NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Perjodohan / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:634.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Nofiya Hayati

Jenny adalah gadis cantik, mandiri dan pemberani. Setelah Papanya meninggal karena menolong seorang pemuda yang tidak dia ketahui, dia harus bekerja keras untuk melanjutkan sekolahnya.

Jeffrey cowok tampan namun selalu memasang muka jutek dan bersikap dingin. Terlahir dari keluarga kaya membuat dia bersikap arogan dan semena - mena.

Suatu hari, peristiwa memalukan memberikan kesan buruk bagi Jenny dan Jeffrey ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya di dalam sebuah bus kota. Sehingga membuat mereka saling benci.

Rasa saling benci mereka terus berlanjut ketika tanpa sengaja kedua anak manusia yang bagaikan anjing dan kucing itu masuk ke dalam satu fakultas dan kelas yang sama.

Hingga suatu hari, keduanya harus terjerat dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Apakah rasa benci mereka akan terus bertahan ataukah rasa benci berubah jadi cinta?

Mari disimak yuk🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ungkapan Cinta Sean

Gadis bermata almond berhias mutiara biru terlihat sedang menikmati pemandangan sungai Cam yang membentang luas membelah kota Cambridge dari jembatan yang memnghubungkan dua wilayah yang dipisahkan oleh sungai tersebut.

Sesuai namanya, nama kota Cambridge sendiri diambil dari kata sungai Cam dan Bridge ( jembatan ).

Paluh air sungai yang gelap karena malam tampak cantik dipenuhi bias cahaya lampu yang bagaikan gugusan bintang yang bertebaran di atas air.

Jenny menghirup udara malam yang berpadu dengan aroma sungai untuk menghilangkan penat tubuhnya yang selama ini dia abdikan hidupnya untuk kuliah dan berkerja part time.

Dari samping, Sean juga tampak menikmati pemandangan di depannya. Bukan sungai Cam, bukan juga pepohonan rindang yang berjajar rapi di pinggir sungai yang menjadi objek pemandangannya saat ini. Dia tidak bosan-bosannya menatap muka Jenny yang begitu polos dan natural. Tidak ada riasan di sana, bahkan pemerah bibir sekalipun.

"Jenn, aku harap kamu mau memikirkan apa yang aku katakan tadi," Sean mengungkit kembali momen di saat dia menyatakan perasaannya di salah satu gondola yang menggantung di wahana bianglala.

Blush...

Seketika pipi Jenny tampak merona, dadanya berdesir mengingat perkataan Sean. Ini baru pertama kali baginya menerima pernyataan cinta dari seorang pria. Di tambah lagi pria itu memiliki muka rupawan bak pangeran berkuda putih.

Jujur, selama bersama Sean, gadis itu mulai merasakan kenyamanan. Berbeda dengan Jeffrey, karakter Sean sangat hangat dan perhatian.

"Aku akan memikirnya Sean. Maaf ya, bukannya aku berlagak jual mahal, tapi ini baru pertama kali untukku," jujur Jenny dengan mimik muka polosnya.

"Aku akan sabar menunggu jawaban darimu," Sean tersenyum penuh harap seraya mengacak pelan rambut Jenny. Setidaknya Sean sedikit merasa lega setelah mengutarakan perasaan yang telah dia simpan selama dua tahun terkahir di dalam hatinya.

"Sean sebaiknya kita pulang, aku tidak ingin Mama khawatir karena pulang terlalu malam,"

Sesaat kemudian Jenny sudah kembali di kediamannya. Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan baju tidur, gadis blonde tersebut melempar tubuhnya ke atas ranjang mungil kesayangannya. Beberapa kali dia tampak berguling-guling sambil memeluk boneka beruang dengan mimik muka tersipu malu karena mengingat ungkapan cinta Sean.

"Apa sebenarnya aku juga menyukainya? Aku sendiri belum bisa mendefinisikan apakah itu perasaan suka pada lain jenis,"

"Apa aku segera memberi jawaban saja? Tapi aku takut merasa nggak pantas berpacaran dengannya yang merupakan idola kampus," Jenny tampak murung.

