Alicesa gadis remaja yang pernah mengalami kecelakaan, sehingha membuat sebagian wajahnya terluka. Semenjak saat itu dia harus menerima cacian dan hinaan dari semua orang. Bahkan sang kekasih pun akhirnya memutuskan hubungan sepihak karena wajah buruknya
Namun diam-diam ada seorang lelaki yang selalu membantunya. Bagaimanakan percintaan Alice salanjutnya? Akankah priaitu menampaka diri dan membantunya mengubah takdirnya?
Akankah Alice bisa kembali cantik seperti dulu ....
Yuk ... simak kelanjutan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Permintaan Alice
Radit memberikan kotak cincin pada Angga dan memakaikannya di jemari manis milik Alice. Egi menangis haru pertemuan singkat dan semua yang sangat mendadak, Angga yang meminta bertunangan dengan Alice semua tidak pernah terbayangkan.
''Terima kasih telah mau menerimaku apa adanya.''
Alice pun melakukan hal sama memakaikan cincin pada jari manis Angga, dan mengatakan. ''Aku pun sangat berterima kasih karena Kakak mau menerimaku apa adanya dengan segala kekuranganku ini.''
Semua keluarga bahagia melihat keduanya, dan rencana Angga besok pagi atau mungkin lusa. Akan membawa Alice pergi le Singapura untuk memeriksakan kondisi luka dan menjalani oprasi. Semua sudah di rencanakan matang oleh Angga, bahkan sebelumnya Angga sudah mencari tahu dokter kulit yang terbaik di Negara itu. Alice tiada henti mengucap syukur akan apa yang saat ini di alaminya.
Di lain sisi Ismail yang sebenarnya adalah lelali baik tetapi karena suatu hal permasalahan dalam keluarganya, dia menjadi lelaki yang sering bermain dengan wanita. Akan tetapi saat bersama Elice dia bisa mengontrol segalanya walau keinginan untuk melakukan itu ada.
''Jangan berisik. El kau cantik.'' Jemari Ismail mengusap lembut wajah Elsa.
''Apa maksudmu?'' tanya Elsa sedikit jual mahal.
''Jangan kau berbohong pada dirimu sendiri, aku sering melihatmu memperhatikanku bukan?'' ucap ismail.
''Tenang saja El, Chintya sudah tidur lelap dan tidak akan bangun sampai pagi.''
''Mail, tapi nanti jika dia mengetahuinya bagaimana?'' tanya Elsa yang memang mengharap kan Ismail bisa di milikinya.
''Tenang saja, jika kamu tidak mengatakanya maka dia tidak akan mengetahuinya.'' Tanya Ismail mulai menyingkirkan jaket milik Esla sedikit.
''Kenapa kau berpakaian seperti ini keluar ruangan.'' Ismail sangat lihai sudah membuang jaketnya ke sembarang arah.
''Aku kan memakai jaket Mail.''
''Aku sangat menginginkanmu,'' Ismail sudah seperti orang yang sangat kelaparan, melakukan dengan sedikit kasar. Permainanya membuat Elsa tak bisa mengendalika dirinya lagi, setuhan demi sentuhan terus di lakukan Ismail.
Berhenti memandang tubuh polos Elsa yang begitu indah bahkan bisa di bilang tidak kalah dengan Chintya. Kulit putih mulus tinggi, hanya saja bagian-bagian tertentu memang lebih menarik dan mengundang gairah.
''Apakah ini belum pernah di sentuh?'' tanya Ismail menunjuk kesalah satu vaforitnya.
''Kau aku jawab jujur, atau merasakanya sendiri,'' ucap Elsa seperti tantangan buat Ismail.
''Ternyata kau jauh lebih pandai dari Chintya hanya dengan kata saja kau mampu membuatku langsung ingin memakanmu.''
Jemari tangan Elsa menaruh di bibir Ismail. ''Bisakah jangan menyebut nama Chintya jika saat berdua denganku,'' ucap Elsa kembali.
''Baiklah kau pintar, jadi aku ingin tahu bagaimana per******* apakah bisa membuatku menginginkan lagi?'' Belum juga selesai berkata, Ismail sudah lebih dulu memejamkan matanya, sedikit menengadah merasakan sentuhan yang di berikan Elsa.
''Bagaiamana, ingin di lanjut atau--.'' Grep Ismail langsung memeluknya menggendong tubuh Elsa dan membaringkan di tempat tidur.
''Di sini lebih nyaman. Mau seperti apa yang kau lakukan,'' ucap Ismail terseyum di atas tubuh Elsa.
Tangan Elsa melingkar di leher Ismail terseyum, kemudian dengan sangat berani Elsa mencium Ismail lebih dulu. Ismail tidak menolak sama sekali, justru membalas dengan sangat lembut. Mereka berdua pun terbuai oleh permainan yang entah dari jam berapa melakukanya dan sudah berapa kali. Sampai waktu menunjukan pukul 4 pagi, rasa lelah keduanya tanpa memikirkan tubuhnya yang polos langsung memejamkan mata. Elsa yang mendekat dan ingin tidur si pelukan Ismail, mengetahui tidak ada penolakan Elsa mengambil kesempatan.
