Masalalu yang sudah ku anggap berakhir, entah mengapa harus terjalin lagi dengan hidupku dengan sebuah IKATAN PENIKAHAN.
No plagiat-plagiat, Yes!!
Like
Follow
Vote
Comment
Kasih saran bahasa yang baik, jangan galak-galak ,Yes!
Author baperan 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon icha Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 24
Happy Reading......
.
.
.
.
.
.
.
Enjoooooy!!
*****
DEANDRA
"Pesona ketampanan mereka setiap hari, semakin terpancar saja, " ucap Emilly dengan tatapan berbinarnya.
"Hheumm, ingin sekali aku menjadi kekasih salah satu dari mereka, " ucap Joya sambil membenarkan letak kacamatanya, yang sebenarnya baik-baik saja
Melihat Theo, dan Marco melewati ruangan kami membuat mereka langsung bertingkah layaknya fans melihat idolanya. Aku yang melihat tingkah mereka hanya bisa menggelengkan kepala.
Setelah waktu jam makan siang habis. Aku dengan teman lainnya, sudah berada di meja kerja masing-masing.
"Pak Theo! Sangat sulit bagi karyawan wanita untuk menarik perhatian darinya, karena dari itu beliau masih saja lajang sampai sekarang, " ucap Emilly.
"Ku dengar, Pak Marco baru saja putus dari kekasihnya. Apakah mungkin ada secercah harapan menjadi kekasih selanjutnya? " tanya Joya antusias.
"Apa kau lupa? Pak Marco tidak pernah mengencani karyawannya, sangat mustahil untuk menjadi kekasihnya, " sahut Emilly yang membuat Joya lesu seketika.
"Kalian terlalu berlebihan. Laki-laki yang masih lajang bukan hanya mereka saja, contohnya Jack dan Tommy " ucapku tanpa melihat mereka.
"Haiish, kau ini! Sebelum CEO kita bertunangan mereka bertiga adalah idolanya para karyawan wanita, dan kita harus rela kehilangan, saat tahu satu sosok pria idolanya sudah bertunangan " ujar Emilly dengan raut cemberutnya.
"Tapi aku senang, karena kamulah wanita yang menjadi tunangannya Pak Christian, " lanjut Emilly.
Membuatku menatapnya bingung. Seakan tahu apa maksudku ia berkata lagi, "Kamu baik, smart dan juga care. Sangat cocok di sandingkan dengannya " ujar Emilly.
"Yang aku lihat, Pak Christian sangat mencintaimu " sahut Joya yang di angguki Emilly.
"Apa kalian sudah membuat list, untuk belanja nanti di Mall ? " tanyaku cepat alihkan pembicaraan.
"Tentu saja sudah, aku akan membeli....."
Aku perhatikan Emilly, dan Joya saling berbicara tentang nanti belanja apa saja yang harus di beli. Namun, obrolan mereka tidak terlalu ku simak pembicaraannya.
Pikiranku melalang buana pada ucapan Joya, yang sempat mengatakan bahwa Christian sangat mencintaiku. Benarkah! Cinta apa yang di maksud?! Jika, Christian saja berkencan dengan wanita lain!.
Hahh! Memikirkannya saja membuatku sakit kepala. Aku akui. Ada sedikit denyut di hatiku, ketika kabar tentangnya sedang bersama wanita lain.
Mungkinkah, aku sudah membuka hatiku lagi untuknya? Jika itu terjadi, aku harus cepat ambil tindakan. Tidak akan seperti dulu lagi. Hanya bisa melarikan diri karena aku lemah, dan pengecut yang tidak siap menerima kenyataan.
Akan aku buktikan pada orang yang pernah menyakitiku. Bahwa aku bukan Cessa seperti mereka kenal dulu, yang mudah di bodohi. Deandralah yang harus mereka kenal, kehidupan pahit yang merubahnya menjadi kuat dan berani.
