Hai Readers setiaku, ada kabar baik nih. Novel ini dalam tahap revisi, mungkin akan ada beberapa tambahan di dalam ceritanya.
Tunggu ya! Nanti kalau sudah selesai revisi semua akan ada pengumumannya. Terima kasih🙏
!!! JANGAN LUPA BACA SEASON 2 NYA SIK YANG BERJUDUL #* My Perfect Boss *#👍
Tiba tiba menikah karena perjodohan, alice dan zayn melewati bahtera rumah tangga mereka tanpa peduli urusan masing masing, karena keduanya memiliki sifat yang sama sama cuek. Apakah benih benih cinta bisa muncul di antara mereka? Yukk...baca novel suamiku idola kampus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon may leni andiarsi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA
Mata Alice tertutup rapat karena dirinya takut akan terbentur, tetapi setelah sesaat Alice tidak merasakan sakit, barulah dia membuka matanya dan ternyata dia sudah menindih Zayn.
Mata mereka beradu sesaat, jantung mereka berdegup cepat. Seakan ada aliran listrik yang mengalir pada tubuh mereka.
Saat Alice merasakan ada sesuatu yang aneh di bawah sana, dia segera tersadar dan bangkit dari atas tubuh Zayn.
“Zayn loe? I..itu?” Pertanyaan ambigu keluar begitu saja dari mulut Alice.
Zayn pun mendorong pelan tubuh Alice, spontan Alice segera bangkit dari atas tubuh Zayn.
“Itu hal wajar, gue pria normal. Sebaiknya loe naik ke kamar hati-hati, kaki loe masih belum pulih. Gue mau mandi air dingin.” Ucap Zayn dan berlalu meninggalkan Alice.
Alice masih mematung di sofa, baru pertama kali Alice merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya.
Alice lalu menggelengkan kepalanya, agar dirinya tersadar dari lamunannya.
“Arrgghh!! Gue nggak mau mikirin itu! Jangan mikirin itu lagi! Stop Alice! Otak loe pasti udah ada yang salah! Bener-bener, gue pasti udah lelah, sampai gue kepanasan begini gara-gara ngejar Zayn tadi.” Celetuk Alice pada diri sendiri.
Di sisi lain Zayn harus berusaha menenangkan juniornya yang sudah seperti tiang bendera dengan mandi air dingin.
“Arrghhh!! Jika gue nggak sabar udah gue terkam loe Alice.” Gerutu Zayn.
***
Saat di dalam rumah Alice dan Zayn mulai membahas soal tiket bulan madu mereka.
“Zayn apa kita beneran jadi pergi ke Paris buat bulan madu? Keberangkatannya lusa hlo.” Tanya Alice yang masih ragu untuk pergi.
“Kemarin loe sendiri yang bilang setuju, kenapa sekarang nanya gitu ke gue? Kalau loe mau ya berangkat, kalau nggak mau ya udah tinggal di batalin.” Jawab Zayn santai.
“Enak loe ngomong gitu, ntar gue mau alasan gimana ke Papa, kalau gue nggak jadi berangkat.” Ucap Alice kesal.
“Ya terserah loe mau alasan gimana, salah sendiri kemarin nggak langsung nolak.” Ucap Zayn masih santai.
“Iya ini salah gue, terus gue harus gimana?” Tanya Alice lagi masih bingung.
“Tinggal berangkat apa susahnya?! Segala keperluan kan udah di siapin sama mereka.” Jawaban Zayn bener-bener membuat Alice semakin kesal.
Percuma saja dia tanya ke Zayn jawabannya pun bakal seperti itu terus seakan tak peduli dengan hal itu. Yang ada di benaknya hanyalah tetap pergi ke sana.
“Ngeselin banget sih loe, bukannya bantuin pikirin caranya bisa batalin bulan madu ini. Tapi kayanya loe emang udah bikin keputusan buat tetep ke sana kan?!” Ucap Alice marah dan langsung pergi ke kamar meninggalkan Zayn sendiri di ruang keluarga.
Melihat Alice yang benar-benar terlihat kesal dengannya, Zayn pun menyusul Alice ke kamarnya.
Tok..tok..tok..!!
“Alice gue boleh masuk nggak?” Tanya Zayn dari luar pintu.
“Mau ngapain?! Udah nggak ada yang perlu di omongin lagi, sana pergi.” Usir Alice dengan nada yang masih kesal.
Tanpa izin Alice, Zayn pun membuka pintu kamarnya yang ternyata lupa Alice kunci.
“Ngapain loe? Kenapa bisa masuk?” Tanya Alice terkejut karena Zayn bisa masuk ke kamarnya tiba-tiba.
Tanpa menjawab pertanyaan Alice, Zayn pun mendekatinya.
“Ma..mau ngapain loe deket-deket gue?!” Ucap Alice gugup.