Matahari menyapa dengan indah nan begitu cerah, Alice yang sudah bangun dari pagi hari saat ini berdiri di balcon ruang tengah. Menatap indahnya langit pagi sinar cahaya orange yang indah, terseyum dan mengucap rasa syukur atas segala hal yang di laluinya.
''Terima kasih, atas nikmat sakit lara dan segala hal kepediha yang telah Engkau berikan.Ternyata di balik itu semua kau berikan kado terindahmu.''
Alice menengadah memejamkan mata dan merentangkan kedua tanganya, mulunya masih saja berbicara. ''Aku mohon jangan kau berikan semua yang singgah saat ini hanyanya kanvas yang akan menghilang lagi dariku.''
Tanganya masih setia dalam posisinya. ''Ternyata orang yang ku benci dan selalu membuatku kesal. Justru dia saat ini menjadi tunanganku, tampan memang tapi terkadang sangat menyebalkan.''
Angga sebenarnya sudah dari tadi di pintu dan menyandarkan tubuhnya dengan melipat kedua tanganya. Bahkan mendengat semua ucapan Alice, terseyum lalu mendekat dan mendekapnya. ''Aku janji tidak akan seperti itu, aku akan berusaha ada di setiap kali kau membutuhkanku dan di saat sedihmu.''
''Kak,'' panggil Alice lirih.
''Kenapa hemm,'' jawab Angga.
''Nanti ada yang lihat, malu.''
''Belum ada yang bangun, masih pukul 5.30 pagi.''
''Kak, Alice mau bertanya sesuatu? Apa boleh?'' tanya Alice.
''Tanya saja, jika Kakak bisajawab, pasti akan aku jawab.''
Alice kini melepas pelukanya, dan posisi mereka berhadapan. Tangan mungilnya memegang kedua tangan Angga. ''Jawab dengan jujur yah Kak?'' Angga menganggukan kepalanya dan mengeratkan genggaman tangan serta terseyum.
''Apa Kakak sudah mengetahui lama tentang keadaan Papa? Lalu sejak kapan Kakak memperhatikanku?'' tanya Alice.
''Apa Kakak harus menjawab pertanyaan itu?'' balas Angga bertanya, Alice menganggukan kepalanya.
Huuff ..., Angga menghempaskan napas kasar. ''Kenapa?'' tanya Alice.
''Baiklah, Kakak akan jawab jujur. Pertama kali Kakak membawamu ke rumah sakit waktu kecelakaan. Jika perasaan, Kakak tidak bisa memaskikan kapan rasa ini datang. Akan tetapi, saat kau selalu berdua dengan Aska aku sangat cemburu.''
''Jadi laki-laki yang bertopi mengikutiku di taman belakang kampus itu Kakak?''
Di balas Anggukan oleh Angga, serta mengusap pucuk kepalanya lembut. ''Kakak sangat menyayangimu. Jangan ragukan perasaanku lagi. Ok.'' Alice mengangguk dengan terseyum manis dengan menatap wajah tunanganya. Memegang kedua pipi Angga, perasaanya saat ini tidak bisa di gambarkan dengan kata.
''Besok kita akan pergi ke Singapura, jadi persiapkan segala kebutuhan yang akan kau bawa. Tidak perlu membawa terlalu banyak pakaian.'' Cup cup dua kecupan mendarat di kening dan pipinya.
''Kak aku ada satu permintaan boleh?'' tanya Alice.
''Tentu boleh, apapun itu jika tunanganku yang meminta dan aku bisa memberikanya akan ku berikan.''
''Apa boleh hubungan kita untuk sementara waktu di rahasiakan jika di kampus.''
Angga diam belum berani menjawan dan berpikir terlebih dahulu, kenapa Alice meminta hal yang tidak terduga sebelumnya. ''Apa alasannya, dan aku harus tahu dulu.''
Rekomendasi novel bagus dari temanku, sambil nunggu upnya kembali dari Kembali Cantik Si Gadis Cacat yuh mampir dan ramaikan. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian
Napen : Yuthika Sarah
Judul : Begitulah Takdir
Tak saling kenal, tak pernah bertemu. Namun Semesta yang menuntunmu. Itulah takdir, tak pernah ada yang tahu bagaimana kedepannya. Soal jodoh ada yang berwarna, ada yang kelam, ada yang penuh keseriusan dan ada juga yang penuh dengan canda tawa.
Shazfa Aiysha Humaira atau sering dipanggil Sasa , seorang mahasiswi yang memiliki tiga orang sahabat yaitu Safia (Sapi), Fathulila (Patul), dan Fifa (Pipa). Bukan sahabat namanya , jika tidak mengganti nama sahabatnya.
Shazfa pernah jatuh cinta dengan seorang Ustadz bernama Sakha. Tapi sayang, takdir berkata lain karena Ustadz Sakha dijodohkan dengan Patul. Mengikhlaskan adalah hal yang sulit sampai akhirnya datang seorang lelaki dengan gagahnya ingin menikahinya. Lelaki yang sebelumnya tidak ia kenali, tidak bertegur sapa namun ternyata ia lah takdirnya.
Ya, Begitulah Takdir. Lalu, siapakah lelaki gagah itu?