Hidup dalam kemiskinan memang membuat kita sering kali terjebak dan tak bisa berkutik. setiap kali ingin bangkit, ada saja badai yang menghalangi.
ini adalah seorang anak yang berjuang membantu perekonomian keluarga nya menjadi lebih baik. tak henti henti nya Ali bangkit dari badai yang menerpa nya.
bagaimana kisah nya, apakah Ali akan berhasil membawa keluarga nya terbebas dari kemiskinan tersebut..... ikuti kisah Ali disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.26
Besok adalah hari yang paling Ali tunggu tunggu. dia akan mengikuti lomba olimpiade antar kecamatan. Ali tetap bekerja di pemilik warung kopi di rumah sakit itu. Setiap hari, dia selalu berusaha keras untuk mendapatkan uang yang banyak.
"Bu, Alhamdulillah hari ini pakde memberikan upah Ali sekitar 100.000 RB an. semalam pelanggan pakde banyak yang datang, jdi beliau melebihkan uang nya untuk Ali."
"Alhamdulillah nak, ini rezeki anak Sholeh Seperti mu. Simpan ya, di tabung uang nya."ucap ratna yang merasa senang melihat putra yang selalu memikirkan cara untuk bisa memenuhi keluarga ini.
"Engga Bu, ini untuk belanja kebutuhan dapur. Ibu bisa memakai nya untuk membeli beras di warung." kata Ali dengan bijak nya.
Mendengar ucapan Ali, mata Ratna berkaca-kaca. Disaat anak anak lain bermain bersama teman teman nya, Ali malah memilih bekerja. demi memenuhi kebutuhan keluarga. Ali benar benar membuat nya malu sebagai ibu, karena tak mampu mencukupi kebutuhan keluarga nya
"Terima kasih banyak nak. maafkan ibu yang masih belum bisa, memenuhi kebutuhan hidup kalian. Ibu malah menyusahkan mu, dan membuat mu bekerja keras."
"Bu, jangan berkata seperti itu. Ali sayang sama ibu, sama ayah, sama Dinda. Ali cuman ingin kalian baik baik saja. biarkan Ali yang mencari uang. Ali adalah anak laki laki di keluarga ini."
Sedangkan dewa, hari ini dia melihat ke belakang rumah nya. Singkong yang di tanam bulan lalu, sudah siap untuk di panen. walapun kaki nya cacat, tapi dia sama sekali tak menyerah. Dia akan tetap bekerja demi anak dan istri nya
"Alhamdulillah, hari ini singkong nya besar besar. Dan bisa dijadikan olahan kripik oleh istri ku." gumam nya tersenyum lebar melihat hasil panen hari ini.
*****
Keesokan harinya....Ali sudah siap dengan seragam lusuh nya itu. memang seragam Ali tak pernah diganti. karena sebentar lagi dia akan masuk SMP, jadi dia merasa tak perlu mengganti nya.
"Bu, doain Ali ya Bu, hari ini Ali akan berangkat ke kecamatan. Untuk olimpiade." sebelum berangkat, Ali berpamitan terlebih dahulu kepada ayah, ibu, Dinda dan juga kakek jun. Tanpa restu mereka, Ali tak akan mampu untuk menyelesaikan soal soal nya.
"Doa ibu selalu menyertai mu nak, ibu yakin, Ali bisa menjawab soal soal tersebut. Anak ibu kan sangat hebat." mata Ratna berkaca-kaca melihat kegigihan putra nya itu.
"Aku yakin, kakak pasti akan menjadi juara." pekik Dinda yang juga begitu antusias menyemangati nya.
"Ayah juga yakin, jagoan ayah akan mengharumkan nama sekolah. Ingat ya nak, tetap rendah hati apapun yang terjadi." dewa mengelus puncak rambut putra nya itu.
Lalu pandangan nya ke arah kakek jun yang tersenyum lebar ke arah nya.
"Kakek, doain Ali ya." ucap nya tersenyum ke arah kakek jun yang duduk di kursi depan rumah nya.
"Kakek selalu yakin, kamu bisa nak.buktikan kepada mereka, bahwa Ali sang jagoan mampu mengimbangi pertarungan ini." kakek jun menepuk pundak Ali dengan memberikan semangat yang besar.
Setelah berpamitan, Ali langsung berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Sepeda milik dewa masih belum di perbaiki. jadi dia tak bisa mengantarkan putra nya ke sekolah. Apalagi kaki nya yang sebelah tak bisa berjalan. Jadinya dia hanya bisa mengantarkan Ali sampai di depan rumah saja.
