NovelToon NovelToon
Bayang Yang Runtuh

Bayang Yang Runtuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Shanti_San

Kiara, putri tunggal keluarga terkaya, memilih menikah dengan pria biasa karena cinta yang ia pikir sangat kuat dan abadi. Selama sepuluh tahun pernikahan, Kiara hidup dengan rasa bersalah yang besar—ia tidak pernah bisa mengandung dan melahirkan anak, selalu menyalahkan dirinya sendiri, dan terus meminum obat yang dikatakan suaminya sebagai vitamin penyehat tubuh.

Semua kepercayaan dan kebahagiaannya runtuh dalam sekejap mata. Kiara mengetahui kenyataan pahit, suaminya telah berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Lebih menyakitkan lagi, obat yang ia minum setiap hari ternyata adalah pil penunda kehamilan. Sepuluh tahun ia pikir dia kurang subur, padahal dialah yang menjadi korban, dan suaminya sendirilah penyebab ia tidak pernah bisa memiliki keturunan. Puncak kehancuran tiba saat Kiara tahu sahabatnya kini sedang mengandung anak hasil perselingkuhan mereka.

Kiara pun memilih pura-pura tidak tahu, untuk membalaskan rasa sakitnya karena telah di tipu oleh mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 - Sangat Melegakan

Hari itu, waktu seolah berjalan lebih cepat dari biasanya. Bagi Kiara, hari itu terasa berbeda, terasa lebih ringan, dan terasa lebih berwarna dibandingkan hari-hari kelam yang ia lalui belakangan ini. Sejak pagi, saat ia bertemu kembali dengan Baskara, ada sesuatu yang berubah di dalam hatinya. Beban berat yang seolah menindih dadanya selama berminggu-minggu, entah mengapa terasa sedikit terangkat ke udara, digantikan oleh rasa nyaman dan damai yang sudah lama hilang.

Setelah berbincang panjang lebar dan mengenang masa lalu di ayunan taman belakang rumah, Kiara dan Baskara memutuskan untuk menghabiskan sisa waktu siang hingga sore hari bersama-sama.

Tujuan pertama mereka adalah sebuah restoran kecil yang sudah menjadi langganan mereka sejak remaja dulu. Terletak di pinggir kota, restoran itu menyajikan masakan rumahan yang lezat dan selalu mengingatkan mereka pada kenangan manis masa lalu. Di sana, mereka duduk berhadapan di meja dekat jendela yang terbuka, membiarkan angin segar masuk menyapa wajah mereka. Percakapan mengalir begitu saja, tanpa ada beban, tanpa ada kepura-puraan, dan tanpa ada rahasia.

Baskara bercerita panjang lebar tentang kehidupannya selama di luar negeri, tentang kerasnya perjuangan merintis bisnis, tentang budaya asing yang ia pelajari, dan tentang berbagai tempat indah yang pernah ia kunjungi. Kiara mendengarkan dengan antusias, sesekali tertawa renyah mendengar cerita lucu atau kejadian konyol yang dialami Baskara. Di sisi lain, Kiara pun bercerita meski ia dengan cerdik menyembunyikan masalah rumah tangganya tentang kegiatannya sehari-hari, tentang hobi berkebunnya, dan tentang berbagai hal sederhana yang ia nikmati dalam hidupnya.

Bagi Kiara, momen-momen itu adalah pelarian yang sangat ia butuhkan. Di samping Baskara, ia tidak perlu berpura-pura menjadi istri yang bahagia namun tertindas.

"Kamu sama sekali tidak berubah kara sangat bawel." Ucap Kiara memandang pria yang duduk di samping nya. Baskara tertawa kecil karena yang sebenarnya terjadi baskara tidak pernah lagi berbicara seluas itu setelah berpisah dengan Kiara.

mereka lalu pergi tempat favorit mereka dulu.

"Masih ingat tidak?" tanya Baskara sambil menunjuk sebuah goresan kecil di sisi samping bangku itu. Di sana terukir dua huruf: K dan B, yang dibuat mereka berdua puluhan tahun lalu dengan sederhana namun penuh makna.

