Dalam hidupku tak pernah menyangka bahwa dalam pernikahanku akan mengalami hal semacam ini.
Seandainya godaan itu datang dari wanita lain, mungkin saja aku tak akan segila ini. Tapi justru godaan itu datang dari wanita yang seharusnya aku hormati sebagai ibu dari istriku.
Aku hanyalah lelaki normal, lelaki biasa yang bisa saja khilaf dalam bertindak. Apalagi jika dihadapkan dengan godaan nyata setiap hari, godaan yang mampu mengikis kesetiaanku, godaan yang mampu menjegal keimananku.
Aku, Adarga Handanu ... lelaki biasa yang sedang berjuang keluar dari jeratan nafsu sang ibu mertua. Berhasilkan aku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ammi Pooja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26 Misi Pertama
POV Arini
Sesuai permintaanku, usai salat Maghrib Mas Danu segera menyusulku ke dapur. Sebenarnya, ia tak membantu apapun. Hanya saja aku ingin dia menemaniku di tempat bereksperimen cita rasa masakan ini.
Sembari menyiapkan bahan, aku mendengarkan celotehan Mas Danu yang terkesan sedang curhat. Dapat aku lihat kegelisahan itu tampak di raut wajah tampannya.
Aku berusaha untuk tetap tenang meski dalam dada penuh gejolak menahan emosi sejak lama. Aku biarkan Mas Danu meluapkan isi hati hingga suara ibu menghentikan percakapan kami.
Dengan nada ketus wanita yang ingin kucabik-cabik mulutnya itu memintaku cepat membawakan makanan yang kumasak. Sengaja kucampurkan bubuk cabe lebih banyak ke mangkuk bagian untuknya.
Sudah dapat dipastikan reaksi pada suapan pertama. Pedas panas. Hahaha ....
Sebagai gantinya aku harus merogoh kantong daster dan memberikan uang dua puluh ribu kepadanya. Kuserahkan uang itu dengan senyum penuh arti.
Ah, sebentar lagi dia pasti kembali. Karena di depan telah menanti suami ke empatnya. Baiklah, kita hitung mundur ... sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, ti ... ga, du ... a, sa-sa ... tu ...."
"Arini!" teriaknya dari luar.
Hampir saja aku tertawa, namun aku tahan. Bisa kubayangkan wajah pias saat ia membuka pagar dan melihat sosok Bobby dengan pakaian kumal. Sudah jelas wanita matre itu akan lari tunggang langgang.
Dengan berteriak histeris, ia menghampiriku. Masih kucoba untuk bersikap tenang, namun justru ia makin emosi tak terkendali.
"Kenapa Bobby ada di depan? Siapa yang ngasih alamat rumah ini?"
"Mana aku tahu, Bu?"
"Jawab, Arini!" Ia mencoba menarik bahuku dengan kasar, namun segera aku tepis.
Kali ini habis sudah kesabaranku terkikis oleh sikap arogan yang ia tunjukkan. Lama kelamaan aku juga tak bisa tinggal diam. "Bisa nggak, Ibu nggak kasar?"
"Ibu sudah muak dengan sikap kamu!"
"Sama. Aku juga sudah muak dengan sikap Ibu yang terus saja menggoda Mas Danu!"
"Kamu ...." ucapnya seraya mengangkat tangan.
"Apa? Mau menampar? Sudah cukup rasanya aku bersabar menghadapi kelakuan Ibu selama ini. Apa Ibu pikir aku tidak tahu semua kelakuan Ibu selama ini?"
"Apa yang kamu tahu tentangku?"
"Sudah cukup, Bu. Aku sudah memasang chip penyadap suara yang dilengkapi dengan kamera di semua ruangan. Ibu mau lihat?"
"Kamu ... keterlaluan kamu, Arini!"
"Ibu yang keterlaluan. Apa Ibu pikir menjadikan foto dan kemeja Mas Danu sebagai objek imajinasi liar bukan suatu hal yang menjijikan?"
Kata-kataku mampu membuat wanita di hadapanku benar-benar kehilangan muka. Raut terkejut tampak dalam riak wajah.