"Bismillah, semoga doa orang tua ku, dan doa orang orang yang menyayangi ku terkabulkan." gumam nya dengan wajah antusias.
Sesampainya di sekolah, Bu Lusi langsung menyambut Ali dengan tersenyum lebar. Dia langsung menyuruh Ali masuk ke mobil kepala sekolah. hari ini, kepala sekolah yang akan mengantarkan Ali ke tempat olimpiade kecamatan itu.
Olimpiade ini juga diselenggarakan oleh pihak pemerintah. Tujuan nya yaitu membangun anak anak berprestasi yang akan dimasukan ke sekolah terbaik di kota.
"Ayo nak, apakah kau siap?" tanya kepala sekolah Ali yang tersenyum tipis ke arah nya.
"Insyaallah siap pak." ucap Ali tanpa ada keraguan sedikitpun.
"Bagus, kamu menjawab tanpa ada keraguan sedikitpun. Bapak sangat yakin, kamu akan meraih juara tersebut."
Ali hanya mengangguk singkat saja, tapi dia masih sedikit gugup sebenarnya. Bagaimana pun, ini adalah hari pertama nya untuk bersaing dengan orang orang berprestasi lainya.
Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya mereka sampai ke lokasi tujuan. Sebelum itu, Ali diberikan tanda pengenal oleh panitia dan juga papan ujian yang akan digunakan saat menjawab soal tersebut.
"Beberapa menit lagi, para peserta lomba olimpiade memasuki ruangan yang sudah disediakan. Jadi diharapkan untuk para peserta lomba, agar tetap berada di posisi masing masing sebelum pengumuman berlangsung."
"Dua menit lagi nak, apakah kau siap?" tanya kepala sekolah yang mengelus rambut Ali.
Dari semua siswa yang ikut, hanya seragam Ali yang tampak lusuh. Tapi semangat anak itu sama sekali tak menyerah. Bahkan mata Ali berbinar binar melihat situasi yang tampak jauh lebih ramai. Ini pertama kali nya dia berada di situasi seperti ini.
"Siap pak." ucap nya dengan penuh percaya diri.
Kepala sekolah tampak mengangguk puas. Dan tersenyum tipis ke arah nya. beberapa teman teman Ali juga tampak gugup. Mereka merasa sedikit ragu dengan lomba ini.
"Bagi para peserta lomba, harap memasuki ruangan segera. perlombaan olimpiade akan segera di mulai!" suara panitia mulai menggema. Ali langsung berjalan menuju ke ruangan yang sudah di tuju.
"Semangat Ali!"
Setelah duduk di kursi yang disediakan. Ali langsung menerima soal yang diberikan. dia menoleh ke arah peserta lomba yang lain, tampak gugup dan tampak cemas. Kemudian Ali melihat beberapa lembaran soal yang sudah diajari oleh Bu Lusi. Dia langsung tersenyum tipis.
ali mengikuti lomba olimpiade matematika. Jadi fokus nya hanya berhitung dan menentukan persamaan dari soal soal yang diberikan.
Ali begitu fokus mengerjakan soal soal yang diberikan. Bahkan dia sama sekali tak ragu untuk menjawabnya.
10 menit mengerjakan soal tersebut, Ali telah selesai mengerjakan nya. Di melihat teman teman seperjuangan nya, ada yang kebingungan, ada yang melamun dan ada juga yang tertidur di kursi ujian.
Ali mengecek beberapa soal, dan mencocokkan jawaban nya dengan benar.
"Waktunya masih ada 1 jam lagi. Jadi berhati-hatilah dalam mengerjakan nya!"
100 soal bukan lah hal mudah. Tapi Ali telah selesai mengerjakan nya di menit ke sepuluh. bahkan saat ini, hanya duduk dan memperhatikan orang orang di sekelilingnya.
"Dek, apakah kau sudah siap?" tanya petugas yang melihat Ali tampak santai.
"Sudah kak!" ucap nya dengan jujur dan tegas.
"wow, padahal ini baru beberapa menit. Tapi kau sudah mengerjakan nya secepat ini. Jangan asal menjawab nya dek, periksa lah dulu sebelum waktunya habis." ucap petugas yang tak ingin siswa itu terlalu terburu buru.
"Hmm, baiklah kak." ucap Ali yang malas berdebat dengan panitia itu. Sedari tadi tingkah Ali diperhatikan oleh panitia yang menegur nya tadi. Sebenarnya ali sudah sadar diperhatikan, tapi dia sama sekali tak menanggapi nya.