Almahyra seorang anak korban tsunami yang diadopsi oleh seorang dokter lajang bernama Kenzo Takeshi Sato.
Mereka sama-sama memendam perasaan.
Pernikahan Kenzo dengan wanita lain yang bernama Mona tidak bahagia.
Setelah berpura-pura lumpuh dia baru sadar bahwa Almahyra lah yang pantas menjadi istrinya.
Kenzo dan Almahyra diam - diam menikah.
Apakah Mona rela di madu?
Apa yang akan terjadi setelah dia tahu di madu?
Selamat membaca...
Aku tunggu support Anda semua agar aku lebih semangat untuk berkarya.
Love u All.. 😘😘😘
Terimakasih.. 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ria aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BEBAS BERSYARAT
Mona keluar dari rumah sakit setelah kepulangan Ken. Dia tidak membawa mobilnya dan memilih naik taksi untuk pergi. Pakaiannya juga terlihat tertutup dengan nuansa serba hitam.
Penghuni rumah sakit hampir tidak mengenalinya. Mona memakai kerudung panjang untuk menutupi kepala dan wajahnya. Kacamata hitam besar membuat penampilannya semakin tak dikenali.
Mona berjalan hingga ujung jalan yang lumayan jauh dari rumah sakit untuk menghindari kamera CCTV. Tak berapa lama, ada taksi yang berhenti di depannya saat dia melambai. Sebelum masuk, Mona menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang yang mencurigakan. Dia takut Kenzo memata-matainya.
"Kemana Mbak?" tanya supir taksi itu ketika Mona sudah duduk di kursi penumpang.
"Ke lapas X Pak," jawab Mona singkat.
Tanpa bertanya lagi, supir taksi itu segera melajukan mobilnya ke lapas X. Sesekali dia melirik Mona dari kaca spion. Wajah dingin Mona membuatnya bergidik. Apalagi didukung dengan pakaian serba hitam. Supir itu berpikir yang tidak-tidak. Dia takut jika wanita di belakangnya itu seorang mafia.
Taksi itu melaju dengan cepat karena jalanan tidak begitu padat. Tidak sampai 30 menit mereka sampai di lapas X. Supir taksi itu gemetaran. Dia tidak berani meminta ongkos taksi. Takut wanita di belakangnya itu tiba-tiba menodongnya dengan pistol. Mungkin dia kebanyakan nonton film action.
"Ini Pak. Ambil kembaliannya!" Mona menyerahkan 2 lembar uang ratusan ribu.
"Te te terimakasih Non!" supir taksi itu bernapas lega. Ternyata pikirannya salah. Sebelum menyimpan uang itu dia menerawangnya, takut kalau itu uang palsu. Setelah di rasa asli baru dia kantongi dan kembali menjalankan mobilnya untuk mencari penumpang lagi.
Mona berbicara pada penjaga yang berjaga di luar. Penjaga itu mengijinkan Mona masuk. Di dalam lapas Mona melapor ingin menemui David.
Petugas lapas menatapnya menyelidik. Pasalnya David akan keluar dari tahanan hari ini untuk menjalani tahanan rumah. Dia mencurigai Mona akan dua hal. Pertama dia keluarganya dan yang kedua adalah rival dari David.
"Anda siapanya David?" tanya petugas lapas yang bertag nama Broto itu.
"Saya temannya. Bilang saja Mona ingin bertemu," jawab Mona.
"Tunggu sebentar!" petugas itu berdiri. Ketika hendak berbalik, David terlihat sedang berjalan ke sana dengan diiringi oleh 2 orang petugas.
"Nah, itu David yang Anda maksud, bukan?" tanya Broto.
Mona menggeser kursinya lalu berdiri. Dia mengikuti arah pandang Broto. Benar. Saat ini David sedang berjalan ke arahnya. Mona sedikit keheranan melihat David tidak memakai baju tahanan.
"Mona! Bagaimana kamu tahu kalau hari ini aku keluar?" tanya David setelah berhadapan dengan Mona.
"Keluar? Syukurlah! Aku kemari untuk menjengukmu," jelas Mona sambil memegang kedua tangan David.
"Nekat! Bagaimana kalau Ken tahu kamu kemari. Bisa-bisa kamu ikut kena masalah." David menarik Mona ke dalam pelukannya. Dia tidak mempedulikan para petugas lapas yang melihat mereka keheranan.
"Aku nggak peduli. Bagaimana kamu bisa bebas?" tanya Mona penasaran.
"Papa tiriku yang menjamin kebebasanku. Tapi aku menjadi tahanan rumah, selama 2 tahun aku nggak bisa kemana-mana," jelas David.