"Aku sudah terlalu bersabar dengan semua kelakuanmu, berharap sosok Ibu yang melahirkanku kembali ke jalan yang benar, tidak hanya memburu nafsu."
"Hentikan ceramahmu! Kamu sudah memulai perang denganku, maka jangan salahkan aku jika rumah tanggamu hancur."
Aku hanya mengulas senyum, ancaman yang tak pantas keluar dari mulut seorang ibu. Kutinggalkan ia dengan sumpah serapahnya. Melangkah keluar untuk menyambut kedatangan Bobby.
"Arini, kamu yang memulai semua ini! Kamu akan lihat apa yang bisa aku lakukan terhadap suamimu! Lihat saja nanti!" Kembali kudengar teriakan berisi ancaman lagi.
Sepertinya wanita itu terobsesi dengan suamiku, sampai-sampai selalu Mas Danu yang dijadikan objek sasaran. Terlalu menjadi budak nafsu, sehingga tak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
"Kamu bisa melihatnya di dapur, dia masih asyik merusak peralatan dapurku," ujarku kepada Bobby, tanpa menunggu lama ia bergegas menuju dapur yang sudah seperti kapal pecah.
Kulihat mata ibu menyalak penuh amarah, ia terus saja meluapkan emosi dengan membanting semua benda yang ada. Terlihat jelas bahwa ia belum bisa menerima kehadiran Bobby.
Kekecewaan semakin menjadi tatkala ia melihat pria yang selama ini ia hindari itu justru sudah ada di hadapannya kembali dengan kondisi yang jauh dari harapan. Bobby yang hanya mengenakan kaos kumal, datang dengan berkendara motor butut. Jelas wanita sejenis Ibu tak akan bisa menerima.
Adegan demi adegan membuka setiap tabir keaslian dari sosok wanita yang telah melahirkanku. Benar, nalurinya telah mati. Bahkan sedikit cinta di dasar hati saja sudah tak ia sisakan. Seluruh ruang sanubari telah terisi nafsu setan.
Bobby, pria yang dulu begitu mencintainya, menerima ia apa adanya pun tak pernah ia anggap. Jangankan Bobby yang tak bisa memberi kehidupan layak, dengan Pak Rahman -ayahku- yang notabene telah memanjakan ia dengan bergelimang harta pun dibalas dengan penghianatan dan menghancurkan usaha yang telah dirintis ayah bertahun-tahun.
Ayah yang jatuh bangun mengembangkan usaha dari nol, harus menelan pil pahit karena wanita yang ia pungut dari jalanan justru menjadi onak dalam daging, ia tega menggunting dalam lipatan demi lelaki yang mampu memuaskan nafsu birahinya.
Jika aku boleh memilih, tak ingin aku dilahirkan dari jalan rahimnya. Tak pernah kupinta lagi kasih dari seorang ibu yang tak punya hati, apalagi yang telah kehilangan akal sehat seperti dia.
Kusaksikan bagaimana ia mencemooh Bobby mentah-mentah, tanpa menaruh rasa hormat sama sekali pada laki-laki yang masih berstatus suaminya. Berkali-kali pula ia menyalahkan Bobby atas kehidupannya.
Benar-benar memuakkan tingkah wanita tak tahu diri itu. Ya, Tuhan ... kenapa Engkau ciptakan ibu seperti dia untukku? Adakah surga di telapak kakinya?
Sesuai rencana, Bobby masih bisa mengendalikan emosinya. Ia berusaha membujuk ibu agar mau kembali padanya. Aku tahu itu tak akan pernah berhasil, karena membujuk wanita matre harus dengan penampilan mewah.
Di tengah serunya adegan, Mas Danu yang sedari tadi mematung memperhatikan mereka tiba-tiba hendak melangkah. Dengan refleks kutarik kaosnya dari belakang.
Tak akan aku biarkan Mas Danu merusak semua rencana yang telah tersusun matang. Sengaja aku pasang muka marah agar ia mengurungkan niat.
"Dek, semua harus segera diakhiri. Mas sudah nggak tahan." Mas Danu berusaha protes.
"Kita lihat, sebentar lagi ada kejutan baru."
