Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Ada yang Sayang
Tok... tok... tok...
"Andira, bangun. Makan dulu kamu. Belum makan dari malam loh,"
ucap Lia dari balik pintu kamar Andira.
"Iya, Mbak," jawab Andira pelan. Suaranya serak.
Dia turun dari tempat tidur. Wajahnya pucat.
Mata bengkak bekas nangis semalaman.
Dia ke kamar mandi, cuci muka pake air dingin.
Terus keluar kamar pelan-pelan, kayak gak ada tenaga.
"Ini, Mbak udah masak nasi goreng sama teh anget.
Makan dikit ya, biar ada tenaga,"
pinta Lia lagi. Dia nyodorin piring ke meja.
"Tante harus makan ya, biar gak sakit.
Putri sayang Tante," ucap Putri. Anaknya Lia, umur 10 tahun.
Dia narik tangan Andira suruh duduk.
"Iya, Tante. Tio juga sayang Tante,"
sambung Tio, adiknya Putri yang umur 7 tahun.
Dia nyodorin sendok ke Andira.
Andira senyum kecil. Senyumnya hambar.
Tapi di dalam hati dia bisik: _Masih ada yang sayang aku.
Jadi harus kuat._
Mereka makan nasi goreng sederhana buatan Lia.
Bumbunya cuma bawang, kecap, sama telur.
Tapi anget. Ngerasain di dada.
Karena masih sedih, Andira cuma makan 3 suap.
Dia belum terlalu lapar. Tenggorokannya kayak ketusuk.
"Gak apa-apa, Mbak. Biar dikit, aku senang.
Yang penting perut Mbak gak kosong,"
kata Lia sambil ngusap punggung Andira.
"Makasih ya, Lia. Reno, Putri, Tio,"
ucap Andira. Matanya berkaca-kaca.
Mereka berempat ngangguk bareng.
Rendi senyum dari jauh sambil mainin HP.
Dia lagi nunggu orderan ojek online.
Abis makan, Andira mau ke kamar buat istirahat.
Tapi ditahan Putri.
"Tante, jangan tidur dulu. Biar Putri temenin nonton TV ya,"
pinta Putri sambil narik tangan Andira.
"Iya, sayang," jawab Andira.
Bagai dikontrol remote, dia nurut aja sama kata Putri.
Di ruang nonton, mereka duduk di sofa.
Putri duduk mepet Andira. Kepalanya nyender ke bahu Andira.
Lia sibuk di dapur nyiapin makan siang.
Rendi asik main game di HP-nya. Nunggu orderan masuk.
Lia sendiri gak kerja. Dia ibu rumah tangga aja.
Suaminya tukang ojek online. Penghasilannya pas-pasan.
Tapi Lia tetep bersyukur sama hidupnya.
Andira liat itu semua. Terus dia batin:
_Meski aku kehilangan separuh hidup aku,
tapi masih ada yang cinta aku.
Aku masih punya Mbak Lia, Mas Rendi, Putri, sama Tio._
"Tante kenapa?" tanya Putri tiba-tiba.
Dia liat Andira diem, matanya kosong.
"Tante cuma inget Om," jawab Andira.
Tangannya ngusap rambut Putri.
"Iya, Tante. Yang sabar ya.
Karena Om udah senang di sana,"
jawab Putri. Umurnya baru 10 tahun, tapi omongannya dewasa banget.
Mungkin karena kondisi hidup yang ngajarin dia cepet dewasa.
*_**_***
Tring. Bunyi notifikasi di HP Rendi, Lia, sama Andira.
Chat grup WA "Keluarga" rame. Nama Imel muncul.
"Enak ya hidup susah jadi pura-pura nemenin Andira
biar bisa makan enak. Gak mikir beli beras, token, dll,"
tulis Imel. Ada emoji ketawa di belakangnya.
Astaghfirullah, kok Mbak Imel jahat bisa mikir gitu sih,"
balas Lia. Tangannya gemetar ngetik.
"Iya dong. Kalau bukan mau hidup enak apalagi coba?
Orang susah kan maunya yang gratisan, ahahaha,"
jawab Imel. Ngetiknya cepet banget. Kayak gak ada rem.
Lia nahan emosi. Dia ngetik lagi panjang:
"Mbak, cukup ya. Aku punya harga diri.
Biar kami hidup pas-pasan, selama ini kami gak pernah harap pengasihan dari Mbak
maupun Mbak Andira sama Mas Renaldi.
Aku ikhlas karena suami aku kakaknya Mas Renaldi.
Mbak Andira ini istri Mas Renaldi.
Kalau kami gak temenin, siapa lagi yang mau nemenin, Mbak?
Mbak sendiri kakak, tapi gak punya hati.
Harusnya Mbak yang bimbing kami semua.
Karena Mbak pengganti orang tua buat kami adik-adik.
Aku ikhlas, Mbak, temenin Mbak Andira."
"Udah, Lia. Jangan diambil hati.
Aku tau kok kamu sama suami kamu baik ke aku sama Mas Renaldi,"
balasan dari Andira. Dia gak mau Lia ribut sama Imel.
"Halah, omong kosong kamu, Lia,"
balas Imel lagi. Tetep nyinyir.
