NovelToon NovelToon
DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem
Popularitas:727
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

“Dia ditandai.”

Bram merasakan tenggorokannya mengering.

Reza mengepalkan tangan.

“Jadi Raka berani mengirim tanda ke orangku?”

Surya menatap anaknya.

“Orangmu menyentuh orang yang dekat dengannya.”

Reza mendengus. “Jadi apa? Anak itu pikir dia siapa?”

Pada saat itu, bayangan di sudut ruangan bergerak.

Hei Yan muncul perlahan.

Semua orang langsung terdiam.

Joni dan empat preman lain gemetar semakin hebat saat melihat sosok itu. Namun ketakutan mereka pada Hei Yan berbeda. Kepada Hei Yan, mereka merasa seperti berhadapan dengan makhluk gelap. Kepada Raka, mereka merasa seperti berhadapan dengan hukuman dari langit.

Hei Yan menatap Joni.

Lalu senyumnya melebar.

“Menarik.”

Reza menoleh tajam. “Apa yang menarik? Orang-orangku dibuat tidak berguna!”

Hei Yan tidak mempedulikannya.

Ia mendekati Joni, lalu meletakkan satu jari di dada pria itu.

Joni langsung menjerit.

Cahaya emas gelap muncul sesaat, menolak sentuhan Hei Yan.

Mata Hei Yan menyipit.

“Cap takhta…”

Surya memperhatikan reaksinya.

“Raka yang melakukan itu?”

Hei Yan menarik tangannya perlahan.

“Ya.”

Bram semakin pucat.

Reza tidak sabar.

“Kalau begitu cabut saja!”

Hei Yan menoleh kepadanya.

“Tidak semudah itu.”

Reza terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia melihat Hei Yan tampak berhati-hati.

Hei Yan menatap Joni lagi.

“Cap ini masih lemah. Hanya tanda peringatan. Tapi sumbernya…”

Senyumnya menghilang sedikit.

“…sangat tua.”

Surya berkata pelan, “Apa Raka berbahaya?”

Hei Yan tertawa halus.

“Berbahaya? Tidak.”

Bram merasa aneh mendengar jawaban itu.

Hei Yan melanjutkan.

“Dia belum berbahaya. Yang berbahaya adalah sesuatu yang mulai bangun di dalam dirinya.”

Reza menggertakkan gigi.

“Aku tidak peduli apa yang ada di dalam dirinya. Dia mempermalukan Mahendra.”

Hei Yan menatap Reza dengan senyum tipis.

“Kesombonganmu berguna. Tapi jangan biarkan itu membuatmu mati terlalu cepat.”

Wajah Reza menegang, tapi ia tidak berani membalas.

Surya menatap Hei Yan.

“Apa rencana berikutnya?”

Hei Yan berjalan menuju meja. Di atas meja terdapat peta wilayah sekitar Sungai Kapuas, pasar, warung Pak Harun, dan sebuah gudang lama yang ditandai lingkaran hitam.

“Raka tidak akan datang hanya karena dipanggil. Tapi dia sudah menunjukkan kelemahannya.”

Surya menyipitkan mata.

“Orang biasa?”

Hei Yan tersenyum.

“Bukan. Batas moralnya.”

Bram mengangkat wajah dengan bingung.

Hei Yan menjelaskan dengan suara rendah.

“Dia tidak menyentuh orang biasa. Dia melindungi yang lemah. Tapi kepada musuh, dia mulai kejam. Itu berarti ada garis yang dia jaga.”

Surya memahami maksudnya.

“Dan garis yang dijaga bisa dijadikan jebakan.”

Hei Yan mengangguk.

Reza tersenyum dingin.

“Jadi kita sentuh orang-orang dekatnya lagi?”

Bram spontan berkata, “Jangan.”

Semua mata menoleh kepadanya.

Bram langsung menunduk, tapi kali ini ia tetap bicara.

“Maaf, Pak. Tapi semakin kita sentuh orang biasa, semakin parah balasan Raka. Dia tidak seperti orang yang cuma marah lalu memukul. Dia… menghukum.”

Ruangan hening.

Surya menatap Bram lama.

Hei Yan tersenyum kecil.

“Ketakutan membuatmu lebih cerdas, Bram.”

Bram tidak merasa itu pujian.

Hei Yan menatap peta.

“Kita tidak akan memakai orang biasa lagi. Untuk saat ini.”

Reza tampak kecewa.

“Lalu?”

“Kita pakai orang yang pantas dia anggap musuh.”

Hei Yan mengangkat tangan.

Bayangan hitam keluar dari lengan bajunya, lalu jatuh ke lantai seperti cairan gelap. Cairan itu bergerak, membentuk simbol aneh yang membuat udara di ruangan menjadi dingin.

Joni dan empat preman lain langsung mundur ketakutan.

Hei Yan berkata pelan.

“Ada makhluk lapar di celah bawah Jembatan Kapuas. Lemah, tapi cukup untuk menguji Raka.”

Surya menatap simbol itu.

“Makhluk asing?”

“Bukan dari Dunia Immortal sepenuhnya. Hanya sisa buangan dari retakan kecil. Namun jika dilepaskan di tempat yang tepat, ia akan memburu aura takhta.”

