Hai,
Ini merupakan karya pertamaku, mohon dukungannya ya dengan cara like, love, vote dan komen sebanyak-banyaknya.
Kasih juga ya hehehe.
❤️❤️❤️❤️❤️
Anyelir, gadis yatim piatu yang cerdas dan cantik. Tapi sayang nasibnya tak secantik rupanya. Ia harus rela mengubur impiannya untuk bekerja keras demi sang Nenek tercinta yang sedang sakit.
Kehormatan nya direnggut secara paksa oleh seseorang yang mempunyai pengaruh di tempatnya bekerja.
Ken, anak dari pengusaha kaya raya. Hidupnya tidak tenang, selalu dihantui rasa bersalah setelah malam kejadian ia merampas kehormatan salah satu karyawannya.
Elena, seorang gadis manis yang sangat hebat. Diusianya yang masih kecil ia memiliki bakat melukis serta bermain biola. Disamping kelebihannya, Elena merupakan gadis yang pendiam, saking diamnya sampai-sampai ia tidak mau berbicara. ia berkomunikasi dengan bahasa isyarat dan juga note book electric nya.
Akankah mereka bisa bersatu menjadi satu keluarga yang utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinjani Asa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Graduation
Pintu kamar Anyelir terbuka. Elena masuk dan menghampiri Anyelir.
"Cantik banget. Mamanya siapa sih ini?" ucap Elena sambil tersenyum, sedikit berkaca-kaca dan menggenggam satu tangan Anyelir.
Anyelir tersenyum mendengar pujian dari buah hatinya. Ia lantas mematut diri sekali lagi di cermin. Kebaya kutubaru merah dengan stagen dan rok jarik membalut tubuhnya. Anyelir memilih heels dengan detail strap simpel warna keemasan yang membuatnya makin jenjang.
Kebaya itu membalut tubuhnya bagai kulit kedua. Anggun, elegan tapi juga seksi. Perfect.
Tampak elegan dengan busana Nusantara, kebaya kutubaru dan rok jarik menunjukan cintanya pada tanah air.
Wajahnya menawan dalam sapuan make up tipis. Rambutnya digelung sederhana ditekuk dengan beberapa anak rambut berjatuhan alami membingkai pipinya. Anyelir tau dan menyadari bahwa ia tampak cantik, tapi mendengar Elena mengucapkannya dengan mata berkaca-kaca membuat matanya ikut berkaca juga.
"Thank you Sayang, anak Mama juga cantik," ucapnya sambil mengamati Elena yang memakai gaun selutut berwarna rose gold.
Anyelir sangat bersyukur dan bangga tentunya. Bisa sampai pada titik ini. Meski belum sempurna, tapi baginya tidaklah mudah melewati semua rintangan yang menemaninya apalagi semenjak neneknya meninggal.
Tentunya ia juga berterima kasih kepada buah hatinya. Karena Elena kekuatan bagi Anyelir. Kalau bukan karena Elena ia tidak akan berada di titik sekarang. Maka dari itu ia tak rela jika anaknya diterima hanya untuk disakiti.
***
Suasana di kampus sudah ramai. Auditorium sudah dipenuhi dengan mahasiswa-mahasiswa berjubah hitam. Elena dan Bibi Mary duduk di kursi undangan, sementara Anyelir yang telah memakai toga langsung melangkah menuju kursi wisudawan karena acara akan segera dimulai.
Acara dimulai dengan sambutan-sambutan. Saat perwakilan dari mahasiswa memberikan sambutan, mata Anyelir berkaca-kaca saat mendengar kalimat pertama yang diucapkannya.
Graduation is not the the end it's the beginning.
Awal dari sebuah cerita tentang masa depan, tentang mimpi, tentang perjalanan panjang yang berliku. Tapi dibalik itu semua selalu tersemat doa untuk kehidupan yang bahagia.
Satu persatu nama wisudawan dipanggil maju ke depan. Saat namanya disebut sebagai salah satu mahasiswa yang berhasil menyandang predikat cumlaude dengan IPK 3,9, senyum bangga terukir dibibir Anyelir. Lantas menular pada Elena dan juga Bibi Mary. Elena bahkan sampai melonjak dan meneriakan nama Anyelir.
Anyelir berdiri lalu melangkah ke depan diiringi tepuk tangan yang membahana. Rasa haru menyeruak dihatinya saat rektor memindahkan tali di topi toga-nya dari kiri ke kanan. Satu mimpinya tercapai. Ia sudah jadi sarjana dengan masa depan membentang.
"Congratulations Mama," ucap Elena menghampiri Anyelir sambil membawakan satu buket bunga.
"Thank you Nak," jawab Anyelir lalu meraih tubuh Elena untuk didekapnya dengan erat.
Bibi Mary pun memberikan ucapan selamat kepada Anyelir.
"Selamat atas kelulusannya Nona. Semoga ilmu yang Nona dapat bisa bermanfaat bagi orang banyak. Dan semoga masa depan Nona dan Elena selalu diiringi senyuman bahagia."
Bibi Mary lalu menghambur memeluk Anyelir dengan Elena berada ditengah-tengah mereka. Untuk beberapa saat mereka menangis haru.
