Kelahiran kembali seorang Dewa maha tahu. Yang mana, ia mengetahui segala macam pengetahuan dan hal hal lainnya. Namun, kehidupannya bukanlah sebagaimana ia adalah Dewa.
Dia terus menerus harus menuruti semua permintaan Tuhan pencipta. Dalam perkataan Tuhan pencipta, ''Ini adalah tugas terakhirmu, selamatkan Planet bumi dari Invasi Ras Galgara.''
Namun Sang Dewa Maha Tahu, mengetahui itu hanyalah omong kosong belaka.
haaaahhhhhh.
Menghela nafas berat Sang Dewa Maha Tahu. Akhirnya, ia dikirim menuju Planet Bumi dan berusaha menumpas habis semua Galgara yang ada.
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷.
Novel tak ada sangkut pautnya dengan keagamaan ataupun tradisi lainnya. kemungkinan, banyak yang sama dan hal sebagainya.
Novel juga, lebih ke Romantisan dan ngak begitu banyak actionnya.
tetap Kalm dan selalu
Coment
Like
Subscribe
vote juga ngak papa.
Untuk Update. Author janjikan up nya hari minggu dan senin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mad Kojer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.25 pertarungan part loro.
Waktu bersantai santai tanpa beban berat selayaknya seorang pewaris keluarga bangsawan. Azra benar benar bersantai seakan memang hidup begitu bebas.
Namun, sepertinya kebebasan tersebut tak bertahan lama hingga
Boooom.
Sebuah serangan mengarah langsung menuju kepala Azra yang sedang berduduk santai di kursi santai.
"Bisakah kau membiarkanku bersantai, dasar wanita bar bar!." Teriak Azra kepada orang dibalik debu yang menutupi dalang penyerangnya.
"Tanganku gatal ingin menghajar sesuatu. Dan kau mulai memanggilku seperti itu lagi, maka, alasan ini cukup untuk menghajarmu habis habisan." Suara menawan namun tegas dan sedikit berani bila suara tersebut seperti menantang.
Boooom.
Ckraaak.
Srekkk.
Boooom.
Tinju dan serangan tebasan menggunakan tangan terjadi antara Azra dan Hilenia di halaman mansion milik Hilenia.
Hanya saja, yang anehnya halaman mansion terlihat tidak ada kerusakan apapun dalm pertarungan mereka.
"Setidaknya, pikirkanlah aku sebagai murid disini, bihile. Kau yang kepala akademi menantang terang terangan seperti ini, bagaimana reaksi murid muridmu nanti?." Ujar Azra sembari terus menerus mengeluarkan jurus pedang tanpa pedang kepada Hilenia.
TING!.
Layaknya suara benturan besi. Tebasan tangan dan tangkisan antara Azra dan Hilenia mengeluarkan suara nyaring besi berbenturan.
"Heh, ndak peduli aku dengan mereka. Menghajarmu lebih menyenangkan dibanding mendidik murid murid ini. Hahahahah." Tawa gila Hilenia terus menerus mengeluarkan serangan hebat.
"Sial ... " umpat Azra dan mundur kebelakang.
Sejenak keduanya berhenti bertarung dan saling tatap menatap. Senyuman sinis Hilenia terlihat jelas ditujukan kepada Azra.
"Ada apa?!. Apakah hanya ini kekuatanmu?." Sinis Hilenia.
Urat kekesalan mulai muncul di kening Azra.
"Baiklah bila itu maumu, Bi. Jangan salahkan aku bila satu pulau ini akan hancur setengahnya."
Terkepal tangan kanan Azra dan menempatkan dibelakang. Aura kehancuran serta tekanan terkondensasi begitu kuat dan padat terlihat jelas mengeluarkan asap panas di tangannya.
Hilenia seketika cengar cengir canggung dengan kekuatan yang ada di kepalan tangan Azra.
"Nak, ... etto ... bukankah itu keterlaluan?." Tanya Hilenia sembari berjalan mundur berkeringat dingin di keningnya.
Namun, Azra tak mempedulikan ucapan Hilenia.