"Mbak, aku ini adik Mbak. Berarti Lia juga adik Mbak.
Mas Renaldi kakak aku. Berarti Mbak Andira kakak aku juga.
Kita keluarga. Jadi udah sewajarnya saling jaga, Mbak,"
balasan dari Rendi. Dia jarang ngetik panjang, tapi kali ini dia ngetik.
Karena notifikasi di HP-nya masuk terus, Ikbal yang lagi kerja jadi penasaran.
Dia buka pesan grup WA itu. Dibacanya satu-satu.
Tanpa bales chat, dia langsung nelpon istrinya.
"Halo, Sayang. Udah, jangan dibales lagi.
Nanti jadi salah paham lagi," ucap Ikbal pelan.
"Diem, Mas! Kamu gak tau aja Lia itu licik!"
sambar Imel. Nadanya tinggi banget.
"Ya udah, aku cuma ngingetin aja,"
Ikbal langsung nutup telponnya. Dia cape.
Imel itu sifatnya keras. Dia maunya menang terus.
Apa yang dia bilang harus semua ngaku bener dan nurut.
Andira liat chat itu dari kamar. HP-nya getar terus.
Dia baca, terus HP-nya dia matiin. Dilempar ke kasur.
Dia jalan ke ruang tamu. Duduk di samping Lia.
"Mbak, maafin aku ya. Karena aku Mbak jadi disalahin,"
ucap Andira pelan.
Lia langsung geleng. "Jangan minta maaf, Ndir.
Kamu gak salah apa-apa. Yang salah Mbak Imel.
Mulutnya gak bisa dijaga."
Rendi noleh dari HP-nya. "Iya, Mbak. Bener kata Mbak Lia.
Kita temenin Mbak bukan karena beras.
Tapi karena Mbak keluarga. Keluarga itu gak ditinggal pas susah."
Andira langsung nangis. Dia peluk Lia.
"Makasih, Mbak. Makasih udah nganggep aku kakak.
Padahal aku gak bisa kasih Mbak keponakan."
Lia elus punggung Andira. "Udah, Ndir.
Anak itu rezeki. Yang penting kita masih punya satu sama lain."
Putri tiba-tiba lari ke kamar. Balik lagi bawa gambar.
Gambarnya: ada 5 orang pegangan tangan.
Ada tulisan pake crayon: "Tante Andira, Om Renaldi di Surga,
Mama, Papa, Putri, Tio. Kita keluarga."
"Tante, ini buat Tante. Biar Tante gak sedih,"
ucap Putri sambil nyodorin gambar itu.
Andira terima gambar itu. Diciumnya.
Air matanya netes ke gambar.
"Tante sayang Putri banget," bisik Andira.
Tio ikutan peluk kaki Andira.
"Tio juga sayang Tante. Nanti Tio jagain Tante."
Rendi dari jauh liat itu semua. Dadanya sesek.
Dia inget almarhum adiknya. Renaldi orangnya suka nolong.
Wajar kalo istrinya juga disayang semua orang.
Malamnya, Lia masak sayur asem sama ikan goreng.
Andira dipaksa makan 5 suap.
"Ndir, makan ya. Buat Om Renaldi juga.
Dia pasti mau liat kamu sehat," rayu Lia.
Andira nurut. Kunyah pelan. Air matanya jatuh ke nasi.
Abis makan, mereka sholat Magrib bareng.
Andira jadi imam. Suaranya gemetar, tapi tetep lancar.
Abis salam, Andira sujud lama.
"Ya Allah, makasih udah kasih aku keluarga baru.
Kuatin aku ya Allah. Aku janji jaga nama baik suamiku."
Rendi dari belakang bisik ke Lia, "Mbak, kita gak salah kan
mutusin tinggal di sini nemenin Mbak Andira?"
Lia geleng. "Gak, Mas. Ini yang Mas Renaldi mau.
Dia pasti senang liat kita kompak gini."
Sebelum tidur, Andira ke kamar.
Dia buka diary. Nulis lagi:
"Hari ini aku makan nasi goreng.
Gak seenak masakan Mas. Tapi rasanya sama: anget.
Karena dimasakin orang yang sayang aku.
Mas, aku gak sendirian.
Ada Mbak Lia, Mas Rendi, Putri, Tio.
Mereka gak gantiin Mas. Tapi mereka jagain aku
biar aku gak jatuh pas Mas udah gak ada.
Mas, aku janji. Aku akan kuat.
Bukan buat aku. Tapi buat jagain nama baik Mas."
Andira tutup diary. Dipeluk ke dada.
Terus dia tidur. Kali ini gak di lantai. Tapi di kasur.
Di sebelahnya ada boneka Putri. Dipinjemin.
"Biar Tante gak takut tidur sendiri," kata Putri tadi.
Di luar, Imel masih update status:
"Kasian. Janda mandul, hidup numpang."
Tapi Andira udah gak baca.
Dia udah blokir Imel dari semua sosmed.
Karena dia tau, cinta gak diukur dari status WA.
Cinta diukur dari siapa yang mau duduk di samping pas kita jatuh.
Dan sekarang, dia punya 4 orang itu.
Cukup.