Bagaimana rasanya dibesarkan ayah tunggal yang kurang perhatian?
Hidup Eldrey adalah jawabannya.
Lahir dari latar adidaya, membuatnya tidak tahu arti keluarga. Terlebih dengan sepak terjangnya sebagai bekas orang rumah sakit jiwa, sosoknya pun jadi dipoles sedemikian rupa.
Namun dia tetaplah boneka. Cantik tapi tak bisa diraih perasaannya. Sampai pesonanya pun berhasil mengusik hati para lelaki yang tak dianggapnya.
Jadi, akankah para pemuja itu mampu meluluhkannya? Mengingat Eldrey ternyata menderita sakit mental dalam menjalani kehidupannya.
IG : miqaela_isqa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isqa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemanan
Malam yang dingin dengan gemerlap cahaya lampu di jalanan, mencoba berusaha menerangi langkah kaki Dean yang memasuki sebuah tempat penuh kebisingan.
Sextoria Nightclub, club yang hanya bisa dimasuki oleh yang berumur 16 tahun ke atas di antara semua nightclub dan ia pun menjatuhkan pilihannya di sana. Itu bukanlah pilihannya, melainkan nightclub yang pernah didatangi Ramses dan lainnya, sehingga kapan pun itu akan menjadi pilihan terbaik bagi mereka untuk berkumpul di sana.
Kelap-kelip lampu, suara musik yang menghentakan dada dan telinga, lawan jenis yang merayu menggoda, tebaran manusia dan tariannya, aroma alkohol, rokok, obat-obatan, semuanya bercampur aduk di tempat itu.
“Woi Yan!” panggil Ramses sambil memukul punggung Dean yang baru saja menginjakkan kaki di lantai club. Ramses sudah datang duluan dan menunggunya di dekat pintu masuk.
“Ayo masuk! Aku sudah pesan tempat!” ajak Ramses sambil berbisik padanya.
Dean hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki Ramses ke lantai tiga, mereka berdua memasuki ruang VVIP yang sudah dipesan Ramses.
Sesampainya di sana, Dean hanya menatap sekeliling VVIP Room itu. Ia duduk di sofa dan membuka mulutnya, “Rams, bisakah kau pesankan aku air putih?” tanya Dean.
“Apa kau gila?! Air putih? Di sini?!” pekik Ramses sambil menunjuk minuman khas nightclub yang sudah berdiri indah di meja.
“Apa kau sadar perjuanganku untuk memesan ini?!” oceh Ramses padanya.
Dean hanya diam menatapnya, ia tak mempedulikan ocehan Ramses dan malah berbaring di sofa.
“Kita ada di tempat yang salah,” sahut Ramses padanya sambil menghela napas kasar. Ia pun meminta bar waiter untuk membawakan air putih dan cola, sehingga bar waiter itu pun meninggalkan VVIP Room tersebut.
“Ada apa denganmu?” tanya Ramses heran.
Dean masih tidak menjawabnya, ia hanya menatap kosong ke arah dinding di depannya. Ramses semakin gila dengan ulah temannya yang menyebalkan itu.
“Aku akan bertunangan,” sejurus kalimat itu meluncur dari bibir Dean dengan wajah datar.
“Heh! Bukankah itu bagus? Walaupun kau masih muda! Tapi setidaknya kau dan Erin pasti bahagia,” sahut Ramses tanpa bertanya terlebih dahulu kebenarannya.
Dean menggerakkan wajahnya sedikit agar bisa menatap Ramses dengan benar, “aku tidak akan bertunangan dengan Erin.”
“Apa?” Ramses membalas tatapannya, “apa maksudmu?” sambungnya.
“Aku akan bertunangan dengan orang lain,” jawabnya.
Ramses terdiam, tatapannya yang tadinya biasa saja berubah menjadi sedikit tajam. Sudut matanya memperlihatkan kejengkelan, “dengan siapa?”
“Diana.”
“Diana? Siapa itu?!” tanya Ramses penasaran dengan penjelasan singkat Dean yang plin-plan.
