"Menikahlah. Jadi orang tua utuh untuk Kenzie. Jangan biarkan dia merasa kehilangan sosok ayah dan ibu. Tolong, jangan biarkan dia sendirian."
Demi wasiat kedua kakaknya. Aruna dan Gavin terpaksa menikah saat itu juga. untuk menggantika peran kedua kakaknya pada keponakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amillea24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Bel berbunyi nyaring, memecah kesunyian koridor Children Smart School. Aruna menarik napas dalam-dalam, mencoba mengenyahkan sisa-sisa kekesalannya pada Gavin dari dalam benak. Saat ini, fokus utamanya adalah anak-anak didiknya dan tentu saja, Kenzie.
Dengan senyum yang dipaksakan tampil sehangat mungkin, Aruna membuka pintu kelas B-1. Begitu langkah kakinya melewati ambang pintu, seruan riuh langsung menyambutnya.
"Miss Arunaaa!"
Puluhan bocah berusia empat tahun yang sedang duduk melingkar di atas bangku warna-warni bersorak kompak. Mereka langsung bangkit dan berlari kecil menghampiri Aruna, berebut untuk menyalami tangan guru kesayangan mereka yang sudah seminggu ini absen.
"Miss Aruna, aku kangen!" cerocos pangeran kecil berambut ikal bernama Leo.
"Miss, kenapa kemarin ngga masuk? Aku bawain cokelat tapi udah meleleh," timpal kiara, bocah perempuan dengan bando merah muda.
Aruna merasakan kehangatan menjalar di hatinya. Rasa lelah dan sesak yang membayangnya sejak subuh tadi perlahan sedikit terangkat melihat antusiasme murni dari anak-anak ini. "Miss juga kangen sekali sama kalian semua. Maaf ya kemarin Miss ada urusan, tapi sekarang Miss sudah kembali."
Namun, atensi anak-anak itu tidak bertahan lama pada wajah Aruna. Mata-mata bulat yang penuh rasa ingin tahu itu serentak turun, tertuju pada sosok balita yang sejak tadi bersembunyi di balik kaki Aruna, meremas ujung blus pastelnya dengan erat. Kenzie tampak mengerutkan kening, bingung sekaligus agak takut melihat begitu banyak anak kecil yang lebih besar darinya berkumpul di sekelilingnya.
"Eh... Miss Aruna bawa boneka hidup?" tanya Leo polos, menunjuk Kenzie dengan mata melebar.
"Bukan boneka, Leo! Itu dedek bayi! Ih, lucu banget pipinya kayak bakpao!" seru Kiara gemas, hampir saja mencubit pipi Kenzie kalau Aruna tidak segera menghalanginya dengan lembut.
"Miss, ini siapa? Kok mirip sama Miss Aruna?" tanya murid lain bertubi-tubi. Kelas yang tadinya teratur mendadak riuh rendah karena kedatangan tamu kecil berkaus monyet tersebut.
Aruna berlutut di tengah lingkaran anak-anak, menyamakan tingginya dengan mereka seraya merangkul pundak kecil Kenzie agar bocah itu merasa aman.
"Anak-anak pintar, dengerin Miss dulu ya," ucap Aruna lembut, membuat seisi kelas seketika tenang. "Ini namanya Kenzie. Kenzie ini keponakannya Miss Aruna. Mulai hari ini, Kenzie akan ikut belajar dan bermain di kelas kita untuk sementara waktu. Tapi, karena Kenzie masih kecil—usianya baru 1,6 tahun—Kenzie belum bisa bicara lancar seperti kalian. Jadi, kalian harus sayang dan jaga Kenzie, oke? Jangan diajak main yang tidak - tidak, ya."
"Oke, Miss!" jawab anak-anak itu serempak dengan semangat membara. Bagi mereka, kehadiran Kenzie bukanlah sebuah gangguan, melainkan sebuah mainan baru yang sangat menggemaskan.
"Aku mau kasih mobil-mobilan aku buat dedek Eji!" seru Leo, langsung berlari ke loker mainannya untuk mengambil sebuah mobil balap plastik berwarna merah. Ia menyodorkannya di depan wajah Kenzie. "Ini buat kamu, Dedek."
