Sebelum membaca di sarankan untuk membuka novel yang berjudul "Calon Istri Pengganti Tuan Abian" karena ini adalah lanjutan dari novel tersebut.
Cerita yang di angkat tentang perilaku suami yang bersosok malaikat selalu mampu membuat hati sang istri meleleh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26. Kematian Tuan Devano
Di gedung tua dan jauh dari suara keramaian, Abian yang terlihat sangat marah, manik mata hitam legam itu penuh pandangan kemurkaannya saat melihat sosok pria yang tentu sudah ia ketahui.
"Kau berani melukai putriku? apa kau tidak tahu siapa kami? hah!" pekik Tuan Devano.
Manik mata berwarna kecoklatan khas orang luar itu kini tersenyum getir. Ia tahu jika Afrah saat ini berada di penyekapan Abian Malik.
Pria berambut putih itu meski tampak tua namun ternyata tidak menampilkan kedewasaan dirinya. Ia masih sama liciknya dengan usianya saat masih muda.
"Sekarang lepaskan putriku, atau keluarga kecilmu akan aku habisi!" Tuan Devano memberikan ponsel untuk Abian menghubungi seseorang yang menjaga putrinya di sana.
Sungguh licik. Sungguh ayah dan anak sama bengisnya.
Tuan Devano hanya menarik garis bibirnya memperlihatkan senyuman penuh kemenangan di sana. Ini belum cukup dengan kebebasan Afrah tentunya.
Masih banyak hal yang perlu ia sampaikan pada Abian Malik.
Abian menyebutkan nomor dan Tuan Devano dengan senang hati mengetikkan nomor itu pada ponsel miliknya.
Belum sempat tangannya menekan tombol telepon, suara tembakan sudah terdengar menembus tubuh tua Tuan Devano. Abian tersenyum tenang dengan sebelah alis yang ia naikkan.
Sudah bisa di tebak jika Bram akan datang tepat waktu. Pertanyaannya, bagaimana bisa mereka datang tanpa terdengar suara keributan di luar? tentu Bram dan sekelompok anak buahnya sudah menghabisi anak buah pria tua itu yang tidak seberapa di banding anggota yang ia bawa saat ini.
"Kali-an..."
Tubuh berlumuran darah yang mengalir dari arah tepat jantung itu kini sudah ambruk bersamaan dengan sebuah senjata yang ada di genggamannya.
"Bereskan dia!" pintah Bram.
"Tuan." Bram berlari cepat melepaskan ikatan yang memaksa tubuh Abian berada di kursi itu.
Soal mayat Tuan Devano sudah selesai di urus dengan para anggota Bram. Mereka meninggalkan tempat itu dengan bersih tak ada sisa satu tubuh pun di sana.
Jangan tanyakan kemana mereka membawa tubuh yang berserakan di sana. Tentu mereka membawa ke markas rahasia. Banyak anjing pelacak yang harus mereka beri makan.
Beberapa mobil melaju ke arah yang berbeda, mereka berpencar menuju markas dan juga kediaman Malik.
"Tinggal satu binatang lagi, Bram." hardik Abian di sela-sela kemudi sekertarisnya itu.
"Untuk wanita itu, biarkan saya yang mengurusnya, Tuan." sahut Bram.
"Baiklah."
Perjalanan yang singkat kini telah mengantarkan Abian di kediamannya. Segera pria itu melangkah masuk ke dalam rumah dengan sambutan para pelayan di sana.
Terdengar jelas bunyi sepatu pantofel membentur lantai marmer mewah rumah megah itu. Buru-buru Abian menuju ke kamar utama untuk membersihkan diri sebelum ia bertemu dengan istri tercintanya.
Bram pun menunggu Abian dengan menjenguk Gia yang sangat ia rindukan.
Suara dorongan pintu terdengar membuat netra hitam milik Gia menangkap sosok pria yang ia tunggu-tunggu kepulangannya.
"Aku merindukan mu." bisik Bram yang sudah membenamkan wajah lelahnya pada dada sang istri.
Gia tersenyum lebar mendapat perlakuan hangat dari sang suami. Tangannya melingkar sempurna di bahu Bram.
"Apa kau lelah?" tanyanya.
Bram masih terdiam tanpa suara. Perlahan Gia mengusap lembut kepala Bram lalu ia membawa wajah pria itu menatapnya.
"Beristirahatlah, aku akan membawakan makan untukmu." pintahnya.
"Aku hanya merindukan mu. Apa aku pernah terlihat lelah?" sombongnya Bram pun mulai kembali terdengar membuat Gia hanya menghela nafasnya pelan.
Kini kedua manik mata Bram beralih menatap gadis cantik yang masih merah di samping sang istri.
Ia merebahkan tubuhnya di antara jarak Gia dan juga Raina yang masih terlelap dengan mengangkat kedua tangannya layaknya tidur orang tua.
"Kau sangat menggemaskan yah? mengapa gayamu sudah seperti orang tua saja, Raina? lihatlah tubuhmu masih merah jangan terlalu banyak bertingkah. Nanti kau jadi seperti Mamah mu hampir mirip dengan laki-laki."
"Ah..." Bram merintih kala cubitan kecil melayang di lengan kekarnya.
***
Lorong rumah sakit yang ramai dengan para pengunjung dan juga para tenaga medis tak mengurungkan pandangan Abian dan beberapa pelayan untuk menuju ruang rawat Indira.
Sementara Bram yang selalu setia berada di sisi Abian hanya bisa melepaskan kerinduannya dengan waktu yang singkat. Berharap masalah di keluarga Tuannya segera selesai agar ia juga bisa menghabiskan waktu dengan keluarga kecilnya di malam hari setidaknya.
