Nama gue Zahra pindahan dari Jakarta ke Bandung, semenjak perusahaan Bokap gue bangkrut akhirnya gue dan keluarga putuskan sekolah di Bandung dan menemukan cinta sejati gue di Bandung. yang susah banget meluluhkan hati pria ini sampai gue bisa mendapatkan hatinya. cinta gue penuh rintangan yang harus kita berdua hadapi.. mau tau lanjut ceritanya mampir dulu yuk ke cerita yuli cinta cowok dingin.
happy reading ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli sumarni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27
"Alhamdulillah, sayang kamu udah sadar? sayang, maafin aku yah! gara-gara aku kamu jadi kaya gini." Bima mencium kening gue.
"Aku di mana sayang? aku takut!" jawab gue memegang tangan Bima.
"kamu kenapa takut? ada aku di sini! aku akan selalu jaga kamu, gak akan ada yang boleh menyakiti kamu atau atau nyentuh kamu sayang." Bima memeluk gue dan mencium kening gue.
"Kita bayar rumah sakit gimana? kan gak ada uang." Tanya gue heran.
"Semua yang bayar Yohana, dengan syarat aku gak akan lapor polisi, aku panik takut kamu kenapa-napa, mangkanya aku terima." Jawab Bima sambil tersenyum.
"Aku takut, orang itu nyakitin aku sayang." Jawab gue.
"Enggak sayang, enggak! aku selalu lindungi kamu, gak akan aku kasih alamat rumah kita ke siapa pun, percaya yah!" Bima memegang kepala gue.
Keesokan harinya, gue sudah di perbolehkan pulang. Kebetulan hari ini Bima di bolehkan libur dua hari. Sesampai di rumah, gue mual dan muntah-muntah.
"Uwek...uwek...uwek... sayang aku mual." Sahut gue pucat.
"Kamu kenapa? kok muntah-muntah sayang? aku ambil minyak Kayu putih dulu ya sayang!" jawab Bima panik dan berlari.
Ya Allah, aku kan telat datang bulan. Apa aku hamil yah?
"Sayang, sini aku olesi minyak kayu putih yah! kamu masuk angin ini." Sahut Bima sambil mengolesi ke leher gue.
"Sayang aku udah telat datang bulan, kayanya aku hamil deh." Jawab gue menatap Bima.
"Kamu serius sayang? Ya Allah Alhamdulillah..." Bima tersenyum dan memeluk gue. Bima pun pergi ke apotik untuk membeli alat tes kehamilan dengan raut wajah yang gembira dan senang.
"Sayang, ini kamu pakai! aku pengen tunggu hasilnya udah gak sabar." Bima gelisah menunggu hasilnya.
Saat gue tes, ternyata hasilnya positif, gue hamil. betapa hati gue senang, yang selama ini gue dan Bima harapkan ternyata terjadi. Gue keluar dari kamar mandi ingin meledek Bima agar dia semakin penasaran.
"Gimana sayang hasilnya?" tanya Bima cemas.
"Mmm... ternyata a-a-aku hamil sayang, aku hamil." Gue menunjukan hasil tesnya ke Bima.
"Alhamdulillah, ya Allah terima kasih ya Allah, sayang,bkita punya dede!" Bima langsung memeluk gue dan mencium perut gue.
"Iya sayang, aku bahagia banget." Gue langsung tersenyum dan memegang kepala Bima yang mencium perut gue.
"Makasih ya sayang, aku juga bahagia, sekarang kita ke rumah sakit lagi yah!" Bima berdiri dan memeluk sambil mencium kening gue.
"Sayang kita istirahat dulu, kamu juga istirahat dulu yah! aku kasian samab kamu lelah. " Jawab gue memegang pipi Bima.
"Gak apa-apa sayang, aku gak capek kok! demi kamu dan dede." Jawab Bima.
****
Akhirnya gue pun kembali ke rumah sakit, untuk mengecek kehamilan gue. Gue gak menyangka bisa dapet anak dari Bima. Hasil perjuangan cinta gue dan Bima.
"Kata Dokter, kamu gak boleh capek-capek! harus banyak minum susu biar anak kita sehat." Jawab Bima memegang perut gue.
"Iya sayang, uwek...uwek...uwek... mual sayang!" jawab gue lemas.
"Kamu sabar, ya sayang." Bima langsung memeluk gue."
"Mmm... aku pengen es campur sayang." Sahut gue sambil merayu Bima.
"Ya udah, aku cari es campur buat kamu yah! mungkin dede yang minta, he-he....sabar ya dede, Ayah cari es campur buat kamu!" Jawab Bima sambil berbicara dengan bayi yang di dalam perut gue.
"Iya, Ayah dede tunggu! he-he..." jawab gue sambil tersenyum memegang kepala Bima.