Kenzie melihat mainan itu. Matanya yang bulat berkedip dua kali. Perlahan, rasa takutnya mulai terkikis oleh keramahan anak-anak di sekelilingnya. Tangan mungilnya terulur, menerima mobil-mobilan tersebut dengan ragu. "Ma-acih... Tata...." ucap Kenzie cedel, memberikan senyuman tipis yang memperlihatkan deretan gigi kecilnya.
"Wah, dia bisa bicara! Lucu banget suaranya!" anak-anak perempuan langsung heboh kegirangan melihat tingkah Kenzie.
Aruna tersenyum lega melihat respons positif tersebut. Ia kemudian menuntun Kenzie ke sudut kelas, di dekat area membaca yang beralaskan karpet busa empuk dan dipenuhi bantal-bantal besar. Di sana, Aruna mengeluarkan beberapa mainan balok kayu milik Kenzie sendiri dari dalam ransel besarnya, tak lupa menaruh botol susu suam-suam kuku yang sudah ia siapkan dari rumah.
"Kenzie duduk di sini dulu ya, Sayang. Main baloknya. Ante mau mengajar Kakak-Kakak dulu di depan. Kalau Kenzie butuh apa-apa, panggil Ante, oke?" bisik Aruna sambil mengelus rambut halus keponakannya.
Kenzie mengangguk patuh, langsung sibuk menyusun balok kayu di atas karpet sambil sesekali memainkan mobil merah pemberian Leo.
---
Proses belajar-mengajar pun dimulai. Aruna mulai memimpin kelas dengan membacakan cerita dari buku dongeng besar, lalu mengajak anak-anak bernyanyi bersama. Selama kegiatan berlangsung, suasana kelas benar-benar hidup namun tetap kondusif. Anak-anak didik Aruna sesekali melirik ke sudut kelas, memastikan "murid kehormatan" mereka baik-baik saja.
Setiap kali Kenzie berhasil menyusun baloknya menjadi menara tinggi, beberapa anak yang duduk di barisan belakang akan menoleh dan bertepuk tangan tanpa suara, memberikan jempol pada Kenzie. Kenzie yang merasa mendapat perhatian pun tampak senang dan tidak rewel sama sekali. Dia duduk dengan tenang, sesekali meminum susunya sambil memperhatikan tantenya yang sedang bernyanyi di depan kelas dengan mata berbinar.
Melihat betapa pintarnya Kenzie menjaga sikap, dada Aruna berdenyut nyeri oleh rasa haru yang mendalam. Bocah sekecil ini, yang baru saja kehilangan dekapan hangat orang tuanya, seolah mengerti bahwa tantenya sedang berjuang keras demi dirinya. Kenzie sama sekali tidak menangis atau mencari bundanya selama jam pelajaran berlangsung.
'Kak Adisti, Kak Rendy... lihat Kenzie. Dia anak yang sangat pintar dan kuat,' batin Aruna menahan genangan air mata yang hampir merusak riasannya.
Namun, di tengah rasa haru dan bangganya pada Kenzie, ingatan Aruna lagi-lagi terlempar pada sosok Gavin. Rasa hangat di hatinya mendadak menguap, berganti menjadi letupan kekesalan yang membakar dada.
Bagaimana bisa seorang paman kandung tega melarikan diri demi kesenangan pribadi dan membiarkan bocah sepintar ini terlunta-lunta? Sementara anak-anak asing di kelas ini begitu menyayangi dan menyambut Kenzie dengan tangan terbuka, Gavin yang memiliki hubungan darah justru menganggap kehadiran Kenzie sebagai beban yang membuang-buang waktunya yang "berharga".
'Kamu benar-benar keterlaluan, Gavin. Kamu bersenang-senang di luar sana, membiarkan aku pontang-panting sendirian,' geram Aruna dalam hati. Tangannya yang sedang memegang spidol warna-warni tanpa sadar meremasnya kuat-kuat.
Jam dinding terus berputar, dan Aruna sudah tidak sabar menunggu waktu pulang sekolah tiba. Ia bertekad, begitu menapakkan kaki di apartemen nanti, ia tidak akan memberikan celah sedikit pun bagi suaminya yang egois itu untuk berkelit lagi. Sebuah pembalasan yang setimpal sudah tersusun rapi di kepala Aruna untuk menyambut kepulangan sang pria playboy cap bunglon.
Bersambung...
tapi bagus run keren Badas Banggt dari pada pusing Meding enjoy sama ponakan
lagi dong Thor