"Apa?" tanyanya penasaran.
"Mas Danu lihat saja nanti." Kuisyaratkan ia agar diam dan melihat saja ke depan.
Yup!
Sesuai rencana, Bobby mulai memancing wanita itu dengan mengumpankan Niko. Lelaki dewasa itu, selain tampan ia juga smart. Ia tak salah langkah sejak awal mengambil Niko dari panti asuhan.
Sebelumnya, Bobby telah menjelaskan bahwa Niko adalah kelemahan ibu. Hatiku tersayat saat mendengar penuturan Bobby kala itu, ibu sangat menyayangi Niko. Dulu, ia sering diam-diam menjenguk Niko di panti asuhan tanpa sepengetahuan Bobby.
Hingga kini aku tak tahu, kenapa ia bisa menyayangi Niko sepenuh hati, tapi tidak denganku. Niko anak dari suami pertama, sedangkan aku juga lahir dari rahimnya sebagai bukti cinta dengan suami kedua.
Tapi, ya sudahlah ... aku tak ingin menyesalinya. Satu keyakinanku, Tuhan memberikan takdir sudah pasti dengan hikmah yang baik.
"Kamu ingat Niko? Anak yang kamu titipkan di panti asuhan." Suara berat Bobby yang menekan pada bagian akhir, seketika berhasil membuat ibu terhenyak kaget.
Inilah bagian yang aku suka, di mana Bobby akan membuat wanita itu mengatupkan mulut dan menundukkan kesombongannya. Tak akan ada lagi tatapan angkuh atau ucapan menusuk hati yang keluar dari mulut ularnya.
Ternyata dugaanku salah, tak semudah itu membuat wanita berhati batu itu luluh begitu saja. Bahkan ia masih mampu membela diri dan menyalahkan Bobby. Sungguh luar biasa.
Layaknya negosiasi yang alot, setelah memakan waktu cukup lama ... akhirnya ibu memutuskan untuk ikut ke rumah Bobby demi menemui Niko.
Meski ada gores luka karena ia lebih meyayangi Niko, namun di sisi lain hatiku bersyukur. Ada perasaan lega karena pada akhirnya ibu bisa pergi dari rumah ini.
Kulihat wajah Mas Danu begitu sumringah menyaksikan akhir dari adegan penuh drama menguras emosi itu. Ketegangan demi ketegangan kini mulai mengendor, layaknya syaraf yang mulai berelaksasi.
Misi pertama berhasil. Selanjutnya misi kedua, yaitu membawa ibu tak punya hati itu keluar dari rumahku menuju kejutan berikutnya. Aku berharap semua akan berjalan seperti yang aku harapkan.
Hatiku merasa begitu bahagia saat wanita itu melenggang masuk ke dalam mobil Bobby. Segera kuajak Mas Danu bergegas mengambil motor dan menyusul mobil Bobby yang telah melaju lebih dulu.
Sepanjang perjalanan membelah malam, kueratkan dekapan untuk mengusir rasa dingin yang menusuk tulang. Dengan lembut tangan kiri Mas Danu mengusap tanganku, kusandarkan kepala di punggungnya.
Terkenang masa dulu, di saat ia rela jauh-jauh menjemputku pulang dari sebuah diklat di luar kota. Ia pinjamkan jaket untukku malam itu dan membiarkan angin malam menembus kulitnya. Dan keesokan harinya, ia harus ke dokter karena sakit.
Lelakiku, kamu memang bukanlah makhluk yang sempurna di semua hal, namun hatimu patut diacungi jempol.
Aku tenggelam dalam kenangan indah masa dulu, hingga tak terasa Mas Danu telah menepikan motor di depan rumah mewah. Ya, itu adalah rumah orang tua Bobby, di mana ada Niko bernaung di dalamnya.
"Dek, Bobby beneran tajir melintir, ya?" bisik Mas Danu setelah kaki ini turun dari motor.
Ucapannya hanya kurespon dengan senyum di sudut bibir.