****
Bima pun pergi untuk membeli es campur. Gue salut sama Bima demi gue dia tidak merasa capek atau mengeluh.
"Dek, gimana hasilnya?" sapa Bu Jenah menegur Bima.
"Alhamdulillah Bu Zahra hamil, tadi habis periksa ke Dokter, ini Zahra pengen es campur katanya." Jawab Bima sambil tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah, syukur deh dek, di jaga baik-baik ya jangan terlalu capek! Ibu mau lihat Zahra yah!" sahut Bu Jenah.
"Iya Bu, main aja! Zahra di dalam, saya permisi dulu ya Bu." Sahut Bima.
"Assalamu'alaikum, Neng lagi apa?" sahut Bu Jenah.
"Waalaikumsalam. Eh Ibu, ini Bu lagi tiduran aja kepala saya pusing, muntah-muntah terus." Jawab gue dengan muka lemas.
"Iya Neng, kalau hamil muda memang begitu! nanti Ibu buatin jamu mau? khusus buat orang hamil." Ucap Bu Jenah.
"Saya gak suka jamu Bu, pahit." Ucap gue.
"Harus Neng! biar nanti bayinya sehat, lancar lahiran, gak bau amis darahnya." Bu Jenah menjelaskan.
"Iya Bu, boleh deh he-he... oh iya, piring Ibu masih sama saya." Icap gue.
"Udah gampang, he-he..." ucap Bu Jenah sambil tersenyum.
Gue pun sangat akrab dengan Bu Jenah, seperti Ibu sendiri. Gak lama Bima datang, membawa tiga bungkus es campur. Dia memberikan untuk Bu Jenah sebungkus. Bu Jenah pun pamit pulang.
"Terima kasih ya sayang, kamu udah mau nyari es campur buat aku." Sahut gue sambil meminum es campur.
"Uwek...uwek... mual sayang!" gue berlari ke dapur.
"Mmm... sayang mual banget yah?" tanya Bima sambil memegang leher gue.
"Iya Yang, mual banget hiks-hiks-hiks... aku jadi inget Mamah." Gue menangis sambil menghapus air mata gue.
"Sayang, jangan gitu dong? kamu mau ketemu Mamah? sini! sini! tolong jangan menangis! kalau kamu menangis aku gak kuat seakan aku gagal membahagiakan kamu." Bima menghapus air mata di pipi gue.
"Aku hanya kangen aja, enggak sayang! aku gak mungkin ke sana, kan Bokap bilang gak boleh injak rumahnya, kamu jangan bilang gitu! aku bahagia, lebih dari bahagia. Aku menangis karena bahagia dan kangen aja.
"Iya sayang, aku minta sama kamu tolong jangan banyak pikiran yah! kasian dedenya, ya sayang! aku sangat mencintai kamu sayang." Sahut Bima dan memeluk gue.
"Iya sayang." Gue menatap Bima.
"Senyum dong! kamu lebih cantik kalau tersenyum, gak ada yang bisa mengalahkan senyuman istriku ini." Sahut Bima menggoda gue agar gue tersenyum.
"Gombal mulu, he-he..." gue tersenyum malu.
"Ih... siapa yang gombal? aku tuh benaran bicara apa adanya, Masya Allah cantiknya istriku." Bima tersenyum dan memuji gue.
Bima pun membawa gue ke kamar untuk beristirahat. Gue pun tertidur lelap. Bima mencuci piring dan membereskan rumah. Setelah selesai semua, Bima masuk kamar dan memandangi gue yang tertidur lelap. Bima pun mencium kening gue sambil menatapi wajah gue.
Aku bersyukur tuhan kirimkan istri yang begitu cantik untukku, soleha. Jadi inget dulu, aku itu dingin banget sampai susah menerima siapa pun, saat melihat dia, aku jatuh cinta. Dia merubah aku. Sampai aku itu tidak kuat untuk menahan perasaan cinta. Aku tidak tahu sampai kapan cinta kami tidak direstui. Semoga dengan kehadiran dedek bisa membuat Papah Zahra luluh dan mau menerima aku.
"Sayang, kenapa menangis?" gue terbangun dan melihat Bima berlinang air mata.
"Gak apa-apa sayang, mata aku hanya perih aja kok.Kamu tidur lagi ya sayang!" sahut Bima berbohong.
"Enggak, enggak! kamu bohong kan?" ucap gue menatap Bima dan memegang pipi Bima.
"Aku gak apa-apa sayang, aku lagi mandangin kamu tidur aja, bahagia sekarang udah punya keluarga baru, si dedek." Bima tersenyum dan memegang perut gue.
*BERSAMBUNG*
tetap semangat ya neng💪💪