Ditinggal pergi untuk selamanya oleh suami yang kaya membuat Karina harus rela dimusuhi oleh ibu mertuanya.
Karena harta kekayaan sang suaminya jatuh ke tangannya hampir tujuh puluh lima persen karena kekayaan suaminya dirintisnya dari nol dengan Karina yang mendampinginya sebagai kekasihnya dan sekarang menjadi istrinya. Gelar istri yang baru disandangnya seminggu itu harus rela menjadi janda karena sang suami meninggal dalam kecelakaan karena perjalanan bisnis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arazy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
Karina berjalan menelusuri lorong rumah sakit tempat seseorang menghubunginya kalau suaminya mengalami kecelakaan dan sekarang sedang kritis. Air mata tak hentinya mengalir di pipinya meski tak ada suara tangisan. Karina berusaha menepis pikiran buruk mengenai kecelakaan itu. Dan berharap apa yang dikabari oleh orang asing itu salah.
Namun meski dirinya berusaha menepis perasaan buruk itu dia berkali-kali juga salah pikiran. Karena tak mungkin orang lain menghubungi ponselnya jika dia memang tak memegang ponsel suaminya. Pikiran Karina berkecamuk antara percaya dan tidak percaya. Baru seminggu mereka resmi menjadi suami istri. Bahkan malam pertama mereka pun terpaksa tertunda karena suaminya harus disibukkan pekerjaan saat malam pertama mereka.
*Apakah secepat ini kami dipisahkan?
Kumohon ya Allah, doa kupanjatkan untuk suamiku. Semoga kau berikan yang terbaik untuk keluarga kami*. Batin Karina berdoa di sela-sela tetesan air matanya.
"Assalamualaikum pak." Sapa Karina dengan sopan saat beberapa orang ramai di depan ruang UGD.
"Wa'alaikum salam Bu. Dengan saudari Karina?" Tanya polantas itu dengan sopan.
"Iya pak benar. Saya yang dihubungi tadi." Jawab Karina dengan detak jantung kencang seolah menyiapkan diri untuk kabar terburuk tentang suaminya.
"Begini Bu. Suami anda Keanu Pratama Atmajaya telah mengalami kecelakaan tunggal di jalan tol km .... dengan keadaan yang sedang kritis. Mungkin anda bisa mengindetifikasi kalau korban benar-benar suami anda."
Penjelasan polantas yang belum selesai membuat Karina langsung luruh ke lantai apalagi saat polisi itu mengulurkan sebuah dompet yang dikenalnya sebagai milik suaminya. Dompet yang dijadikan hadiah ulang tahun suaminya sebelum pernikahan. Tanpa melihat isinya Karina sudah bisa menebak kalau dompet itu adalah milik suaminya.
Polisi mencoba menangkap tubuh Karina namun sudah terlanjur luruh ke lantai dengan tatapan mata kosong menatap ke depan.
"Bu, anda tidak apa-apa." Hibur salah seorang polisi terlihat cemas melihat keadaan Karina yang shock.
"Suster, tolong bantu saya!" Pinta polisi itu pada seorang perawat perempuan yang melintas langsung membantu Karina duduk di kursi tunggu luar ruang UGD.
Cklek
Ruang UGD terbuka, salah seorang polisi langsung menghampiri dokter itu.
"Keluarga pasien." Seru dokter itu.
"Saya dok.." Jawab Karina lemah sambil berdiri menghampiri dokter itu dengan dibantu dipapah oleh perawat tadi. Dia berusaha memaksakan diri untuk mendekat karena ingin mendengar keadaan suaminya.
"Anda Bu Karina?" Tanya dokter itu.
"I..iya dok, bagaimana keadaan suami saya?" Tanya Karina antusias begitu mendengar dokter menyebut namanya.
"Pasien menyebut nama anda, mungkin beliau ingin bertemu dengan anda." Jelas dokter itu membuat Karina mengangguk mengiyakan ajakan dokter dan masuk ke dalam.
Karina sontak menutup mulutnya tak percaya melihat keadaan suaminya yang bersimbah darah seluruh tubuhnya meski sudah dibersihkan saat diperiksa di dalam tadi. Namun Karina bisa melihat darah yang masih banyak menetes juga bekas darah yang sudah sedikit mengering. Karina tahu kalau kecelakaan yang menimpa suaminya sangatlah parah.
Sekarang melihat suaminya yang terlihat sekarat dan kritis di depan matanya Karina bisa menebak kalau hidup mati suaminya sudah berada di depan matanya.
"Mas!" Seru Karina mendekati tubuh suaminya tanpa rasa jijik. Dengan air mata berderai di wajahnya, sesenggukan dan isak tangis terus terdengar.