Tatkala Jenny masih sibuk dengan monolognya sendiri, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.

"Masuk saja, pintu tidak dikunci," teriak Jenny yang masih di atas ranjang.

Tidak lama pintu terbuka dan Emy muncul dari balik daun pintu.

"Mama kira kamu sudah tidur sayang," ucap Emy setelah mendaratkan tubuh di samping sang putri.

Jenny menggeleng kepalanya. "Jenny belum mengantuk Ma,"

"Apa ada sesuatu yang ingin dibicarakan?" tanya Jenny.

"Sebelumnya Mama ingin bertanya, apa hubunganmu dengan Nak Sean?"

"Kenapa Mama bertanya seperti itu? Tentu saja kami berteman," balas Jenny dengan senyuman kikuk. Memang status mereka saat ini tidak lebih dari berteman bukan? Secara Jenny belum memberi jawaban tentang bagaimana kelanjutan hubungan mereka.

"Syukurlah," Emy tampak lega.

"Ada apa sih Ma?" Jenny mulai curiga mendapati respon Emy yang berkesan dia akan merasa keberatan jika Jenny terlalu dekat dengan Sean.

"Jangan Berpikiran Mama tidak suka dengan Nak Sean. Tentu saja Mama suka jika kamu berteman dengannya sayang, dia anak yang baik dan sopan," tutur Emy dengan senyuman hangat khas seorang ibu.

"Sebenarnya Mama berniat mengenalkanmu dengan putra Tante Briana, katanya dia seumuranmu," sambung Emy lagi.

Beberapa saat yang lalu, Briana memang menghubungi Emy dan membahas tentang perihal memperkenalkan para putra dan putri mereka.

"Hanya berkenalan saja kan Ma?" tanya Jenny menyelidik.

"Sebenarnya kami berniat menjodohkan kalian," beber Emy yang sedikit ragu.

"Apa? Itu tidak mungkin Ma.. Jenny masih sangat muda. Umurku saja masih 20 tahun," Jenny tampak keberatan.

"Sayang Mama tidak akan memaksa kalian untuk menerima perjodohan ini, tapi tidak ada salahnya kan jika kalian bertemu dulu. Kali saja kalian cocok," rayu Emy seraya mengusap lembut rambut putrinya.

"Tapi Ma..," Jenny memasang muka melas.

"Sayang dicoba saja dulu ya. Tante Briana sudah banyak membatu biaya sekolahmu. Lagian Tante Briana juga tampak menyayangimu,"

Jenny terdiam sejenak. Sesaat pikiran mengulang di mana Sean menyatakan perasaannya beberapa jam yang lalu. Entah mengapa dia merasa tidak enak hati kepada Sean meski Jenny belum memberi keputusan tentang kelanjutan hubungannya dengan Sean.

"Baiklah Ma," akhirnya Jenny menerima tawaran Emy meskipun dengan berat hati.

"Makasih ya sayang, dan maafkan Mama yang belum becus menjadi orang tua yang baik. Aku bahkan tidak mampu membiayai sekolahmu," ucap Emy sendu dengan sepasang netra yang mulai terasa panas.

"Bahkan sudah beberapa bulan ini Mama sakit-sakitan. Kamu pasti menderita hidup bersamaku," lanjut Emy yang mulai menitikkan air mata.

"Mama jangan berkata seperti itu, Jenny senang bisa hidup bersama Mama," Jenny memeluk tubuh Emy dengan sayang.

Jenny melepas pelukannya lalu memandang muka Emy dengan mimik muka tak terbaca.

"Kenapa kamu menatap muka Mama seperti itu sayang?" tanya Emy heran seraya mengusap cairan bening yang membasahi pipinya.

"Apa Mama sudah pernah bertemu dengan anaknya Tante Briana?" tanya Jenny yang mulai penasaran.

"Mama belum pernah bertemu dengannya," jawabnya terus terang.