“Putri rekan kerja papaku,” sahutnya.
Mendengar itu sudut hati Ramses sedikit merasa lega, ia waswas bagaimana jika seandainya nama seseorang yang disukainya di sebut Dean? “Lalu bagaimana dengan Erin?”
“Aku tak tahu,” pandangan Dean sedikit teralihkan menatap bar waiter yang memasuki ruangan itu sambil membawa pesanan tambahan Ramses. Setelah itu, bar waiter pergi meninggalkan mereka.
“Apa maksudmu tidak tahu?! Kau ini menyukai Erin atau tidak?!” tanya Ramses mulai jenuh.
Dean hanya diam, tak ada jawaban darinya. Hanya pandangan kosong yang didapatkan Ramses sebagai jawaban atas pertanyaannya.
“Kau ... Apa kau tidak menyukainya?!” tanya Ramses dengan nada mulai serius.
Ramses benar-benar jengkel dengan temannya itu, apa sesusah itu menjawab pertanyaannya? Tapi, tanpa Dean menyebutkannya pun Ramses sudah bisa menebak dari wajahnya, seperti itulah Dean. Tampang coolnya memiliki ekspresi yang mudah dibaca saat ini.
“Dean! Kau! Kau benar-benar brengsek!” bentak Ramses. “Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan?! Kau mempermainkan hati seseorang!”
Masih tidak ada jawaban dari Dean.
“Kalau kau memang tidak menyukainya, kenapa kau menerimanya?! Erin adalah temanmu! Pacarmu! Dan sekarang kau menghancurkannya!” teriak Ramses tak henti-hentinya. Emosinya menggebu-gebu, seolah ingin memukul wajah Dean yang terbaring diam itu, tak pernah dia sekesal itu padanya.
Bagaimanapun juga, Ramses adalah salah satu saksi bisu yang mengetahui perjuangan keras Erin dalam mendekati dan berusaha mendapatkan Dean. Ia bahkan tidak segigih Erin untuk mendapatkan Alice, karena itulah dirinya tidak bisa menerima perlakuan Dean pada Erin, karena bagaimanapun juga mereka berteman.
Dean hanya diam memperhatikan Ramses yang mengoceh kesal padanya, ia seolah tak bertenaga untuk membalas perkataan Ramses karena bagaimanapun juga memang begitulah kenyataannya.
Dirinya tak pernah sekalipun mencintai Erin. Alasannya menerima Erin sebagai kekasih, hanyalah karena rasa iba atas perjuangan Erin selama ini padanya. Terlebih keberanian Erin yang menyatakan perasaannya pada Dean di depan teman-temannya, menjadi beban tersendiri bagi Dean.
Ia kasihan padanya, bagaimana jika seandainya Erin ditertawakan karena perjuangannya yang sia-sia akan membuatnya malu dan menjadi bahan hinaan? Bagaimanapun juga, mereka adalah teman, alasan itulah yang mendasari Dean menerima keberadaan Erin sebagai kekasihnya, hanya itu.
Dean memang brengsek, ketidak tegasannya itu akan menimbulkan masalah nantinya. Tak hanya itu, Dean bahkan sempat melakukan kesalahan fatal di malam saat Erin baru saja menyandang status sebagai pacarnya. Kesalahan yang hanya disaksikan Eldrey sambil tersenyum, dengan memperlihatkan tatapan sindirannya saat itu.
Ramses tidak tahu harus berkata apalagi, bahkan jika ia tahu Dean mencintai Erin atau tidak sekalipun, pertunangan Dean akan tetap terjadi karena itu adalah keputusan papanya. Ramses juga mengenal baik latar belakang Dean dan sudah tahu seperti apa tabiat keluarganya. Bagaimanapun juga, pertemanan mereka berdua tidaklah sekedar setahun dua tahunan.
Walau begitu, pertemanan antara Alice dan Dean terbilang lebih lama darinya, sehingga terkadang hal itu mampu membuatnya iri.
Lingkaran pertemanan yang dibubuhi rasa suka dan cinta memang menyedihkan, inilah salah satu buktinya.