"Ka..rin..." Panggil Ken dengan terbata-bata.
"Iya mas, ini aku. Mas pasti akan sembuh." Jawab Karina masih dengan deraian air mata. Ken menggelengkan kepalanya.
"Ma..af..ma..afkan...aku...maaf..." Bisik Ken lemah berulang-ulang membuat Karina semakin kencang tangisannya.
"Kau akan sembuh mas. Kau akan baik-baik saja. Kau akan selamat." Ucap Karina dengan deraian air mata yang tak kunjung berhenti.
"Ma..af..." Ucap Ken terus dan berulang-ulang.
Ken pun menutup mata setelah mengucapkan kata yang sama. Dokter pun langsung bertindak memeriksa keadaan Ken. Perawat yang membantu langsung meminta Karina meninggalkan ruang UGD meski Karina menolak untuk menjauh.
"Mas...mas..." Seru Karina sambil berdiri di depan pintu ruang UGD yang ditutup rapat dari dalam.
"Ibu sebaiknya istirahat sebentar." Pinta seorang polisi yang masih menunggu untuk mengurus kasus kecelakaan itu. Dia merasa tak tega melihat kondisi Karina yang juga tidak baik-baik saja.
"Apa ada seseorang yang ingin ibu hubungi?" Tanya polisi itu sontak membuat Karina berhenti menangis. Seketika terlihat bayangan ibu mertuanya yang menyuruhnya untuk menghubunginya jika Ken pulang.
"Ibu... ibu mas Ken." Ucap Karina menatap wajah polisi itu.
"Apa ibu tahu nomernya?" Tanya polisi itu bersiap mengetik nomer ponsel di ponselnya.
"Pakai hp saya pak, cari nama ibu di ponsel saya." Titah Karina cepat, dia tak mau ibunya terlambat mengetahui keadaan suaminya yang mungkin saja tak berumur panjang.
Polisi itu melakukan apa yang dikatakan Karina mencari-cari nama yang dimaksud Karina. Dan tak sampai setengah jam polisi sudah menghubungi wanita galak itu. Bahkan polisi itu bisa menebak kalau wanita yang dipanggil ibu oleh Karina itu sangat membenci Karina. Namun dia tak banyak bicara hanya tersenyum ramah demi tidak membuat Karina semakin bersedih.
***
Tak sampai satu jam, Ambar datang dengan Johan dengan tergesa-gesa. Untung saja saat polisi menghubunginya tadi dengan menggunakan ponsel Karina, Johan sedang ada di sampingnya. Sehingga Johan bermaksud menguping sebentar percakapan mereka. Meski Johan tahu ibunya masih belum menerima sepenuhnya kakak iparnya sebagai menantu.
Saat ibunya langsung luruh ke lantai begitu mendengar seseorang di seberang mengatakan kalau putranya yang juga kakak Johan mengalami kecelakaan di jalan tol luar kota.
Seketika pikiran Johan berkelana memikirkan hal itu meski langsung diurungkan karena harus menolong ibunya yang hampir pingsan. Johan langsung shock tak percaya mendengar kabar kalau kakaknya mengalami kecelakaan tunggal di jalan tol km...
Bukannya itu di luar kota *bukannya mereka bulan madu di pulau B. Kenapa kakak mengalami kecelakaan di daerah kota B?
Apa yang terjadi sebenarnya? Jangan katakan kalau mereka merubah tujuan bulan madu mereka ke puncak*?
Batin Johan yang bertanya-tanya tak sempat berpikir apalagi melihat kondisi ibunya yang tidak baik-baik saja.
***
"Bagaimana keadaan putraku?" Tanya Ambar saat tiba di ruang UGD masih ada seorang polisi dengan perawat dan Karina.
"Ibu." Panggil Karina yang masih menangis berderai air mata.
"Apa yang terjadi Karin? Putraku baik-baik saja kan? Katakan dia baik-baik saja!" Teriak Ambar tak sabaran apalagi melihat Karina yang hanya menangis tak menjawab pertanyaan Ambar.
"Ibu yang sabar." Hibur polisi itu menjelaskan kronologi kejadian kecelakaan itu. Johan hanya bisa mengelus kedua lengan ibunya menenangkan.
Kini ganti Ambar yang luruh ke lantai mendengar penjelasan polisi yang menyatakan kalau putranya tidak baik-baik saja. Bisa dikatakan dia diantara hidup dan mati. Johan segera menghibur ibunya, mendekapnya memberinya semangat.
"Ibu harus tenang. Kita berdoa saja semoga ada keajaiban." Hibur Johan mengelus punggung ibunya yang terus menangis.
.
.
TBC