Bram merasa perutnya mual.

“Kalau makhluk itu menyerang warga?”

Hei Yan tersenyum.

“Itulah sebabnya Raka akan datang.”

Bram menunduk.

Ia tahu rencana itu masih memakai orang biasa sebagai risiko.

Bedanya, kali ini mereka tidak akan memukul orang tua di warung. Mereka akan melepaskan sesuatu yang tidak bisa dikendalikan, lalu menunggu Raka muncul.

Surya tidak langsung setuju.

“Jangan buat kekacauan terlalu besar. Aku tidak ingin kota ini dipenuhi polisi dan wartawan.”

Hei Yan tertawa pelan.

“Manusia selalu lucu. Kalian takut pada polisi, padahal malam ini ada sesuatu yang jauh lebih tua sedang berjalan di kota kalian.”

Surya tidak tersinggung.

“Justru karena aku manusia, aku tahu cara menutup kekacauan manusia.”

Hei Yan menatapnya sebentar.

“Baik. Kita mulai dari bawah Jembatan Kapuas.”

Reza tersenyum tajam.

“Kali ini aku ingin lihat langsung.”

Surya menatapnya dingin.

“Kau tidak akan turun langsung.”

“Pa!”

“Diam.”

Satu kata dari Surya membuat Reza menahan amarahnya.

Surya berdiri.

“Raka sudah mempermalukan nama kita. Tapi justru karena itu, kita tidak boleh bergerak seperti anak kecil. Kita harus tahu apa sebenarnya dia sebelum menghancurkannya.”

Hei Yan tersenyum.

“Bijak.”

Namun di dalam matanya, ada kilatan licik.

Karena bagi Hei Yan, keluarga Mahendra hanyalah alat.

Dan bagi Raka, mereka sebentar lagi akan menjadi musuh yang tidak lagi layak mendapat peringatan.

Malam terus bergerak.

Di warung Pak Harun, Dimas akhirnya pulang setelah memastikan Pak Harun baik-baik saja. Pak Harun menutup warung lebih cepat. Raka membantu mengangkat meja yang rusak ke samping.

Sebelum pergi, Pak Harun memanggilnya.

“Raka.”

Raka berhenti.

Pak Harun berdiri di depan warung yang lampunya sudah mulai dimatikan.

“Hati-hati dengan keluarga Mahendra. Mereka bukan orang yang suka kalah.”

Raka mengangguk.

“Saya tahu.”

Pak Harun menatapnya dalam.

“Dan hati-hati dengan dirimu sendiri.”

Raka terdiam.

Pak Harun melanjutkan pelan.

“Musuh yang jahat memang harus dihentikan. Tapi jangan sampai kau menikmati menghancurkan mereka.”

Raka tidak langsung menjawab.

Ia menatap jalanan gelap di depan.

“Kalau mereka berhenti, aku berhenti.”

Pak Harun menghela napas.

“Kalau mereka tidak berhenti?”

Mata Raka memantulkan cahaya emas tipis.

“Berarti mereka memilih sendiri akhirnya.”

Pak Harun tidak berkata apa-apa lagi.

Raka berjalan meninggalkan warung.

Di dalam jiwanya, sistem berkata pelan.

[Jawaban Tuan lebih dekat dengan diri lama Tuan.]

Raka menatap langit malam Pontianak.

“Apakah diri lamaku sekejam itu?”

Sistem diam sesaat.

[Diri lama Tuan tidak kejam kepada yang tidak bersalah.]

[Namun kepada musuh…]

Suara sistem menjadi lebih rendah.

[Para dewa pun pernah takut menerima penghakiman Tuan.]

Raka tidak bertanya lagi.

Ia terus berjalan di bawah lampu kota.

Namun ketika ia melewati jalan yang mengarah ke Jembatan Kapuas, langkahnya berhenti.

Udara berubah.

Dingin.

Busuk.

Berbeda dari aura manusia.

Berbeda dari aura merah gelap para preman.

Ini seperti bau darah tua yang disembunyikan di balik kabut.

Mata Dewa terbuka.

Di kejauhan, tepat di arah Jembatan Kapuas, sebuah garis hitam muncul samar di langit rendah.

Raka menatapnya.

Sistem berbicara dengan nada serius.

[Retakan dunia terdeteksi.]

[Makhluk asing kecil sedang dilepaskan.]

Raka diam beberapa detik.

Lalu ia tersenyum tipis.

“Jadi mereka memilih lebih cepat dari yang kukira.”

Sistem bertanya.

[Tuan akan pergi?]

Raka mulai berjalan menuju Jembatan Kapuas.

“Tentu.”

Udara di sekitarnya mulai menekan turun.

“Tapi kali ini, aku tidak datang untuk memberi peringatan.”

Di bawah Jembatan Kapuas, bayangan hitam bergerak perlahan keluar dari celah dunia.

Dan di malam yang sama, Pontianak mulai mencium bau pertama dari perang yang akan datang.

1
Alia Chans
keren banget plisss😖
Rayzent
menarik nih, lagi gabut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!