"Apa?! Bagaimana kalau ternyata dia jelek, berjerawat, hitam, rambut keriting, berkaca mata tebal, bergigi tonggos dan bertompel? Apa Mama tega?" celetuk Jenny.

Emy tertawa lebar mendengar cicitan putrinya tersebut.

"Apa yang kamu katakan sayang? Tante Briana sangat cantik sedangkan suaminya juga sangat tampan. Dia lahir dari bibit unggul sudah jelas dia akan sangat tampan," tutur Emy yang masih terkekeh geli.

"Tapi tetap saja Ma, ada kemungkinan dia seperti yang Jenny bayangakan tadi," Jenny mengerucutkan bibir tipisnya.

Di waktu yang sama di kota London. Sepasang anak manusia tampak berseteru di dalam sebuah apartemen.

"Sayang aku mohon jangan seperti itu, aku benar-benar sedang mengandung anakmu," ucap Ella di sela isak tangisnya.

"Sudah aku bilang, aku tidak mempercayainya. Lagian aku bukan yang pertama di saat aku melakukannya denganmu," Sangkal Diven penuh amarah.

"Tapi ini anakmu, aku mohon percayalah,"

"Sepertinya aku terlalu bersikap baik padamu selama ini. Sekarang aku ingin kita putus!" tandas Diven penuh penekanan seakan tidak butuh bantahan.

"Tidak! Bagaimana kamu bisa memutuskanku di saat aku sedang mengandung anakmu Div. Aku tidak ingin jauh darimu," Ella memohon seraya bersimpuh di kaki Diven.

Seakan rasa kemanusiaannya sudah terkubur kedalam reruntuhan batu yang membuat pria yang disangka sebagai Ayah otentik dari janin tersebut menendang Ella yang sedang hamil sampai tersungkur tanpa belas kasihan. Diven menyeret tubuh Ella menuju keluar apartemen dan menutup pintu dengan kasar yang membuat Ella terjingkat di sela isak tangisnya yang semakin pecah.

"Sayang ada apa denganmu?" tanya Amber dengan mimik muka yang begitu cemas karena melihat putrinya memasuki rumah dengan langkah gontai dan muka yang masih basah karena menangis.

"Mama..," Ella berhambur ke pelukan Amber dengan tangis yang semakin pecah.

"Ada apa? Berceritalah!"

Ella melepas pelukannya dan sedikit membuat jarak kepada Amber. Dia menunduk tidak berani menatap muka sang Mama.

"Aku.. hiks. Aku.. hamil Ma," ungkap Ella ragu.

"Apa?! Kenapa kau sangat bodoh?! Kau sangat memalukan!" hardik Amber seraya mengguncang tubuh Ella dengan kasar.

"Apa Diven yang menghamilimu?"

Ella mengangguk lemas.

"Suruh dia bertanggungjawab!"

"Diven tidak percaya kalau aku sedang mengandung anaknya Ma, dia malah memutuskanku," beber Ella tersedu-sedu.

"Apa?! Dasar anak baj*ngan!"

"Terus apa yang harus Ella lakukan dengan bayi yang ada di perutku ini Ma?"

"Apa-apaan ini?! Apa kau sekarang sedang hamil?! terdengar suara pria berumur 50 tahun yang tak lain adalah suami Amber. Beberapa waktu yang lalu, dia mendengar keributan di lantai satu rumahnya dan tanpa sengaja mendengar semuanya.

"Honey, tolong dengarkan dulu penjelasanku," Amber berupaya agar suaminya bisa menahan amarahnya.

"Aku tidak butuh penjelasan. Kalian berdua sudah merusak nama baikku! Sekarang angkat kaki kalian dari rumah ini sekarang juga!" seru pria tersebut seraya menunjuk geram kearah pintu keluar.

"Tidak! Aku tidak akan angkat kaki dari rumah ini. Aku sudah memberikan semua aset warisan dari suami terdahulu ke kamu,"

"Aku tidak pernah memaksamu untuk memberikannya kepadaku Amber, lagian semua harta yang kau berikan sudah atas namaku, jadi kau tidak berhak mengambilnya kembali, camkan itu," ujar pria tersebut seraya menyeringai licik.