Cupp...!!
Satu kecupan lembut mendarat di kening Alice, hingga membuat Alice mengerjapkan matanya beberapa kali, tubuhnya membeku atas apa yang telah di lakukan oleh Zayn.
“Maafin gue ya Alice, udah bikin loe kesel, gue nggak bermaksud kaya gitu.” Jelas Zayn dengan lembut.
Alice tak menjawab pernyataan Zayn karena pikirannya kini sudah kacau, jantungnya terus berdegub kencang.
“Gue kenapa? Jantung gue serasa mau loncat gini sampe sesak nafas dan ini cuma gara-gara kening gue di cium sama Zayn. Padahal waktu itu dia cium paksa bibir gue, gue udah merasa jiijik, tapi sekarang kebalikannya. Nggak mungkin kan gue udah mulai ada rasa sama dia, pasti karena gue kaget nih jadinya kaya gini.” Elak Alice dalam hatinya.
“Alice..Alice..hallo denger gue nggak?”
Zayn terus memanggil-manggil Alice sembari melambaikan tangannya di depan muka Alice, tapi Alice masih saja mematung. Zayn kemudian menggoyang-goyangkan pundak Alice pelan, barulah Alice tersadar dari lamunannya.
“Ah..a..apa Zayn? Loe ngomong apa barusan?” Sahut Alice yang masih linglung karena ciuman tiba-tiba dari Zayn tadi.
“Gue ulangi ya, maafin gue Alice, udah bikin loe kesel, gue nggak bermaksud kaya gitu, gue cuma pengen hargai pemberian dari Papa jika kita nggak berangkat orang tua kita pasti sedih.” Jelas Zayn sekali lagi.
“Udahlah jangan dibahas.” Ucap Alice malas, sekaligus mencoba menutupi rasa malunya. Kini dirinya sepenuhnya tersadar.
“Terserah loe maunya gimana aja deh, kalau emang nggak mau tiket itu nanti biar gue yang coba ngomong sama Papa lagi, tapi menurut gue sih ini bisa buat refreshing, kapan lagi bisa pergi jalan-jalan ke Paris.” Ucap Zayn sedikit memancing Alice.
Alice pun terlihat memikirkan saran yang di berikan Zayn padanya. Dia bisa refreshing sekaligus bisa menyenangkan hati orang tuanya.
“Eh..bener juga ya Zayn kita ajak sekalian Vira, Leon sama Rio pasti seru kalau rame-rame.” Jawab Alice girang.
Zayn yang mendengar hal itu pun hanya menghela nafasnya, ia baru tahu istrinya ini ternyata benar-benar polos, bagaimana bisa dia benar-benar berpikir tujuan orang tua mereka membelikan tiket ini bisa untuk liburan rame-rame.
“Kalau ajak mereka sih bisa aja, tapi untuk tiket pemandian air panas ini mereka nggak bisa ikut hlo.” Imbuh Zayn.
“Ya nggak apa-apa Zayn yang penting mereka bisa ikut ke Paris sama kita.”
“Baiklah nanti kita ajak mereka.” Jawab Zayn pasrah, karena tak ingin membuat Alice marah lagi.
Setelah selesai membahas tiket itu, kemudian Zayn pergi ke kamarnya sebentar mengambilkan sesuatu untuk Alice.
“Tunggu bentar ya, gue mau ambilin sesuatu buat loe.” Ucap Zayn lembut.
“Oh..Ok.” Sahut Alice singkat. Beberapa saat kemudian Zayn pun kembali.
“Alice gue boleh masuk?” Tanya Zayn dari balik pintu.
“Boleh, masuk aja.” Sahut Alice santai.
Kini Alice sedang berkutat dengan laptopnya, dia meneruskan tugasnya yang sempat tertunda tadi siang.
“Nih.” Sambil menyodorkan buku yang Alice perlukan tadi siang.
“Apa ini? ” Tanya Alice.
“Gegara buku ini kan kaki loe jadi sampe memar.” Sindir Zayn halus.
“Kok loe bisa tahu gue butuh buku yang ini? Ada angin apa loe babtuin gue?”
“Emang kalau bantuin orang harus ada maksud tertentu? Enggak kan?”
“Ya enggak sih, cuma tumben aja gitu.”
“Udah sana selesaiin tugas loe, keburu malam. Gue mau balik ke kamar gue lagi.”
“Kalau gitu thanks deh.”
“Ok, jangan sampai terlalu larut ya.” Alice hanya mengangguk, kemudian Zayn berlalu meninggalkan kamar Alice.
Lagi-lagi ada sesuatu yang menjalar di hatinya, Alice tidak bisa mengendalikan perasaan itu. Alice menggeleng kuat, dia mencoba fokus untuk mengerjakan tugas kuliahnya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....