"Dek, kalau kamu diajak nikah dengan Bobby, mau nggak?" Pertanyaan yang tak pernah kuduga meluncur begitu saja dari mulut Mas Danu. Entah apa yang ada dalam pikirannya, tapi yang pasti pertanyaan itu mampu membuat bola mataku membulat.
"Aku hanya bercanda, Dek."
"Nggak lucu!" ketusku sembari berlalu meninggalkannya.
Sepertinya otak suamiku mulai eror gegara terlalu paranoid. Seharusnya aku yang cemburu karena di kantor, banyak wanita yang menyukai wajah tampan yang ia miliki. Tapi ini, justru terbalik. Ia begitu takut jika Bobby merayuku.
Kutoleh ke belakang, Mas Danu berusaha menyusul dan mensejajari langkah. Netranya tak henti mengedar mengagumi rumah megah bak istana ini. Ya, orang tua Bobby memang pengusaha sukses. Pantas saja jika ibu berusaha menjebak Bobby dengan tubuhnya agar jatuh ke pelukan maut wanita penggoda iman itu.
Lengang. Tak ada suara kecuali detik jarum jam yang terus bergerak menghitung waktu. Ruangan besar itu kembali terang ketika telunjuk Bobby menyentuh saklar.
Kini, dapat kulihat jelas bagaimana sikap ibu yang berusaha bergelayut manja di lengan Bobby. Sungguh tidak punya malu. Beberapa waktu lalu, ia begitu pongah mencemooh Bobby. Tapi, lihatlah ... betapa urat malu itu telah putus.
Aku hanya tersenyum miris. Benar kata Mas Danu, aku rasa ibu butuh psikiater atau kyai untuk mendapat penanganan. Karena jika ditilik dari tingkah lakunya yang tak normal, ia seperti mengalami kelainan jiwa atau mungkin ... ah, aku rasa ia lebih butuh rukiyah untuk membuat iblis yang bersemayam di hatinya itu pergi.
"Ternyata kamu belum berubah juga, Hera!"
Aku menoleh seketika saat mendengar suara wanita pemilik rumah, tepatnya mantan majikan ibu sekaligus mertuanya. Ucapan wanita itu mampu membuat ibu menghentikan aksi selfie sana-sini dengan berbagai pose.
Aku pikir, ibu akan merasa malu saat tingkahnya dilihat ibu mertuanya. Namun, dugaan itu salah. Hera tetaplah Hera, wanita dengan prinsip tebal muka. Ucapan ibunya Bobby tak membuat ia merasa malu atau tak enak hati, justru dengan santai ia membalikkan ucapan.
Tak sabar rasanya melihat adegan misi kedua, yaitu munculnya Niko. Pria yang menjadi kakak tiriku itu bertugas untuk membuat ibu mengemis kehidupan yang mewah padanya.
Detik demi detik, adegan demi adegan menimbulkan ketegangan. Wanita yang aku panggil ibu itu masih bersikukuh bahwa ia tak pernah bersalah. Dulu ia menuduh paman mencuci otakku, dan sekarang ia juga menuduh Bobby dan orang tuanya mencuci otak Niko. Sungguh ia wanita tak tahu terimakasih.
Emosi wanita itu memuncak tatkala Niko mengungkap tentang kelakuan bejatnya yang mencoba menggoda Maa Danu. Sontak mata mengerikan itu menatapku tajam, mendekatiku kemudian sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipi kananku.
Panas rasanya bekas telapak tangan itu, nyeri kian menjalar di hati yang telah dipenuhi luka lama. Tak kuduga Mas Danu datang membela, namun entahlah ... semuanya begitu cepat terjadi. Vas bunga dari keramik itu bertubi-tubi telah mendarat di kepala Mas Danu.
Niko dan Bobby berusaha menarik paksa tubuh wanita sintal itu, namun terlambat. Mas Danu jatuh tersungkur dengan darah segar mengalir membasahi bagian tengkuknya.
Teriakan histerisku menggema seketika, rasa takut kehilangan belahan jiwa membuatku memeluk erat tubuhnya.
"Tuhan, jangan jadikan pelukan ini menjadi pelukan terakhir." pintaku dalam hati saat mobil Bobby membawa Mas Danu ke rumah sakit.