"Sudah ah jangan nangis terus. Lebih baik kita foto-foto," ucap Elena sambil melepaskan diri dari dekapan kedua wanita dewasa itu.
Berhubung antrean di stand foto resmi masih panjang, maka mereka memutuskan untuk foto-foto sendiri dulu.
Saat sedang foto-foto tiba-tiba terdengar suara yang sangat familiar ditelinga mereka bertiga.
"Congratulations mamanya Elena," ucap Ken sambil menyerahkan satu buket bunga mawar merah dan boneka beruang lengkap dengan toga-nya.
Mereka bertiga kompak menoleh ke sumber suara.
"Papa!" Teriak Elena senang karena Ken menepati janjinya akan datang saat acara wisuda Anyelir.
"Thanks." Anyelir menerima buket bunga dan boneka dari Ken. Tapi karena Anyelir juga sedang memegang buket bunga pemberian Elena, maka dengan berinisiatif Elena mengambil boneka beruang itu.
Ken mengangguk lalu mengulurkan tangannya pada Anyelir. Anyelir menerima uluran tangan Ken.
"Ayo Ma Pa, kita foto-foto." Elena menggandeng tangan Ken dan Anyelir menuju stand foto yang sudah mulai sepi.
Anyelir, Elena, dan Bibi Mary sudah menempatkan diri di posisi masing-masing untuk siap di foto. Sedangkan Ken berdiri di dekat fotografer.
Fotografer yang melihat Ken berdiri di dekatnya pun bertanya.
"Kenapa berdiri di sini, ayo gabung itu lihat anakmu sudah menunggu," ucap sang fotografer.
Ken melihat ke arah mereka bertiga, dan benar saja Elena sedang melambai ke arahnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Papa sini, kenapa berdiri di sana?"
Ken pun bergeming. Ia sadar diri. Ia bukan bagian dari mereka. Ia hanyalah papa kandung Elena yang belum diakui oleh negara.
Karena melihat anaknya yang cemberut dan terus-terusan memanggil Ken, maka Anyelir pun memandang Ken lalu mengangguk, menandakan ia memperbolehkan Ken bergabung bersamanya untuk berfoto.
Setelah mendapat persetujuan Anyelir, Ken lantas menghampiri mereka bertiga. Ia memilih berdiri di samping kanan Elena, sedangkan Anyelir ada di samping kiri Elena. Bibi Mary ada di sebelah Anyelir.
Setelah beberapa kali jepretan, Elena pindah tempat, berdiri ditengah-tengah Anyelir dan Bibi Mary. Jadi sekarang posisinya Ken berada tepat disamping Anyelir.
Setelah mendapatkan tiga kali jepretan pada pose kedua, Elena pun lantas menyuruh Bibi Mary untuk tidak ikut foto terlebih dulu. Elena hanya ingin foto bertiga dengan mama dan papanya.
Dalam foto bertiga itu hanya senyum Elena yang terlihat cerah dan lebar. Sedangkan Anyelir dan Ken terlihat sangat jelas senyum kakunya.
"Sekarang Mama dan Papa foto berdua ya,"ucap Elena sambil berlari ke arah fotografer.
Fotografer lalu mengarahkan gaya untuk Anyelir dan Ken. Karena gaya mereka terlihat kaku, maka sang fotografer bertanya kepada Elena.
"Mereka mama dan papa kamu kan? Kenapa tingkahnya seperti abg yang baru kenal lawan jenis."
"Udah foto aja Uncle yang banyak ya," ucap Elena.
Sesi foto telah selesai, kini mereka bertiga Anyelir, Ken dan Elena sedang berada di taman. Setelah makan siang tadi Bibi Mary pulang duluan.
Elena meminta kedua orang tuanya untuk menemaninya melukis di taman. Elena ingin melukis kedua orang tuanya yang sedang duduk dengan tangan mereka yang saling memeluk pinggang dan kepala Anyelir disandarkan di bahu Ken.
Sebenarnya baik Anyelir maupun Ken menolak saat Elena mengutarakan keinginannya ini. Tapi karena melihat mata Elena yang berkaca-kaca maka keduanya pun hanya bisa pasrah dengan gaya arahan buah hati mereka.
"Sudah belum Sayang? Mama pegel nih," keluh Anyelir.
"Belum. Mama rileks aja biar enggak pegel," jawab Elena.
"Kenapa enggak di foto aja, nanti kamu tinggal lihat foto itu saat melukis," ucap Anyelir lagi.
"Hasilnya nanti enggak sempurna Ma. Udah deh Mama nikmatin aja pelukan sama Papa. Papa aja dari tadi menikmati, iya kan Pa?"
Ken menghembuskan pelan nafasnya.
"Kamu tidak tau Sayang, dari tadi Papa menahan pegel dan jantung Papa rasanya mau copot karena terlalu cepatnya berdetak," gumam Ken dalam hati.
❤️❤️❤️
Terima kasih yang sudah setia membaca, like dan komen.
Sampai ketemu di bab selanjutnya 😘😘
extra part-nya yg byk thor