Plakkkk!!!
Kia menampar pipi ayahnya dengan berlinang air mata.
" Kia tidak akan pernah menuruti semua keinginan ayah, selama ini Kia sangat sabar menghadapi kelakuan ayah. Tapi sekarang?? kesabaran Kia sudah habis, ayahh, sudah habis!! "
Iya, dia adalah Kriya Anastasya, seorang gadis cantik yang akan dinikahkan dengan seorang rentenir duda beranak lima.
Ayahnya yang tega menukarnya hanya demi uang. Apakah itu bisa disebut ayah??
Tapi dengan bantuan Al sang pengusaha terkenal itu, Kia bisa lolos dari pernikahan tersebut.
Yang ternyata Al adalah orang yang pernah menyelamatkan dia dulu, orang yang sangat dingin pikirnya.
Kisah Kia masih berlanjut saat Al meminta Kia menjadi istrinya. Jika Kia menolak permintaannya itu, Al tidak segan-segan menjebloskan kakak dan ayah Kia kedalam penjara.
Tidak ada pilihan lain selain dirinya mengikuti kemauan Al.
Jadi, bagaimanakah kisahnya nanti??
Apakah keduanya bisa memberikan cinta satu samalain, atau malah sebaliknya keduanya tidak bisa mempertahankan rumah tangannya karena ego masing-masing??
Yukk simak kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadissusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TMDTM BAB#25
Di mobil.
Keheningan yang menyelimuti suasana. Pak Joko yang sedang fokus menyetir, Al yang fokus dengan ponselnya, Arkhan yang sedang bermain jari-jarinya ( mencoba mengitung angka ) dan Kia yang sedang memandang pohon-pohon dari balik kaca jendela mobil yang sedang berjalan itu.
" Oh ya, Mas. Mama tadi bilang jika dia mau pergi ke Prancis" ucap Kia memecah keheningan, menatap kearah Al.
Al melirik Kia sebentar lalu kembali fokus dengan ponselnya, " Kapan?? " tanyanya.
" Tadi, saat aku ingin pergi kekantor" jawabnya.
Setelah itu, tidak ada lagi pembicaraan antara mereka berdua. Pak Joko hanya sesekali melirik dari kaca mobil melihat tuan muda dan nona mudanya itu.
Aku yakin nona muda pasti bisa meluluhkan hati tuan, ucap Joko dalam hati.
Sesampainya dirumah.
Al, Kia dan Arkhan turun dari mobil, melanglahkan kakinya masuk kedalam rumah. Sedangkan pak Joko memarkirkan mobilnya di garasi.
Al dan Arkhan menaiki tangga. Sedangkan Kia berjalan menuju dapur, mencuci rantang yang mereka gunakan tadi.
Ceklekkkk.
Al membuka pintu kamar. Lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang ganti.
" Yeee yeee yeeee "
Arkhan bersorak gembira saat memasuki kamar, berlari kecil kearah ranjang, melompat-lompat diatas ranjang yang empuk itu.
" Arkhan, jangan lompat-lompat! nanti jatuh. "
Kata Kia yang sudah berada diambang pintu.
" Mama " ucap Arkhan.
Menghentikan lompatannya, lalu duduk disisi ranjang menggantungkan kakinya.
" Mama, sini duduk disamping Alkhan! " perintahnya, menepuk ranjang disampingnya.
Setelah menutup pintu, Kia melangkahkan kakinya masuk kedalam, duduk disamping Arkhan.
" Iya, ada apa sayang?? " tanya Kia saat sudah duduk disampingnya.
Arkhan menggerakkan tubuhnya, menidurkan tubuhnya diranjang dengan posisi kepalanya berada dipaha Kia.
Kia tersenyum manis, lalu menggerakkan tangannya mengelus pucuk kepala Arkhan.
" Ada yang mau diomongin sama Mama, Nak?? " tanya Kia.
" Mama. Ada yang mau Alkhan bicalain sama, Mama!" ucapnya.
" Hemm?? ada yang mau diomongin sama Mama? apa itu?? " tanya Kia.
Dari arah pintu ruang ganti Al berjalan menuju arah keduanya, tanpa sepengetahuan siapapun.
" Ma, jangan pelnah tinggalin Alkhan sama papa Al ya, Ma. Alkhan mau Mama, papa dan Alkhan belsama telus sampai Alkhan dewasa." Ucap Arkhan, matanya menatap lekat wajah Kia.