"Dulu kita sempat berjanji, apa pun yang terjadi, ke mana pun kita pergi, kita akan selalu kembali ke tempat ini. Tempat di mana kita bisa menjadi diri sendiri seutuhnya."

Kiara tersenyum haru, mengusap lembut goresan huruf itu dengan ujung jarinya. Matanya kembali berkaca-kaca, namun kali ini bukan karena sedih, melainkan karena terharu. "Ingat sekali, Kara. Dulu kamu yang bersikeras mengukirnya, bilang supaya persahabatan kita abadi sampai kapan pun. Waktu itu aku marah-marah karena takut ketahuan penjaga taman, tapi kamu malah tertawa saja."

Baskara tertawa kecil, menatap langit biru yang mulai berwarna keemasan.

"Banyak hal yang berubah sejak saat itu, Kiara. Kita tumbuh dewasa, kita punya tanggung jawab masing-masing, kita berpisah jarak bertahun-tahun... tapi satu hal yang tidak berubah, tempat ini tetap sama, dan perasaanku padamu pun tetap sama."

Kalimat terakhir itu terucap begitu pelan, hampir berbisik, namun cukup jelas terdengar di telinga Kiara. Wanita itu menoleh, menatap Baskara yang juga sedang menatapnya dalam-dalam. Di mata pria itu, Kiara bisa melihat ribuan rasa yang tersimpan, ribuan janji yang tak terucap, dan ribuan rasa sayang yang terpendam. Kiara sadar betul isi hati Baskara. Ia sudah menyadarinya sejak lama, bahkan sebelum ia menikah. Namun dulu, ia terlalu buta oleh cintanya pada Ferdi, terlalu terbuai oleh janji manis pemuda itu, hingga ia mengabaikan perasaan tulus Baskara.

Kini, saat ia sudah jatuh dan terluka, saat ia sudah mengetahui kebusukan hati suaminya, kehadiran Baskara terasa seperti anugerah terindah yang dikirimkan Tuhan tepat pada waktunya. Seolah-olah Tuhan ingin mengingatkannya, Lihat, Kiara. Ada orang yang selama ini mencintaimu dengan cara yang benar, dengan cara yang setia, dan dengan cara yang tulus. Orang yang tidak akan pernah menyakitimu, apalagi mengkhianatimu.

Menjelang malam, Baskara mengantar Kiara pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan menuju kediaman mewah keluarga Wijaya, suasana di dalam mobil menjadi lebih hening dan tenang. Baskara sesekali melirik Kiara di kursi penumpang, merasa berat hati harus mengembalikan wanita itu ke lingkungan yang menurut firasatnya tidak baik baginya. Namun ia sadar, ia belum berhak menahannya lebih lama.

"Terima kasih, Kara..." ucap Kiara pelan saat mobil berhenti tepat di depan gerbang besar rumahnya. Ia menatap Baskara dengan senyum tulus yang paling indah hari itu.

"Terima kasih untuk hari ini. Terima kasih sudah membuatku tertawa, sudah membuatku melupakan segalanya untuk sehari saja. Aku sangat berterima kasih padamu. Kamu tidak tahu betapa berartinya hari ini bagiku."

Baskara tersenyum lembut, mengangguk perlahan. Ia ingin sekali memeluk wanita itu, ingin sekali membawanya pergi jauh dari sini, tapi ia menahan diri.

"Tidak perlu berterima kasih, Kiara. Kebahagiaanmu adalah hadiah terbesar bagiku. Ingat janjiku ya? Aku selalu ada. Besok, lusa, kapan saja... aku akan ada di sini. Pulanglah, istirahatlah. Dan... jaga dirimu baik-baik."

Kiara turun dari mobil, berdiri di depan pagar sambil melambaikan tangan sampai mobil hitam mengkilap itu menghilang di tikungan jalan. Hati Kiara terasa hangat, namun seketika rasa hangat itu perlahan berubah menjadi dingin saat ia berbalik badan dan menatap rumah besarnya sendiri.

