagia sejak kecil. Papa tidak bisa bicara, tetapi tangannya mengajari Sekar bahwa tubuh orang harus didengar, bukan ditaklukkan.
Ardian tidak mengusirnya lagi.
Kadang ujung jarinya berkedut di sandaran. Kadang rahangnya menegang. Namun ketika Sekar bertanya, "Sakit?", ia hanya menjawab pendek, "Lanjut."
Sepuluh menit berlalu.
Lima belas.
Langit di atas Menteng berubah ungu gelap. Lampu taman menyala. Sekar menyelesaikan pijatan terakhir, menutup kembali selimut di atas kaki Ardian, lalu memasang baterai ke tempatnya.
"Selesai," katanya.
Ardian menatapnya lama. Banyak kata seperti lewat di matanya, tetapi tidak satu pun keluar.
Akhirnya ia hanya menekan tombol kursi roda. Mesin menyala halus.
Sebelum pergi, ia berkata tanpa menoleh, "Besok jangan terlambat."
Sekar berdiri di teras dengan telapak tangan yang masih terasa hangat bekas memegang baterai, butuh beberapa detik untuk sadar.
Itu bukan terima kasih.
Tapi dari pria yang pagi tadi melempar dua gelas, kalimat itu hampir terdengar seperti izin hidup.
Di ruang monitor, Darren sudah menangis tanpa suara. Ia membuka aplikasi mobile banking, mengetik nominal bonus dengan jari gemetar, lalu menekan kirim.
Ponsel Sekar bergetar.
Transfer masuk: Tan Darren.
Catatan: Bonus keberanian. Tolong lanjutkan, Mbak. Saya dukung dari balik layar.