NovelToon NovelToon
Istri Bisu Sang Duke

Istri Bisu Sang Duke

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Pernikahan Kilat / Tukar Pasangan / Pengantin Pengganti
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: farchahcha

“Aku hanya membutuhkanmu untuk melahirkan pewarisku. Tidak lebih!”
Itulah kata paling menyakitkan yang diucapkan Duke Cassian Clyvedon kepada Elowen Whitmore. .
Semua orang di kerajaan tahu bahwa Duke Clyvedon adalah pria yang ditakuti, dingin, kejam, dan tak pernah mempercayai siapa pun.
Sementara Elowen Whitmore hanyalah putri kedua dari keluarga bangsawan yang hampir bangkrut… seorang gadis yang bahkan tidak bisa berbicara.
Ia tidak seharusnya menjadi pengantin sang duke.
Namun ketika kakaknya melarikan diri dari perjodohan yang telah diatur kerajaan, Elowen dipaksa menggantikan posisi itu demi menyelamatkan kehormatan keluarganya.
Kini ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan pria paling menakutkan di kerajaan.
Semua orang yakin pernikahan ini hanya akan berakhir dengan kehancuran.
Tapi tidak seorang pun menyadari satu hal, bahwa sang duchess bisu mungkin adalah satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hati sang Duke.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farchahcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Elowen berusaha duduk, dan Cassian dengan sigap membantunya. Pria itu meletakkan dengan hati-hati bantal di samping Elowen agar wanita itu nyaman.

Tangan Elowen tanpa sengaja menabrak tangan Cassian. Saat dia mengangkat kepalanya, tatapannya bertemu dengan Cassian dengan jarak yang sangat dekat. Elowen melipat bibirnya dan berusaha menahan napas ketika Cassian menatapnya dalam.

Satu detik, dua detik, tiga detik, mereka membeku dengan posisi yang begitu intens. Cassian sedikit demi sedikit memajukan tubuhnya.

Jantung Elowen mendadak tak mau berhenti berdebar. Apa tiba-tiba dia memiliki penyakit aneh pada jantungnya karena tenggelam? Pikir Elowen sambil menyentuh dadanya.

Cassian menurunkan pandangannya. “Ada apa? Apa dadamu sakit? Aku akan memanggilkan dokter,” katanya dengan nada cemas.

Elowen menggeleng, tangannya menahan Cassian yang hendak pergi.

Pria itu mengangkat alisnya. “Katakan padaku kamu butuh apa?” ucapnya kemudian dengan lembut.

Tapi Elowen hanya menarik senyum, dan menggeleng lagi. Bagaimana dia bisa mengatakan kebutuhannya sedangkan dia tidak bisa bicara.

Elowen langsung membalik tangan Cassian, menulis di telapak tangan pria itu dengan jarinya.

“Bisakah… Kamu… Memberikan… Catatanku…?” Cassian mengeja gerakan tangan Elowen di telapak tangannya dengan suara pelan.

Setelah selesai membaca, kepalanya langsung terangkat menatap wanita itu.

Menatapnya sedikit lama. Entah apa yang dipikirkan oleh Cassian. Elowen mengangkat alisnya, bertanya-tanya dengan isi pikiran pria itu.

Sedetik kemudian, Cassian mengangguk.

“Tunggu di sini. Aku akan mengambilkan catatan untukmu yang baru.”

Elowen mengangguk mengerti. Catatan lamanya pasti sudah tenggelam, karena itu Cassian mengambilkannya yang baru.

Cassian berjalan melewati pintu kamar kemudian menghilang.

Sepeninggal Cassian, Elowen menarik selimutnya. Badannya masih sakit dan sedikit pusing.

Suara langkah kaki mendekat ke kamar. Elowen sempat berpikir itu adalah suaminya, Duke Cassian. Elowen reflek menoleh.

Seseorang sudah berdiri di ambang pintu dengan mata yang melebar seolah terkejut melihat sesuatu.

Marquess Lucien? Elowen mengangguk memberi hormat pada pria yang berdiri di sana.

Lucien membeku, tapi jelas dalam hatinya dia mengucap syukur berkali-kali karena Elowen telah sadar.

“Kamu sudah sadar?” gumamnya lalu mendekat. Ada nada aneh dalam suaranya.

Awalnya Lucien hanya ingin mengecek keadaan Elowen. Namun, mengetahui wanita itu telah sadar, senyum lebar menghiasi wajahnya. Matanya berkaca-kaca terharu karena dia sangat takut jika terjadi apa-apa dengan wanita itu.

Elowen sedikit aneh dengan ekspresi Lucien.

Apalagi saat pria itu melangkah mendekati ke ranjang. “Syukurlah, kamu akhirnya sadar. Aku sangat takut sekali,” ujar Lucien tanpa sadar.

“Kenapa kau harus takut, Lucien?” suara Cassian muncul dari belakang Lucien dan mengagetkannya.

“Tidak!”

“Tidak?” Cassian mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu dengan tidak?” tanya lagi dengan nada penuh curiga.

“Tidak apa-apa. Kau tahu aku sangat takut karena istri Duke Cassian yang terhormat terluka di kediamanku,” jawab Lucien.

Tentu saja itu bukan alasan yang sebenarnya. Tapi tidak sepenuhnya salah.

“Anda dari mana Duke Cassian?” Lucien kembali bertanya untuk menutupi sesuatu.

Cassian mengangkat catatan kecil dari tangannya dan juga pena tinta.