"Ayo guys! Kita selesaikan tugas kita cepat. Agar selama liburan, kita tidak perlu memikirkan lagi pekerjaan yang menumpuk nantinya. " ujarku menyela obrolan mereka, yang langsung mereka iyakan, dan kembali pada pekerjaannya masing-masing.
*****
Di sinilah aku, di dalam lift dengan tujuan menyerahkan hasil kerja tim kami pada Theo.
Berada di lantai yang sama, dengan ruangan Christian.
Suara dentingan ketika pintu lift terbuka, berjalan ke arah ruangan sekretaris di mana Theo berada. Saat ini tengah duduk dan terlihat sibuk dengan kertas-kertas berserakan di atas meja kerjanya.
"Ahh, Deandra!" saking fokusnya pada kertas yang ia baca. Theo baru menyadari kehadiranku ketika aku berdehem cukup keras, membuatnya sedikit terkejut.
"Ini profosal pemasaran hotel baru, yang sudah diselesaikan oleh tim ku " ucapku dan menyerahkan sebuah map padanya, segera ia ambil dari tanganku.
"Ternyata, hanya butuh waktu kurang dari seminggu. Kamu sudah bisa menyelesaikan semuanya, " ucap Theo bangga.
"Saya harap, semua hasilnya tidak mengecewakan " lanjutnya, ku angguki pelan.
"Ya, sudah. Kalau begitu saya permisi. " ujarku, berbalik dan menjauh dari sana.
"Deandra, " suara Theo menghentikan langkahku.
"Ya? " tanyaku, yang sudah menatap Theo kembali.
"Tentang..." menaikan satu alisku, ketika Theo terlihat ragu dengan apa yang akan ia katakan.
"Setelah kamu melihat artikel, yang memberitakan Christian dengan wanita lain selama di London. Saya harap kamu percaya padanya. Saya sebagai sahabatnya, sangat mengetahui bahwa kamulah wanita satu-satunya yang ia cintai. " ucap Theo panjang lebar. Membuatku yang masih berdiri, menatapnya lurus.
"Saya pergi. " hanya itu, kata yang keluar dari mulutku sebelum berlalu dari sana.
*****
Manhattan Mall adalah salah satu pusat perbelanjaan dari 3 mall terbesar di New York City. Aku Emilly, dan Joya saat ini sudah membawa beberapa paperbag masing-masing. Semuanya adalah barang yang kami beli, dan sangat diperlukan selama di sana. Setelah cukup berkeliling selama 3 jam, yang membuat kaki kami seperti ingin patah saja. Akhirnya, aku dan lainnya memutuskan istirahat di restoran cepat saji yang masih di area mall, sekaligus makan malam juga.
"Guys, sepertinya aku harus segera pulang "
"Aku juga, Em. Bagaimana denganmu Deandra? "
Ujar Emilly, dan tanya Joya setelah kami selesai makan, dan selama itu di selingi obrolan-obrolan singkat tentang Anniversary nanti. Mereka mulai membenahi barang-barangnya teliti, supaya tidak ada yang ketinggalan.
"Saya masih ingin berada di sini, menghabiskan Ice creamku terlebih dahulu " jawabku. Sambil menyuap ice cream coklat ke mulutku.
"Oke. Kalau gitu, aku dan Emilly duluan Deandra. Kamu hati-hati bawa mobilnya, saat pulang nanti. " ucap Joya, yang ku iya kan.
Melihat mereka berdua sudah berlalu, ku alihkan pandanganku pada segelas ice cream yang tinggal sedikit, lalu segera ku habiskan cepat. menyeka bibirku, agar tidak ada ice cream yang menempel. menyatukan paperbag menjadi satu di satu tangan, dan berjalan menjauh dari sana.
Berjalan ke arah yang ku lewati tadi, membuka sebuah pintu kaca yang menarik perhatianku saat pertama kali melihatnya.
Sambutan kedatangan, saat aku sudah berada di dalam ruangan.
