Kelanjutan cerita dari "The Promise"
Setelah tubuh Bianca kembali ternyata membawa dampak buruk bagi Arsenio.
Arse menderita Thantophobia yaitu ketakutan akan kehilangan seseorang. Yang mana membuat dirinya begitu posesif terhadap Bee, dia melakukan segala sesuatu secara berlebihan.
Bagaimana cara Arse untuk kembali sembuh?
Kembali hadirnya Lyra dan Bellena menambah kemelut hubungan mereka.
Mereka dihadapkan pada sebuah kenyataan pahit.
Apakah hubungan mereka bisa bertahan?
Simak kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DHEVIS JUWITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Keputusan
🐝🐝🐝
"Lima persen sahamku!"
"Aku naikkan lagi sepuluh persen bagaimana?"
Chris hanya memutar bola matanya malas dari tadi Sam terus membujuknya untuk taruhan seperti biasa.
Sam merasa tebakannya kali ini benar lagi. Jika anak yang dikandung Bellena adalah anak sahabatnya Arse.
"Terakhir kali aku taruhan denganmu 10M ku sudah melayang! Daddy ku sudah marah padaku karena terus bermain denganmu, sampai aku taruhan saham lagi aku benar-benar akan dijodohkan," terang Chris.
"What?" Sam tampak terkejut.
"Jadi berhentilah bermain Sam, coba lihat di depan kita sekarang! Itu hal nyata karena kebodohan kita bertiga!" Chris menatap Bellena yang sedang menangis karena tidak mendapat video saat Sam naik ke pohon mangga.
"Hei, aku sudah lama tidak melakukannya setelah bocah geblek itu menakutiku dengan kutukannya," terang Sam.
Bellena semakin menangis ditambah jeritan yang mengganggu.
"Penyihir wanita itu sungguh mengganggu!" decak Sam karena tidak tahan dengan tangisan Bellena.
"Itulah yang ku hadapi saat aku tidak bisa mengabulkan permintaannya!"
Sam dan Chris menghela nafas panjang bersama.
"Apa bocah itu belum menghubungimu?" tanya Sam.
Chris menggeleng "Mungkin dia butuh waktu."
Setelah berkata seperti itu ponsel Chris berdering, senyum tersungging di bibirnya saat tahu siapa yang menelponnya.
"Halo Chris! Aku sudah siap, bawa dia ke rumah sakit sekarang. Aku menunggu!"
Tut!
"Ck! bocah geblek itu bertindak semaunya," desah Chris.
"Siapa?" tanya Sam penasaran.
"Bocah itu sudah siap, ayo bawa penyihir wanita itu pergi!" ajak Chris.
🐝🐝🐝
Hari ini Bianca libur dia habiskan waktunya untuk bermain bersama Cello. Dia akan mengajari Cello dasar-dasar melukis. Mereka berdua duduk di taman belakang, Bianca dengan telaten mengajari adiknya.
"Nah, bisa kan sekarang?" tanya Bianca.
Cello mengangguk dan kembali konsentrasi terhadap gambar yang dilukisnya. Cello tampak fokus melukis tokoh kartun kesukaannya.
Bianca tersenyum memandang adiknya apalagi dia sudah melupakan kejadian di sekolahnya dan minta maaf pada Lili atas sikapnya tapi Bianca belum menceritakan kejadian sebenarnya pada Lili, dia akan mencari tahu dulu apa yang dimaksud dua anak kecil waktu itu benar-benar mamanya Lyra.
Pemandangan itu tak luput dari mata Lili, dia terus memperhatikan dua anaknya itu dari kejauhan.
"Apa yang sedang kau pikirkan sayang?" tanya Jaya.
Jaya memeluk Lili dari belakang seraya mengarahkan pandangannya ke depan menatap arah pandang Lili.
"Aku tidak rela Lyra mengambil Bee dari kita," desah Lili.
Sebelumnya Lili sudah menceritakan kejadian kemarin saat Lyra berkunjung ke rumah mereka.
"Kan sudah ku katakan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," ucap Jaya penuh penekanan.
"Tapi aku tidak bisa melarang jika Bee sendiri yang memintanya, aku tidak ingin terlalu menekannya seperti dulu. Bagaimanapun Lyra juga ibu kandungnya, aku sudah mulai mengikis rasa benciku padanya. Benar katamu sayang kita bisa berdamai," sambung Jaya.
Sebelumnya memang Lili membujuk Jaya untuk berdamai dengan Lyra agar Lyra tidak membenci mereka lagi. Bisa berdamai dan membesarkan putri mereka bersama.
Tak selang berapa lama asisten rumah tangga mendatangi mereka.
"Pak, Buk.. ada tamu di luar," ucap asisten rumah tangga itu.
Jaya dan Lili saling pandang, mereka pun mengangguk dan berjalan menuju ruang tamu.
Lyra sudah duduk manis sambil menatap sepasang suami istri yang sedang berjalan ke arahnya dengan tatapan tajam tapi sejurus kemudian tatapannya berubah sayu saat melihat orang yang bertahun-tahun dicintainya, itulah cinta pertama Lyra kala itu.