Seketika Al menghentikan langkahnya, diam mematung ditempat.
" Alkhan kan nggak pelnah ngelasain punya papa dan mama yang utuh. Jadi, Alkhan mau minta Mama Kia dan Papa Al selalu belsama dengan Alkhan, " ucapnya lagi.
" Mama dan Papa olangnya sangat baik sekali, Alkhan sangat nyaman jika belada didekat Mama," ucapnya masih menatap lekat wajah Kia.
Kia menatap sendu kearah Arkhan yang sedang menatapnya juga, lalu berkata..
" Mama tidak bisa janji sayang. Tapi doakan saja agar keinginan Arkhan bisa terkabulkan oleh-Nya."
" Jadi Mama tega melihal Alkhan sedih lagi? " tanyanya.
Bangkit dari baringannya, menatap lekat wajah Kia dengan mata berkaca-kaca.
" Heiii, sini sayang duduk!! " Kia menepuk bahunya agar Arkhan duduk dipangkuanya, " Mama mau bicara sama Arkhan."
Arkhan pun menurut, memindah posisi duduknya.
" Arkhan manusia bukan?? " tanya Kia pelan.
Arkhan mengangguk, " Iya, Ma " jawabnya.
" Kita hanya manusia biasa, kita tidak tahu rencana apa yang akan terjadi selanjutnya yang menimpa kita. Tapi jika Arkhan selalu shalat dan berdoa, Insya Allah akan dikabulkan semua keinginan Arkhan oleh Allah. Paham maksud Mama?? "
Kia mengangguk, " Alkhan paham, Mama. Jadi sekalang Aklhan akan selalu berdoa agal papa, mama dan Alkhan selalu belsama telus sampai Alkhan dewasa nanti."
Arkhan mengangkat kedua telapak tangannya lalu berkata, " Ya Allah, Alkhan meminta agal papa Al, mama Kia dan Alkhan selalu belsama sampai Alkhan dewasa. Alkhan tidak mau lagi jika sepelti dulu lagi, Alkhan mau mempunyai papa dan mama telus, Ya Allah. Aminnnn."
Kia langsung menyambar tubuh Arkhan, memeluknya dengan sangat erat.
Hati Kia terasa runyam mendengar doa Arkhan yang memintanya agar selalu bersama Al.
Menitihkan air mata dipundak Arkhan.
Semoga apa yang kamu inginkan terkabulkan sayang, ucap Kia dalam hati.
Sedangkan Al masih diam mematung ditempat, mendengar ucapan Arkhan hatinya juga terasa runyam, menjadi gelisah seketika.
Apa aku sudah keterlaluan selama ini?? sampai-sampai pernikahan aku buat seperti permainan yang tidakk,,,,,,arkhhhh sudahlah!! ucap Al dalam hati.
Melangkahkan kakinya kearah mereka berdua, duduk disamping Kia.
" Ada apa?? " tanya Al tiba-tiba.
Kia dan Arkhan melepas pelukannya mendengar pertanyaan Al.
" Tidak apa-apa, Papa. Mama bilang kalau Alkhan lajin belibadah, Allah akan selalu mengabulkan doa kita. Alkhan beldoa agal papa dan mama selalu bersama" ucapnya.
" Kenapa kamu bilang begitu?? " tanya Al menatap wajah Kia.
" Karena yang paling paham waktu terbaik adalah Allah" ucap Kia santai, tersenyum manis kearah Arkhan.
" Kenapa kamu selalu baik terhadap aku, meskipun aku jahat terhadap kamu? " tanya Al yang mulai ngaco.
" Kamu baik aku akan baik, kamu jahat aku akan tetap baik. Karena begitulah ibu mengajariku dulu" Tersenyum kearah Al.
" Jadi maksud kamu aku jahat begitu?? " tanya Al, sedikit melototkan matanya.
" Tidak, aku tidak bilang jahat" jawabnya.
Al hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya.
Tangan kanan Arkhan menarik telapak tangan Kia, dan tangan kiri Arkhan menarik telapak tangan Al. Arkhan menyatukan tangan keduanya, lalu menaruh telapak tangannya diatas telapak tangan Kia dan Al.
Kia dan Al hanya saling pandang, tidak mengerti apa yang dilakukan oleh Arkhan.