Lucien mengerti. “Kalau begitu biar aku yang memanggilkan dokter untuk Duchess Elowen.”

“Terima kasih Marquess Lucien. Aku hargai bantuanmu.” Jawab Cassian dengan nada formal mengikuti Lucien yang tiba-tiba mengubah sikap formalitas mereka.

Lucien pun keluar dari kamar meninggalkan Cassian dan Elowen.

Elowen sejak tadi memperhatikan sikap Lucien. Pria itu bersikap aneh.

“Ini catatan yang kamu butuhkan.”

Elowen kembali fokus di momen sekarang. Cassian sudah duduk di tepi ranjang menyerahkan catatan kecil lengkap dengan pena tinta untuk Elowen.

Tangan Elowen terulur menerimanya.

Kemudian dia menuliskan sesuatu di sana.

“Terima kasih,” tulisnya lalu memperlihatkan pada Cassian.

“Sama-sama.”

Elowen kembali menuliskan sesuatu.

“Apa kamu yang menolongku?”

Cassian tidak cepat merespon. Pria itu memilih terdiam, lalu balas menuliskan sesuatu di catatan Elowen.

Elowen terkejut ketika tangan besar Cassian meraih pena tinta dari tangannya. Sentuhan singkat itu seolah menghantarkan sengatan yang membuat perut Elowen terasa aneh.

Cassian serius menulis.

Elowen penasaran dengan apa yang ditulis Cassian di catatannya.

Beberapa detik kemudian, pria itu menyerahkan catatan Elowen. Wanita itu langsung membaca pesan yang ditulis Cassian.

“Tentu saja aku yang melakukannya. Terima kasihnya nanti saja, karena aku sangat khawatir dengan perutmu. Ada makanan yang ingin kamu makan?”

Cassian menuliskan hal itu. Manis sekali. Tanpa sadar bibir Elowen menyunggingkan senyum.

Kemudian tangannya kembali bergerak menggoreskan tinta di buku catatan kecilnya.

“Bolehkah aku meminta scone keju hangat dengan segelas teh krisan?” tulisnya.

“Aku akan meminta pelayan membawakannya untukmu.”

Cassian pergi memerintahkan pelayan untuk mengambilkan makanan untuk istrinya.

Sikap perhatian Cassian membuat Elowen terkesan. Apa pria itu selalu bersikap selembut ini? Untuk pernikahan tanpa cinta, kehidupan seperti ini sungguh indah.

Andai mereka bisa saling mencintai.

***

Sudah tiga hari lamanya setelah Elowen sadar, dan dia masih berada di kediaman Marquess Lucien karena tidak mungkin menempuh perjalanan jauh dengan keadaan Elowen yang masih sakit.

Cassian mengurusnya dengan penuh perhatian, layaknya seorang suami yang baik.

Selain itu ada yang membuat kehidupan tiga hari Elowen tenang adalah Lady Valerie tidak ada di sekitarnya. Bukan karena Elowen membenci mertuanya itu.

Akan tetapi, Lady Valerie memang dari awal tidak menyukainya. Berat sekali berdekatan dengan orang yang membenci dirimu.

Lady Valerie, entah karena apa, memutuskan untuk kembali ke kediamannya di Clovey.

Elowen sedang duduk di ruang tengah kediaman Ravenhearst. Cassian sedang menemui Harry, ajudan pribadinya itu datang jauh-jauh dari Clyvedon membawa sesuatu yang penting.

Karena itulah mereka menyewa ruang baca milik Lucien untuk berbicara tentang pekerjaan penting.

Di ruang tengah kediaman Ravenhearst, Elowen tertarik dengan piano yang ada di dekat jendela besar.

Dia mendekat ke arahnya, tangannya mengelus rangka kayu piano itu. Diam-diam terpesona, dia bisa mengatakan kalau piano perak itu sangatlah indah.

“Anda bisa bermain piano, Duchess Elowen?”

Sebuah suara membuat Elowen tersentak. Dia menoleh ke arah sumber suara.

Itu Marquess Lucien.

Elowen menggeleng untuk menjawab pertanyaan Lucien.

“Anda mau saya ajarkan bermain piano?”

Elowen tersenyum kemudian menggeleng. Itu tidak perlu.

Lucien berjalan ke arah Elowen. Mata hijaunya lurus ke arah Elowen.

“Apa kamu benar-benar tidak mengingatku?” katanya.

Elowen tidak mengerti dengan ucapan Lucien. Wanita itu menggeleng pelan, dan buru-buru menuliskan sesuatu di catatannya.

Namun, sebelum selesai menulis. Lucien sudah berada tepat di depannya.

“Aku sudah mencarimu kemana-mana, Elly.”

Elowen mengangkat wajahnya. Kenapa Marquess Lucien mengetahui nama kecilnya?

***

1
Yeni Fitriani
penasaran 80 000 pound itu . maksudnya poundsterling kah...?
klo di rupiah kan setara dgn berapa kah...?

auto lsg tanta mbh gogle
farchahcha: Iya best 80rb pound maksudnya poundsterling ya.
total 2 replies
this that PINK VENOM
.
jaka purnomo agung
Penulisan nya sangat rapi, tanda baca juga pas sehingga saya lebih mudah memahami cerita...
you're amazing writer
Emi Sudiarni
lanjut kak
Emi Sudiarni
benar2 nenek lampir putri lydia
Emi Sudiarni
apa lucien suka elowen
Emi Sudiarni
menarik diawal cerita
farchahcha: Enjoy reading best 🦋
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!