Syakira Anandita. Gadis cantik berusia dua puluh tiga tahun, rela bekerja menjadi apa saja demi menghidupi diri dan adiknya-Jonathan.
Sepuluh tahun lalu, ibu yang menjadi sandaran satu-satunya harus menghadap Sang Ilahi setelah melahirkan Jonathan, sedangkan sang ayah entah di mana rimbanya.
Hadirnya dua lelaki merubah perjalanan hidup Syakira. Sedih, tangis dan tawa mewarnai hari-harinya.
"Aku memang tak pandai mengungkapkan rasa cinta, tetapi izinkan aku menjagamu semampu dan sepanjang usiaku." Edric Michael Anderson.
"Bertemu denganmu adalah takdir, menjadi temanmu adalah pilihanku, tetapi jatuh cinta padamu di luar kendaliku." Alex Gavin Diaz.
Namun, Syakira, Edric dan Alex harus sama-sama menelan pil pahit karena sebuah kenyataan yang membuat mereka enggan mengenal cinta kembali.
Apa yang sebenarnya terjadi dan siapakah yang menjadi pelabuhan terakhir cinta Syakira?
Daripada penasaran, simak ceritaku, yuk!😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suci Komala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling Curhat, Sama-sama Patah Hati
Saat memasuki kamar mandi, Syakira baru menyadari jika dirinya membuka baju yang sekarang ia kenakan, tidak ada baju lain sebagai ganti.
Akhirnya ia membelitkan handuk di tubuhnya dan hendak keluar kamar bermaksud mencari Edric.
Baru saja memegang handle pintu, daun pintu itu ada yang mendorong dari luar.
"Pakai bajuku dulu. Sebentar lagi semua bajumu akan datang," tutur Edric.
"Baiklah, terima kasih."
Baju Edric sudah dikenakan dan rambut pun sudah Syakira keringkan. Gadis itu keluar kamar dan mencari keberadaan Edric.
"Ke mana pria itu?" gumam Syakira sembari menyapu pandangannya ke setiap ruangan.
"Cari siapa Nyonya?"
"Tuan Edric, Bi," sahutnya, "oh iya, jangan panggil aku Nyonya, panggil saja Syakira," sambungnya sembari senyum.
Asisten rumah tangga yang disebut 'bibi' itu menolak. Ia pasti akan dimarahi Edric habis-habisan jika memanggil tamu tuannya dengan sebutan nama.
"Tuan sedang menunggu Anda di ruang makan. Mari, ikut saya, Nyonya."
Tiba di ruang makan Syakira disambut dengan berbagai menu makanan yang menggugah selera.
"Waaah! Sepertinya enak," ujar Syakira dengan mata berbinar.
"Duduk dan makanlah!" titah Edric.
Mereka berdua menikmati makan siang. Tak ada kata yang terucap, hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring yang terdengar. Namun, tiba-tiba saja ia teringat bahwa dirinya belum mengabari keluarganya. Ia menyudahi ritual makannya dan beranjak.
"Mau ke mana? Habiskan dulu makanmu!" titah Edric.
"Maaf, aku akan berkabar dengan adikku dulu, dia pasti cemas." Syakira berlalu dari hadapan Edric.
Di kamar, Syakira duduk di tepi ranjang. Ia meraih tas dan merogoh ponselnya di dalam sana.
Sejenak gadis itu berpikir. Kepada siapa dirinya akan memberi kabar kepada Jonathan. Otaknya mengingat satu nama, Alex.
Jemari lentiknya mengusap layar ponsel dan mencari nama Alex. Ada keraguan dalam diri untuk menghubunginya. Akan tetapi harus tetap ia lakukan.
Syakira menarik napasnya dalam-dalam. Ponsel pun ia mulai tempelkan di daun telinganya.
"Halo, Sya," sapa Alex dengan suara khas bangun tidur.
Gadis itu memejamkan mata, merasa canggung untuk berucap, bibirnya terasa kelu.
"Sya ... halo! Ada apa? Cepat katakan!"
"Eh! Ma-maaf, Kak. Tidak ada apa-apa, kok. Sya hanya mau minta no-nomor ponselnya Pa-pa Diaz, bo-boleh," ucap Syakira ragu.
"Kakak pikir ada apa, sampe malam-malam telepon, Sya," tuturnya lega.
Syakira meminta maaf kepada Alex karena sudah mengganggu tidurnya. Ia lupa jika di sana masih malam. Gadis itu pun menceritakan kenapa dirinya sampai menghubungi sang kakak.
"Tidak apa. Em ... kamu sudah tahu kalau kita adik-kakak, Sya?"
Syakira menghela napas. "Sudah."
"Lalu?"
"Mau gimana lagi, Kak. Kenyataannya seperti ini." Bulir bening tak terasa menetes di kedua pipinya.
"Kakak sengaja, kan, pergi ke Amerika untuk menjauhi, Sya?" tanya sembari terisak.
