Warning 21+ guys ... harap cek umur dulu sebelum baca.
***
Arya seorang Presdir di sebuah perusahaan terjebak pesona sekretaris pribadinya sendiri yang setiap hari sering berinteraksi dengannya.
Suatu hari mereka terpaksa tinggal satu kamar dan tidur satu ranjang. Bisakah Arya bertahan dengan godaan ranjang dari sekretaris mudanya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Fakta Sebenarnya Part 2
"Udah sore lho ini," ucap Arya sembari melihat arloji di tangan kirinya.
"Tapi aku harus pergi ke rumah temen aku, Pah. Udah terlanjur janji juga sama dia kalau aku mau makan malem di rumahnya," sahut Dimas.
Arya masih belum paham dengan jawaban dari anaknya. Kenapa anaknya harus datang untuk makan malam bersama?
"Biarin aja sih si Abang pergi, Pah. Dia mau makan malem di rumah pacarnya, ehek," goda Vania adik pertama Dimas.
"Hust, diem kamu, Dek! Sana masuk ke dalam rumah, hus hus hus," usir Dimas yang sedikit malu dengan statusnya yang sudah tidak jomlo lagi.
"Iya, iya, ini mau masuk. Cieeee yang mau ketemuan sama pacar," goda gadis itu sebelum benar-benar pergi dan masuk ke dalam rumah.
"Haist," kesal Dimas yang seperti orang mencari sesuatu untuk dilemparkan kepada adik perempuannya itu agar tidak digoda melulu.
"Kabooor," teriak Vania yang langsung berlari pergi sebelum kena timpuk kakaknya.
Selepas kepergian Vania, Dimas melihat ke arah ayahnya lagi yang sedang berdiri di tempat yang sama karena dia ingin mengintrogasi putranya itu.
Dimas terlihat malu-malu saat bertemu pandang dengan ayahnya kembali.
"Kamu beneran udah punya pacar?" tanya Arya mengawali pembicaraan.
"Iya, Pah." angguk Dimas.
"Kok nggak bilang-bilang sama Papa?"
"Belum sempet, Pah. Malu juga nyeritainnya."
"Hahaha, untuk apa merasa malu, Dim. Kamu juga udah kuliah juga kan. Udah wajarlah diusia kamu punya pacar."
"Tapi aku kan nggak biasa kayak anak lain, Pah."
"Ya udah kapan-kapan kamu undang pacar kamu makan malem di rumah ya! Papa juga pengen kenalan sama gadis yang berhasil bikin anak Papa jatuh hati."
"Iya, Pah. Kapan-kapan Dimas ajak Arum makan malam di rumah kita. Kalau gitu aku pergi dulu ya, Pah."
"Iya, hati-hati."
Dimas pun pergi dan Arya berjalan masuk ke dalam rumah yang telah lama dia tempati.
Saat masuk ke dalam rumah seorang wanita cantik yang telah menjadi pendamping hidupnya selama dua puluh tahun ini terlihat menyambutnya dengan senyum yang hangat.
"Udah sampai, Mas. Mau dibuatin kopi atau teh aja?" tanya Nisa istri Arya.
"Bikinin teh aja, Nis. Nggak usah pake gula ya!"
"Baik, Mas." Nisa pun bergegas untuk ke ruangan dapur.
Arya memilih untuk masuk ke dalam kamar dan ternyata anak bungsunya yang masih berusia dua minggu sedang tertidur lelap.
"Gantengnya anak Papa," ucap Arya mengagumi anak bungsunya itu.
Namun perhatian Arya tidak bertahan lama karena sebuah pesan masuk dari Anna sekretaris cantiknya itu.
"Masih belum sampai rumah ya, Pak?" kali ini Anna memanggil kekasihnya itu dengan sebutan Pak sebab tidak mungkin baginya memanggil sayang ketika lelaki itu ada di dalam kediaman keluarga kecilnya.
Bisa-bisa jika ada orang lain yang melihat pop up notifikasi di ponsel Arya akan terbongkar hubungan gelap mereka berdua.
"Aku baru aja nyampe nih," balas Arya. "Niatnya mau ngabarin kamu. Eh, udah dichat duluan."
"Aku nggak tenang aja kalau kamu belum bales pesan, Yank." chat Anna yang kini mulai menggunakan kata sayang kembali karena dia sudah tahu kalau ponsel lelaki itu ada pada pemiliknya sendiri.
"Makasih ya sudah khawatirin aku."
"Iya, sama-sama, sayang."
Arya tersenyum membaca pesan teks itu.
"Mas," seru Nisa yang sedang berdiri diambang pintu.
Bersambung ....