Cinta Adharra dan Rafael sudah terjalin saat mereka masih kecil. Usia keduanya yang terpaut beberapa tahun dan masalah silih berganti datang menguji cinta keduanya. Terlebih setelah kesalahan besar yang Rafael lakukan membuat Adharra goyah dalam kekecewaan. Walaupun saat bersama Rafael membuatnya lemah dan terluka tapi dia tidak bisa berhenti mencintainya, dia telah terjebak dalam cinta Rafael.
Akankah mereka bisa mempertahankan kisah asmaranya? Simak ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shinbisar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Arra berlari bersamaan dengan teman-teman sekelasnya saat bell istirahat dibunyikan. Dengan menenteng dua kotak bekal yang dibuat langsung oleh Angga-kakaknya.
Mereka semua lekas berjalan menuju taman yang sudah tersedia meja lengkap dengan kursinya.
Membuka satu persatu bekal yang dibawa, lalu mencicipi bersama-sama. "Aku suka makanan punya Arra, besok-besok bikinin lagi ya." pinta Feli sambil terus menyuapkan sepotong kecil empal jagung ke mulutnya.
"Iya boleh, nanti Arra bilang ke abang Angga lagi. Arra juga suka banget, gorengan ini," Senyum Arra mengembang tak kalah ceria dengan teman-temannya yang kini berebut hendak mencicipi bekal yang di bawa gadis kecil nanti imut itu.
***
Beberapa bulan berlalu dengan cepat, dan kini tiba diakhir kelulusan sekolah dengan perjuangan yang cukup sulit saat menghadapi ujian nasional dan ujian lainnya. Akhirnya terbayarkan dengan selembar ijazah yang baru saja dibagikan.
Rafael tersenyum dengan angka yang tertera di kertas ijazah nya. Namun tak lama kemudian raut wajahnya berubah seketika menjadi muram.
"Ini terlalu cepat. Aku belum sanggup kalau harus berpisah dengan kamu baby," gumam Rafael sendu.
Tak bisa membohongi dirinya sendiri. Ia memang tak bisa jika harus berjauhan dengan gadisnya.
"Woy bro, ngapain tuh muka masam gitu, harusnya lo tuh seneng udah tamat sekolah," tanya Jion siberandalan. Wajah songong nya tersenyum cengengesan, ini yang selama tiga tahun mengabdi dibanggku SMA yang ditunggunya, selembar ijazah!
"Berisik! Yon," sentak Rafael sebal.
"Huh akhirnya gue bebas. Gak ada yang namanya PR sekolah lagi," teriak Jion menjadi-jadi. Euforia kelulusan yang melegakan bagi pria badung itu.
***
Hari minggu pagi, Rafael bertamu tanpa mengenal waktu. Ia duduk di sofa ruang keluarga, bibirnya sekilas membentuk garis senyum tertahan saat menatap wajah Arra yang sedang serius menonton TV.
Kini ia tidak bisa seperti biasanya lagi bertemu dengan Arra. Mulai sekarang semuanya akan berbeda, dan yang tak diinginkan Rafael pun cepat atau lambat akan terjadi. Ia harus melanjutkan studinya dengan meninggalkan tanah air.
Sebelum keberangkatannya yang masih seminggu lagi. Rafael menyempatkan untuk menghabiskan waktunya bersama gadis kecil itu.
"Baby, mau main apa?" tanya Rafael menatap lekat Arra.
Arra nampak berfikir lalu tersenyum. Terbesit ide nakalnya yang akan mengerjai kakaknya-Angga. "Kira-kira kak Tita sibuk nggak bang Rafa?" celotehnya berbicara memandang wajah Rafael.
"Arra mau main sama kak Tita hmm?" tanya balik Rafael. Ia bahkan mengetukkan jarinya di dagu tanda sedang berpikir. "Mungkin sekarang sibuk."
***
Silvana, dan bu Ayu saling bahu-membahu membersihkan rumput di halaman belakang rumah. Kedua wanita paruh baya itu, akan membuat kebun sayur kecil dengan vot plastik.
Lain hal dengan Tita yang kini sedang berkutat tepung dan telor di dapur. Ia akan membuat aneka cemilan manis dan gorengan untuk penghuni rumah.
"Emm, rasanya enak, tapi kurang asin," gumam Tita merasai masakannya sendiri. Diraihnya gelas kecil yang berisi garam dan bumbu lainnya, lalu menuangkan bumbu itu ke dalam masakannya lagi.
Arra turun dengan tergesa dari mobil. Membuka pintu belakang, lalu menarik lengan sang kakak yang masih berada di mobil, dan mengajaknya turun. "Ayo bang cepat keluar," seru Arra menarik-narik tangan Angga.
Rafael mengekor masuk ke dalam rumah. Menyusul Arra yang terus menggaet kakak nya menuju dapur.
"Kak Titaaa! Halloo...," panggilnya berteriak lantang.
Silvana yang berada di halaman belakang pun sampai menajamkan telinganya saat mendengar teriakan anak kecil. "Anak nakalnya mamah datang," ucap Silvana berdiri.
"Ayu, saya mau ke depan. Kamu lanjutkan pekerjaan ini ya, nanti saya balik lagi." ucap Silvana lagi.
"Iya, bu." Sahut Bu Ayu.