Alex tidak mampu berkata karena memang kenyataannya seperti itu. Tepatnya bukan untuk melupakan Syakira, tetapi menenangkan hati dan mencoba menghapus segala rasa yang selama ini ternyata salah.
Syakira mengembuskan napasnya kasar seraya berkata, "Sya tunggu nomor papa."
Ia memutuskan sambungan telepon sepihak lalu melemparkan ponselnya ke atas kasur. Badannya luruh ke lantai dan menangis tersedu.
Tanpa Syakira sadari ternyata Edric menyaksikan semuanya. Matanya terus terkunci kepada gadis itu. Seketika rasa ingin menjaga dan menyayangi muncul dari hati Edric.
Setelah merasa puas mencurahkan rasa dengan menangis, ia kembali berdiri dan meraih ponsel sembari mengusap ari mata yang tak henti menetes.
Syakira menarik napas dalam dan mengembuskan perlahan. Alex rupanya sudah mengirimkan nomor sang papa dan gegas ia memberi kabar kepada Diaz.
Ketukan pintu membuat Syakira mengalihkan pandangan dan cepat mengusap kembali air matanya yang tak henti terjun bebas.
"Hahhh! Cengeng juga ternyata," ejek Edric sembari duduk di sofa.
Syakira merespon perkataan Edric hanya dengan mendelik dan mengangkat kedua bahunya. Ia paling benci jika ada orang tahu jika ia sedang menangis.
Pintu kembali diketuk, rupanya lima orang asisten membawa banyak baju, tas dan keperluan wanita lainnya.
"Simpan semua pada tempatnya!" titah Edric.
Syakira hanya melongo melihat orang-orang menata pakaian juga lainnya.
"Untuk siapa itu semua? " tanya Syakira sembari menghampiri Edric.
"Tentu saja untukmu."
"Astaga! Kau memindahkan butik ke sini?"
"Ganti bajumu, aku merasa aneh dengan pakaianku sendiri setelah dipakai olehmu."
"Kenapa?" tanya Syakira sembari mengerutkan kening.
"Kemarin bajunya rata, tapi kok .. ketika kamu yang pakek kenapa jadi ada tonjolan di atas dan bawah, ya?" tutur Edric sembari memperhatikan.
"Tonjolan atas dan bawah?" gumam Syakira sembari melihat bagian d*da dan bokongnya.
"Astaga! Dasar mesum!"
Gadis itu mengejar Edric yang sudah lari meninggalkan kamar. Terdengar tawa nyaring dari pria bertubuh jangkung itu di telinga Syakira.
Tak mau ambil pusing, Syakira kembali ke kamar dan merebahkan diri di kasur. Setelah menangis tadi, matanya terasa pedih, pun kantuk menyerang.
Di kamar lain, Edric menggeliatkan tubuhnya di kursi kerja. Ia melihat jam yang ada di dinding menunjuk pada pukul empat sore. Dirinya beranjak hendak mencari Syakira untuk membantunya merapikan file.
"Sepi, ke mana gadis itu?" gumam Edric dengan mata menyapu ke tiap ruangan.
Langkah kakinya menuju ke kamar Syakira.
"Ya, Tuhan. Dia tidur, tapi pintu tidak ditutup, dasar!"
Edric ikut merebahkan diri di samping Syakira. Tangannya menepuk pelan pundak Syakira.
"Heh, bangun!"
Tidak ada respon.
"Wooyyy, banguuunn! Kebakaraaann!" teriak Edric di telinga Syakira.
"Hmm ... bentar Jo, Kakak masih ngantuk," gumam Syakira dengan mata masih terpejam.
Ternyata Syakira membalikkan badan menghadap Edric dan tangan itu terulur membelit pinggang Edric.
Pria itu tercengang sekaligus menikmati pelukan Syakira. Ia mencoba melepaskan, tetapi Syakira bergumam.
"Biarkan seperti ini."
"Oke!"
Edric mencoba ikut memejamkan matanya, tapi sulit. Bagaimana bisa ia tidur sedangkan otaknya merasa terganggu karena lagi-lagi d*da Syakira bersentuhan dengan kulitnya.
Ya, Tuhan. Jaga aku agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan. Aarrrggh! Batin Edric serba salah.
Pria itu akhirnya melepas paksa dan beranjak. Ia mengambil bantal dan memukulkannya pada bokong Syakira.
BUGH!
Syakira terbangun. Akan tetapi pukulan pada bokongnya terus berlanjut.
"Astaga! Apa yang kau lakukan, hah!" bentak Syakira.
"Kau ini tidur atau mati? Aku bangunkan dari tadi!"
Dua anak manusia itu kembali berseteru. Adu pukulan bantal pun terjadi hingga akhirnya mereka merasa lelah dan keduanya terbaring di atas kasur dengan tawa dari keduanya.
"Kau mau apa membangunkan aku? tanya Syakira dengan napas terengah.
"Bantu aku merapikan file untuk meeting besok. Udah itu kita jalan, keliling kota Bali, bagaimana?"