“Jadi apa yang akan kau lakukan?” tanya Ramses pada Dean dengan emosi yang sudah sedikit lebih tenang.
“Aku tidak tahu.”
“Kau tidak tahu? Jadi, apa kau mengajakku bertemu malam ini untuk memberimu solusi? Atau hanya mendengar curhat kejimu yang lebih banyak diam itu?” sahut Ramses blak-blakan.
Dean hanya menghela napas tanpa memberikan jawaban, ia buntu tidak tahu harus melakukan apa, di satu sisi ia memiliki teman sekaligus kekasih yang sama sekali tidak dicintainya, di satu sisi ia akan bertunangan dengan gadis asing pilihan papanya yang tidak bisa ditolaknya, di sisi lain ia juga memiliki seorang teman yang ia sukai namun belum bisa menjadi miliknya sepenuhnya.
Jadi, apa yang harus ia lakukan?
Dean menggeser tubuhnya dan menatap langit-langit VVIP Room itu. Sekarang ia seperti anak muda yang tak punya tempat bergantung saat ini kecuali bersandar pada temannya.
Ramses hanya menatapnya, menanti jawaban yang kunjung tak ia dapatkan. Perlahan-lahan ia membuka mulutnya, “Dean, aku hanya akan bertanya satu kali padamu, karena itu cobalah jujur padaku,” tukasnya.
“Apakah kau menyukai Alice?” tanya Ramses sambil menatap lekatnya.
Dean tetap tenang tak menjawab. Tapi, matanya berkedip seolah mengeluarkan pandangan kaget ke arah langit-langit VVIP room saat mendengar pertanyaan Ramses.
“Dean!” teriak Ramses, ia berdiri dan menghampiri Dean yang berbaring. Seketika dicengkeram erat kerah baju Dean dengan ekspresi marah yang tertahan.
“Kau benar-benar brengsek Yan! Brengsek!” teriaknya.
Dean pun tersenyum, “kenapa kau semarah itu? Apa akan jadi masalah jika aku memang menyukai Alice?” pungkas Dean.
Ramses semakin geram dengan perkataan Dean yang seolah memprovokasinya, tangannya masih mencengkeram erat kerah baju itu seolah ingin merobeknya.
“Ah ... Benar juga, apa kau cemburu?” tanya Dean seolah tak peduli seperti apa tatapan Ramses padanya saat ini.
Ramses bisa merasakan aliran darahnya yang memanas, tanpa pikir panjang ia langsung menarik kerah baju Dean sehingga badannya yang tertidur sedikit terangkat.
Dan ternyata ....
“Buaakkh!!”
Suara dari bogem mentah yang tiba-tiba dilayangkan Ramses ke sudut bibir Dean pun menimbulkan luka dan darah.
Ramses melepaskan cengkeramannya dengan menghempaskan tubuh Dean ke sofa. Dean yang hanya terdiam dengan perlakuan kurang ajar Ramses pun mulai tertawa.
walaupun agak berat isi ceritanya...
sejauh ini cukup menghibur sekali
good job, Thor...?!
dah lah van, hancurkan aja semuanya
Mksih kak udah ubek ubek perasaanku di cuaca mendung ❤️❤️❤️,,
Jadi mager kan 🤭
nyesek sih bikin mereka pada kayak gitu, tapi itulah arti dari judulnya.
Jujur aku gak tahu gimana sensasi yg dirasakan readers saat membaca, tapi semoga kalian terhibur, maaf banget kalo aku bkin ny kadang kurang mendetail, takutnya trnyata risetku salah, atau takutnya ada mengandung unsur gimana2.
lain kali aku bakalan bkin novel yg gk tragis lagi deh, 👍🏿
oh ya ini IG otor 👉🏿 miqaela_isqa
Nantiin ya karya otor selanjutnya, genre romansa komedi sih, moga2 bab ny gak panjang 👍🏿 terus dukung ane y para readers, sampai jumpa lagi di bulan baru. Babay 🙌🏿😚
Tegang hati aku thor 😍