"Lyra.. " panggil Lili.
Tapi Lyra langsung memalingkan wajahnya.
"Aku ingin bicara pada Jaya berdua saja Lili," ucap Lyra.
Lili menatap Jaya penuh permohonan semoga suaminya itu mau berbicara berdua dengan Lyra dan mengenyampingkan egonya.
Jaya mengangguk menatap Lili.
"Baiklah, masuk ke ruang kerjaku!" ucap Jaya. Setelah mengatakan itu dia segera berjalan menuju ruang kerjanya diikuti Lyra di belakangnya.
Sesampai di ruang kerja Jaya,
"Apa kabarmu Jay?" tanya Lyra yang sudah duduk berhadapan dengan Jaya.
"Jangan memanggilku seperti itu lagi Lyra."
"Aku bertahun-tahun memanggilmu seperti itu, rasanya sulit untuk menghilangkan kebiasaan itu. Seperti cintaku padamu yang sulit untuk hilang, Jay."
"Sudahlah Lyra, semua sudah berlalu. Aku ingin bicara berdua begini atas permintaan Lili, jadi jangan salah paham. Aku masih sangat membencimu tapi aku sudah mulai mengikis sedikit demi sedikit, marilah kita berdamai kita besarkan putri kita bersama."
"Kenapa? Kenapa Jay? Kenapa kau begitu tega padaku selama sepuluh tahun aku menjadi istrimu sampai sekarang kenapa kau masih tega padaku. Aku hanya ingin cintamu walaupun sedikit saja tapi kau tidak pernah memberikan itu padaku."
"Maafkan aku Lyra, cintaku hanya untuk Lili."
Lyra yang mendengar itu mulai tersulut emosi dari dulu tidak ada yang berubah Jaya selalu memilih Lili.
"Baiklah, percuma mengemis cintamu. Apa tadi kau bilang? Damai? Tidak akan Jay, aku datang saat ini mau mengambil anakku kembali!"
Jaya mendesah pelan.
"Kita besarkan bersama Lyra, kau bisa menemuinya setiap hari kesini."
"Umurnya sudah dua puluh tahun Jay, dia sudah besar bukan anak kecil lagi. Biarkan dia memilih! Aku yang berhak Jay, kau bisa bahagia bersama Lili dan anak laki-lakimu itu tapi biarlah putriku bersamaku!"
Jaya memejamkan matanya agar bisa menguasai emosinya.
"Lyra, aku mengawasimu selama sepuluh tahun ini. Aku tahu pekerjaanmu apa, aku tahu kau juga mengkonsumsi obat terlarang. Aku tidak akan membiarkan Bee tinggal bersamamu! Dia lebih baik disini, aku selama ini menjaganya dengan sepenuh hatiku. Aku selalu menganggapnya putri kandungku sendiri, Lyra."
Lyra gelagapan dia tidak pernah menyangka jika Jaya mengawasinya selama ini. Tapi dia tidak akan pantang menyerah dia akan menyeret Bianca keluar dari kehidupan Jaya apapun yang terjadi.
"Kita lihat dia akan memilih siapa, Jay. Saat dia memilihku aku harap kau bisa melepasnya!"
Setelah berkata seperti itu Lyra segera keluar dari ruang kerja Jaya tujuannya saat ini akan menemui Bianca.
Lyra mendatangi dimana Bianca berada setelah sebelumnya menanyakan pada asisten rumah tangga.
Bianca masih fokus mengajari Cello hingga dia tidak menyadari jika Lyra sudah duduk disampingnya.
"Bee.. " panggil Lyra.
Bianca menoleh, matanya langsung membulat melihat Lyra sudah duduk disampingnya dengan sebuah senyuman.
"Mama, bagaimana bisa ada disini?" tanya Bianca keheranan.
"Kenapa setiap melihat mama ekspresimu selalu begitu, Bee. Apa kau tidak suka mama datang menemuimu?" Lyra mulai akting memelas agar Bianca iba dengan dirinya.
Cello yang melihat interaksi keduanya merasa heran kenapa kakaknya memanggil wanita itu dengan sebutan mama.
"Kak Bee, kenapa memanggilnya mama?" tanya Cello.
"Ngh, Cello kita lanjutkan nanti ya melukisnya sekarang Cello masuk ke dalam."
"Tapi--"
"Cello, nanti malam bisa tidur sama kakak lagi," bujuk Bianca.
Cello pun akhirnya mengangguk dan masuk ke dalam. Kini tinggal Bianca dan Lyra yang duduk di taman itu.
🐝🐝🐝
arse buang ke laut
aku senang arse nelangsa slma 7 mlm
keren banget kak..
marvelous.. marvelous.. marvelous..
kisah ini sungguh luar biasa..
walopun tetap didominasi dg kesomplakan Arse, tapi alur ceritanya sungguh mengharu biru bikin termehek-mehek.. 🥺🥺😭😭
tapi akhirnya tetap happy ending.. 🥰🥰🥰
g sabar baca sekuel lanjutannya..
sehat2 terus ya kak.
tetap semangat untuk berkarya.. 😘😍🥰🤩