"Tuan David, silakan tanda tangan di sini!" salah satu petugas lapas meminta David untuk menandatangani berkas.
"Ah, iya." David melepaskan pelukan Mona dan menandatangani berkas yang di maksud.
David dan Mona diijinkan pulang setelah prosedur pembebasan dengan jaminan selesai ditandatangani. Mereka berjalan keluar dengan langkah yang ringan. Sesampainya di luar David mencari di mana mobilnya.
"Kamu nggak bawa mobil?" tanya David.
"Nggak. Namanya juga pergi diam-diam," ucap Mona sembari naik ke dalam mobil David.
"Mulai pinter ya, kamu sekarang!" David mencubil pipi Mona gemas. Wajah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat.
"Kamu baru tahu aja. Dari dulu aku kan memang pinter," ucap Mona dibuat-buat secentil mungkin.
"Aku kangen sama kamu Mon," bisik David di telinga Mona. Ucapnya jauh melenceng dari topik pembicaraan.
"Aku juga." bulu kuduk Mona meremang. Setelah sekian lama, belum ada yang mampu mengalahkan David dalam membuatnya tak berdaya. Apalagi Ken yang sama sekali tidak pandai dalam merayu wanita.
"Kamu dinas jam berapa?" tanya David yang mulai menyalakan mesin mobilnya.
"Sip malem. Kenapa?" tanya Mona.
"Bagaimana kalau kita ke tempat biasa? Aku masih males pulang."
"Memang orang rumah belum tahu kamu bebas hari ini?" tanya Mona.
David menggeleng. Tangannya fokus memutar setir.
"Emm, boleh. Aku juga malas pulang. Mertuaku ada di sini. Aku males ketemu mereka." Mona terus melihat David dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Bagus. Kita rayakan kebebasanku. Aku mencintaimu Mona." David tersenyum senang. Sampai saat ini dia masih tergila-gila pada Mona. Wanita yang membuatnya jatuh cinta setengah mati. Dia hanya menganggap istrinya sebagai pemanis rumah saja.
Mona dan David ke tempat biasanya mereka menghabiskan waktu. Memupus kesedihan dan mencoba mencari kesenangan ala mereka. Mungkin juga itu sebagai pelarian.
...
Tubuh Vea sudah lemas ketika pengawalnya datang. Mereka segera membawa Vea ke rumah sakit. Kebetulan rumah sakit Takeshi Group yang terdekat dari sana.
Vea masih tersadar namun tidak mampu banyak bergerak. Dia hanya pasrah ketika di bawa ke ruang ICU. Pandangannya juga sudah mulai kabur. Saat ini dia berada di ambang batas kesadaran.
Richard yang sedang berada di Malaysia bersama Dena istrinya segera terbang ke Indonesia. Mereka menyesal karena meninggalkan Vea seorang diri di Indonesia. Penyakit Vea bisa kambuh setiap saat.
Beberapa bulan ini Vea terlihat sehat. Mereka pikir Vea tidak akan sakit selama mereka tinggal. Lagi pula hanya 2 hari mereka di Malaysia.
Vea menderita penyakit autoimun langka. Hal yang paling parah dia akan mengalami kejang-kejang dan tak sadarkan diri ketika kambuh. Tidak jarang dia akan merasa pusing ketika terlalu banyak beban pikiran.
Pengawal Vea terus berjaga di depan pintu ICU. Mereka tidak diijinkan masuk. Mereka hanya mengawasi dari luar ruangan.
"Pa, apa kamu punya kontak Takeshi?" tanya Dena pada Richard.
Mereka sedang berada di bandara untuk menunggu jadwal penerbangan yang masih 2 jam lagi. Itupun kalau tidak delay.
"Ada. Tapi aku tidak tahu masih aktif atau tidak nomernya." Richard mengambil ponselnya.
"Coba dulu, Pa. Semoga saja masih aktif." Dena menyatukan telapak tangannya dan meletakkannya di depan mulutnya. Kakinya menghentak-hentak pelan. Wajah Dena tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya.
Richard menekan nomer Takeshi. Beberapa saat kemudian panggilannya tersambung. Richard berharap nomer itu belum berganti pemilik.
"Gimana, Pa?" tanya Dena tidak sabar.
"Belum di angkat. Mungkin dia sedang tidak pegang HP." Richard mengakhiri panggilannya.
"Coba lagi dong, Pa. Sampai ada yang angkat. Aku sangat khawatir sama Vea." emosi Dena mulai tak terkontrol. Kini wajahnya berderai air mata.
****
Bersambung...
semoga saja anak q sikapnya gk lemah spt dr. Kenzo karena anak q namanya juga kenzo