Rumah itu tampak megah, besar, dan mewah dengan lampu-lampu yang menyala terang di setiap sudutnya. Namun, rumah itu terasa kosong, dingin, dan sunyi. Kiara melangkah masuk, melewati halaman yang indah, melewati ruang tamu yang luas, hingga ia sampai di ruang tengah utama.

Ia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam. Sudah larut. Sudah hampir tengah malam.

Matanya berkeliling mencari sosok suaminya. Tidak ada mobil Ferdi di garasi. Tidak ada suara langkah kaki Ferdi dari ruang kerja. Tidak ada suara televisi atau suara percakapan. Hanya ada keheningan. Kiara bertanya pada pelayan yang masih bertugas, dan jawabannya membuat senyum di bibirnya luntur seketika.

"Maaf Nyonya, Tuan Ferdi belum pulang sejak pagi berangkat tadi. Beliau juga belum menghubungi sama sekali seharian ini."

Belum pulang. Tidak ada kabar seharian.

Jantung Kiara berdegup kencang, bukan lagi karena sedih atau kecewa, melainkan karena rasa jijik dan kemarahan dingin yang kembali merayap masuk. Ia tahu persis di mana Ferdi berada. Ia tahu persis dengan siapa suaminya itu menghabiskan waktu seharian ini, saat dirinya sedang tertawa bahagia bersama Baskara. Ia bisa menebak dimana pria itu sekarang.

Kiara berjalan perlahan menuju kamar tidurnya, menaiki tangga satu per satu dengan langkah berat namun mantap. Di dalam kamar yang luas dan sunyi itu, ia berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Ia mengingat kembali wajah Ferdi yang pagi tadi berpamitan dengan senyum palsu, mengingat kata-kata manisnya, dan mengingat betapa mudahnya pria itu melupakan kewajiban dan janji setianya demi wanita lain.

Ia teringat ucapan Emily yang bertekad memisahkan dirinya dan Ferdi. Ia teringat ambisi Ferdi yang ingin menjadi direktur utama untuk menguasai segalanya. Dan ia teringat betapa bahagianya mereka berdua, betapa leluasanya mereka berdua bersenang-senang, berpikir bahwa rencana jahat mereka berjalan mulus tanpa ada yang tahu.

Kiara tersenyum miring, sebuah senyum dingin dan tajam yang menyiratkan ancaman besar. Matanya berkilat tajam menembus kegelapan malam. Di tangannya, ia menggenggam ponselnya erat-erat, tempat tersimpan semua bukti: rekaman percakapan, rekaman video kemesraan, dan segala kejahatan yang mereka perbuat.

"Nikmati saja kebahagiaan kalian..." gumam Kiara pelan, suaranya berbisik di udara kamar yang kosong. Kalimat itu ditujukan pada Ferdi yang entah di mana, dan pada Emily yang sedang mengandung buah cinta terlarang itu.

"Nikmati kemesraan kalian, nikmati rencana indah kalian, nikmati kebebasan dan kebohongan yang kalian bangun dengan susah payah... karena ketahuilah, waktu kalian sudah hampir habis. Kebahagiaan palsu ini sebentar lagi akan berakhir."

Kiara menghela napas panjang, lalu berbalik badan menuju tempat tidurnya. Ia tidak lagi menangis. Ia tidak lagi sedih. Ia hanya menunggu waktu. Menunggu saat yang tepat untuk meledakkan bom kebenaran yang akan menghancurkan segalanya, mengubah kebahagiaan mereka menjadi neraka paling nyata, dan membuat mereka menyesal seumur hidup karena pernah menyakiti dirinya.

1
Yeni Astriani
yuuukk lanjut Author
Yeni Astriani
good job Kiara kamu kuat, kamu punya banyak bukti perceraian pasti bakalan terjadi.
ferdi mengancam karna tahu dia bakalan hidup miskin lagi
Yeni Astriani
lanjut Author
Asyura
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!