"Oke! Kalau begitu aku mandi dulu." Syakira beranjak dan masuk ke dalam kamar mandi, pun dengan Edric keluar dari kamar Syakira.
Ritual mandi selesai.
Syakira memilih baju yang sekiranya cocok untuk ia pakai. Ia memilih kaos yang dipadankan dengan celana jeans dan di dobel dengan sweater rajut berwarna pink.
Ia mematut di depan kaca meja rias sembari membubuhkan make-up pada wajah cantiknya.
"Sempurna!" gumamnya.
Kaki jenjang itu Syakira langkahkan menuju kamar Edric.
Tangannya mengetuk daun pintu saat tiba di depan kamarnya.
Tidak lama berselang, Edric membukakan pintu untuknya. Pria itu menunjuk satu ruangan agar Syakira masuk ke dalam sana.
Mereka dengan khusyuk mengecek kembali beberapa dokumen yang diperlukan besok. Sungguh satu kesatuan yang kompak pula dalam urusan pekerjaan. Syakira yang baru saja masuk kerja bahkan tidak berpengalaman sama sekali malah terlihat seperti seorang yang sudah expert dalam bidangnya.
Tepat pukul 17:30 mereka selesai dengan urusan dokumen. Saatnya menikmati suasana malam kota Bali.
"Wah, ada kamera. Punya siapa ini?" tanya Syakira.
"Punyaku."
"Bawa ini! Siapa tau ada tempat yang bagus untuk kita berswafoto nanti."
Edric hanya mengangguk pertanda setuju.
"Eeh, sebentar. Aku coba dulu," tutur Syakira sembari membidikkan kamera ke arah Edric, "senyum, dong!" titahnya.
Edric tak mau kalah. Ia membidikkan kamera ponselnya ke arah Syakira.
Mereka memperlihatkan hasil jepretan masing-masing, keduanya saling memuji.
"Cantik," ucap Edric.
"Tampan. Aku suka lelaki berbaju hitam," tutur Syakira.
Tanpa Syakira sadari, pujiannya membuat hati Edric senang.
***
Pukul tujuh malam, mereka tiba di tempat wisata malam, Tukad Badung. Sungguh pemandangan yang indah, mereka disuguhkan oleh lampu warna-warni disepanjang sungai yang terus menyala sepanjang malam.
"Waaaahh! Indah sekali," ucap Syakira.
Dua insan itu memilih duduk di pinggir sungai. Syakira tak hentinya mengambil gambar dengan kamera yang ia bawa.
Angin menyapa wajah Syakira, menyibak rambut panjangnya. Netra Edric terus menatap seolah terbius oleh cantiknya wajah sang asisten.
"Oh iya, Tuan. Aku tidak pernah melihat lagi pacarmu, ke mana dia?" tanya Syakira.
Pertanyaan Syakira membuat Edric tersadar dan memalingkan muka.
"Hubungan kami sudah berakhir," sahut Edric.
Edric pun menceritakan semua yang terjadi, bahkan kembali meminta maaf kepada Syakira atas sikapnya waktu lalu yang membuat gadis itu celaka. Malas sebenarnya untuk mengungkit tentang Helena. Akan tetapi, entah mengapa Edric merasa tenang setelah mencurahkan segala isi hati kepada Syakira.
"Lalu, kau sendiri bagaimana, setelah tahu jika Alex adalah kakakmu?" tanya Edric.
Syakira menarik napas panjang dan mengeluarkannya dari mulut. "Tentu saja hatiku merasa sakit. Cinta pertamaku ternyata untuk kakakku sendiri."
"Kau tahu? Dia sudah mengajakku menikah, tentu hal itu membuatku senang. Bahkan aku meng-iyakan ajakannya di depan papanya yang tak lain papaku sendiri," sambungnya lagi.
Lagi, Syakira mencurahkan segala rasa. "Sesakit ini, kah, mencinta? Cinta sudah membuatku enggan untuk membuka hati lagi untuk pria manapun. Aku takut!"
Edric menepuk pundaknya untuk dijadikan Syakira sandaran. Tanpa pikir panjang, gadis itu menyandarkan kepalanya.
"Dan ternyata kita juga sepupu," ucap Edric.
Syakira mengangguk.
Obrolan hangat terjadi diantara mereka. Tak ada lagi rasa canggung dan jarak. Syakira yang menikmati perlakuan Edric karena dalam pikirannya pria itu adalah sepupunya.
Berbeda dengan pria itu. Ia mengakui bahwa Syakira adalah sepupu, tetapi hatinya berkata bukan. Ada sesuatu yang membuat dadanya bergetar. Namun, dengan cepat Edric menepis. Ia pun akan menutup hatinya untuk makhluk bernama perempuan. Ia butuh sendiri, menyelami dasar hatinya. Pria juga punya hati, bukan? Bisa tertawa dan menangis karena cinta, bisa menutup hati sama seperti halnya perempuan, pikir Edric.
SheRaz suka smaa ceritanya🤗🤗🤗🤗🤗