Sebenarnya, pria yang berstatus suami Amber tersebut hanya memanfaatkan aib Ella sebagai alibi untuk mengusir sepasang Ibu dan anak tersebut. Selama ini, dia hanya berniat memanfaatkan cinta bodoh Amber kepadanya untuk menggait semua harta peninggalan suaminya dan berniat mencampakkan mereka ketika semua tujuannya sudah tercapai. Selain itu, Amber juga tidak pernah tahu, bahwa pria yang berniat mengusirnya saat ini sedang menyandang status suami orang. Amber benar-benar ditipu mentah-mentah.

Amber dan Ella berjalan lunglai menyusuri jalanan kota London yang masih terlihat ramai kendaraan meski malam sudah begitu larut. Mereka benar-benar sudah ditendang secara paksa dari kediamannya.

"Ma, sekarang kita akan tinggal di mana?" tanya Ella tersedu-sedu.

"Mama juga tidak tahu, kita sudah tidak punya tempat tinggal sekarang," Amber juga tak kalah tersedu-sedunya.

"Ma, bukankah kau masih menyimpan uang biaya kuliahku yang diberikan oleh sesorang wanita waktu itu? Kita bisa tinggal di hotel untuk sementara dengan uang itu," saran Ella.

"Uang itu sudah habis karena dipakai oleh pria b*ngsa*t yang baru saja mengusir kita," beber Amber.

Ella semakin menangis menjadi-jadi setelah mendengar ungkapan Amber.

Sepertinya apa yang dikatakan Briana waktu itu benar. Amber dan Ella memanen hasil dari perbuatannya sendiri, begitulah karma bekerja. Kini mereka merasakan hal yang sama dengan apa yang pernah mereka lakukan kepada Jenny tempo lalu. Itulah balasan dari Tuhan atas tindakan seseorang yang menyakiti makhluk ciptaan Tuhan lainnya.

Bersambung~~

Minimal kasih dukungan like kepada Author jika rate, vote, coment, dan hadiah terasa berat. Terimakasih🤗

1
Luzi
😍
Bhre Sandra
asyek asyek azew ...
Deni T Saputra
lanjutkan thor
Jaenah Susanti
mudah²an di pesta itu, detak jantung c jeffrey jd ga beraturan, krna ngeliat penampilan jenny yg berbeda alias cantik.
Senajudifa
kutukan cinta dan mr.playboy hadir
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Mamah Briana mencuri kesempatan di balik beban Jenny.
Tp tak apa karna itu semua demi kebaikan mereka Semua👍
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
klo Nikah pasti seru 👍
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Kasean juga ya nasib Ember dan gayungnya. Mereka sekarang larut terbawa arus sungai yg deras.
tp itu karma👍
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Suasana hati Jeffrey sdg buruk pasti efek liat Jenny ama Sean. Cembokur tuh. Tp Gengsi😆😆👍
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Benci jadi Cinta emang so sweet terasa.
dibandingkan Cinta jd benci.
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Cekcok mulu tp Cocok tau👍😆
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Untung tuh si cupu, klo beneran berhasil nyium😁
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Jeffrey Caper neh
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Sepp Jenny emang good. seru klo jd temen Jenny neh.
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Perdebatan mereka buatku ingin menyaksikan adanya cinta hadir di hati kedua insan tersebut.
Pasti banyak adegan malu² kucing.
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
genteng semua
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Wauu....keren semua tp sikap nya belum ku kenal jauh. jd blom bisa milih dukung siapa ya?...
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Putraku ?...maksudnya
penasaran buatku mo mandi jd batal
Senajudifa
kutukan cinta mampir...sdh kufavoritkan y
𝐬𝐚𝐟𝐫𝐢𝐚𝐭𝐢
Harus tetap jd menantu Briana walau Jenny menolak. ltu mauku harap Author mematuhinya.👍😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!