"Welcome to Sexy Beauty New York & Spa " sebuah suara pria atau wanita. Lebih tepatnya waria kali ya, pikirku.
"Oh! Wanita cantik ternyata. Hai! Saya Madame Marie pemilik salon ini. Kamu tepat sekali masuk ke salon ini, apa yang ingin kamu butuhkan? Menicure, Pedicure, Manikur. Semua perawatan tubuh dan kecantikan semuanya ada di sini. " cerocosnya membuatku bingung.
"Hahh! " ucapku kaget saat sudah di giring duduk oleh si pemilik salon.
"Sexy Beauty...."
"Sssttt " ku angkat telapak tanganku, sebelum ia berbicara panjang lagi. Membuatnya diam seketika.
"Saya ingin memotong rambut, bisa anda potongkan untuk saya... " jedaku menatapnya.
"Madame Marie, panggil saya Marie "
"Oke Madame. Bisa tolong potongkan rambutku, sekiranya sebahu "
"Itu hal yang mudah, tapi sayang rambut panjang sehitam ini kalau harus di potong pendek seperti itu " ucapnya sambil mengelus rambutku.
"Bagaimana, jika aku potong sedikit dan akan merubahnya terlihat menawan yang sangat cocok untuk warna kulitmu " sarannya antusias.
"Oke, Saya serahkan semuanya padamu. Jangan buat saya kecewa, bila itu terjadi! Entah apa yang akan saya lakukan pada ruangan ini! " ancamku menatapnya dingin. Membuatnya mengangguk gelagapan.
****
"Pas sekali. Kamu membaca majalah baru trending topik hari ini, yang lagi panas-panasnya di bicarakan "
Sedari tadi bukan hanya tangan Marie saja yang bergerak, tapi mulutnya pun tidak berhenti mengeluarkan suara. Sebuah majalah yang sudah ku baca saat di kantor, sama seperti yang ku pegang sekarang.
"Pria tampan dan kaya sepertinya selalu bebas untuk memilih pasangan yang di inginkannya. Mengedipkan mata pun, para wanita akan langsung menempel padanya.
Kau tahu! Kabar-kabarnya ia sudah memiliki tunangan. Tapi masih saja ia terpegok jalan dengan wanita lain, yang merupakan seorang model lagi naik daun itu. Wanita yang menjadi tunangannya sampai sekarang pun masih di rahasiakan dari publik.
Apa mungkin wanita itu rupanya jelek? Sehingga harus di sembunyikan karena malu, atau bisa jadi dari keluarga miskin? Aku yakin! Pasti pertunangan itu hasil dari perjodohan. Ckck! Kasihan sekali pria tampan itu, dan betapa beruntungnya wanita yang di jodohkan dengannya. Membuatku iri saja. "
Mendengar kalimat terakhirnya yang absurd, membuatku refleks memutar bola mata.
"Jika aku lihat. Kau dengan wanita model itu, lebih cantik dirimu. Hanya saja kamu tutupi kecantikanmu dengan style yang kaku ini. " lanjutnya sambil mengeringkan rambutku yang baru saja di washing hair.
"Apa kau sedang membujukku, untuk tidak melakukan hal buruk pada ruangan ini? " tanyaku menatapnya dari pantulan cermin.
"Hehe...sedikit sih. Namun, yang Marie katakan tadi memang benar kok. Jika saja penampilan kakumu ini di rubah dengan style kekinian. Marie yakin, kamu akan terlihat lebih cantik. Para pria di luaran sana akan terjerat ke dalam pesonamu, dan model wanita manapun lewat..! " ucapnya di akhiri kibasan tangan gemulainya.
Memikirkan apa yang di katakan Marie, membuatku yakin. Yakin! Bahwa seorang Deandra, akan memancarkan kembali pesonanya yang selama ini ia sembunyikan.
*****
Next Chapter....
.
.
.
.
.
.
.
Like and Comment
Follow and Vote
See U 😉