"Bogem serius!." Gumam Azra yang menggema keseluruh halaman mansion terdengar begitu menekan tubuh.
"
Booooooooooooooooooooooooommmm.
Ngeeerrrrrt.
Fly Island Akademi Astaroth seketika mengalami gempa dahsyat yang hampir merusak satu pulau ini.
Uhuk uhuk uhuk.
Hilenia langsung muntah darah diakibatkan Skill bertahan miliknya hancur lebur dan luka organ dalam yang begiu parah.
Namun, Azra tak membiarkan sedetik pun Hilenia istirahat. Dengan cepat, dia muncul di depan Hilenia dan mencekik lehernya.
"Sudah kubilang bukan?. Jangan salahkan aku bila terjadi seperti ini." Begitu sinis dan mengejek, Azra mengatakan hal tersebut kepada Hilenia yang masih dalam keadaan leher di cekik dengan kuat.
Hilenia hendak menjawab. Namun, napasnya tidak dapat mengeluarkan udara sedikitpun. Ia hanya menepuk nepuk punggung tangan Azra yang mencekik lehernya menandakan dirinya menyerah.
Melihat Hilenia menyerah. Dengan lembut dan halus, Azra menurunkannya dan melepaskan cengkraman tangan dileher Hilenia.
"Huuh, haaahhh, hhuuuuuu, haaaaahhh." Terengah engah napas Hilenia sembari mengatur pernapasannya menggunakan teknik pernapasan merak-nya.
Sebuah botol berisi cairan agak kental terlempar didepan Hilenia. Cukup terkejut ekspresinya ketika melihat botol ini.
"Minumlah!. Nanti, soal kerugian properti akademi. Aku akan mengurusnya." Ujar Azra sembari melangkah pergi dari depan Azra dan melambaikan tangannya.
Gluk gluk gluk.
Tanpa ragu, Hilenia menenggak potion pemulihan dari Azra dan menatap punggung Azra yang tersapu oleh rambut merah darah.
"Yah, dia lelaki hebat dan sempurna. Sayang sekali, anak ini murid guru. Bila tidak, ... mungkin ... aku ... jat ...uh ...cin ... ta." Gumam Hilenia berusaha sekecil mungkin dan begitu merona wajahnya ketika mengucapkan kalimat terakhir yang agak terjeda jeda.
---'---
Tidak disadari Hilenia. Pendengaran Azra menangkap gumannya.
"Apa apaan ini?." Tanya Azra kepada dirinya sendiri sembari memijat keningnya.
Sembari berjalan. Ingatan dalam kehidupannya sebagai anak pewaris keluarga Alvonia terlintas di pikirannya.
"Hubungan gelap bersama ibu. Hubungan gelap juga bersama leluhur. Dan nantinya, bagaimana dengan Hilenia bila aku menyukai anaknya?.
Apa perlu tiga daftar hubungan gelap untukku?. Memikirkan ibu dan Liliana saja, sudah membuatku pusing tujuh keliling. Haaaahhhh. Sungguh merepotk ... "
"Jadi, kau menyukaiku dan ibuku juga, Ya, Dik Azra?."
Suara wanita begitu merdu dan menawan serta indah didengar ketika Azra sampai pada pertigaan lorong mansion.
Membeku tubuh Azra ketika mendengar suara yang paling dia kenal.
'Kenapa instingku tidak dapat melacaknya?.' Batin Azra terheran dengan sosok wanita ini.
"Karena sejak awal, mansion ini adalah ruang domainku sendiri, Azra." Jawab Divania seakan mengetahui apa yang di pikiran Azra.
"Apapun yang kau lakukan selama ini. Aku mengetahuinya. Termasuk kau melakukan hubungan panas di kamarpun, aku melihatnya." Lanjut Divania dengan tersenyum penuh makna.
Muka Azra memerah merona di balik topengnya. Namun, dia sadar akan sesuatu dari perkataan Divania.
'Menyembunyikan apapun, sudah tidak berguna lagi, kah.'
"Benar!. Aku memang mencintaimu, Kak!."
...----------------...
jadi semangt terus ya