" Alkhan sayang sama Papa dan Mama" ucapnya menatap kearah Al lalu kearah Kia.
" Mama juga sayang sama Arkhan " melepas tangannya, memeluk tubuh Arkhan.
Al juga melepas tangannya, lalu ikut memeluk Arkhan ( jika dilihat udah seperti keluarga yang sangat bahagia ).
....................
Skipp malam harinya.
" Kita makan malam di restoran mau?? " tanya Al kepada Arkhan. Memandang Arkhan yang sedang duduk diranjang dari sofa.
" Benarkah, Pa?? " tanya Arkhan berbinar.
Turun dari ranjang, melangkahkan kakinya kearah Al.
" Iya " jawab Al.
" Mauu! Alkhan mau, Pa" jawabnya.
" Sekarang kita berangkat! " ajaknya.
" Mama kemana, Pa?? " tanya Arkhan, " Mama ikut kan?? " tanyanya lagi.
" Mama ikut lah " jawab Kia dari balik pintu kamar.
Al dan Arkhan mengalihkan bola matanya, menatap kearah Kia.
Kia berjalan kearah keduanya.
" Kenapa?? " tanya Kia.
Bingung karena dipandang oleh kedua laki-laki yang ada dihadapannya itu.
" Belangkatt!! " sorak Arkhan gembira.
" Ayokkkkk!! " triak Kia kegirangan.
Al tersenyum sedikit melihat kekompakan Arkhan dan Kia.
Deg
Deg
Deg
Seketika jantung Al bersegup dengan kencang saat melihat senyum manis yang terpancar dari wajah Kia. Al menelan ludahnya dengan kasar.
Ohh tidak! kenapa selalu begini, tanya Al dalam hati.
Memegang dadanya menggunakan telapak tangannya, meremasnya berulang kali.
Kia mengerutkan keningnya saat melihat Al sedang meremas dadanya, " Mas, kenapa?? " tanyanya.
Seketika Al melepas telapak tangannya dari dadanya, " Tid-tidak " jawabnya gelalapan.
" Ohhhhh. " Kia menganggukkan kepalanya mengerti.
" Ayo belangkat, Papa " rengek Arkhan.
" Baiklahh" jawab Al.
" Mas pakai baju ini?? " tanya Kia. Menatap kearah Al yang cuma menggunakan baju dan celana pendek saja.
" Tambah jaket " jawabnya.
" Alkhan juga mau jaket mama" rengek Al.
" Bentar Mama ambilin dulu" ucap Kia.
" Sekalian " kata Al.
Kia mengangguk, lalu pergi keruang ganti. Mengambil tiga jaket sekaligus.
" Ini! " Kia menyondorkan jaket untuk Al.
Al langsung menyambarnya, tanpa berucap trimakasih.
Kia juga membaluti bajunya menggunakan jaket, dia menggunakan baju pendek yang menutupi sampai lututnya kebawah sedikit. Tidak lupa juga Kia memakaikan jaket untuk Arkhan yang dibelikan Al satu bulan yang lalu.
" Yeee belangkat" ucap Arkhan.
Mereka bertiga keluar dari kamar, melangkahkan kakinya menuruni tangga.
" Bentar, Mas! aku mau pamit sama mbok Suti dulu" ucap Kia.
" Mama, Alkhan tunggu dimobil" jawab Arkhan.
" Iya, Nak. "
Kia melangkahkan kakinya mencari Suti. Dia menemukan Suti berada di dapur sedang duduk.
" Asalamualaikum, Mbok nanti nggak usah masak ya. Kia mau makan diluar" ucap Kia dari ambang pintu, " Mau pesan apa, Mbok?? " tanyanya.
" Non, baik. Tidak usah, Non" jawabnya, bangkit dari duduknya.
" Yaudah Kia langsung pamit, Asalamualaikum " katanya.
" Waalaikumsalam" jawab Suti.
Suti tersenyum simpul, Non Kia perlahan sudah bisa meluluhkan hati Tuan, ucap Suti dalam hati.
Kia melangkahkan kakinya pergi dari sana. Masuk kedalam mobil yang sudah terparkir didepan pintu rumah.
Al hanya melirik sedikit saat Kia sudah masuk kedalam mobil. Menancapkan gas dengan kecepatan sedang, meninggalkan perkarangan rumah..
.
.
.
.
.
Bersambung.