Begitulah tanggung jawab. Tidak akan bisa mendahulukan kepentingan pribadi. Karena ia sudah memiliki tanggung jawab besar. Siapa bilang keluarga bukan tanggung jawab? keluarga adalah tanggung jawab yang paling utama. Namun, saat orang memiliki keterikatan hidup dengan tanggung jawab besarnya, tentu keluarga juga harus bisa menerima hal itu.
Begitu yang terjadi dengan Bram dan Gia. Keduanya sama-sama memiliki tanggung jawab pada keluarga Abian Malik.
Beberapa gadis cantik mau pun wanita tua berbisik lirih kala menatap Abian dan Bram. Visual yang benar-benar mampu menipu banyak orang. Banyak yang terjebak dengan wajah gagah keduanya.
Mereka berpikir jika keduanya adalah pria yang mengerikkan, meskipun sebenarnya tidak selamanya kedua pria berwajah dingin memiliki pribadi yang menakutkan, justru tanpa mereka ketahui kedua pria itu sangat penyayang pada keluarganya.
Ada jiwa kebucinan yang tidak mereka ketahui di dalam sana.
Knock pintu ruang rawat Indira terbuka lebar saat Abian dan yang lainnya masuk. Wajah cantik terlihat memberikan segaris senyum bahagia di sana melihat suami tercintanya sudah datang dengan anak bayi tampannya itu.
"Bi...kau sudah datang?" Suara Indira terdengar samar-samar. Dengan langkah lebar Abian memeluk tubuh istrinya.
"Aku merindukan mu, Sayang." tutur Abian di sela-sela pelukannya tanpa perduli dengan beberapa mata yang sudah menatap ke arah mereka.
"Papah, minggir." Tangan mungil Rabian memberi jarak paksa pada kedua orang tuanya.
Kening Abian berlipat tipis karena bingung melihat tingkah putranya.
"Hey ada apa denganmu? mengapa Papah tidak boleh memeluk istri Papah?"
"Rabian yang boleh peluk Mamah sama Adek Rafael. Papah kan sudah punya uncle Bram."
Semua terkekeh mendengar ucapan Rabian. Masih sempat-sempatnya ia bercanda di sela-sela kerinduan Abian yang teramat berat meski hanya beberapa jam saja tentunya.
"Bibi, kemari berikan Rafael padaku saja." pintah Indira yang sudah merindukan putranya.
"Mamah, kok cuekin Rabian sih!"
Indira terkekeh melihat kemarahan putranya. "Kemari, Rabian Mamah peluk juga."
Indira menyodorkan asi miliknya pada Rafael, sementara Rabian berbaring di samping Indira dengan tangan yang terus mengusap lembut tubuhnya.
"Rabian, Mamah tidak cuekin Rabian sayang. Adeknya kasihan kan sudah lama tidak minum asi dari Mamah. Pasti haus makanya Mamah cepat-cepat mau kasih asi pada Adek Rafael." terang Indira.
Rabian yang hendak terlelap segera bangun kembali dari tidurnya. "Mamah sayang kan sama Rabian?"
Abian tersenyum menatap putra kecilnya itu. Rabian ternyata sudah semakin besar hingga mengerti kata sayang. Meski ia belum terlalu memahami apa arti kata sayang itu.
"Tentu sayang, Mamah sangat sayang Rabian, Adek Rafael, dan Papah."
"Kak Indira," Suara gaduh tiba-tiba terdengar dari sumber pintu yang terbuka.
Gibran. Ia baru saja tiba setelah melihat pesan yang Nyonya Ningrum kirim padanya.
"Gibran." balas Indira yang terkejut dengan kehadiran sang adik.
"Maureen, eh maksudnya Kakak. Apa yang terjadi?" tanya Gibran masih mengatur nafasnya.
Indira yang ingin menjawab justru hanya menghela nafasnya kasar.
"Astaga sebegitu penuhnya kah pikiran mu dengan Maureen sampai tak ada tempat untuk Kakakmu ini?" tanya Indira menggoda adiknya.
"Untuk apa kau ada di pikiran adikmu? kau hanya ada di pikiran ku sayang." Abian pun bersuara menimpali percakapan antara kakak dan adik itu.
Mata Indira berotasi lambat kala mendengar perkataan sang suami yang mulai lagi sifat kekanak-kanakannya.
Mata Gibran membulat sempurna saat menyadari jika nama yang baru saja ia sebut tertinggal di toilet kantin kampus. Tangan lebar Gibran menepuk keningnya masih dengan nafas yang memburu.
"Ada apa, Gibran?"
"Astaga Kak, Maureen Gibran tinggal di toilet kantin." ucapnya frustasi.
Semua tertawa mendengar penjelasan pria tampan itu. "Sepertinya aku tidak jadi mengeluarkan uang untuk pernikahan kalian, pasti Maureen sudah membatalkan pernikahan kalian Gibran."
"Kak Indira tidak apa-apa kan? Gibran akan segera kembali."
Dengan langkah terburu-buru pria itu keluar dari ruang rawat Indira dan menuju mobilnya. Ia terlalu panik dengan kakak cantiknya hingga melupakan wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Di ruangan tinggallah Abian, Indira dan kedua anak mereka. Sedangkan Nyonya Veren beralih ke tempat ruang rawat Bi Qila yang di sana ada Nyonya Ningrum.
Sedangkan Bram sudah berpesan pada Abian agar di ruangan itu saja. Ia akan membereskan Afrah saat itu juga. Ia tidak ingin mengulur waktu dan membiarkan musuh menghancurkan waktu berharga mereka dengan keluarga.
ika widya
semoga lbh seru y....😘